
Braakk
Pintu dibuka paksa oleh kawanan berjubah. Salah satu dari mereka memberikan kode dengan gerakan mata untuk memeriksa. Mata-mata elang tersebut terus mengintai mengamati tiap sudut gubuk. Namun tidak terlihat adanya tanda-tanda mencurigakan kecuali sebuah tumpukan jerami.
Tap Tap Tap
Satu persatu mereka langkahkan kaki untuk mendekat. Danisa gemetar. Ia menahan nafas.
Sreekk
Mereka memindahkan tumpukan jerami tersebut dengan gerakan cepat. Kosong.
“Shiii*t! Kemana mereka?!”
Buuugghh.
Kreeekk
Kesal, salah satu dari mereka memukul tiang gubuk usang yang terbuat dari bambu. Bangunan yang tidak terlalu kuat tersebut berguncang.
“Cepat cari mereka sampai dapat sebelum malam tiba!! Kalian ke sana! Kami ke sebelah sana! ” Titah seseorang yang paling senior di antara kawanan.
“Siap bos!!!” Mereka langsung menjauhi gubuk tersebut dan kembali melanjutkan pencarian dengan berpencar.
Treeett
Perlahan Raga membuka lubang kecil seukuran tubuh manusia yang menyerupai pintu penyekat. Engsel yang berkarat menyebabkan bunyi derit yang keluar tidak enak untuk didengar oleh telinga.
"Aku periksa mereka dulu! "
"Kak Raga, hati-hati!" Pinta Danisa. Raga tersenyum dan mengangguk. Pemuda tersebut mulai bergerak keluar. Di dalam ruang persembunyian yang sempit dan pengap, Danisa melihat cemas ke tubuh Devan yang menggigil.
Ya Tuhan...
"Ku mohon bertahanlah...!" Lirih Danisa. Gadis tersebut meraba kening Devan.
Suhunya tinggi sekali! Bagaimana ini?! Danisa mulai panik. Ia bangkit .
Duug
Awww. Danisa mengaduh sambil mengusap kepalanya yang tidak sengaja terbentur kayu. Sakit. Namun ia tetap berusaha mengintip keluar.
"Sementara aman. Mereka sudah pergi dengan menyebar. Tapi aku tidak tau kedepannya akan bagaimana! Semoga mereka tidak kembali lagi ke sini" Terlihat Raga menghampiri Danisa.
"Kak, suhu tubuh Devan sangat panas! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit! " Raga mengangguk. Ia membantu Danisa mengangkat Devan keluar dari ruangan pengap tempat yang tadi tidak sengaja mereka temukan selagi panik.
"Kita tunggu sebentar lagi sampai benar-benar aman! " Lanjut Raga. Danisa mengangguk. Di luar sana tiba-tiba hujan turun sangat deras. Seperti nya tanah tempat mereka berpijak tidak lama lagi akan berair. Raga menumpuk-numpuk jerami dan membaringkan Devan ke atasnya. Pemuda tersebut juga membuka jaket dan membaluti tubuh orang yang sudah menjadi sahabat nya sejak bertahun-tahun lalu itu. Danisa duduk di sebelah Devan. Gadis tersebut mengganti kain balutan di luka Devan yang terkena sabitan pedang dengan kain yang baru.
Syukurlah panasnya mulai menurun. Danisa tersenyum lega.
__ADS_1
"Aku bersyukur ternyata kau benar-benar bisa bicara! " Ucap Raga yang sedari tadi menatap pergerakan Danisa dengan mata berkilat penuh kebahagiaan. Gadis tersebut tersentak. Ia menghentikan pergerakan dan menatap Raga dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
"Aku terpaksa melakukannya, hmh.... dan aku akan terus tampil di muka umum seolah-olah aku tidak bisa berbicara!" Raga terpaku sesaat.
"Aku akan merahasiakan nya! Kau bisa sepenuhnya mempercayai ku! " Ucap Raga seolah mengerti apa yang Danisa inginkan. Gadis tersebut kembali membalut kan kain yang baru saja di robek dari pakaiannya. Raga memperhatikan dengan saksama apa yang Danisa lakukan.
"Tidak tau apa yang tengah menimpamu... Tapi kumohon berhentilah! Aku tidak ingin kau mengalami hal buruk!" Ucap Raga. Perkataan pemuda tersebut persis seperti apa yang Devan inginkan.
"Kehidupan mengerikan adalah kehidupan yang mau tidak mau, senang tidak senang harus kujalani!" Sahut Danisa tanpa ekspresi dan tetap terus bekerja menyempurnakan kain balutan pada luka Devan.
"Kalau begitu, bisakah kalau aku meminta mu membagikan kehidupan sulit yang kau jalani denganku?" Pinta Raga seduktif. Danisa menoleh.
"Sebaiknya kakak menjauhiku! Jangan pernah sekali-kali terlib... "
"Seperti kehidupan yang dulu pernah kita jalani. Kita selalu berbagi banyak hal yang sama, suka dan duka di setiap waktunya! " Raga langsung memotong perkataan Danisa. Gadis tersebut terdiam.
"Maaf, apa ini ada hubungan nya dengan kecelakaan tante Daisy?"
"Bukan kecelakaan, melainkan dibunuh!" Sahut Danisa cepat. Matanya kembali berair.
"A.. Apa?" Raga sangat terkejut. Bagaimanapun Daisy merupakan salah satu orang penting dan berjasa dalam hidupnya.
"Aku berharap, hanya sampai di sini kakak terlibat dalam masalahku. Selebihnya, biarkan aku mengurus sisanya" Ucap Danisa diam-diam mengusap air matanya.
"Dan sekarang... Mereka menargetkanmu untuk dibunuh, kan?!" Suara Raga meninggi. Danisa kesulitan menelan salivanya.
"Danisa... bagaimana mungkin kau bisa sesantai ini padahal kau menjadi sasaran empuk mereka?! Kau pikir setelah semua peristiwa ini aku bisa diam saja?! Kau salah besar!! " Danisa memejamkan mata.
"Kauuu!"
"Lebih baik kakak berpura-pura tidak tau dan menutup telinga atas ini semua! " Titah Danisa. Raga ternyata lebih ekspresif dari yang diduga. Danisa tidak bisa melibatkan Raga lebih jauh dalam masalahnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu... "
Duaaaarrrrrr!
Terdengar suara petir menyambar. Hujan turun semakin deras. Danisa sedikit tersentak. Bukan karena suara petir yang terdengar memekakkan telinga namun karena ia seperti bernostalgia kembali ke masa lalu. Ke masa ketika ia dan Raga masih tinggal bersama-sama sebagai adik dan kakak.
"Sudah senja, sebentar lagi malam. Apa yang harus kita lakukan? " Tanya Danisa mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan kembali ke titik semula dan memeriksa mobil kita lalu membawanya ke sini! Itu juga jika mobilnya tidak di hancurkan oleh mereka!"
"Kenapa kita tidak meminta bantuan saja melalui handphone? " Pupil mata Danisa membesar.
"Sayang sekali handphone nya rusak ketika tadi kami berkelahi" Sahut Raga. Danisa mendengus dan mengerucutkan bibirnya.
"Hmh... Sebaiknya jangan sekarang, Kak! Sangat riskan... aku khawatir mereka masih berada disekitar! Mungkin jika suasana langit sudah berubah menjadi lebih gelap, baru kakak bisa menge-cek keadaan! " Saran Danisa.
Demi apapun, berada di dekat Danisa dan mengobrol secara intens dengan gadis tersebut membuat Raga benar-benar kesulitan bernafas. Ia terlalu bahagia. Walau kondisi sekarang bukanlah kondisi seperti yang ia harapkan, namun bersama Danisa semua seperti terasa mudah. Binar indah gadis yang berada di dekatnya terasa meneduhkan. Dalam suasana hujan yang turun merambat-rambat, akhirnya Raga tertidur pulas.
__ADS_1
Dgdgh Ssfpss Dgdgh Ssfpss
Raga terbangun ketika mendengar suara dengan bunyi yang tidak terdengar jelas. Hujan telah reda terlihat dari lubang-lubang dinding yang menganga. Suasana alam semakin redup. Petang akan berganti malam.
Raga langsung menghampiri Devan. Sahabatnya tersebut ternyata tidak berhenti meracau. Suhu tubuhnya juga semakin tinggi. Bibirnya pucat pasi.
Gawat! Devan harus segera dibawa keluar dari sini! Raga memijat pelipisnya. Berpikir keras.
Tunggu, tapi dimana Danisa?! Raga mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pemuda tersebut langsung bangkit karena panik dan berlarian kecil menge-cek ke tiap sudut ruangan. Nihil. Danisa tidak ditemukan di mana pun.
Apa jangan-jangan dia sudah ditangkap ketika aku tertidur?! Seketika Raga disergap oleh perasaan cemas yang luar biasa. Pemuda tersebut sangat merasa bersalah.
"Devan, maaf... aku tinggalkan kau sebentar... bertahanlah! Danisa dalam bahaya! Aku akan segera kembali! " Baru saja Raga akan pergi mencari gadis tersebut, Danisa sudah kembali dengan segunung rumput-rumputan ilalang di tangan. Wajahnya kotor, bajunya belepotan tanah.
"Kau darimana saja?! Apa itu?! " Raga mengerutkan keningnya. Danisa dengan cepat meletakkan berbagai jenis tanaman yang ia dapatkan. Ia mengambil batu dan mulai menumbuk-numbukkannya di atas batu kosong.
"Aku tidak tau ini akan berguna atau tidak... Tapi aku harus mencobanya! Aku khawatir jika Devan tidak bisa bertahan! " Ucap Danisa dengan gemetar. Ia menggigil, tubuhnya basah kuyup diguyur hujan karena mencari dedaunan herbal. Hati Raga mencelos.
"Kau sudah gila!! Kalau kau tersesat di dalam hutan sana bagaimana?!" Hardik Raga. Danisa tetap pada posisinya.
"Kalau kau tertangkap oleh mereka... Apa yang bisa gadis kecil seperti mu lakukan, hah?! " Tak sabar. Raga mengguncang tubuh Danisa.
"Kak, sudah tidak ada waktu lagi! Devan bisa mati!" Raga tersentak, ia melihat ke wajah Devan yang semakin biru memucat.
"Bantu aku melepaskan pakaiannya! " Titah Danisa. Tak ada pilihan, Raga membantu Danisa melepaskan pakaian Devan yang berlumuran darah. Dengan cekatan gadis tersebut membubuhkan daun-daunan yang sudah berubah menjadi *******-******* berlendir ke atas luka Devan.
"Minggirlah... Biar aku yang membantumu! " Pinta Raga.
"Jangan khawatir, aku ini seorang dokter..." Lirih Danisa. Ia mulai meneliti tubuh kekar Devan. Gadis tersebut khawatir kalau saja ada luka lain yang tidak terlihat oleh nya.
"Kau begitu mengkhawatirkan nya hingga kau tidak memikirkan dirimu sendiri..." Raga tersenyum masam. Ia bangkit membalutkan Danisa dengan jas yang tadi ia gunakan membalut tubuh Devan.
"Aku baik-baik saja... Aku seorang dokter, sudah seharusnya aku melakukan ini! " Sahut Danisa.
"Jika orang tersebut bukan Devan, apa kau akan melakukan hal yang sama? Apa kau juga akan mengambil resiko keluar dari tempat ini dan menyerahkan dirimu begitu saja pada para penjahat itu jika kau tertangkap?! Begitu?! " Raga menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Devan yang sudah menolong ku kak, karena aku... dia terluka seperti ini... " Raga menghembuskan nafasnya ke udara.
"Aku akan pergi keluar mencari kayu bakar! Kakak temani Devan di sini. Sebentar lagi malam datang. Tidak ada satu penerangan pun di sini! " Pintar Danisa. Ia hendak bangkit.
"Kau benar-benar sudah gila!! " Raga murka.
Sreeet.
Belum sempat Danisa bangkit dari duduknya, seseorang dengan suhu tubuh tinggi memegang pergelangan tangannya.
"Jangan kemana-mana... " Lirih orang tersebut dengan suara yang hampir tidak terdengar.
***
__ADS_1
IG: @alana.alisha