
Jihan dan Raga saling berhadapan. Jihan menghampiri sahabat dari Devan tersebut secara privat.
"Bekerja sama lah denganku untuk mencapai tujuan. Danisa adalah tujuanmu dan Devan adalah tujuanku. Kita berada dalam posisi yang sama!" Ucap Jihan pada akhirnya. Raga kontan menatapnya. Ia terenyak dengan apa yang gadis dihadapannya katakan.
"Katakan dengan terang, apa yang ingin kau rencanakan?! " Bola mata Raga sukses berotasi.
"Kita pisahkan Devan dan Danisa. Jika kita berkolaborasi, maka tujuan kita akan lebih mudah tercapai" Ucap Jihan berbisik. Raga tersenyum. Ia melebarkan mulutnya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana? Apa kau menyetujui nya?! " Todong Jihan. Raga tampak berpikir.
"Hmh Jihan..."
"Ya..?"
"Aku ingin sekali bekerja sama dengan mu, berkolaborasi, atau entah apalah itu namanya! Tapi... "
"Tapi apa? " Raga menatap Jihan dengan penuh keseriusan.
"Tapi masalahnya aku menyukaimu bukan menyukai Danisa"
"Ha? A.. Apa? " Jawaban Raga sungguh tak terduga.
"Bagaimana mungkin aku merusak hubungan Devan dan Danisa padahal sebenarnya aku menyukaimu! " Raga mengambil tangan Jihan lalu dibawa ke dadanya. Jihan ternganga.
"Kau bisa mendengar detak jantung-ku yang bertalu-talu ini kan? Resapi dan selami lah agar kau paham"
"Ra... Raga... Apa kah benar bahwa kau... Kau... " Jihan gelagapan. Ia sudah tidak mempedulikan orang di sekitarnya. Raga mengangguk.
"Aku menyukaimu! Tapi......." Raga menjeda kalimat nya.
"Tapi apalagi, Ga? " Tanya Jihan sendu.
"Tapi sayangnya.... aku berbohong! Wueeee! " Raga menjulurkan lidahnya.
"Buaaa... Haahahahaha" Ia tertawa lepas. Raga memegang perutnya terbahak-bahak.
"Raga!!! Kau!!! Kau mempermainkan aku?! " Wajah Jihan memerah. Jari telunjuk nya menunjuk ke dada bidang Raga.
"Jihan Jihan...!" Raga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Entah aku menyukai Danisa atau tidak. Yang jelas, it's not your bussiness! Itu bukan urusanmu! Urus saja urusanmu sendiri, jangan pernah libatkan aku!" Ketus Raga.
Prok Prok Prok
Terdengar suara tepuk tangan dari arah berbeda.
Prof. Daniel?
__ADS_1
"Apa aku sedang menonton pertunjukkan romansa sepasang anak manusia yang sudah tidak remaja lagi, Hm? " Tanya Prof. Daniel menyindir Jihan, muridnya. Wajah Jihan memerah menahan amarah bercampur dengan rasa malu.
"Hi, aku Daniel! " Prof. Daniel mengajak Raga berjabat tangan.
"Kau masih sangat muda, tapi Aku sudah sering mendengar kehebatan mu dalam penelitian obat-obatan" Ucap Raga mencoba ramah.
"Haha, terima kasih atas sanjunganmu, tapi kau berlebihan! Tapi baiklah, teruskan romansa kalian. Aku masih ada kepentingan lain! "
Ada apa Prof. Daniel ke kantor polisi? Jihan mengerutkan keningnya. Bagai mata Elang,
Ia melihat jeli ke arah gerak sang guru yang berjalan menjauh. Di saat bersamaan. Dengan tanpa permisi, Raga juga meninggalkannya seorang diri dalam keadaan mematung.
Awas saja kau Raga!!! Jihan mengepalkan tangannya.
Huh. Dia benar-benar gadis berbahaya! Gumam Raga yang terus berjalan menjauh.
***
Bersama Manggala, Ranti kembali ke kantor polisi. Ia telah menelan sebutir pil penurun darah dan meminum ramuan herbal yang dibuatkan oleh para asistennya. Jika belum ada kabar kejelasan mengenai masalah yang menimpa Danisa, ibu dari Devan tersebut merasa tidak tenang. Bagaimana pun ia harus memastikan bahwa Devan benar-benar akan memutuskan pertunangan mereka sebelum kabar ini di endus oleh media.
"Aku sama sekali tidak yakin Danisa berbuat demikian! Ini semua tidak mungkin! " Ucap Manggala ketika mereka tiba di depan kantor kepolisian.
"Apa yang tidak mungkin, Mas? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Banyak kita dengar atau kita lihat berita di media masa, seorang anak polos innocent tapi malah dia yang sebenarnya merupakan pelaku pmbunuhan!" Tukas Ranti.
"Pokoknya Mas jangan sampai tertipu dengan tingkah lugunya!" Ranti terus mewanti-wanti. Manggala hanya bisa diam. Mendebat juga percuma. Hanya akan menambah panjang kalimat tapi tidak akan menemukan solusi. Dengan gerak cepat mereka memasuki kantor kepolisian.
"Kamu masih di sini, Nak? "
"Iya, aku menunggu Devan. Entah kemana perginya Devan, Tan! Nomornya tidak bisa di hubungi" Ranti terharu akan kesetiaan Jihan. Ia mengusap ringan pundak gadis tersebut.
"Bagaimana perkembangan gadis itu? "
"Danisa masih diperiksa di dalam ruangan. Mungkin akan segera dipindahkan ke tahanan resmi" Ranti mengangguk.
"Semoga dengan adanya penahanan ini membuat Devan membuka mata hatinya! Toh, dari awal mereka sama-sama tidak saling mencintai!" Ketus Ranti. Manggala merasa prihatin. Beliau mengedarkan pandangan ke sekeliling, tampak Raga yang tertidur di pojokan ruangan. Cakrawangsa yang baru dari toilet mendekati mereka semua.
"Kamu sudah baikan? " Tanya Cakrawangsa pada Ranti yang sudah tampak lebih segar.
"Aku tidak akan sehat selama status Danisa masih menjadi tunangan Devan, Pa! " Tukas Ranti. Cakrawangsa menggelengkan kepala.
Driiiiit
Deritan suara pintu ruang interogasi terbuka. Danisa sudah diborgol siap di pindahkan ke tahanan. Mr. Xavier keluar beserta nya. Kini semua atensi beralih ke Danisa yang tampak tegar.
"Siapa yang bisa menyangka, wajah seperti malaikat tapi bisa berurusan dengan barang haram! Jangan-jangan masih banyak kejahatan lain yang tidak kita ketahui" Sindir Jihan tepat saat Danisa hampir melewati mereka. Ranti semakin menatap Danisa dengan tatapan benci. Raga yang terbangun langsung mendekat.
"Mr. Xavier, apa kau tidak melakukan pembelaan terhadap Danisa? Mengapa Danisa diborgol?!" Todong Raga mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Sayang sekali. Nona Danisa tidak mau aku yang menjadi kuasa hukumnya! " Ucap pengacara muda tersebut.
Dddrrrrttt Drrrtttt
Xavier merasa handphone nya bergetar. Sebuah pesan tertera di sana.
Xavier, pulang sekarang juga! Aku menunggumu di ruang tengah.
Papa? Xavier mengernyit kan keningnya membaca pesan mendadak yang ayahnya layangkan.
"Danisa sudah tau kalau dia bersalah, makanya dia tidak mau dibela! " Sahut Jihan sekenanya.
"Siapa bilang Danisa bersalah? " Suara menggelegar tiba-tiba terdengar dari arah berbeda. Devan hadir dengan para asisten beserta wanita yang menjebak Danisa.
"Tutup mulut beracun mu, Jihan! " Lanjut Devan lagi. Jihan berubah pucat.
"Danisa, mengapa kamu menolak Mr. Xavier? Aku lah yang menyuruh beliau untuk membelamu, Mr. Xavier adalah orang ku! " Ucap Devan. Mata Danisa membola terkejut. Jihan dan yang hadir di sana tak kalah terkejut. Cakrawangsa tersenyum melihat aksi cucu kesayangan nya.
"Dev, are you crazy? Dia bersalah tapi kamu tetap membelanya?! " Tanya Ranti kembali terhuyung. Beliau memijat pelipisnya sambil memperbaiki hiasan rambut berkilau nya. Devan terdiam.
Tap Tap Tap
Suara sol sepatu pantofel kembali terdengar memecah keheningan sesaat.
"Tidak perlu, tidak perlu kau membela Danisa, karena Danisa aku sendiri yang akan menjadi kuasa hukumnya! "
Mr. Charles?
"Danisa, kenapa kau tidak mengabarkanku? Membelamu, orang yang tidak bersalah adalah kewajiban ku. Bagaimana mungkin aku mengabaikanmu?! " Mr. Charles meletakkan tangan nya di pundak Danisa sebelah kanan.
Sreeeeg
Devan dengan cepat menepis tangan Charles yang berada di pundak Danisa. Pemuda tersebut melayangkan tatapan tajam pada pengacara kondang tersebut. Tatapan tidak suka.
"Semua bukti yang menyatakan kalau Danisa tidak bersalah ada padaku. Kau tidak perlu repot-repot Mr. Char-les! " Ucap Devan dengan nada kaku namun penuh makna.
"Ha.. Hahahahha... Good Good... Tapi Kau bukan pengacara. Aku-lah yang seorang pengacara. Kau berikan Bukti-bukti tersebut padaku, dan aku akan melakukan pembelaan pada Danisa" Ucap Charles.
Jihan diam-diam hendak melangkah keluar ruangan.
"Jihan! mau kemana kau?! " Tanya Devan tiba-tiba dengan nada keras. Sontak Jihan mematung.
***
Setelah baca jangan lupa Like nya ❤
Info 👇
__ADS_1
IG: @alana.alisha