
Danisa di masukkan ke dalam ruang interogasi. Gadis ini masih belum bisa memahami mengapa ia ditangkap oleh pihak kepolisian. Seorang petugas yang ada di dalam ruang interogasi mengangkat wajahnya. Beliau mulai mengajukan beberapa pertanyaan.
“Apa benar tadi malam kamu memukul orang yang bernama Mila?” Tanya petugas memulai percakapan serius. Pertanyaan ini membuat Danisa langsung mengerti duduk permasalahannya.
“Mengapa kamu memukul wajahnya? Wajah tersebut baru saja selesai di operasi plastik. Wajah yang sudah bagus itu kini jadi rusak kembali!” Tuding polisi menaikkan sebelah alisnya.
Driiiiiit
Terdengar suara pintu terbuka. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan interogasi.
“Heh! Jadi kamu yang bernama Danisa?! Kamu telah memukul wajah anak saya?! Dasar kurang ajar!” Ternyata wanita tersebut adalah ibu dari Mila yang wajahnya Danisa tampar semalam. Ia membentak Danisa dengan keras.
“Pak! Masukkan wanita jahat ini ke dalam penjara! Tolong jebloskan dia dan jangan sampai lepas, Pak!” Pinta ibu tersebut dengan wajah memelas. Air mata mulai mengalir di kedua pipi nya.
“Biarkan kami memproses saudari Danisa ini dulu ya bu… Silahkan ibu keluar terlebih dahulu! Mohon kerja samanya!” Petugas kepolisian yang mengintrogasi Danisa berusaha bersikap tenang.
“Ingat ya Danisa! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Kau harus membayar mahal semua perbuatanmu dengan mendekam di dalam penjara!” Ancam Ibu tersebut. Danisa tersenyum masam. Wanita ini pintar sekali melakoni peran. Ia jago ber-akting.
“Dasar wanita murahan! Wanita kampung kamu! Tidak tau diri! Kamu tidak berpendidikan dan bersikap bar-bar terhadap anak saya!!” Lanjutnya mencerca. Ia dengan piawai mencaci maki Danisa.
“Aku akan menyewa pengacara terkenal dan tidak akan membiarkanmu bebas! Kamu harus membusuk di balik jeruji besi!!” Ibu dari Mila masih terus mengancam. Wanita tersebut keluar dari ruangan introgasi setelah melontarkan kata-kata kasar. Danisa hanya bisa pasrah dan diam saja mendengar itu semua. Ia dengan acuh mengabaikan semua tuduhan kasar yang dilayangkan padanya. Wajah datar Danisa memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
Petugas kepolisian mencari nomor kontak keluarga dari Danisa yang bisa mereka hubungi. Setelah melakukan berbagai proses pemeriksaan, mereka memutuskan untuk langsung menghubungi nomor kontak dari kediaman Cakrawangsa, alamat rumah Devan. Untuk saat ini, itulah satu-satunya nomor kontak yang bisa mereka tuju untuk mengulik keterangan.
Ranti, ibunya Devan tengah menonton sebuah serial drama Korea dari salah satu aplikasi berlangganan ketika telepon rumah di kediaman mereka berbunyi nyaring. Ranti mengabaikannya. Wanita ini juga baru selesai memanggil dokter dari klinik kecantikan untuk memugar tampilan wajahnya agar selalu terlihat maksimal. Ia jadi tampak awet muda dengan garis kerutan yang memudar.
“Krauukk Kraauuukkk… Hahahaha” Suara renyah dari kerupuk yang beliau kunyah dan tawa menggelegar terdengar. Serial lucu penuh komedi tersebut berhasil membuatnya tertawa. Mood bahagianya memuncak.
Tok tok tok
__ADS_1
Krauuuk krauuuuukk
“Buu… Permisi… Ini Tini” Ucap asisten rumah tangga di kediaman mereka dengan sopan. Suara halus Tini berhasil membuyarkan titik fokusnya.
“Ada apa Tin? Kamu merusak moodku! Ada apa sih?” Tanya Ranti mengeluh. Ia yang tadi nya berbaring langsung mengubah posisi menjadi duduk.
“Ini ada telepon bu… Dari kepolisian!” Sahut Tini.
Praaaankkk
Toples kaca yang ada di genggaman beliau pecah, pecahan nya jatuh berkeping-keping di lantai.
“A,,, apa? Po.. polisi?!” Ranti tersentak kaget. Ia dan keluarga nya seumur-umur belum pernah berurusan dengan pihak kepolisian. Wanita ini sontak terkejut ketika Tina mengatakan bahwa polisi menelpon mereka.
Asisten rumah tangga tersebut perlahan-lahan menyodorkan telepon kepada tuan rumah.
“Ha.. Halo…” Sapa Ranti.
“I… Iya benar. Ada apa ya, Pak?”
“Begini, saudari Danisa Maria Anna kini sedang di interogasi oleh pihak kepolisian terkait kasus pemukulan pada bagian wajah pada seorang wanita tadi malam…” Polisi menjeda kalimatnya.
“Apaa???” Ranti terkejut bukan kepalang. Amarahnya naik mengubun-ubun. Sialan. Umpat hati nya.
“Jadi kami ingin memastikan, apa benar saudari Danisa Maria Anna adalah anggota keluarga dari kediaman Cakrawangsa?” Tanya oknum dari kepolisian. Beliau meruntutkan pertanyaannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Bukan,, bukan.. Anda salah alamat, Pak! Tidak ada nama anak yang baru saja bapak sebutkan di sini! Dia bukan anggota keluarga dari kediaman Cakrawangsa!” Sahut Ranti cepat lalu mematikan teleponnya.
Tuuttt Tuuttt Tuuuttt
__ADS_1
“Anak sialan!” Umpat Ranti lagi.
“Kenapa papa mengangkat anak dengan kelakuan minus begitu menjadi menantu sih?!” Lanjut Ranti geram. Ia mengepalkan tangan. Mood baik yang semula ia dapatkan dari menonton salah satu serial drama ambyar seketika. Wanita yang masih terlihat cantik itu memijat pelipisnya.
***
Kepolisian Anusapati
Danisa masih berada di ruang interogasi. Polisi melakukan pemeriksaan singkat secara sistematis dan berkala. Satu persatu pertanyaan dilontarkan. Danisa masih saja berdiam diri. Sesekali ia menjawab dengan mengetikkan sesuatu di handphone.
“Saudari Danisa, sebaiknya kamu meminta maaf pada saudara Mila atas apa yang telah kamu lakukan!” Titah anggota kepolisian. Gadis tersebut menggeleng. Ia bersikukuh tidak ingin meminta maaf.
“Saya sarankan agar kamu mau mengajukan permohonan maaf. Mereka juga belum tentu mau memaafkanmu… Akui kesalahan dan minta lah perdamaian…” Ucap petugas menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas sekelak lalu menghembuskannya sebelum kemudian lanjut berbicara.
“Akan kuberitahukan pada mu, pengacara hukum Dr. Charles yang akan mereka sewa itu bukan-lah sembarang pengacara! Beliau terkenal orang yang merepotkan jika berada pada persidangan! Kamu tidak akan selamat jika berurusan dengannya!” Petugas menyarankan Danisa untuk mundur agar permasalahan mungkin bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sebab jika melawan Dr. Charles tersebut, akan sulit terlepas dari jerat hukum.
Danisa mengetik sesuatu di handphone-nya.
Aku tidak akan tunduk pada mereka. Sampai kapan-pun aku tidak akan pernah tunduk karena aku tidak bersalah! Danisa memperlihatkan ketikan nya tersebut pada anggota kepolisian.
“Kamu benar-benar keras kepala!” Petugas menggelengkan kepalanya. Danisa tetap bersikukuh pada pendirian dan prinsip yang ia miliki. Mana mungkin Danisa membiarkan sesuatu menyudutkannya padahal ia sendiri tidak berbuat apapun. Mila-lah yang sejatinya mengancam ia sesuka hati. Sedang Danisa sendiri, hanya orang yang sedang membela diri.
Hahaahhahha Hahahhaha
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar. Danisa dan petugas yang mengintrogasi dikejutkan dengan suara tawa yang berasal dari luar ruangan tersebut. Danisa yang terkejut spontan berdiri. Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya. Gadis ini berjalan ke arah jendela selangkah demi selangkah. Ia menggeser sedikit gorden dan mengintip keadaan di luar sana. Orang yang tertawa tadi berada di depannya. Orang tersebut melihatnya dengan memberikan senyuman.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***