Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 85: Ruangan Operasi~


__ADS_3

Danisa Maria Anna harus dihukum mati!


Danisa adalah seorang pembunuh keji!


Danisa pantas mati!


Kita tidak bisa membiarkan seorang pembunuh bebas!!


Gadis bisu yang tidak tau diri itu benar-benar Psikopat berdarah dingin!


Dia tak layak belajar di sekolah kedokteran!


Berikan keadilan untuk Devan Ahmad Cakrawangsa!!


Begitulah teriakan para demonstran yang turun ke jalan. Berita tertusuknya Devan menyebar luas di masyarakat. Kini mereka yang berasal dari desa maupun kota bersama-sama turun ke jalanan melakukan unjuk rasa. Handphone Mr. Charles berdering tanpa henti. Telepon masuk silih berganti. Surat elektronik dari berbagai tokoh penting masuk memintanya untuk berhenti mendukung Danisa.


Danisa yang kini di dalam mobil bersama Mr. Charles dan Roula serta beberapa anggota kepolisian melihat para demonstran dengan tatapan datar dari balik kaca jendela riben. Roula menggenggam tangan Danisa perlahan.


“Aku baik-baik saja!” Isyarat Danisa dengan memberikan senyum. Sementara di kepalanya beragam jenis pikiran yang berkecamuk. Tak bisa dipungkiri, para demonstran yang turun ke jalanan menambah rasa bersalahnya berkali lipat.


“Turunkan aku di Rumah Sakit Bhayangkara! Aku akan menemui Daniel dan mengabarkan apa yang terjadi!” Pinta Roula. Mr. Charles segera menepikan mobilnya.


Sreet


Danisa memegang tangan Roula sebelum gadis tersebut benar-benar turun. Roula berbalik menatap Danisa. Dari matanya tersorot rasa terima kasih yang mendalam. Roula mengangguk dan meminta Danisa untuk tidak khawatir.


“Jihan akan melakukan operasi, kau sudah tau apa yang harus kau lakukan kan?” Tanya Charles pada Danisa di depan pintu ruang operasi beberapa saat setelah mereka tiba di sana. Danisa mengangguk yakin. Dengan persetujuan Rudi, akhirnya gadis muda dengan kemampuan tidak biasa itu akan menjalani misi nya.


“Waktu tidak banyak. Kau akan ku antar kembali ke kantor polisi! Jangan membuang waktu, apapun hasil akhirnya segeralah keluar melalui pintu belakang!”


“Aku yakin Jihan tidak akan mencelakai Devan. Jihan sangat mencintainya. Namun aku hanya tidak yakin dengan kemampuannya!” Bisik Danisa. Charles dan Rudi sama-sama mengangguk. Mengingat kondisi Devan, pernyataan Danisa saat ini sangat masuk akal.


“Ingatlah! Jangan sampai kau ketahuan! Nasib kita semua tergantung bagaimana pergerakanmu! Kita tidak bisa membiarkan iblis menang!” Lanjut Charles menepuk-nepuk pundak Danisa dan berlalu. Di bimbing Rudi, gadis yang sudah memakai seragam lengkap itu masuk ke dalam ruang operasi.


Lampu-lampu di hidupkan menyoroti tubuh Devan yang terbujur. Ruangan operasi terutama di ranjang tempat Devan terbaring menjadi terang benderang.


Seketika, sekelebat bayangan tentang kejadian penusukan kembali hinggap di kepala Danisa. Ia yang seluruh tubuhnya telah terbalut tanpa ada yang bisa melihat anggota tubuhnya hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat.


Danisa mengamati intens wajah Devan. Walau belum ada kenyataan pasti tentang siapa yang bersalah, namun wajah polos Devan menggugahnya. Ada semilir perasaan bersalah melekat hingga Danisa menitikkan air mata.


“Dokter hebat?” Panggil Jihan terkejut. Danisa mencoba menguasai keadaan dengan mensedekapkan tangan.


“Me… Mengapa kau di sini?! Aku lah yang memimpin operasi ini!”

__ADS_1


“It’s okay, aku akan mendukungmu! Aku salah satu yang dipercaya untuk membantumu!” Sahut Danisa dengan suara serak yang sedikit di buat.


Sialan. Bagaimana ini?! Jihan mengerutkan kening berpikir. Tak punya pilihan lain, mau tidak mau melanjutkan apa yang telah di rencanakan.


Jihan berkaca-kaca. Ia tidak tega membunuh Devan. Jihan memulai prosesi dengan serius. Ia melakukan pembedahan dengan penuh perasaan. Danisa yang bertindak sebagai asisten mengamati pergerakan Jihan dengan saksama. Tidak ada yang luput dari pengamatannya.


“Scalpel!” Ucap Jihan, Danisa dengan cepat memberikannya. Ada sedikit rasa gemas ketika Jihan melakukan nya tidak sesuai dengan sisi keilmuan yang telat ia kuasai. Namun Danisa masih memantaunya.


“Hidupkan Defribilator!”


Para asisten pendamping dengan sigap memenuhi yang Jihan titahkan.


Bunuh Devan! Bunuh dia!! Suara Gunawan tiba-tiba memenuhi pendengaran Jihan. Gadis tersebut terhuyung.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Danisa menopang tubuhnya. Jihan mengangguk dan kembali mengerjakan operasi dengan cekatan.


Bunuh Devan! Bunuh laki-laki itu! Kalau kau gagal, aku akan menghabisi seluruh keluargamu tanpa ampun. Aku akan menyiksamu! Aku tidak peduli kemanapun kau lari, aku akan mengejarmu! Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu! Aku sendiri yang akan mengulitimu hidup-hidup.


Ucapan-ucapan intimidasi dari Gunawan yang menari-nari di pikiran Jihan membuatnya sangat terganggu. Keringat dingin mulai mengucur.


Kreet


Jihan tanpa sadar menyayat tubuh Devan di tempat tidak seharusnya. Darah mengucur deras.


“Apa yang kau lakukan?!!” Hardik Danisa keras dengan mendorong Jihan hingga membuatnya tersungkur.


Kini Jihan hanya terduduk di lantai dingin melihat dokter hebat mengambil alih pekerjaannya. Dokter hebat melakukan manuver. Dokter tersebut berusaha sekuat tenaga menghentikan pendarahan.


Devan, bertahan lah… Lirih Danisa yang melihat ke layar monitor jantung. Monitor tersebut semakin menunjukkan garis yang tidak stabil.


Oh Tuhan,,, selamatkan Devan… Selamatkan Devan,,,


Danisa naik ke ranjang operasi. Ia meminta para rekan untuk mengambil alat pompa jantung.


Satu… Dua… Tiga…


Bruug


Satu… Dua… Tiga…


Bruuug


Tubuh Devan terangkat. Tidak ada perubahan berarti. Danisa dengan cepat kembali memompa jantung nya.

__ADS_1


“Dev,,, bertahanlah!” Lirih Danisa dengan penuh perasaan. Jihan yang sempat tersungkur ke lantai menyimak dengan saksama apa yang Danisa lakukan.


***


Roula mencari Daniel ke sana ke mari. Namun ia tidak menemukannya. Handphone pemuda tersebut juga tidak aktif. Dan Roula tetap mondar mandir di Rumah Sakit Bhayangara dan masih enggan berpindah.


“Daniel kemana? Apa secepat itu ia berpindah? Aku masih melihat mobilnya terparkir sempurna di parkiran” Gumam Roula seorang diri.


“Nona, apa ada yang bisa dibantu?” Tanya penjaga rumah sakit yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Roula.


“Ah iya, aku mencari orang di rumah sakit ini!”


“Apa orang tersebut sakit?”


“Hmh, tidak! Dia hanya berkunjung ke sini!”


“Mengapa nona tidak bertanya pada petugas yang berjaga?”


“Ah iya, benar! Aku sedikit linglung hingga lupa! Terima kasih atas sarannya!” Ucap Roula lalu ia berjalan ke front office. Sebelumnya gadis tersebut menyempatkan diri mengetuk kilat kepalanya yang begitu bodoh hingga menyulitkan diri sendiri.


“Ada yang bisa di bantu , nona?” Tanya petugas front office.


“Ya, saya mencari Prof. Daniel, apa Prof. Daniel masih di sini?”


“Sebentar saya liat daftar tamu hari ini!”


“Prof. Daniel?” Petugas kembali bertanya sebelum benar-benar melihat daftar tamu.


“Iya benar!”


“Prof. Daniel tengah melakukan operasi besar terhadap seorang pasien!”


“Apa?! Op… Operasi besar?!” Tanya Roula meyakinkan pendengarannya.


“Benar nona!”


“Dimana Prof. Daniel melakukan operasi?!” Tanyanya lagi dengan cemas. Petugas menunjukkan arah ruangannya. Roula dengan cepat melesat ke sana.


Daniel… Apa yang kau lakukan? Melakukan operasi dengan kondisimu yang sedang tidak baik-baik saja?!


Apa kau mau bunuh diri?!


Gumam Roula yang berlari ke arah ruang operasi.

__ADS_1


...----------------...


IG: @alana.alisha


__ADS_2