Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 30: Danisa Melakukan Operasi


__ADS_3

Tap Tap Tap


Dengan langkah gontai Rudi menemui salah satu tim operasi yang sebelumnya bertanggung jawab menangani kakek Rowan. Sedang Danisa dan Charles sudah memasuki ruangan operasi.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Rudi. Sebagai pimpinan rumah sakit, ia merasa ada yang tidak beres.


“Sebenarnya operasi yang dipimpin oleh dokter Jihan bukan gagal melainkan kami hentikan!”


“Apa? Di hentikan?”


“Kami terpaksa menghentikannya karena ternyata dokter Jihan tidak ahli dalam menangani kasus tuan Rowan dan tadi saat operasi berlangsung, keadaan beliau semakin memburuk. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, operasi langsung dihentikan!”


“Bagaimana ini bisa terjadi?! Ini fatal! Rumah sakit kita bisa di pidana! Tidak hanya rumah sakit ini saja. Jihan, kau juga aku!” Rudi memijat pelipisnya. Pimpinan Rumah sakit Ramayana ini murka. Dokter tim bedah menunduk dalam.


“Aku harus menemui penanggung jawab yang mengizinkan operasi tadi berjalan!” Rudi bangkit.


“Sebentar pimpinan! Sebenarnya operasi yang berjalan semata-mata bukan kesalahan penanggung jawab. Ini semua sudah di setujui dan di sepakati oleh kedua belah pihak! Dokter yang bersangkutan juga pihak keluarga! Apalagi pihak keluarga tidak ingin mengambil resiko!” Rudi terenyak.


Di sisi lain, Danisa dan Mr. Charles memasuki ruangan operasi dengan langkah pasti. Sesampainya di sana mereka tercengang.


Mr. Charles merasa mual. Beliau ingin muntah. Keadaan kakek Rowan sudah sangat parah. Darah berceceran dimana-mana. Kain kasa berserakan. Bau tidak sedap memenuhi ruangan tertutup tersebut dengan suhu ruang di titik terendah. Wajah kakek Rowan membiru. Benar-benar keadaan yang tidak layak.


Danisa dengan cepat memeriksa denyut nadi sang kakek. Masih berdenyut. Gadis ini sendiri sebenarnya merasa tidak yakin akan keberhasilan operasi lanjutan yang akan dilakukan. Namun ia tidak memiliki pilihan lain selain harus optimis.


Sreet


Lampu khusus di hidupkan. Danisa memandang semua anggota tim memberi semangat. Mereka mengangguk berharap penuh pada dokter hebat. Danisa sudah sangat ingin menangis, namun ia menahan agar tangisannya tidak keluar. Danisa harus professional.


***


Raga tersentak. Ia yang mati-matian berusaha menahan kantuk akhirnya tertidur juga. Pemuda ini memeriksa jarum yang berputar pada jamnya. Ternyata sudah sejam-an lebih ia tertidur di depan ruang operasi yang masih tertutup rapat.


“Dev, apa sudah ada kabar?” Tanya Raga cemas. Devan menggeleng.


“Mama mana?”


“Tante Rania ke toilet bersama Jihan!”


Seluruh keluarga masih setia menunggu kabar baik dari depan ruangan operasi.

__ADS_1


“Hhhhhh… Dokter Dan Ara… Ia tidak sehebat nama besarnya. Benar-benar sangat mengecewakan!” Gerutu Raga kesal.


“Mungkin ada suatu hal yang terjadi. Tidak mungkin beliau mempertaruhkan nama baiknya dengan datang terlambat. Apalagi kita juga telah membayarnya sepuluh kali lipat!” Devan menepuk-nepuk pundak membesarkan hati Raga. Sahabat Devan tersebut bangkit mendekat ke ruangan operasi mencoba mengintip ke dalam walau gagal.


Tiba-tiba terlihat seorang wanita dari arah berlawanan datang tergopoh-gopoh.


“Raga, bagaimana kabar papa Rowan?!”


“Maaf, anda siapa?” Raga mengerutkan keningnya.


“Dia Mira. Sahabat Mama, Ga!” Rania yang baru keluar dari toilet memberikan informasi.


Sahabat? Gumam Raga dan Devan bersamaan. Heran.


“Mira ini yang membantu kita melaporkan Danisa! Mama sangat bersyukur mengenal beliau!” Rania memberi senyuman tulusnya pada Mira. Devan memicingkan mata mengingat ingat kejadian baru-baru ini. Wanita yang ada di hadapannya pernah mengaku bahwa ia adalah ibu tirinya Danisa.


Siapa orang ini sebenarnya? Devan membatin. Ia mulai curiga. Jujur saja, Mira sedikit terkejut akan keberadaan Devan. Ini semua benar-benar di luar prediksinya.


“Nah tante,, benar kan apa yang Jihan katakan? Danisa itu memang pembuat ulah! Dia wanita kampungan yang tidak berpendidikan! Tega-tega nya dia berbuat jahat pada kakek Rowan hingga hampir membuat nyawa kakek melayang!” Jihan memanfaatkan situasi. Ia tidak boleh lengah dalam memanas-manasi keadaan. Rania mengangguk sedih. Airmatanya kembali memupuk.


Jihan sial*n! Umpat Devan. Rasanya ingin sekali ia menyumpal mulut berbisa teman lamanya itu. Bisa-bisanya di tengah situasi genting seperti ini Jihan memperkeruh keadaan. Devan mendengus sebal. Ia berusaha menguasai diri. Mau menyanggah juga akan percuma.


Satu hal yang tengah Devan pikirkan. Kenapa Danisa bisa berada di ruangan tempat kakek Rowan biasanya di rawat. Pemuda ini berpikir keras. Ingin rasanya ia segera menemui Danisa namun Devan juga tidak mungkin meninggalkan kakek Rowan begitu saja.


“Pisau bedah!”


“Jarum!”


“Pisau kecil!”


Danisa terlihat sangat mahir. Mr. Charles terkagum-kagum.


Danisa, kau benar-benar cucu nenek Paula! Gumam Charles penuh haru.


***


Tap Tap Tap


Rudi dan rombongan tim dokter melangkah cepat datang menghampiri keluarga Raga dan Devan.

__ADS_1


“Dok, Dokter internship ini yang telah lancang masuk ke ruangan dan melakukan tindakan operasi illegal terhadap tuan Rowan! Dia telah melakukan hal fatal!” Tiba-tiba salah seorang tim dokter berkata dengan menunjuk Jihan. Kini semua atensi bertumpu ke gadis tersebut. Jihan terkejut mendapat serangan dadakan.


“A… Aku…?” Jihan gelagapan.


“Apa?! Operasi illegal? Jadi kau yang sengaja ingin mencelakai kakek, hah?! ” Mendengar hal tersebut Raga seperti di sambar petir. Ia yang merasa tertipu langsung meninggikan suara. Jihan menggeleng cepat. Devan memegang lengan Raga yang siap melayangkan kepalan.


“Apa kau tau apa yang kau lakukan? Apa kau tidak sadar dengan kapasitasmu?!” Rudi ikut angkat bicara dengan intonasi yang lebih rendah.


“Tante…” Lagi-lagi Jihan menggeleng memberikan isyarat kalau ia tidak bersalah.


“Aku tau kapasitasku. Aku sadar diri! Hanya saja, aku tidak tega membiarkan kakek Rowan kenapa-napa!” Lirih Jihan. Devan tersenyum masam.


“Tapi hal ini sangat berbahaya Nona!” Sahut tim dokter lainnya.


“Dari pada tidak melakukan usaha sama sekali?! Aku adalah seorang dokter berprestasi. Aku hanya melakukan yang terbaik! Walau operasi tidak berjalan mulus, setidaknya aku yang menyelamatkan kakek Rowan dari masa-masa kritis! Semua pihak juga terlibat dalam mendukungku melakukan operasi!” Tukas Jihan mengeluarkan kartu AS nya. Ia berbicara sembari menitikkan airmata.


“Ini semua karena Danisa! Coba saja ia tidak berniat mencelakakan kakek! Semua tentu akan baik-baik saja!”


“Danisa lah dalang dari ini semua! Dia yang seharusnya di hukum!” Lanjut Jihan lagi.


“Tutup mulutmu, Jihan! Stop menebarkan racun! Berkali-kali kau menuduh Danisa, berkali-kali ia tidak bersalah! Apa kali ini kau masih ingin membual dan berakhir menyedihkan?” Devan yang sedari tadi menahan diri akhirnya mengeluarkan suara menghardik Jihan. Wanita tersebut akhirnya bungkam.


Awas kau Danisa! Kau boleh berbangga hati Devan memihakmu! Tapi aku bersumpah tidak akan membiarkan hal ini berlangsung lama. Jihan mengepalkan tangan. Kesal.


“Dev, jangan keterlaluan! Jaga sikapmu!” Bisik Ranti.


“Kau beruntung pasien tidak kenapa-napa, tim dokter yang handal dengan cepat bisa mencegahmu! Kalau tidak, kau bisa dijatuhi hukuman mal-praktik! Ini surat peringatan untukmu!” Rudi menyodorkan sebuah surat SP. Jihan menerimanya dengan hati lega. Devan dan Raga menatap Jihan tajam.


“Dok, sudah beberapa jam berlalu. Bagaimana keadaan papa?” Tanya Rania dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.


“Aku baru mendapat kabar bahwa keadaan kakek Rowan semakin membaik! Aku optimis operasi akan berjalan sukses di tangan dokter hebat Dan Ara!” Ucap Rudi menenangkan. Rania berkaca-kaca. Wanita cantik ini semakin mengencangkan doanya.


Apa? Membaik? Bagaimana bisa?! Tidak... Ini tidak bisa dibiarkan! Kalau kakek Rowan selamat, itu artinya Danisa akan selamat dari hukuman pembunuhan. Aku harus melakukan sesuatu. Gumam Jihan geram.


“Hmh... Tante, Jihan permisi dulu! Jihan ingin merenungi kesalahan-kesalahan yang sudah gegabah Jihan lakukan. Tidak lama, Jihan akan kembali untuk menemani Tante!”


Mau kemana dia? Ada yang aneh! Devan mengerutkan kening.


***

__ADS_1


Man Teman~ Jangan lupa Like Komen Vote juga Hadiahnya ya! ❤❤❤


***


__ADS_2