
“Kau mengacaukan segalanya. Kau menghancurkan hati Raga, keluarga yang terlibat dan semakin mencoreng nama baik Danisa!” Tukas Daniel pada Rudi. Kecewa. Hanya itu yang kini ia rasakan.
“Aku terpaksa melakukan ini!” Lirih Prof. Rudi. Kini mereka berada pada ruangan khusus namun masih di tempat semula.
“Jika bukan karena nyawa Devan, aku tidak akan pernah melakukan hal memalukan seperti ini!” Lanjut Prof. Rudi lagi.
“Nya.. nyawa Devan?” Prof. Daniel terenyak.
“Selain luka ditubuhnya yang kau rawat beberapa waktu lalu belum benar-benar pulih, ia mengkonsumsi alkohol tanpa henti hingga tak sadarkan diri. Entah apa sebabnya hingga ia begitu terpukul dan mengalami guncangan jiwa…” Prof. Rudi menjeda kalimatnya menghela nafas.
Apa karena pernikahan Raga dan Danisa? Gumam prof. Daniel menerka-nerka.
“Itu semua membuat tubuhnya drop dan mengganggu metabolisme kerja organ dalam. Saat ini dia koma tak sadarkan diri. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin namun masih gagal. Aku hanya bisa memberikan penanganan setidaknya saat ini ia masih bisa bertahan… Tapi mau sampai kapan? Aku khawatir sewaktu-waktu detak jantungnya terhenti. Dan tanda-tanda itu sudah terlihat saat aku memompa jantungnya” Terang Prof. Rudi.
“Kalau itu yang ia lakukan, itu artinya dia memang ingin mati! Kenapa tak kau biarkan saja?!” Cebik Daniel tajam.
“Kalau karena persoalan cinta, sia-sia saja kau menolongnya!” Lanjut Daniel acuh.
“Maaf Professor Daniel… Aku tau Devan bukan jenis orang yang seperti itu. Ia penuh perhitungan dan pertimbangan. Kalaupun ia melakukan hal menyeramkan seperti ini, pasti ada dasar yang melatarbelakanginya! Tidak mungkin tidak!” Sahut Prof. Rudi.
Huh.
“Aku permisi! Aku tak bisa berlama-lama dan harus membersamai Danisa hingga memastikan semua berjalan dengan baik” Lanjut Prof. Rudi bangkit berdiri. Ia mulai melangkah. Daniel terpaku mencerna apa yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut.
Drrrtttt Drrrtttt
Baru saja melangkahkan kaki, suara getaran handphone mengalihkan konsentrasi prof. Rudi. Namun dengan tetap melangkah beliau mengangkatnya.
“Prof, Apa dokter hebat Dan Ara dipastikan bisa menangani pasien atas nama Devan?” Tanya dokter ahli dari seberang.
“Ya, Dan Ara seharusnya sudah tiba di rumah sakit sekitar 7 atau 10 menit yang lalu!” Sahut Prof. Rudi mengecek jam tangan mengingat jarak rumah sakit dan gedung pernikahan tidak telalu jauh.
“Dokter Dan Ara dikabarkan belum tiba, Prof! Sedang kondisi tuan Devan semakin memburuk!”
“Apa?!”
“Tuan Devan terlihat semakin kesulitan bernafas!”
“Segera tingkatkan supply oksigen!” Titah Prof. Rudi. Ia dengan cepat menghubungi supir yang membawa Danisa. Namun orang yang dituju tidak juga mengangkatnya.
“Dimana Danisa?!” Tanya Prof. Daniel yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah prof. Rudi.
"Mari kita ke rumah sakit dan mengetahui jawabannya! " Sahut Prof. Rudi keluar gedung dengan setengah berlari dan diikuti oleh Daniel.
***
Danisa terkejut bukan kepalang saat mengetahui adanya kejanggalan pada mobil yang ia tumpangi. Supir suruhan prof. Rudi membawanya ke arah yang berlawanan dari jalur rumah sakit berada.
Pak, mengapa kita belok kanan?? Bukankah Rumah Sakit Ramayana berada di arah kiri?? Ketik Danisa pada handphone-nya.
Srett
Sang supir langsung merebut cepat handphone tersebut dari tangan Danisa.
“Kita memang tidak perlu ke rumah sakit lagi. Tapi kita akan langsung ke neraka, Nona!” Ucap sang supir memberikan smirk menyeringai. Mata Danisa terbelalak.
Tidak hanya itu, sempurna sudah keterkejutannya saat seorang laki-laki asing lainnya muncul dari bagian kursi belakang. Danisa akan merebut kembali handphone nya namun orang tersebut dengan cepat membekap mulutnya menggunakan sapu tangan.
I… Ini obat bius… Gumam Danisa saat mengetahui dengan pasti aroma apa yang ia hirup. Tak menunggu lebih lama, gadis tersebut langsung menutup matanya dan terkulai.
“Kita bawa kemana dia?”
“Sesuai arahan Mr. X, kita bawa dia ke gedung tua yang berada di puncak!” Sahut pengemudi. Ia terus melajukan mobilnya melewati jalanan sepi.
__ADS_1
Bruk
Orang yang membius Danisa melompat ke depan. Kini ia berada di samping gadis yang tengah tidak sadarkan diri tersebut.
Mr. X? Siapa Mr. X? Apakah ada penjahat lain selain Mr. C? Gumam Danisa. Ia yang berpura-pura pingsan hanya bisa berdiam diri demi mengelabui musuh sembari memikirkan bagaimana caranya untuk bisa kabur.
"Mr. X akan membayar kita dengan bayaran mahal. Hahaha! "
"Tentu saja! "
Devan... Bagaimana keadaan Devan saat ini? Aku harus kabur dan segera ke Ramayana. Diam-diam Danisa mengambil handphone lain yang berada di sakunya. Ia harus menghubungi prof. Daniel.
Klik.
Danisa membuka sedikit matanya mengintip situasi. Namun Ia kembali menutupnya saat penjahat yang berada di samping tiba-tiba menatapnya. Gerakannya pun otomatis terhenti.
"Cantik juga dia! " Kawanan penjahat tersenyum.
"Jaga baik-baik! Jangan sampai kabur!!" Titah supir dengan nada tinggi.
"Tentu saja! " Hampir saja laki-laki yang berada di dekat Danisa mengulurkan tangan hendak mengusap pipinya. Namun lengkingan suara tinggi sang supir mengurungkan niatnya. Tangan yang tadi terulur ia tarik kembali.
I... Ini... Gawat... Mobil ini mengarah ke tebing tinggi. Jika jumlah mereka banyak, maka akan semakin sulit untuk kubisa melarikan diri. Danisa menutup mata erat-erat memusatkan pikirannya untuk berkonsentrasi. Ia membuat pemetaan dan menyusun rencana.
Aku akan kabur tepat pada saat mobil berhenti! Aku akan mengeluarkan tenaga dalam jika mereka memaksa. Tekad Danisa. Tidak banyak waktu lagi, Devan harus segera diselamatkan.
Di sini lain, Raga tengah panik sebab ia kehilangan jejak Danisa. Pemuda tersebut menepikan mobilnya menunggu kabar dari beberapa asisten.
Tap Tap Tap
“Tuan, mobil yang membawa Nona Danisa menghilang dari radar. Kami tidak bisa melacaknya!” Ucap salah satu asisten yang ditugaskan mengawal kemanapun Danisa pergi. Ia tampak terengah. Wajah Raga merah padam.
Drrrrtttt Drrrrttt
Drrrrtttt Drrrrttt
Danisa... Kau dimana sayang?
Drrrrrttt Drrrrtttt
Daniel… Charles, angkatlah! Raga frustasi. Ia mengacak-acak kasar rambutnya hingga kusut.
Ciiiitttt.
Sebuah mobil yang sudah sangat Raga ketahui pemiliknya dengan baik berhenti di dekatnya.
Papa?
"Plaakkk. Memalukan!" Hardik Mr. Richard tanpa basa basi. Ayah Raga yang memiliki kewarganegaraan Amerika tersebut baru saja tiba di Indonesia. Ia khusus kembali ke tanah air hanya untuk menghadiri pernikahan putranya. Namun tampaknya kejadian memalukan yang baru saja terjadi benar-benar membuatnya marah.
"Aku akan mengurus semua dokumen dan akan memulangkanmu kembali ke Amerika! " Lanjut Mr. Richard.
"Pp... Pa... " Raga menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Sekarang kita harus melakukan konferensi pers! Katakan kalau pernikahan mu dengan gadis bodoh itu merupakan kesalahan!"
"Tapi pa...! "
"Kali ini papa tidak akan lagi mendengarkan mu! Kau akan papa nikahkan dengan gadis pilihan papa! " Tukas Mr. Richard.
"Tidak bisa begitu, Pa! Maaf... Raga tidak bisa memenuhi keinginan papa... Hanya ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi di antara Raga dan Danisa! Raga sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan. Raga harap papa tidak ikut campur dalam masalah ini! " Tegas Raga. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali mobilnya tersebut dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Richard yang terkejut dan tercengang. Laki-laki paruh baya tersebut tidak bisa percaya bahwa putra satu-satunya kini sudah berubah menjadi seorang pembangkang.
***
__ADS_1
Tap Tap Tap
Langkah gontai Rudi dan Daniel terdengar memenuhi lorong-lorong Rumah Sakit Ramayana. Mereka mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitaran. Wajah tegang dengan mimik serius menghias di sana.
Roula?
Daniel mengerutkan kening melihat Roula dengan mata sembab berjongkok di depan kamar rawat inap. Ia masih saja menunggui Devan yang belum juga siuman. Wajah kusut dengan rambut yang tampak tidak terurus. Sama sekali tidak mencerminkan diri nya yang selalu saja tampak anggun. Prof. Rudi melupakan keberadaan Roula di sana. Beliau yang sudah begitu khawatir dengan kondisi Devan langsung masuk ke ruang perawatan.
Sreet
Daniel memegang pergelangan tangan Roula dan menggiringnya ke atas kursi. Gadis tersebut terenyak. Pemuda steril anti kuman menyentuhnya tanpa canggung.
"Kalau begini... Saat dia bangun, ia akan kembali pingsan melihat kondisimu yang mengerikan! " Tukas prof. Daniel menunjuk ke ruangan Devan dengan dagunya.
"Meng... Mengerikan?" Roula mengerutkan kening dengan masih sesegukkan. Ia mengusap sudut matanya karena air yang masih mengalir di sana.
"Makanlah! " Prof. Daniel menyodorkan sebuah roti.
"Kau harus tetap sehat untuk menunggunya sampai siuman! " Lanjutnya lagi. Roula mengambil roti tersebut tanpa bantahan.
"Te... rima kasih... "
Driiit
Pintu ruang rawat inap terbuka. Prof. Rudi keluar dengan wajah cemas. Sontak Roula bangkit dari duduknya. Ia benar-benar ingin mengetahui perkembangan kabar Devan.
"Daniel, dokter Dan Ara belum tiba! Seseorang membawanya kabur! " Ucap Prof. Rudi panik. Prof. Daniel tersentak.
"A... Apa?? Bagaimana bisa??? Dokter Dan Ara memiliki begitu banyak pengawal! " Tukas Prof. Daniel dengan raut wajah penuh tanda tanya. Namun belum sempat prof. Rudi menjawab, pemuda tersebut sudah berbalik arah karena ingin mencari keberadaan Danisa.
Driiiit
Pintu ruang rawat inap kembali terbuka.
"Dok, Tuan Devan kritis!" Ucap seorang dokter ahli mengabarkan. Langkah prof. Daniel terhenti. Roula merasa dunia seolah runtuh.
"Kabarkan pada seluruh keluarga nya... Kita pasrah menyambut kemungkinan terburuk! " Ucap Prof. Rudi dengan mulut gemetar. Beliau kembali ke dalam ruangan dengan jantung yang berdegup kencang.
Braaakkkk
Daniel membuka ruang kerjanya dengan kasar. Ia baru saja menitahkan beberapa asisten kepercayaan nya untuk melacak keberadaan Danisa. Daniel benar-benar mengkhawatirkan keadaan adiknya tersebut. Ia sudah terlalu banyak merasakan kehilangan. Ia sudah tidak ingin kembali merasakannya lagi. Dalam kesendirian, airmatanya jatuh berhamburan.
Daniel menepi di sudut ruangan. Ia membuka laci dan mengambil kotak tersembunyi di sana.
Setelah sekian lama... Aku akan kembali melakukan operasi dengan alasan kemanusiaan. Demi sumpah kode etik kedokteran... Demi mama dan papa di Surga. Aku rasa, Danisa pun menginginkan hal ini. Entah karena alasan kemanusiaan atau cinta, namun faktanya ia lari dari pernikahan karena ingin menyelamatkan pemuda itu. Gumam Daniel gemetar hebat. Sudah sejak lama ia menolak melakukan operasi besar. Trauma masa lalu membuatnya terpuruk. Biasanya ia dan pihak rumah sakit selalu mengandalkan Danisa. Pada kenyataannya, praktik kemampuan Daniel tidak lebih buruk dari adik kandungnya tersebut. Bahkan lebih baik. Mereka sama-sama hebat dalam dunia kedokteran.
Psyuuttt
"Apa yang kau lakukan?? " Dengan wajah sembab Roula menepis tangan Daniel yang hendak mengkonsumsi obat. Ia yang mantan perawat tau persis apa yang akan pemuda tersebut konsumsi.
"Aku membutuhkannya... " Keringat dingin mengucur deras. Ia tidak bisa melakukan operasi tanpa obat penenang. Mengingat akan mengoperasi cucu dari pembunuh ibunya, tubuh Daniel semakin gemetar. Roula melihat obat-obatan yang ada di tangan Daniel. Seketika Ia melihat jenis obat yang harus dikonsumsi seumur hidup.
"Ke... Kenapa kau mengkonsumsi ini?? " Mata Roula seketika berkaca-kaca.
"Minggir... Aku akan menggantikan Dan Ara! Kau ingin Devan selamatkan?"
"Kau gila!! Kau punya penyakit??! Kau tidak boleh mengkonsumsi obat penenang!!"
"Kita tidak punya banyak waktu! Aku akan menjelaskannya nanti! " Daniel mengambil obat di lantai yang sudah Roula tepis dan meminumnya dengan sekali tegukkan. Daniel menekan tombol memanggil para dokter ahli untuk bersiap melakukan operasi. Roula hanya bisa mematung. Airmatanya sukses mengalir.
***
IG: @alana.alisha
__ADS_1