Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 50: Gerimis Yang Turun Tipis-Tipis


__ADS_3

Prof. Daniel menghampiri kakek Cakrawangsa yang telah menunggunya dari satu jam yang lalu.


“Kau membuat seorang pengusaha besar sepertiku menunggu, Dan!” Ucap Kakek Cakrawangsa nyaris tanpa ekspresi.


“Aku cukup sibuk untuk bisa menepati janji!”


“Ha.. Hahahaha! Kau terlalu mengejar ambisimu, Nak!”


“Aku masih sehat dan muda! Sudah sepatutnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan! Aku tidak butuh hujjah darimu! Dan aku tidak ingin berbasa-basi! Apa yang sebenarnya kau inginkan?!” Tanya prof. Daniel seduktif.


“Setelah menculik Devan, mengapa kau menyelamatkannya? Apa motifmu sebenarnya, Anak Muda?” Tanya kakek Cakrawangsa dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas. Prof. Daniel terenyak.


“Mengapa kau diam? Kau tidak menduga kalau aku mengetahui ini semua kan?”


“Jangan bermain-main dengan laki-laki itu jika kau tidak ingin celaka, dia berbahaya! Jangan pernah bersekutu dengannya!” Pinta kakek Cakrawangsa.


“Cih! Aku tidak memihak pada siapapun!” Sahut Prof. Daniel.


“Tapi kau bersekongkol dengannya untuk menjatuhkan keluargaku!” Suara Cakrawangsa yang semula tampak tenang berubah meninggi.


“Kau pantas mendapatkannya! Aku tidak akan pernah bisa melupakan perbuatanmu pada Nenek Paula di masa lalu! Kau membunuh suami Nenek Paula, memanfaatkan hartanya dan sekarang kau ingin merangkul cucunya untuk masuk ke dalam perangkapmu!” Tuding Daniel sarkas.


“Kau salah paham padaku, Nak! Kau bisa bertanya pada Paula apa yang sebenarnya terjadi! Juga satu hal, jangan pernah menyentuh Devan. Dia tidak tau dan tidak pernah terlibat dalam hal apapun!”


“Cih, beliau sudah dibutakan oleh kepalsuanmu! Kau mencintai nenek Paula, kau bersaing dengan Rowan Spancer untuk mendapatkan cintanya. Tapi ternyata, Nenek Paula malah dijodohkan dengan pengusaha kaya raya yang baik hati! Rowan bersaing dengan sehat tapi kau malah bermain kotor! Aku jadi curiga, kalau ternyata.. selain membunuh kakek Felix, kau juga adalah dalang di balik pembunuhan kedua orang tua Danisa!” Tuding Daniel panjang lebar sambil tersenyum pahit.


Prok Prok Prok


Kakek Cakrawangsa bertepuk tangan.


“Aku acungkan 1000 jempol untuk analisis dan pengetahuanmu terhadap hubungan kami dimasa lalu! Tapi sayang, semua tuduhanmu itu tidak berdasar dan tidak benar! Tapi pernyataanmu membuatku jadi menerka-nerka tentang siapa kau sebenarnya! Apa sebenarnya kau adalah pengagum keluarga Paula, punya hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka atau malah pengagum Danisa?” Lagi-lagi Daniel terenyak namun tak lama, Ia bangkit dan menarik kerah leher kemeja kakek Cakrawangsa. Para asisten terkejut. Mereka ingin menarik Prof. Daniel untuk menjauh. Namun Cakrawangsa mengangkat tangannya mencegah pergerakan mereka.


“Cih! Kau pikir aku percaya begitu saja?! Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Aku akan menghancurkan keluargamu! Tunggu saja! Kalau memang sudah saatnya, aku pasti akan membuktikan bahwa semua perkataanku benar! Kalian akan menanggung semua akibatnya! Aku berjanji akan membuatmu membusuk di neraka!” Ucap Prof. Daniel tajam.


“Satu lagi, jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku!” Prof. Daniel menghempas Cakrawangsa dan berlalu meninggalkannya.


“Bagaimana ini, tuan?” Tanya sang asisten khawatir.


“Biarkan saja dia! Awasi terus pergerakannya!” Sahut kakek Cakrawangsa diplomatis.


***


Kreekk Kreekk


Devan masih berada di dalam ruangan operasi. Setelah meneliti tiap sudut ruangan, Devan membuka laci satu persatu. Alat-alat medis dan obat-obatan terlihat.

__ADS_1


Kreekk Kreekk


Devan membuka puluhan laci yang ada di sana. Tak lupa ia juga membuka satu persatu pintu lemari. Kosong. Devan beralih membuka laci lainnya.


Kreekk Kreekk


Sebuah baju yang berlumur darah membuat jantungnya kembali berdegup.


“I… Ini baju milik Danisa!” Devan tertegun. Dengan cepat ia mengambil plastik dan memasukkan pakaian bernoda tersebut ke dalamnya.


“Ja.. Jadi Danisa benar-benar dokter hebat? Bagaimana bisa? Tapi kenapa dia tidak berterus terang?!” Tubuh Devan terasa lemas. Ia keluar dari ruangan operasi dengan dada bergemuruh. Devan langsung menuju parkiran dengan membawa mobilnya untuk mencari keberadaan Danisa.


Duaaarrr


“Huh! Prof?! Anda mengagetkanku!” Danisa meraba detak jantung yang hampir saja meloncat dari tempatnya.


“Hahaha! Habisnya kau serius sekali! Sesuai dugaanku, kau memang berada di ruangan kerjaku!” Seru Prof. Daniel.


“Hey, lihatlah! Seorang profesor yang terkenal dingin sekarang tertawa terbahak!” Ledek Danisa.


“Apa sekarang kau sudah pintar membuatku terpojok? Dasar!”


“Sebentar-sebentar! Apa yang kau lakukan, hm?!” Prof Daniel mengerutkan kening melihat Danisa yang terus berkutat dengan berbagai dokumen.


“Aku lagi menyelidiki data-data pasien yang meninggal antara tahun 2008-2010 silam!”


“Kau mengambil data dari rumah sakit Ramayana, hm?” Danisa mengangguk.


“Prof….”


“Ya?” Ruangan hening seketika.


“Aku masih ingat bagaimana aroma darah pada hari kematian Ayah dan Ibu di awal musim dingin pada penghujung tahun 2009 silam di Inggris. Hari ini aroma tersebut kembali tercium!” Ucap Danisa berkaca-kaca.


“Kedua orangtuaku dibawa ke Indonesia oleh nenek Paula untuk di autopsi! Sesuai dugaan nenek, banyak kejadian janggal didalamnya. Nenek menemukan fakta bahwa Ayah dan Ibu memang dibunuh!” Lanjut Danisa. Lututnya terasa lemas. Ia sedikit terhuyung.


“Da… Danisa… Are you okay?” Danisa mengangguk.


“Cerita tadi bukan point yang ingin aku katakan tapi lihatlah apa yang aku temukan!”


“Apa itu?”


“Nenek menceritakan padaku bahwa ibu dan ayah meninggal karena dibunuh dengan benda tajam. Terdapat banyak sayatan dan potongan tubuh yang tidak utuh pada jasad mereka!” Danisa bergetar. Airmatanya mengalir.


“O... Okay, stop… Aku mengerti bagaimana perasaanmu! Kita akan melanjutkkan penyelidikan besok!” Ucap Prof. Daniel. Jiwanya juga ikut terguncang. Danisa menggeleng.

__ADS_1


“Tapi menurut data dari rumah sakit ini, ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan!” Danisa tersenyum pahit.


“A... Apa?”


“Kenapa rumah sakit Ramayana menutupi tentang ini semua? Kenapa?! Pantas saja kasus Ayah dan Ibu ditutup! Sampai sekarang siapa pelaku pembunuhan keji tersebut tidak ada yang tau! Aku bekerja di sini juga untuk mengungkapkan kebenaran tapi keberadaan ku di sini seperti tidak ada gunanya!” Danisa menunduk sedih.


“Danisa, mungkin ada sebab mengapa rumah sakit harus menutupinya! Mungkin mereka terpaksa!”


“Ck! Terpaksa?? Lalu mereka bisa dengan mudah menafikan keadilan bagi kedua orangtuaku??! Begitu?! Hhhh nyaris 13 tahun berlalu, tapi keadaan masih tetap sama! Semua pihak bungkam! Dimana letak keadilan itu?!” Suara Danisa meninggi. Emosinya meledak. Lagi-lagi airmata nya mengalir. Prof. Daniel ikut berkaca-kaca. Ia mencoba untuk memeluk Danisa. Namun gadis tersebut menghempaskan tangan Prof. Daniel dengan kuat.


“Ma… Maaf, emosiku tidak stabil akhir-akhir ini! Aku permisi, Prof!” Danisa langsung melesat pergi keluar dari ruangan kerja Prof. Daniel. Ia pergi dengan mengusap airmatanya.


Danisa, itulah mengapa aku mengatakan bahwa Cakrawangsa ikut andil dalam kejahatan ini, kau lupa bahwa dia salah satu pemilik saham terbesar di sini? Gumam Prof. Daniel menatap kepergian Danisa sendu.


Tap Tap Tap


Danisa berjalan keluar dari ruangan menuju gerbang. Ia hendak pergi memanggil taksi.


Apa Wanita bisu itu pikir aku tidak tau hubungannya dengan Prof. Daniel? Mereka begitu mencurigakan! Setelah berhasil menggoda Devan dan berhasil memoroti hartanya, apa sebenarnya dia berencana mengincar Prof. Daniel-ku? Gumam seseorang yang tidak lain adalah Mila, sahabat karib Jihan. Ia beberapa minggu terakhir terus saja memperhatikan gerak gerik Danisa dan guru besar mereka di Universitas Ramayana.


Ciiiitttt


Terdengar suara ban mobil berdecit. Seorang pemuda tampan dengan tampilan yang selalu rapi keluar dari dalam mobil. Setengah berlari ia menghampiri Danisa dan langsung memeluknya.


“Dev, apa yang kau lakukan?!” Hardik Danisa berusaha melepaskan pelukan Devan. Ia meronta-ronta namun tidak benar-benar melakukannya. Danisa seolah lupa bahwa ia memiliki ilmu bela diri yang kapanpun bisa ia gunakan. Devan memeluknya semakin erat.


“Biarkan seperti ini sebentar saja! Hanya sebentar saja!”Lirih Devan terdengar hangat.


“Kau kenapa?! Ada apa denganmu?! Kau kemana saja? Kau menghilang!” Tanya Danisa bertubi-tubi dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Ia kembali berusaha melepaskan pelukan yang Devan berikan namun pemuda tersebut tidak menggubrisnya, kening Danisa mengerut kebingungan.


Di saat bersamaan, dari kejauhan. Raga yang juga ingin menemui Danisa jelas kalah cepat. Ia hanya bisa memandangi mereka yang sedang berpelukan di tengah gerimis yang turun tipis-tipis. Hatinya terasa sakit. Rahangnya mengeras. Bucket bunga yang sengaja dibeli dan akan diserahkan pada Danisa jatuh ke tanah begitu saja.


Di sisi lain, ternyata prof. Daniel juga tengah menyaksikan kedekatan Devan dan Danisa yang tidak berjarak. Ia mengepalkan tangannya. Kesal.


Mereka benar-benar tidak bisa dibiarkan! Lirih Prof. Daniel dengan wajah kusut.


***


Terima Kasih untuk Like, Komen, Vote juga Hadiahnya~ Semoga Allah memudahkan urusan teman-teman sekalian 💙


Informasi:


IG: @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2