Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 79: All Out


__ADS_3

Devan masih duduk di meja makan saat keluarga nya sudah berpindah tempat. Jam makan malam sudah berakhir namun pemuda tersebut enggan berpindah. Ia memutar-mutar sendok di piring dengan sesekali melihat ke arah jarum jam.


Nasi yang ada di hadapannya sama sekali belum tersentuh. Devan sedari tadi menunggu kepulangan sang istri. Namun orang yang dituju belum juga menunjukkan batang hidung nya padahal jam sudah menunjukkan angka 23.30 wib. Handphone Danisa juga tidak aktif. Devan sama sekali tidak memiliki akses untuk menghubunginya.


"Dev, apa yang kau lakukan? Mengapa kau belum juga menyentuh makanan mu?! " Tegur Ranti kembali menghampiri Devan.


"Dev, kenapa kau diam saja? Mengapa kau begini?! Kau menunggu wanita itu kan? Lihatlah! Bagaimana sifat aslinya, dia sama sekali tidak menghargai mu! Mami bilang juga apa? Dia bukan gadis baik-baik!"


Sreeettt


Devan menyeret kursinya ke belakang. Pemuda tersebut bangkit setelah meletakkan sendok pada tempatnya.


"Dev permisi Mom... Dev mau mencari Danisa! "


"Dev!!" Panggil Ranti geram. Panggilan tersebut membuat langkah kaki Devan terhenti.


"Mami tidak pernah mengajarimu untuk takluk pada wanita! Gadis tidak tau diri itu tidak pantas untuk kau kasihi! Dia benar-benar wanita tidak tau diri!" Cegat Ranti kesal. Devan menghela nafasnya.


"Bagaimana pun juga... Sekarang ini Danisa adalah tanggung jawab Dev, Mom! "


"Kau benar-benar keras kepala! Stop Dev! Kalau kau sungguh mengkhawatirkan nya, titah kan saja pada asisten mu untuk mencarinya! Kali ini ku mohon dengarkan ibumu! Gadis itu sudah tau kemana arah jalan pulang! Selama ini dia juga sudah terbiasa untuk hidup dimana saja! Jika ia tidak pulang, itu artinya ia memang tidak mau pulang! Bukan karena hal lain! Sedikit pun ia tidak menghargai mu. Ia tidak menganggapmu ada. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatir kan! " Cerca Ranti panjang lebar. Ia benar-benar sangat kesal.


Devan memejamkan mata sesaat dan berbalik arah. Ia melangkah mendekati Ranti. Dengan sekali gerakan, pemuda tersebut langsung memeluk ibunya.


"Maafkan Dev, Mi... " Lirih Devan. Ia mengerti apa yang ibunya rasakan. Devan paham bahwa Ranti sedang tidak mengerti persoalan yang tengah ia hadapi. Kemarahan Ranti adalah sebuah kewajaran. Cercaan Ranti disebabkan oleh rasa cinta seorang ibu terhadap putranya dan saat ini Devan juga belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia harus menyelidiki banyak hal. Hubungan nya dan Danisa tergolong sangat rumit.


"Devan akan menunggu Danisa di sini... Namun jika mendengar kabar yang kurang menyenangkan, Devan akan langsung berangkat pergi... " Janji Devan. Ranti mengangguk dalam pelukan sang putra.


"Oh iya mi, kakek dimana?" Devan bertanya sambil merenggangkan pelukannya. Ia yang ingin menanyakan banyak hal kepada kakeknya itu menjadi kesulitan karena sang kakek jarang berada di tempat.


"Hmh... Mami juga tidak tau nak! Sepertinya kakekmu ke Amerika"


Drrrrttt Drrrrtttt


Handphone Devan bergetar. Nama yang tidak asing tertera di layar. Penasaran, Ranti juga ikut mengintip siapa yang menelepon putranya.


"Roula? "


"Dev, golongan darahmu AB kan? Aku membutuhkan nya sekarang!" Suara Roula dari seberang telepon terdengar.


"Apa? Kau sakit? Kau sakit apa?! "


"Tidak. Bukan untukku. Namun untuk orang yang sangat berarti untukku! Ku mohon... Apa kau bisa membantu? " Terdengar Roula memohon dengan memelas.


"Katakan sekarang kau berada di mana! " Pinta Devan.


"Aku di rumah sakit Ramayana! "


"Aku akan segera ke sana! "


"Dev, tunggu! "


"Ya? "


"Aku ingin merepotkan mu lagi. Tapi aku sangat membutuhkan nya! "


"Katakan!"


"Aku butuh bantuan dokter hebat untuk menangani nya... Apa kau bisa mendatangkan nya untukku? " Suara Roula semakin terdengar parau.


"Ku mohon.... "


"Aku tidak tau apa ini akan berhasil. Tapi aku akan mencobanya"


"Terima kasih, Dev... " Ucapan terima kasih tersebut menutup percakapan mereka. Hati Ranti langsung tersengat. Roula, gadis yang sangat ia sukai dan diharapkan untuk menjadi menantunya ternyata tidak berjodoh dengan Devan.

__ADS_1


Apakah masih ada kemungkinan untuk mereka bersatu? Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin?


"Dev... Tunggu... "


"Dev harus ke rumah sakit, Mi! " Devan menyambar jas nya di atas kursi.


"I know... Mami ikuuut! " Ranti dengan cepat mengikuti gerak langkah Devan. Mereka meninggalkan sepiring makanan di atas meja yang belum tersentuh.


...****************...


“Mengapa anda mengatakan bahwa Mr. X melatih Devan hingga menjadi pembunuh berdarah dingin?” Tanya dokter pribadi Gunawan saat ia membantu menyembuhkan luka-luka yang sengaja diciptakan untuk menyakinkan Danisa.


“Apakah itu merupakan sebuah pertanyaan?” Gunawan menaikkan sebelah alisnya ke atas. Pertanyaan dari asisten yang merangkap sebagai dokter pribadinya tersebut terasa konyol dan menggelitik.


“Maaf, maksud saya… Bukankah Anda dan Mr. X berada di kubu yang sama?”


“Ck. Kau benar-benar jenaka. Terlalu banyak lelucon dalam hidupmu! Apa kau pikir kerja sama antara aku dan Mr. X itu melibatkan perasaan? Tidak, Jihan! Aku hanya mengandalkan 99 persen dari akal logika ku di sini!” Sahut Gunawan penuh penekanan. Asisten yang diketahui bernama Jihan, mantan pengikut Mr. X tersebut sejenak terdiam.


“Lalu… Mengapa anda melepaskan Danisa begitu saja? Bukankah lebih baik Anda membunuhnya dengan sekali tembakan? Lalu anda bisa dengan mudah melepaskan tulang belulang nya dari kulit"


“Dasar dungu! Aku membutuhkan kedua-tangannya untuk menghabisi keluarga Cakrawangsa. Lagipula ia tidak memiliki pengaruh apapun, ia tidak lebih dari seekor domba kerdil yang mencoba menjadi Macan! Kau tenang saja! Kau yang sudah banyak dikhianati oleh keadaan lebih baik tenang dan tetap menjadi pengikut setiaku! Tunggu sampai aku juga bisa membalaskan dendammu! Apa sampai di sini kau bisa memahami pola pikirku, Jihan?”


“I… Iya… Baiklah tuan… Selama ini rencana tuan selalu briliant dan berjalan lancar”


“Hahaa... Kau mulai pintar berkata-kata! Good. Sekarang hanya lakukan saja tugasmu! Sembuhkan luka-luka siaalan ini dengan cepat! Aku ingin menemui seseorang. Orang yang selalu mengalirkan pundi-pundi rupiah kepadaku! Pundi-pundi segar yang juga tentu saja kau pun menikmatinya, Jihan!” Lanjut Gunawan dengan senyum menyeringai.


"Awww pelan-pelan!! " Sembur Gunawan lagi yang tiba-tiba saja merasa kesakitan.


"Ma... Maaf tuan..."


"Tapi... Aku sama sekali tidak menyangka tuan bisa melakukan ini. Akting tuan terlalu all out hingga rela menderita begini... " Ucap Jihan. Gunawan hanya tersenyum misterius mendengar ucapannya.


***


Gerimis turun perlahan. Danisa membiarkan pakaiannya terkena butir-butir air yang kian lama kian membuat tubuhnya basah. Ia juga sudah tidak mempedulikan angin dingin yang datang menampar pipinya bergantian. Danisa hanya melangkahkan kakinya dengan perasaan yang sulit untuk di artikan. Jiwanya memberontak. Kulit wajahnya kemerahan. Memerah bukan hanya karena terpaan angin kencang. Namun ia berusaha menahan amarah yang meluap dan sedang berada di atas puncaknya.


"Maaf nona, apa tidak sebaiknya nona pulang terlebih dulu untuk memenangkan diri? Aku melihat kondisi nona sedang tidak stabil! " Ucap bodyguard berhati-hati. Danisa mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa ia ingin mereka meninggalkan nya seorang diri.


"Tapi nona..."


Danisa kembali mengangkat tangan nya semakin ke atas. Wajahnya memberitahukan bahwa ia bersungguh-sungguh terhadap keinginannya. Tidak ada yang bisa para bodyguard lakukan kecuali mengikuti titah sang majikan. Perlahan mereka mundur teratur dan menghilang di balik gelapnya malam.


Dengan menghela nafas Danisa melanjutkan langkah kakinya. Sudah tidak ada yang ia takutkan saat ini. Jikapun ia ditakdirkan untuk mati, maka Danisa sudah pasrah. Namun kini ia masih tetap berusaha mewujudkan keinginan terakhir nya.


"Danisa? Kau ke sini? " Sapa Mrs. Smith yang baru saja turun dari mobilnya. Beliau mengerutkan kening sembari menghampiri Danisa dengan menoleh cermat ke kanan dan ke kiri.


"Ada apa putriku? Aku tau kau tidak akan menemuiku kecuali dalam keadaan yang benar-benar penting! " Ucap Mrs. Smith memulai percakapan. Namun Danisa masih diam saja.


"Kita bicara di dalam" Mrs. Smith menarik pergelangan tangan Danisa.


"Wajahmu pucat sekali... Minumlah dulu" Lanjut Mrs. Smith sesampainya mereka di dalam. Mrs. Smith bangkit ke arah pantry.


"Mrs.Smith.... " Panggil Danisa. Guru besar nya tersebut menghentikan langkah kakinya. Untuk sesaat keheningan tercipta.


"Aku ingin menyuntik mati pasien... " Ucap Danisa.


"Lakukan lah... kalau itu memang yang terbaik baginya. Memang kau lah yang harus membuat keputusan" Sahut Mrs. Smith santai. Beliau kemudian lanjut mengambil minuman.


"Aku ingin menyuntik pasien tanpa diagnosa. Pasien yang mungkin harapan hidupnya masih sangat panjang"


Praankkkk


Gelas dari tangan Mrs. Smith jatuh berhamburan ke lantai. Mrs. Smith terjungkat.


"A... Apa maksud mu? "

__ADS_1


"Aku sudah mengetahui semuanya... Aku sudah tau siapa yang membunuh keluarga ku! Aku akan menggunakan penyamaran ku sebagai dokter hebat untuk melakukan nya... Dan aku membutuhkan bantuan Mrs. Smith untuk merealisasikan nya" Ucap Danisa yakin.


...****************...


Sreeettt


Ha? Danisa terkejut. Ia tengah dalam perjalanan pulang ke apartemen sampai tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya. Hampir saja ia memberikan serangan balik pada orang tersebut.


"Danisa, ini aku! "


"Kak Raga? "


"Mengapa kau berada di sini? "


"Aku ingin pulang ke apartemen. Aku baru saja dari kediaman Mrs. Smith"


"Malam-malam begini? Seorang diri?" Tanya Raga keheranan. Danisa mengangguk dengan menunduk. Ia menutupi mata sembabnya.


"Mrs. Smith? Dimana Devan? Mengapa kau hanya berjalan kaki? Shii*tttt!! Anak itu memang tidak bertanggungjawab?! " Umpat Raga menaikkan lengan baju panjang nya ke atas. Mendengar nama Devan disebut, Danisa bergidik ngeri.


"Aku akan mengantarkanmu pulang! "


"Tidak usah kak. Mrs. Smith juga ingin mengantarkanku pulang tapi aku menolaknya. Aku lagi ingin sendiri... Pikiranku sedang penat. Aku ingin menghirup lebih banyak udara segar..."


Dari kejauhan, Mrs. Smith yang diam-diam mengikuti Danisa bisa bernafas lega. Ia tau siapa Raga. Danisa akan aman bersamanya.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi seorang diri! " Lanjut Raga. Danisa tiba-tiba mengusap air matanya. Entah mengapa, air matanya seketika tumpah ruah.


"Da... Danisa... ada apa denganmu? Mengapa kau menangis? Katakan padaku! "


"Aku tidak Kenapa-kenapa.. Hanya saja aku merasa buruk karena gagal meyakinkan Mrs. Smith" Sahut Danisa mngusap air matanya dan terpaksa tersenyum.


Sreeettt


Raga membawa Danisa ke dalam pelukannya. Danisa menolak, namun Raga tidak melepaskannya.


"Ayo lari bersamaku! Bersama Devan kau tidak akan bahagia! " Bisik Raga.


"Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Apapun itu... Ayo hidup bersamaku! " Lanjut Raga lagi. Waktu seakan berhenti berputar.


Ciiiiiitttttt


Suara rem terdengar. Seseorang keluar dari mobil dengan membanting kasar pintunya di ikuti oleh seorang wanita paruh baya yang juga keluar dari dalam mobil.


Sreeeettt


Orang tersebut memisahkan Raga dan Danisa yang tengah berpelukan.


Buuughhh


Sebuah pukulan keras melayang ke wajah Raga.


"Kau benar-benar keterlaluan! " Pekiknya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Raga.


"Dev... Aku yang keterlaluan?! Kau yang ba*jing*an! " Geram Raga.


"Ceraikan wanita murahan ini nak! " Ranti yang ikut bersama Devan juga mengangkat suara. Ia tak kalah geram dengan kelakuan menantu dadakannya itu.


Tanpa berkata-kata, Devan dengan cepat menarik lengan Danisa yang diikuti penolakan oleh gadis tersebut. Tak sabar, Devan langsung mengangkat Danisa ke atas pundaknya.


...****************...


Jangan lupa dukungan nya yaaa kakak2 semua... Terima Kasih... ✨✨✨


IG: @alana.alisha

__ADS_1


...****************...


__ADS_2