Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 39: Kau Bisa Bicara?!


__ADS_3

Di kepolisian, Charles hadir dan menyatakan kesediaannya untuk membela Danisa. Gadis tersebut melakukan serangkaian pemeriksaan termasuk tes urine. Hasil menyatakan bahwa ia negatif dan bersih dari mengkonsumsi obat-obatan terlarang.


Devan menyerahkan sejumlah barang bukti hasil dari penyelidikannya pada Charles untuk membantu membebaskan Danisa. Bersama-sama mereka mengupayakan yang terbaik.


Mata Devan tak henti dari mengamati kerja Charles. Ada banyak pertanyaan yang hinggap dibenaknya termasuk mengapa pengacara kondang yang mendapatkan julukan Singa Podium tersebut tampil dan membela Danisa dengan suka rela. Tidak hanya kali ini, tapi sudah berkali-kali.


Ada hubungan apa mereka sebenarnya? Pikir Devan bertanya-tanya.


“Lepaskan akuuuu! Lepaskaaan!! Aku tidak bersalah! Dia memfitnahku!!” Suara Jihan menggema saat ia digiring masuk ke ruang pemeriksaan. Kondisi wanita yang sudah menjebak Danisa juga tak kalah histeris. Ia teringat anak-anak yang telah menunggunya di rumah. Wanita tersebut menangis sejadi-jadinya.


“Berisikk!” Bentak petugas.


“Aku bisa jalan sendiri! Jangan memaksaku!! Kalau aku terbukti tidak bersalah, kalian yang akan kujebloskan ke penjara!” Ancam Jihan lantang. Selain sampai akhir tidak akan dinikahi oleh Devan, sepertinya tidak ada yang benar-benar gadis tersebut takutkan.


Raga sejak tadi mengamati Danisa yang tampak tenang. Gadis tersebut duduk santai mensedekapkan tangannya. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Namun itu semua sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.


Sekarang kau berubah dingin. Mesti kau seperti orang berbeda, tapi sejak awal aku bisa merasakan koneksi hati kita yang saling tertaut. Gumam Raga nelangsa. Ia melirik Devan yang juga terang-terangan mengamati Danisa, Raga mendengus.


Danisa sumringah saat melihat prof. Daniel mengunjunginya. Atensi gadis tersebut kini benar-benar teralih. Danisa masih sangat penasaran tentang informasi yang akan Prof. Daniel sampaikan. Jujur saja, kasus yang menimpanya bertubi-tubi begitu menyita penyelidikan yang tengah ia lakukan. Prof. Daniel menunggunya di depan pintu. Pintu yang terbuat dari kaca tembus pandang tidak membatasi pandangan mereka.


Shiiit! Professor bau tengik itu bisa membuat wajah Danisa langsung berubah cerah? Sebenarnya yang menjadi tunangannya siapa?! Aku, dia atau Charles?! Devan menggerutu kesal. Ia menatap Danisa tajam.


“Kau lihat kan, Dev?” Ranti mendekati putranya.


“Wanita itu sama sekali tidak menganggapmu sebagai tunangannya! Dia tidak menghormati kedudukanmu! Sadarlah, Nak! Mama bisa mencarikan kau gadis yang jauh lebih segalanya dari gadis kampung itu! Di luar sana juga banyak sekali yang menantimu..."


"Jujur saja, mama lebih senang kau menikahi Roula, adiknya Raga yang kini tengah menempuh pendidikan di Amerika Serikat! Kita sudah mengenal keluarga mereka dengan baik. Mereka bukanlah orang sembarangan, kau juga kenal dekat dengan Raga. Selain itu Roula juga mencintaimu!” Lanjut Ranti mengusap-usap pundak Devan.


“Tapi Devan tidak mencintai Roula, Ma!” Sahut Devan cepat.


“Lalu kau mencintai Danisa?!” Todong Ranti tak kalah cepat. Devan bungkam.

__ADS_1


“Mama bersumpah tidak akan pernah menerima Danisa sebagai menantu mama! Mama bersumpah, Dev!” Devan terenyak.


“Apa kau tidak sadar? Gadis kampung itu membutuhkan banyak uang! Kau sudah tau dia kuliah dimana kan? Biaya kuliah kedokteran di kampus swasta ternama tidak sedikit! Darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu? Kau tentu juga melihat siapa relasinya. Orang seperti Charles ikut membelanya, sekarang ini pun dia didekati oleh Professor ternama. Kau tidak curiga? Apa yang bisa gadis kampung dan bisu sepertinya berikan kalau bukan ia mengobral tubuhnya?!” Tuding Ranti panjang lebar lagi menohok. Ia mencoba memasuki alam bawah sadar Devan.


"Ma, Stop!! Cukup, Ma!" Devan memijat pelipisnya. Wajah nya memerah menahan banyak pertanyaan yang bersarang di kepala.


Tap Tap Tap


Dari arah berbeda tiba-tiba segerombolan orang membawa camera dan microphone memadati gerbang pintu. Kini semua mata menatap keriuhan yang ada di sana. Para anggota kepolisian dikerahkan untuk menghalau mereka.


Kami hanya ingin bertemu Mr. Charles!


Kami ingin memastikan apa benar bahwa Mr. Charles adalah dokter hebat yang selama ini telah menyembunyikan identitasnya!


Apa selama ini Mr. Charles adalah dokter yang berkedok pengacara atau malah sebaliknya!


Suara sumbang mulai terdengar.


Aku sudah sangat merepotkan beliau. Danisa menggigit bibir bawahnya. Cemas.


“Apa aku sudah bisa membawa Danisa Maria Anna pulang sekarang? Kalian melihat wartawawan di luar sana kan? Aku masih harus menghadapi mereka! Waktu-ku tidak banyak!” Tanya Charles melirik jam tangannya. Ia bersama para petugas masih berada di ruang pemeriksaan. Petugas kembali menge-cek hal-hal terkait pada dokumen yang mereka pegang.


“Mr.Charles, Saudari Danisa sudah terlalu sering bersinggungan dengan kasus!”


“Tapi selalu saja terbukti tidak bersalah, kan? Nona Danisa di fitnah! Kalian harus menangkap para kriminal termasuk yang baru saja menfitnahnya! Jangan sampai lepas. Itu sudah menjadi tugas kalian!” Titah Charles meninggikan suara seraya menaikkan sebelah alisnya ke atas. Ia langsung berlalu keluar ruangan. Beliah menghampiri Danisa dan Professor Daniel.


“Ini handphone-mu!” Charles menyodorkan handphone Danisa yang sempat di tahan oleh polisi. Gadis tersebut berbinar-binar mengisyaratkan rasa terima kasih. Perlahan Devan mendekati mereka dengan tatapan tidak suka. Raga hanya bisa menatap dari kejauhan. Dalam hati Ia berjanji akan mengajak Danisa bertemu setelah semua selesai.


“Kau sudah boleh pulang. Pulanglah bersama Daniel. Aku akan menemui wartawan terlebih dahulu!” Prof. Daniel mengangguk seraya menepuk-nepuk pundak Charles.


“Terima kasih! Kau selalu hebat!” Ucap Prof. Daniel.

__ADS_1


“Hahaha, tidak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban! Lagipula aku tidak sendiri memecahkan kasus ini!” Tawa Charles membahana.


"Maksudmu?" Prof Daniel mengerutkan keningnya. Charles melirik Devan.


“Aku yang akan mengantarkannya pulang!" Sambut Devan dengan cepat


"Tidak perlu kujelaskan untuk kedua kalinya tentang siapa aku, kan?” Lanjut Devan dengan mengangkat dagunya. Suasana berubah canggung.


“Oh It’s okay. It’s okay!” Ucap prof. Daniel. Diam-diam beliau menyelipkan sebuah surat ke telapak tangan Danisa. Devan dengan secepat kilat menarik tunangannya menjauh dari lokasi. Meninggalkan orang-orang yang menatap mereka dengan berbagai macam tatapan dan sulit untuk diartikan.


Danisa berusaha melepaskan cengkraman tangan Devan yang membuat lengannya memerah. Pemuda tersebut tidak menggubris Danisa. Ia terus menarik tunangannya ke parkiran. Gadis ini meronta sambil sedikit meringis. Tak sabar, Devan menggiringnya merapat ke tembok.


“Kau lupa kesepakatan awal kita, hah? Sudah berapa kali kukatakan jangan pernah mencari masalah!” Hardik Devan keras. Danisa tercengang. Mata Devan terlihat menyala-nyala. Rahangnya mengeras. Pemuda tersebut benar-benar marah. Danisa menunduk.


“Katakan ada hubungan special apa kau dan Daniel? Atau dengan Charles? Atau… Oh dengan pria mana saja kau sudah berhubungan? Berapa banyak kekasih mu di luar sana, hah?” Tanya Devan bertubi-tubi. Pertanyaan yang bertubi-tubi Devan layangkan membuat Danisa benar-benar merasa jengah. Ia mengangkat sebelah tangan kanan nya hendak menampar pipi Devan. Namun tiba-tiba Devan menahan tangan tersebut, pemuda ini dengan secepat kilat malah menyatukan bibirnya dan bibir Danisa.


Mata gadis tersebut membelalak sempurna. Serangan dadakan yang Devan berikan membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Ilmu karate yang Danisa miliki seharusnya bisa menangkis perlakuan Devan dengan mudah. Namun entah mengapa gadis ini terdiam. Ia benar-benar shocked. Devan merebut ciuman pertamanya dengan cara tak terduga. Pemuda tersebut tidak ingin berhenti di situ, ia ingin menyesap dan menuntut lebih namun tiba-tiba,


“Dev, stop!” Pekik Danisa dengan sangat jelas. Gerakan Devan terhenti. Danisa menutup mulutnya. Devan ternganga. Pemuda ini tercengang.


“Danisa... Ka… Kau…. Kau bi… bisa biicara?”


***


Teman-teman, tinggalkan jejak yaa setelah membaca. Terima Kasih 💕


Info 👇


IG: @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2