
“Dev, lakukan yang terbaik untuk kakek. Jika memang takdir mengharuskan Jihan yang mengoperasi beliau, aku hanya bisa pasrah!” Ucap Raga lemas. Danisa menitikkan airmatanya.
Mana mungkin Jihan bisa melakukan operasi dadakan ini? Penyakit kakek tidak sesuai dengan bidang keahlian Jihan. Lirih Danisa sedih. Gadis ini berpikir keras.
“Danisa, aku membencimu! Aku sangat membencimu!” Rania berteriak kehilangan kendali. Raga memeluk kuat ibunya.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!!” Lanjutnya lagi.
“Sudah Ma, Ayo kita ke rumah sakit! Bagaimanapun kondisi kesehatan kakek adalah yang utama! Kita harus ke rumah sakit untuk mendampingi sekaligus mendoakan kesembuhan kakek!” Rania hanya bisa pasrah saat Raga menggiringnya keluar.
Sepeninggal Raga dan Rania, Mr. Charles mendekati Danisa.
“Doc, help me please! Tolong bantu saya!” Mata Danisa memerah menahan tangis.
“I will, Calm down! Aku akan melakukan yang terbaik untuk mengeluarkanmu secepatnya dari sini!”
“Dok, doktor tau posisiku sangat sulit kan? Aku dilemma! Aku sangat ingin menyelamatkan kakek Rowan! Dan menjadi seperti Ini, bukan situasi yang aku inginkan!” Danisa mengusap airmata yang akhirnya mengalir. Mr. Charles mengangguk.
“Aku akan mengurus kasusmu! Apalagi belum ada bukti kalau kau akan melakukan percobaan pembunuhan! Tunggu lah, aku akan kembali membawa berita baik!” Mr. Charles langsung melesat cepat.
Di sisi lain, Para petugas medis mendorong ranjang milik kakek Rowan untuk dipindahkan dalam ruangan operasi. Devan ikut serta mengantarkan. Ia menunggu Jihan yang tengah mengganti pakaian khas dokter bedah.
Mereka menuduh Danisa? Kenapa lagi-lagi harus Danisa? Aku tidak bisa mempercayai ini! Devan mondar-mandir berpikir keras. Namun ia tidak mau gegabah mengambil kesimpulan.
“Dev, Bagaimana keadaaan kakek?” Tanya Raga lemas.
“Operasi akan dilakukan kurang dari 30 menit lagi!" Pelengkapan tengah di persiapkan!”
Manggala dan Ranti sudah tiba satu jam lebih awal. Walau belum sepenuhnya pulih pasca operasi, Ranti tetap ingin mendampingi kakek Rowan. Bagaimanapun hubungan keluarga mereka sudah lebih dari sekedar kolega biasa.
“Ranti, apa papa akan selamat?” Tangis Rania pecah dalam pelukan Ranti. Ibunya Devan mencoba mengelus pundak Rania walau tubuhnya masih terasa sakit
“Aku yakin papa Rowan akan bisa melewati masa sulit ini. Apalagi kalau orang yang melakukan operasi adalah Jihan, semua pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku!” Ranti mencoba menenangkan.
***
Jihan mengambil gawainya. Ia melakukan panggilan dengan orang yang sudah ia kenal dengan baik.
“Mira, Aku akan melakukan operasi sekarang juga!”
“Apa kau yakin rencanamu akan berhasil? Apa tidak masalah kalau tua bangka itu dikorbankan?”
“Aku tidak peduli!” Mira terenyak. Bagaimana pun misi kali ini sangatlah berbahaya.
“Bagaimana kalau operasinya gagal?!”
“Untuk mencapai suatu tujuan, terkadang kita memang harus mengorbankan hal lain. Jangan khawatir!” Jawaban Jihan membuat Mira merinding.
“Lalu darimana kau tau Danisa berada di TKP? Kau hebat, Jihan!” Puji Mira, sesungguhnya ia mendapat mandat dadakan untuk membersamai kakek Rowan karena tau Danisa akan ke sana.
__ADS_1
“Itu tidak penting! Yang jelas seseorang memberitahukanku! Bekerjalah sesuai proporsimu Mira! Jangan banyak bertanya jika kau ingin hdup dengan baik dan damai di dunia yang penuh kekacauan ini!” Ucap Jihan pelan. Namun kata-katanya penuh penekanan hingga Mira bungkam.
Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu, Jihan dengan buru-buru menutup handphonenya.
“Dok, apa dokter yang akan menggantikan dokter hebat untuk melakukan operasi? Kita harus melakukannya sekarang juga! Tidak ada waktu! Nafas kakek semakin tidak beraturan!” Ucap salah seorang tim dokter.
“Baik! Aku akan melakukannya sekarang juga!” Mira menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Dan keluar dari ruangannya.
Operasi ini sangat sulit, Dokter hebat kemana ya? Kenapa aku jadi pesimis dokter muda ini akan mampu melakukannya. Gumam hati salah satu tim medis tersebut. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah mengikuti aturan.
Di kantor kepolisian, Mr. Charles sekuat tenaga membela dakwaan terhadap Danisa. Ia mengeluarkan semua ilmu dan jurus yang dimilikinya dalam memperjuangkan keadilan untuk gadis tersebut. Keberhasilan operasi kakek Rowan adalah fokus utama meraka.
Tap Tap Tap
Di damping Mr. Charles, seorang penjaga membuka jeruji besi.
“Anda di bebaskan bersyarat! Untuk sementara Anda boleh keluar dari sel tahanan ini namun tetap harus melapor. Jika ada dakwaan berikutnya, anda akan kami tahan kembali. Juga, sampai bertemu pada persidangan bulan depan!” Danisa sumringah. Ia menatap haru. Walau kasusnya belum selesai, setidaknya ia masih punya harapan. Danisa mengecek jam tangannya. Di ikuti Mr. Charles, ia berjalan cepat meninggalkan Kepolisian FGH.
Jihan akan memulai operasi. Lampu khusus di hidupkan. Semua peralatan telah tersedia. Jihan memakai kacamatanya.
“Pisau bedah!” Ucap Jihan. Asisten medis memberikannya.
“Gunting bedah!” Lanjut Jihan.
“Scalpel!”
Jihan terus melakukan tugasnya. Suasana tegang memenuhi ruangan. Darah berceceran. Jihan terkejut. Tangannya bergetar.
Di luar ruangan, seluruh anggota keluarga Rowan juga Cakrawangsa menunggu cemas menanti kabar keberhasilan operasi. Jam-jam berlalu. Pintu ruangan operasi masih tertutup rapat.
Tuhan, ku mohon… Selamatkanlah kakek! Raga terus memanjatkan doa. Seketika bayangan masa lalu bersama kakek menari-nari di pikirannya. Raga jadi tambah nelangsa.
Sreeeeg
Pintu ruangan operasi akhirnya terbuka. Jihan keluar dengan wajah sembab.
“Maafkan aku tante, maafkan aku Raga. Aku gagal. Aku tidak bisa menyelamatkan kakek! Sekarang kakek koma! Ini semua di luar kuasaku!” Ucap Jihan dengan menangis terisak.
“A… Apa?!” Rania terhuyung.
“Penyakit kakek sangat langka. Aku belum pernah bertemu dengan kasus seperti ini sebelumnya.
"Maafkan aku!” Jihan menunduk. Ranti memeluk Jihan, ibu Devan seakan bisa merasakan betapa terpukulnya Jihan karena tertekan.
“Kita harus segera mencari alternatif lain!” Ucap Manggala.
Raga menepi.
__ADS_1
Buuuuugghh.
Pemuda tampan tersebut meninju tembok dengan kuat. Darah mengucur dari buku-buku tangan kekarnya.
“Ga, Raga! Stop! Don’t do a stupid thing!” Cegah Devan yang melihat situasi jadi tidak kondusif.
“Kenapa dokter hebat mengecewakanku, Dev? Kenapa? Kenapa dia mengingkari janjnya?!” Tanya Raga frustasi. Perasaan marah, kecewa, sedih, kesal melebur jadi satu.
“Kenapa Dan Ara begitu tega?! Apa dia pikir bisa bermain-main dengan sebuah nyawa?!” Devan terdiam. Ia juga tidak tau harus melakukan apa.
“Ini semua salah Danisa! Kalau saja dia tidak mencoba membunuh Kakek, semua ini tidak akan terjadi. Huuu Huuuu” Teriak Jihan menangis.
Hhhh Cih. Wanita ini masih saja menuduh Danisa di saat genting begini! Devan mengepalkan tangannya. Ia sama sekali tidak bisa mempercayai bahwa Danisa adalah pelakunya setelah berbagai peristiwa yang terjadi.
“Kita jangan menuduh dengan gagabah!” Sergah Manggala. Ia mulai menelpon Rudi. Rania sudah terduduk lemas.
“Tapi sekarang Danisa sudah di penjara. Itu adalah bukti kuat bahwa Danisa bersalah!” Tambah Jihan.
Tap Tap Tap.
Sebelum Manggala sempat melayangkan panggilan, Rudi hadir menghampiri dengan jalan tergopoh-gopoh.
“Dokter hebat datang! Dokter hebat akan melakukan operasi lanjutan sekarang juga!” Ucap Rudi bersemangat. Rania spontan menoleh.
“Apa operasi akan berhasil dok?” Tanya Rania cemas.
“Kita percayakan pada dokter hebat! Aku tidak bisa memberikan harapan apapun. Tapi aku tau, dokter hebat pasti mampu melakukannya!”
“Aku hanya bisa memberi kabar ini. Aku ke ruangan dokter hebat dulu!” Rudi menepuk pundak Manggala.
Raga tersenyum sinis.
Tap Tap Tap
“Kita kekurangan tim dokter bedah! Tim intensif yang harusnya menjadi anggotaku tidak bisa melakukan operasi lanjutan karena sudah shocked dengan operasi yang sebelumnya Jihan lakukan!” Lapor Danisa pada Rudi.
“Oh Tuhan.. Bagaimana ini?!” Mr. Charles mengusap kasar wajahnya.
“Tidak ada waktu. Jika lebih lama, aku tidak yakin kakek akan bertahan. Biarkan aku sendiri yang menanganinya!” Ucap Danisa mulai melangkah.
“Tidak bisa Danisa! Kode etik kedokteran tetap tidak bisa kita abaikan! Satu-satunya cara adalah… Kau….” Rudi menunjuk Mr. Charles.
“Kau seorang dokter kan? Kau juga pernah berguru dengan Nenek Paula!”
“Aku hanya seorang mantan dokter!”
“Ayolah Charles! No time to discuss. Kita tidak punya banyak waktu!” Mr. Charles berpikir cepat.
“Baiklah. Danisa, aku harap kita bisa menjadi tim yang solid!” Danisa mengangguk optimis. Mr. Charles memakai seragam medis. Bersama Danisa, mereka menuju ruang operasi.
__ADS_1
***