Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 57: Sisa Sisa Kekuatan~


__ADS_3

“Aku akan pergi keluar mencari kayu bakar! Kakak temani Devan di sini. Sebentar lagi malam datang. Tidak ada satu penerangan pun di sini!” Pinta Danisa. Ia hendak bangkit.


“Kau benar-benar sudah gila!” Raga murka.


Sreeet.


Belum sempat Danisa bangkit dari duduknya, seseorang dengan suhu tubuh tinggi memegang pergelangan tangannya.


“Jangan kemana-mana…” Lirih orang tersebut dengan suara yang hampir tidak terdengar. Danisa terkejut saat mengetahui ternyata Devan telah siuman.


“Kita tidak mungkin terus menerus berada di sini! Aku akan mencari bantuan! Kalian tunggu di sini sebentar!” Ucap Raga langsung melesat tanpa menunggu persetujuan. Danisa beralih menatap Devan. Ia kembali membubuhkan tumbuh-tumbuhan yang telah ditumbuk halus ke atas luka yang menganga.


“Terima kasih” Lirih Devan bersusah payah. Danisa hanya diam tanpa ekspresi.


“Aku mendengar semua pembicaraanmu dan Raga!”


“Jangan banyak bicara dulu! Kau akan kehabisan energi!” Sembur Danisa seraya membalut luka pada tubuh Devan.


“Aku sudah terluka begini, kau masih saja galak! Ssssss..” Devan meringis.


“Sekali lagi kau bicara, aku akan menyumpal mulutmu dengan…”


“Dengan mulutmu!” Sahut Devan cepat.


“Kau…!”


“Aku hanya bercanda… Ssssss” Devan kembali meringis.


“Tidak lucu!”


Devan ingin bangkit dari pembaringan namun tubuhnya seperti mati rasa. Ia malah menggigil hebat. Danisa memeriksa suhu tubuh pemuda yang ada didekatnya.


Bagaimana ini? Kenapa suhu tubuhnya tiba-tiba menurun drastis? Danisa bergerak ke arah jendela yang terbuka memeriksa keadaan. Suhu di sekitaran mereka memang terasa lembab dan dingin. Gadis tersebut dengan cepat membuka blazer dan meletakkannya ke atas tubuh Devan.


“Bertahanlah!” Ucap Danisa menggigit bibir bawahnya.


“Apa kau takut kalau sekarang aku akan mati, hm?” Tanya Devan seduktif.


“Kau takut aku mati karena merasa berhutang budi atau karena benar-benar takut kehilanganku?” Lanjut Devan dengan suara yang terdengar semakin melemah.


“Sudah kukatakan jangan banyak bicara! Kenapa kau begitu keras kepala?! Diamlah!” Danisa mulai panik. Rasa takut tiba-tiba menyergapnya. Gadis yang berprofesi sebagai dokter tersebut mengambil kedua tangan Devan dan mulai mengusap-usapnya agar mengeluarkan suhu hangat. Walau tidak banyak membantu, ia berharap sedikit bisa meringankan rasa dingin yang Devan rasakan.


Suasana di luar semakin meredup. Matahari telah terbenam. Devan semakin menggigil.


“Bertahanlah! Kak Raga akan datang membawa bantuan!” Ucap Danisa sendu. Ia mulai berkaca-kaca. Terlihat Devan menutup matanya dengan tubuh yang tidak berhenti bergetar.


Puk Puk Puk

__ADS_1


Dengan cepat Danisa menepuk pipi pemuda yang pernah menjadi tunangannya tersebut. Devan bergeming. Ia sama sekali tidak berpindah dari posisinya.


Kalau terus begini ia bisa hipotermia berat! Kemana kak Raga? Apa jangan-jangan kak Raga… Apa kak Raga tertanggap oleh mereka?! Danisa hampir putus asa. Ia melirik Devan dan memeriksa nadinya yang semakin lemah berdenyut.


Danisa berlari ke pintu gubuk. Ia melihat ke luar. Tidak ada tanda-tanda Raga akan kembali. Tidak ada pilihan lain. Danisa menutup pintu dan menguncinya. Gadis tersebut kembali menghampiri Devan.


“A… Aku a.. akan mengaliri energi panas tubuhku untukmu!” Ucap Danisa terbata. Ia ikut gemetar. Danisa memejamkan mata lalu menarik dan menghembuskan nafasnya. Dengan cepat ia kembali membuka pakaian Devan. Danisa berhenti sejenak dan melirik baju kaos yang ia kenakan. Perlahan ia menyentuh pakaian tersebut untuk kemudian akan ia lepaskan.


Hampir saja Danisa mengangkat baju kaosnya ke atas, namun tiba-tiba tangan lemah Devan memegang pergelangan tangannya.


“Ja.. ngan lakukan itu… Pa..kai kan kembali pakaianku, a..ku kedinginan” Pinta Devan. Dengan sisa-sisa kekuatan dan penuh kelembutan ia mengusap punggung tangan Danisa. Sudut bibir pemuda yang terbaring tak berdaya itu sedikit menyungging membentuk senyuman. Gerakannya semakin lama semakin melemah dan akhirnya terhenti. Airmata Danisa mengalir. Devan benar-benar pingsan. Ia terlihat seperti mayat hidup.


"Devan... Katakan padaku, aku harus bagaimana?! Ku mohon jangan begini! " Danisa mengusap airmata nya yang mulai berderai-derai.


Braakkkkk


Danisa terkejut bukan kepalang. Seseorang menggebrak pintu dengan keras. Lampu senter yang dijinjing membuat ruangan seketika menjadi terang benderang.


“Ternyata kalian masih di sini..Baguslah! Aku tidak perlu bersusah payah! Aku akan kaya raya karena akan berhasil membawa kepala kalian! Hahaha! Aku memilih keputusan yang tepat dengan tetap bekerja disaat mereka menyerah! Keberuntungan besertaku! Hahaha” Suara keras menggelegar terdengar. Jantung Danisa nyaris melompat dari tempatnya. Orang asing yang membawa senter tersebut mengarahkan pistol pada nya dan Devan yang tengah berbaring.


Pletak.


Orang tersebut menarik pelatuk.


“Katakan selamat tinggal pada dunia, Nona!”


Satu Dua Tiga.


Bruuukkk


Belum sempat peluru menyasar. Tiba-tiba Raga muncul dengan memukul kepala pria bertopeng tersebut dengan sebuah balok kayu. Darah segar mengucur dari pelipisnya. Orang tersebut serta merta terhuyung dan ambruk ke tanah. Dengan cepat Raga mengambil pistol dan senter. Pemuda ternyata ini tidak sendirian, ia membawa serta seseorang yang sudah Danisa kenal dengan baik besertanya.


“Prof Daniel?” Kening Danisa mengerut. Ia sedikit heran dengan kehadiran gurunya ke tempat terpencil tersebut. Wajah prof. Daniel sama sekali tidak ramah. Ia menatap Danisa tajam sebelum membantu Raga membopong Devan dan meringkus pria bertopeng beserta mereka ke dalam mobil. Prof. Daniel mengambil handphone-nya.


“Halo Mr. Charles, maaf menganggu waktu istirahat anda!” Sapa Prof. Daniel melalui saluran telepon.


“….”


“Danisa hampir dibunuh oleh sekawanan orang! Aku bersama Raga berhasil meringkus salah satu dari anggota mereka! Kami butuh bantuanmu untuk menangani kasus ini!” Ucap Professor yang memiliki suara berat tersebut.


“…..”


“Baik! Terima kasih!” Prof. Daniel mengakhiri pembicaraan mereka. Untuk sejenak suasana di dalam mobil menjadi canggung dan tidak kondusif. Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Danisa sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan pucat Devan. Raga melihat aksinya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.


“Minumlah! Sedari tadi Kau sama sekali belum minum!” Raga menyodorkan sebotol air mineral yang ada di dalam mobil. Danisa menggeleng.


“Kau seorang dokter! Kau tidak boleh cengeng! Devan akan baik-baik saja!” Suara Raga meninggi. Danisa terenyak. Raga meletak paksa botol minuman di tangannya. Dengan wajah kusut, ia menyatukan kedua telapak tangan dan menggosokkannya. Lalu Raga meletakkan telapak tangan yang sudah berubah hangat tersebut ke kedua pipi Devan. Ia mengulanginya berkali-kali agar sahabatnya tersebut merasa lebih baik hingga mereka tiba di rumah sakit.

__ADS_1


***


Keluarga Cakrawangsa tiba di rumah sakit dengan langkah gontai. Ranti melihat Danisa di depan pintu ruang operasi sedang menunggu kabar Devan yang tengah di tangani oleh Prof. Daniel. Tadi Raga langsung melesat menemui Mr. Charles di kantor kepolisian.


Plakk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Danisa. Dengan amarah yang membuncah Ranti langsung melayangkannya. Tidak seperti biasa yang selalu bisa menghindar, kali ini Danisa memilih untuk tidak melawan.


“Kamu apakan putra ku?! Kamu apakan ha?!” Ranti mengguncang-guncang tubuh Danisa dengan kuat. Gadis tersebut meraba pipinya yang sudah memerah.


“Honey, sabar honey! Sabar!” Manggala menarik lengan Ranti.


“Sabar? Devan terbaring di dalam sana, Mas!!” Dengan suara keras Ranti menatap tajam Manggala.


“Putraku celaka karena dia!! Karena si pembuat onar ini!! Aku benar-benar sudah muak!!” Ranti berang. Orang-orang berhenti. Lagi-lagi Danisa menjadi sasaran empuk tatapan tidak ramah orang-orang yang berlalu lalang.


"Tapi kamu harus tenang dulu, hm? " Bujuk Manggala.


"Pergi kau dari sini! Pergiiiii!! Sudah berkali-kali aku katakan jangan mengganggu putraku!! Gadis bisu dan pembawa sial seperti mu tidak pantas berada di sini!!! " Lanjut Ranti memekik keras. Wanita paruh baya tersebut benar-benar frustasi menghadapi Danisa yang baginya tidak lebih dari seorang pembuat onar.


Ayo pergi! Dasar tidak tau malu!


Wanita tidak tau diri!


Mungkin dia wanita murahan!


Aku tau dia! Dia memang gadis bodoh pembuat onar!


Apa dia idiot?


Suara sumbang dari orang-orang mulai terdengar. Dengan dada bergemuruh, Danisa memilih untuk pergi.


"Nona tunggu... Saya Karin dan ini Joko... Prof Daniel memerintahkan saya dan dia untuk mengawal kemanapun nona pergi! " Seorang wanita dan laki-laki bayaran yang sejak awal diam-diam mengikuti Danisa menghampiri nya.


Sedangkan di ruang operasi, Prof Daniel menangani Devan dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Namun tiba-tiba bayang-bayang masa lalu datang menghampiri.


Semua karena keluarga mu! Semua nya hancur karena kalian! Gumam Prof Daniel menghentikan gerakannya. Matanya berubah berkaca-kaca.


"Dok, Dok! Ada apa? " Panggilan dari salah satu tim dokter membuyarkan lamunannya.


"Gunting standar! Kain kasa steril! " Lanjut Prof Daniel menutupi perasaan negatif nya.


Apa aku harus menyembuhkannya? Atau aku habisi saja laki-laki ini agar Danisa terbebas dari salah satu anggota mereka? Prof. Daniel tiba-tiba merasa bimbang.


***


Berikan komentar dan dukungannya biar Author semangat yaa hehe ✌Maciiii 💕

__ADS_1


IG: @alana.alisha


***


__ADS_2