Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 83: Kebenaran dari Mr. X


__ADS_3

Mr. X terperangah dengan kedatangan asisten nya yang begitu tiba-tiba. Wajah asisten tersebut terlihat sangat cemas.


"Mr. Xavier... " Ucapnya. Suasana menegang.


"Ada apa dengan Xavier?! "


"Mr. Xavier... "


"Ada apa?! Cepat katakan!! "


"Mr. Xavier tewas"


"A... Apaaa?!!!! " Bak petir yang menyambar. Tubuh Mr. X terasa beku. Diam-diam Gunawan menyinggungkan senyum.


"Xavier tewas?! Mana mungkin! Kau pasti memperoleh informasi yang salah!" Hardik Gunawan dengan nada tinggi. Ia ikut bergabung bersama mereka.


"Tidak Tuan. Saya mengatakan yang sebenarnya! "


Mr. X memegang jantung nya yang tidak baik-baik saja. Ia kesulitan bernafas. Aliran darahnya seperti tersendat.


"Xavier putrakuuuu... Huhuhu... Xaviiierr.... " Mr. X melolong.


"Sekali lagi kau berbicara, aku pasti akan merobek mulutmu! " Ancam Gunawan prihatin. Ia mendekati Mr. X.


"Berita ini pasti salah! Tidak akan ada yang berani tertindak sembrono terhadapmu! Kau Mr. X yang ditakuti! " Gunawan memegang pundak Mr. X dan merangkulnya. Tangan Gunawan menepuk-nepuk di sana.


Streettt


"Brengsekkk!!!" Mr. X menghempas Gunawan dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.


"X.....? "


Buuugggg


Mr. X langsung memberikan bogem mentah ke pipi Gunawan. Pria paruh baya tersebut meraba sudut bibir nya yang robek.


"X.... Ada apa dengan mu? "


"Jangan berpura-pura!! Seperti perkataanmu, tidak ada yang berani bertindak sembrono kepada ku! Iya, memang benar! Kecuali kauuuu!! Kau pembunuuuh!!! " Teriak Mr. X menggelegar. Urat di tubuh nya menyembul kasar.


Bruuukkkk


Mr. X tersungkur. Dengan cepat ia meraba saku celana dan mengeluarkan pistol. Mr. X mengarahkan pistol tersebut ke arah Gunawan. Para algojo Gunawan bertindak cepat. Mereka mendekat dan memerintahkan agar Mr. X bertindak di luar batas. Gunawan melarang mereka bergerak.


"Aku akan membunuhmu!!!" Mr. X menarik pelatuk bersiap-siap. Gunawan bergerak mendekat.


Tssskk


Tssskk


Mr. X menembak berkali-kali. Namun sayang, pistol yang dipegang tidak bereaksi. Mr. X melakukannya lagi dan lagi.


"Haahaha...! Aku tidak sebodoh itu, X! "


"Jahanaaam kau, Gunawan!!! Bedebaaah!!!! " Teriak Mr. X memaki.


"Huk Huk Huk" Seketika darah mengalir dari mulutnya. Mr. X mengingat semua peristiwa yang terjadi. Nasib buruk yang menimpanya dan keluarga. Kemalangan keluarga Deborah Paula yang terpelajar.

__ADS_1


"Kau... Kau otak dibalik ini semua, kan?! " Tuding Mr. X. Hidupnya sudah hancur lebur. Ia sudah tidak memiliki kekuatan apapun.


"Hahaha! Menurutmu?! X, kau memang cerdas! Tapi kau tidak lebih cerdas dariku! Ckckckck! Berpuluh-puluh tahun sudah kau dikelabui hahahaa" Gunawan mengangkat kaki dan mengarahkan nya pada wajah Mr. X. Ia menendang wajah tersebut hingga pemiliiknya tersungkur.


"Biar sekarang aku mati, urusan kita belum selesai! Aku akan mencarimu hingga ke neraka!! " Lirih Mr. X tak berdaya. Bayang-bayang wajah Xavier menari-nari di pelupuk. Airmata Mr. X sudah tidak bisa mengalir. wajah suram itu tampak mengenaskan.


Anak yang malang.... Xavier, maafkan ayahmu... karena aku adalah ayahmu... maka hidupmu menjadi sangat malang!


Boooooooom


Sesuatu meledak. Asisten Gunawan kocar kacir. Mereka memasang benteng pertahanan untuk melindungi majikan mereka. Namun sesaat mereka tersadar.


Brakkkk!!!


"Mana si X?? " Tanya Gunawan menggebrak meja.


"Mr. X dibawa lari asisten nya, Tuan! " Sahut asisten berhati-hati.


"Siaal!!! Jumlah kalian sangat banyak!! Bisa-bisanya X mengelabui ku!!! " Gunawan mengepalkan tangannya erat-erat. Para asisten menunduk.


"Aku lupa ini kediaman X, bagaimanapun dia dan asistennya pasti bisa mencari celah!"


"Jadi kita harus bagaimana tuan?"


"Tolooo*l!!! Cari X sampai dapat! Kalian jangan coba-coba kembali jika belum menemukannya!! " Titah Gunawan geram.


"Baik Tuan! Titah dilaksanakan!! "


"Ck. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli pada X, si tua bangka yang sekarat itu bisa berbuat apa? Ckckckck " Gumam Gunawan pada dirinya sendiri. Ia tersenyum culas.


Vrooooomm


Vrooooomm


"Kau sangat cerdas bisa membawaku kabur dari kepungan Gunawan. Huk Huk Huk"


"Aku sudah terlatih dan bertindak untuk segala kemungkinan terburuk! "


"Aku tidak tau bagaimana harus berterimakasih padamu"


"Itu tidak penting. Sekarang Kita harus ke rumah sakit. Tapi rumah sakit yang mana tuan? Gunawan memiliki akses penuh pada banyak rumah sakit di kota ini! "


"Jangan! Aku tidak mau ke rumah sakit. Hhh Hhh Hhhh" Sahut Mr. X dengan nafas yang tidak beraturan. Ia masih memegang dada kirinya yang terasa sakit.


"Kalau begitu saya akan membawa tuan sejauh mungkin. Kita keluar dari kota ini! Saya sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari jasad Tuan Xavier! Tuan harus bertahan! Bertahanlah Tuan..."


"Tidak. Aku khawatir usia ku tidak lama lagi. Dadaku terasa sangat sakit. Jika aku sudah tak ada, aku menyerahkan Xavier padamu. Lakukan Pemakaman terbaik untuknya! "


"Tu... Tuan... Bertahanlah... Keluar dari kota ini kita akan langsung ke rumah sakit"


"Putar mobil ke kediaman Cakrawangsa! Aku harus membeberkan kebenaran bahwa sebenarnya Cakrawangsa yang ada saat ini adalah palsu! " Lirih Mr. X tertatih-tatih.


"Tapi Tuan, bukankah saat ini Putranya tengah sekarat? Penjelasan apapun tidak akan penting bagi mereka! "


Hhhhh Hhhhh Hhhhh... Mr. X semakin kesulitan bernafas.


"Kkk... kau benar... Tapi aku tidak akan tenang jika mati dalam keadaan seperti ini! Putar haluan ke kepolisian! Ce...Cepat..."

__ADS_1


"Tu... Tuan..."


"Sekarang! Hhhh Hhhh! "


Vrooooomm


Vrooooomm


Asisten Mr. X mempercepat laju mobil. Walau sebenarnya ia sendiri tidak tau apa yang akan majikannya tersebut lakukan. Ia dengan penuh kesetiaan membawa kemana yang Mr. X titah kan.


"Apa saya harus membuat laporan? " Tanya asisten Mr. X setibanya mereka di Kepolisian.


"Antar aku menemui istri Mr. Devan! Membuat laporan pada polisi juga percuma! Kita tidak memiliki bukti apapun! Gunawan terlalu kuat! "


Asisten Mr. X dengan cepat mengambil kursi roda. Ia membawa laki-laki paruh baya tersebut menemui Danisa.


"Apa yang kau lakukan di sini?! " Tanya Prof Daniel dingin ketika menyadari siapa yang datang. Ia yang waktu menjenguknya hampir habis langsung menghadang Mr. X.


"Aku sudah tidak berdaya! "


Asisten membawa kursi roda Mr. X mendekat.


"Chk. Kau pikir aku percaya! Kau penghancur!! Kau menjijikkan! "


"Benar. Aku menjijikkan! "


"Jangan ganggu Danisa! Enyah kau dari sini sebelum aku memusnahkan mu! " Titah Prof. Daniel tak terkendali. Ia yang seharusnya mengikuti ritme permainan tidak bisa lagi mengkondisikan diri. Kekacauan yang terjadi bertubi-tubi membuatnya hampir hilang kendali.


"Kau seorang dokter, ini tubuhku. Periksalah! Kau akan tau bahwa aku sedang sekarat. Aku tidak bisa bermain-main! Huk Huk Huk! "


" Prof. Ada apa dengannya? Siapa dia? " Tanya Danisa dengan bahasa isyarat.


"Dia komplotan Devan. Dia orang-orang nya Cakrawangsa! Dia termasuk musuh yang berbahaya"


Ucapan Prof. Daniel membuat Danisa tercengang. Ia kesulitan menelan saliva. Musuh besar berada di depan matanya. Baru saja ia mencelakai Devan, kini ia sudah harus berhadapan dengan musuh yang lainnya.


"Cakrawangsa yang saat ini berkeliaran adalah Cakrawangsa yang palsu! Cakrawangsa yang asli... Aku tidak tahu dia berada dimana! " Lirih Mr. X tersengal.


"Omong kosong!!! " Teriak Prof. Daniel.


" Kau bisa percaya atau tidak! Yang jelas aku mengatakan yang sebenarnya... "


"..... "


"Cakrawangsa palsu merekayasa semua nya. Keluarga Cakrawangsa yang asli, keluarga suami mu adalah keluarga terpandang yang baik! Namun semua berubah karena Cakrawangsa palsu memegang kendali! "


"..... "


"Aku hanya ingin menyampaikan ini! Aku ingin kalian mencari kebenaran dan bisa membeberkan ini semua pada keluarga Devan bahwa selama ini mereka tertipu! Kau istrinya... Meski kau bisu dan dari desa, aku tau bahwa kau tidaklah bodoh! Kau wanita jenius"


".... "


"Percayalah. Aku sadar karena Xavier putraku baru saja tewas di tangannya! Aku gila harta. Aku buta dalam segala hal. Tapi ternyata, aku sadari hanya Xavier-ku lah yang berharga. Aku sudah buta dalam segala hal. Tapi tidak dengan kalian. Bukalah mata kalian! Sudah saatnya semua kembali ke tempat se... mu.... la...! "


"Tu... Tuan.... Tuan.... Bangun laah!! " Asisten memanggil Mr. X jatuh pingsan. Polisi berdatangan. Prof. Daniel bergerak cepat memeriksa denyut nadi dan nafasnya.


De... Devan tidak bersalah? Suami yang ku coba bunuh itu tidak bersalah? Kaki Danisa langsung terasa lemas.

__ADS_1


...----------------...


Cek 🌊~ kalau masih berminat dengan kelanjutan nya, jgn lupa like komen n ksh gift... mksh 👋


__ADS_2