
"Kau kelelahan.. Wajahmu sangat pucat.. Tensi darahmu rendah..." Ucap Prof. Daniel setelah memastikan kondisi Danisa.
"A... Aku..." Danisa tergugu. Ia tidak mampu berkata-kata. Airmatanya mengalir. Prof. Daniel mengerti, apa yang Danisa alami saat ini bukan hanya rasa sakit fisik semata melainkan ada tekanan emosional dari dalam jiwanya.
"Jangan menangis... Jangan menangis..." Lirih Prof. Daniel mengusap air matanya.
"Prof.... A... Aku bersalah... Hiks hiks... " Danisa terisak. Banyak sekali asa yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Sssttt... Tidak ada yang salah... Kau tidak bersalah... " Prof. Daniel memeluknya. Suara pemuda tersebut ikut parau.
"Prof.... Hiks hiks hiks... " Danisa semakin terisak. Dalam dekapan Prof. Daniel, entah mengapa ia menemukan kenyamanan.
"Aku di sini... Aku bersamamu... Aku di sini... Aku yang salah... Aku yang bersalah... Kau tidak... Kau tidak bersalah... " Racau Prof. Daniel memberikan penekanan dengan ikut menitikkan airmata.
Driiit
Suara pintu berderit ringan. Devan dan Roula masuk bersamaan. Mereka sejenak mematung. Devan memicingkan matanya saat melihat Prof. Daniel memeluk mesra calon istri nya.
"Hmh... " Devan berdehem keras.
"Danisa tidak membutuhkanmu di sini! Kau sebaiknya enyah! " Ucap Prof. Daniel menyindir Devan setelah melepaskan pelukannya. Prof.Daniel mengambil botol cairan infus dengan mengkode Roula untuk membantu memasangkan jarumnya.
"Danisa, kau ber istirahat lah. Seperti keinginan mu, besok kita akan menikah. Aku akan menyiapkan segala keperluan nya... Sekarang aku permisi dulu. Aku akan mengirimkan orang ku untuk berjaga-jaga di luar apartemen mu... " Ucap Devan menatap manik mata Danisa. Tidak ada kebohongan yang terlihat di sana. Namun Danisa menafikannya.
"Kau benar-benar akan dinikahi olehnya?! " Prof. Daniel mengguncang pelan pundak Danisa setelah Devan berlalu. Gadis tersebut terdiam. Ia melirik Roula yang masih sibuk dengan peralatan medis seadanya. Prof. Daniel mengerti bahwa Danisa merasa tak nyaman dengan keberadaan Roula, orang yang akhir-akhir ini selalu membersamai nya seperti bayangan.
Drrrttt Drrrttt
Handphone Prof. Daniel berdering. Nama Mr. Charles tertera di layar. Dengan melirik Danisa juga Roula, Prof. Daniel memilih menepi lalu mengangkat panggilan telepon tersebut.
Daniel, kau sudah gila!! Sambur Mr. Charles tanpa basa basi.
"Sssstttt... Charles... Tenanglah...!" Prof. Daniel berbisik.
Bagaimana aku bisa tenang? Kau benar-benar sudah gila! Kau tak waras!! Masalah Danisa belum menemukan titik terang, mengapa kau sudah mempersiapkan peti mati?! Mengapa kau sudah menulis surat wasiat?! Kau mengapa?! Mr. Charles terus menodong pertanyaan dengan nada tinggi. Suara nya menunjukkan bahwa ia benar-benar cemas. Suara keras Mr. Charles menyebabkan Prof. Daniel terpaksa menjauhkan telinga nya dari speaker.
"Kita akan bicara nanti! Aku pasti akan menemuimu... Yang jelas, aku akan bicara dengan Danisa lebih dulu setelah keadaannya sudah lebih baik! Kau tau? Danisa dan Devan akan menikah besok! Rencana ini jauh lebih gila dari pada rencana-rencana yang sudah kupersiapkan. Kau tenanglah di sana! Setidaknya kau bantu dengan doa daripada menaikkan tensi darah!" Sambar Prof. Daniel mengakhiri pembicaraan mereka.
Dan... Danielll...
Tut Tut Tut
__ADS_1
Arrrggghhh...
...****************...
Danisa terlelap. Wajah polos seperti bayi keseketika terlihat. Obat tidur sekaligus obat penenang dosis rendah telah Prof. Daniel suntikkan agar gadis tersebut bisa beristirahat dengan nyenyak.
Danisa mengaku sudah berhari-hari ia tidak bisa tidur. Jika pun bisa memejamkan matanya, maka tak ayal mimpi buruk selalu saja datang menghampiri. Hal tersebut juga membuat Danisa takut untuk tidur. Selain itu, akhir-akhir ini Danisa juga begitu sering berhalusinasi. Sepertinya stress berat adalah pemicu yang utama.
"Istirahat lah dengan tenang. Besok dan seterusnya kau akan melewati hari-hari yang berat..." Prof. Daniel mengusap-ngusap puncak kepala dan meninggal kan jejak kecupan di sana. Lalu ia melangkah keluar kamar.
Terlihat Roula di dekat pantry berdiri menghadap jendela. Botol minuman sudah ada di tangannya. Ia yang hendak membuka segelnya terperanjat melihat Prof. Daniel yang berjalan ke arahnya dengan menatap tajam.
Tap Tap Tap
Suara ketukan sepatu terdengar di lantai parket. Jantung Roula berdegup kencang. Prof. Daniel berjalan semakin dekat.
Deg
Sreeettt
Pemuda tersebut tiba-tiba mencengkram botol minuman. Namun bukan botol minuman dari tangan Roula, melainkan dari atas nakas. Ia mulai membuka segel dan berjalan menuju balkon. Prof. Daniel membuka pintu dengan sebelah tangannya. Seketika angin dingin masuk ke dalam berdesau-desau.
Prof. Daniel mulai akan menyicip tegukan pertama nya. Roula yang sempat terperanjat dengan cepat datang menghampiri. Hampir saja minuman beralkohol dosis tinggi tersebut mencapai bibir mulut Daniel, dengan cepat Roula merampasnya.
Psyuuu
Tinggg
Braaakk
Ting Ting Ting
Gerakan tak mulus Roula menyebabkan minuman tersebut terhempas ke lantai dan menggelinding. Seketika isi dari minuman ber alkohol dengan harga mahal tumpah ruah di lantai.
"Roula... Apa yang kau lakukan?! "
"Kau tidak mengkonsumsi alkohol, mengapa sekarang kau mau menenggaknya?! "
"Aku hanya ingin menemanimu minum.. Kau frustasi karena dia akan menikah kan?" Lirih Prof. Daniel.
"Aku memang frustasi. Tapi kau lebih frustasi. Setidaknya aku memang terbiasa mengkonsumsi alkohol. Tapi tidak denganmu! Daniel, ada apa denganmu?! Ada apa?! " Roula bertanya dengan nada tinggi. Prof. Daniel terdiam. Rencana pernikahan yang Danisa usung membuat pikirannya kacau. Apalagi gadis tersebut mengaku akan membunuh Devan jika memang terbukti bersalah. Prof. Daniel benar-benar tidak bisa meletakkan Danisa dalam bahaya. Namun gadis keras kepala tersebut bersikeras dan tidak ingin apa yang sudah menjadi putusannya diganggu gugat.
__ADS_1
"Apa kau memikirkan Danisa? " Kali ini Roula bertanya pelan. Ia berjalan lebih mendekat.
"Aku tau kau mengkhawatirkan banyak hal. Tapi kau harus kuat... "
Sreeggg
Prof. Daniel merengkuh Roula. Ia memeluk gadis tersebut erat-erat. Prof. Daniel seolah-olah ingin Roula mengetahui bagaimana kacau perasaannya saat ini. Pemuda dingin tersebut bukanlah orang yang bisa Mengekspresikan perasaan nya dengan baik. Namun semua bisa Roula rasakan hanya melalui mata dan pelukan hangat.
"Roula....!! " Pekik Prof. Daniel tiba-tiba sambil membawa gadis tersebut menghindar.
Braakkk
Sebuah batu kerikil mendarat mulus di pintu kaca balkon. Seseorang tak dikenal melemparnya. Prof. Daniel dan Roula saling menatap dengan mengerutkan kening mereka.
...****************...
Gedung A, Pukul 17.00 WIB
Suasana sepi. Tidak ada gaun indah, tidak ada tamu undangan selain kerabat dekat, tidak ada kue yang menjulang atau bucket-bucket bunga yang indah bermekaran.
Yang terlihat hanyalah wajah-wajah muram. Fasilitas seadanya, juga wajah-wajah yang menekuk ke bawah. Pernikahan dadakan Devan dan Danisa jauh dari kata kemewahan. Wajar saja, mereka harus menghindari celah jika-jika kabar pernikahan yang dilakukan diam-diam tersebut bisa terendus oleh para wartawan hingga beredar di masyarakat. Jika itu terjadi, semua akan semakin runyam.
Rencana sudah di dusun dengan rapi. Pun Devan ingin membuat pernikahannya sedikit berkesan, namun Ranti dengan mudah mengacaukan semua keinginan nya. Wanita cantik paruh baya tersebut berkeyakinan bahwa ini hanyalah penikahan palsu yang dilandasi oleh banyak kebohongan dan bersifat sementara. Jadi tidak ada yang perlu diagungkan.
Ranti juga terpaksa menyetujui ini semua sebab kemarin, selama dua jam penuh Gunawan memberikan wejangan dengan argumen-argumen penuh logika nya agar Ranti merestui pernikahaan tersebut. Mempermainkan perasaan lawan bicara dengan logika, Gunawan memang ahlinya.
Di sudut lain, Prof. Daniel terpekur. Ia mengamati wajah sendu Danisa. Jujur saja, Prof. Daniel sendiri termasuk ke dalam barisan orang-orang yang sebisa mungkin mencegah agar Danisa jangan masuk ke dalam perangkap keluarga Cakrawangsa.
Namun Danisa sendiri sudah terlalu yakin ia bisa membereskan masalahnya sendiri. Danisa berjanji akan berpisah dari Devan jika semua sudah selesai. Perkataan Danisa yang sempat terlontar pernyataan bahwa hidupnya sudah tidak terlalu penting lagi membuat Prof. Daniel terenyuh. Pemuda tersebut benar-benar kehabisan cara menghadapi kepala batu gadis yang sehari-hari nya nyaris berwajah datar tanpa ekspresi tersebut.
"Aku tidak akan pernah berhenti menanyakan kabarmu! " Ucap Prof. Daniel. Danisa berkaca-kaca. Orang yang sudah ia anggap seperti kakak dan sahabat tersebut terasa begitu menyayangi nya.
Sreettt
Devan mencengkram pergelangan tangan Danisa.
"Istriku, kita sudah ditunggu.. kenakan maskermu! " Titah Devan penuh penekanan dengan mata yang menatap tajam ke mata Daniel tanpa sedikit pun berkedip. Ia langsung menggiring Danisa keluar.
...****************...
IG: @alana.alisha
__ADS_1