Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 20: Kemarahan Keluarga Devan


__ADS_3

Danisa ingin kembali ke perpustakaan setelah operasi yang ia lakukan berjalan lancar. Gadis ini telah mengganti semua pakaian medis dengan pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari.


Posisi nya yang berada di lantai 5 menyebabkan Danisa harus menuju ke tempat lift untuk turun ke bawah. Ia menekan tombol tersebut, mengantri menunggu pintu terbuka. Ia menge-cek jam tangannya.


Huuuftttt. Danisa membuang nafasnya ke udara. Tiba-tiba tangan nya terasa ada yang mencengkram. Alangkah terkejutnya ia ketika sosok yang baru dikenalnya itu datang menghadang. Laki-laki tersebut mencengkram tangannya dengan kuat. Tatapan yang di perlihatkan adalah tatapan pria berdarah dingin yang sangat membunuh. Pemuda itu seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Kemana kamu sebelumnya?” Tanya Devan tanpa basa basi.


“Dimana keberadaanmu?!” Lanjut Devan menarik lengan Danisa dengan kasar. Tampak kemarahan dari sorot matanya.


“Apakah kau menemui ibuku sebelum datang ke sini?!” Tanya Devan lagi.


"Jawab!!!" Hardik Devan. Ia melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Suaranya terdengar parau namun dengan tetap dengan nada keras. Devan memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang berhasil membuat mata Danisa terbelalak. Wanita ini menggelengkan kepalanya lalu menutup mulut dengan telapak tangan. Tak percaya.


Seseorang mendorong Ranti hingga jatuh ke bawah. Danisa merasa ngilu. Ia melihat pendorong yang tubuhnya terlihat begitu mirip dengannya. Kening wanita muda itu berhasil mengerut heran. Seperti biasa, dengan cepat Danisa mengambil handphone-nya. Ia mengetik beberapa kalimat di sana.


“Tadi aku hanya ke sekolah. Aku sama sekali tidak bertemu dengan ibumu” Tulis Danisa pada layarnya. Ia segera menyodorkan handphone tersebut untuk Devan baca. Devan masih saja mencengkram lengan kiri Danisa. Khawatir gadis tersebut akan melarikan diri dan kabur begitu saja.

__ADS_1


Tiba-tiba segerombolan keluarga Devan datang menghampiri. Ketika tadi melihat Danisa akan memasuki lift, Jihan dengan cekatan dan berlari tergesa memanggil Kakek Cakrawangsa dan anggota keluarga lain yang berada di sana untuk ikut bersamanya dengan tujuan mencegat Danisa agar tidak bisa melarikan diri. Ia mengatakan pada Cakrawangsa dan yang lainnya bahwa Danisa hendak kabur namun beruntung, Devan datang tepat waktu dan berhasil menghadangnya.


Devan menunjukkan jawaban yang tunangan nya itu berikan pada keluarganya.


“Bohong!!! Dia pembohong!!!” Jihan langsung membantah dengan suara keras lagi nyaring.


“Mana ada penjahat yang mau mengakui perbuatannya! Jelas-jelas dia yang mendorong tante Ranti dari lantai tiga! Aku melihat itu semua dengan mata kepala ku sendiri! Ia dengan keji melakukan perbuatan busuk itu! Ayo mengaku Danisa!!! Akui perbuatan busukmu!!!” Jihan memanas-manasi keluarga Devan. Ia membuat kesaksian palsu dan menggiring opini agar Danisa semakin terpojokkan. Ahli medis yang sudah sangat berpengalaman itu mendenguskan nafas mendengar fitnahan yang lagi-lagi Jihan alamatkan untuknya. Wanita itu masih belum kapok ternyata. Huft.


“Ayo Om Manggala.. Hukum Danisa! Beri wanita munafik ini hukuman yang setimpal!!! Dia orang manusia tidak tau diri!!!” Ucap Jihan lantang dan berapi-api. Wanita ini seolah-olah begitu peduli pada Ranti. Ia terus menerus memojokkan Danisa.


“Devan, apa kamu tega membiarkan orang yang telah melakukan kejahatan pada ibumu bebas begitu saja?! Jawab aku!!! Jangan diam saja!!! Ringkus dia!!!” Tanya Jihan dengan air mata yang mengalir. Ia semakin memanasi mereka. Suasana benar-benar panas lagi mendramatisir.


Manggala melangkah maju.


“Anak kurang ajar!!! Tidak tau diri!!! Begini cara mu memperlakukan calon mertuamu, Hah?! Dimana hati dan akal pikiranmu?! Apa kau memang seorang mafia?!!!” Bentak Manggala dengan suara keras. Ia tidak terima dengan apa yang terjadi. Manggala begitu marah. Sangat marah.


“Aku akan mematahkan tanganmu! Seperti kejahatan yang sudah kau lakukan! Ya. Jihan benar! Kau juga harus menerima hukuman nya!!” Manggala mengambil ancang-ancang ingin mematahkan tangan Danisa. Hampir saja tangan kekar laki-laki paruh baya itu mendarat di lengan nya. Namun Rudi yang berada di samping gadis tersebut dengan cepat menghadang. Dengan gerakan cepat, ia mencegat agar kekerasan dengan tuduhan tidak berdasar itu tidak terjadi. Ia yang tau persis bagaimana Danisa, secara terang-terangan langsung membelanya.

__ADS_1


“Stop Manggala! Jangan lakukan kekerasan di sini! Ini rumah sakit! Bukan tempat kriminal!” Rudi memegang lengan Manggala yang sudah setengah terangkat. Beliau menepuk-nepuk pundak Manggala agar mau bersabar.


“Dok, kenapa dokter malah membela wanita ini?! Apa yang dokter inginkan?!” Sembur Devan marah. Ia merasa Rudi sudah terlalu ikut campur.


“Tenang Nak Devan! Tenang! Aku tau ini adalah situasi yang sulit! Aku hanya tidak ingin kita semua salah mengambil tindakan! Kau tau bagaimana kesetiaanku pada keluarga Cakrawangsa. Aku akan membela dan menolong keluarga ini mati-matian! Itu merupakan sebuah harga mati. Tapi tidak begini caranya!! Tentu tidak begini!!” Terang Rudi. Semua perhatian saat ini tertuju pada pimpinan rumah sakit tersebut.


“Begini... pBisa saja semua yang di tuduhkan pada Danisa tidak benar. Apalagi hanya dengan sebuah video CCTV yang mana wajah Danisa tidak ada di sana! Kita tidak bisa mengambil keputusan hanya dengan berdasarkan perkataan seorang wanita yang mana kemarin saja sudah berbohong secara terang-terangan! Aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang untuk kedua kalinya! Kita jangan terlalu cepat gelap mata dan mengambil kesimpulan!” Lanjut Rudi panjang lebar. Ia menatap tajam ke arah Jihan. Perkataan dan kalimat demi kalimat yang dokter lulusan Sorbone, Perancis itu lontarkan terasa begitu menohok. Terutama bagi Jihan. Beliau berkata dengan penuh kebijaksanaan. Kakek mengangguk-anggukan kepala menyetujuinya. Walau hati laki-laki setegah sepuh itu masih sangat was was.


Danisa mencuri waktu saat mereka melakukan perdebatan dan beradu argumentasi. Ia terus menerus mengamati rekaman CCTV yang di mana isi video tersebut dialamatkan untuknya. Danisa merasa banyak ketidakberesan di sana. Seketika ia dengan cepat mengambil handphone-nya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Danisa meminta tolong pada Professor Daniel memeriksakan sesuatu untuknya.


Tolong ya Prof. Ketik Danisa menutup kalimatnya. Professor yang menerima pesan dari Danisa, langsung bergerak cepat.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2