
Tap Tap Tap
"Bagaimana keadaan pasien nya? " Tanya Mr. Charles pada Prof. Daniel sembari menepuk pundaknya. Professor muda tersebut diam-diam ketahuan sedang memantau Roula yang tengah menjaga pasien.
"Dia sudah melewati masa kritis. Darah dari Devan banyak membantunya" Terang Prof. Daniel.
"Kau terlihat sangat pucat! Kau sudah mengerahkan seluruh kemampuan mu... Mengapa tak kau biarkan dokter hebat saja yang melakukan nya? " Tanya Mr. Charles berhati-hati.
"Dokter hebat tengah menangani masalahnya sendiri. Proses yang dibutuhkan akan memakan waktu lama. Lagipula.... " Prof. Daniel menjeda kalimatnya. Nafasnya tampak tak beraturan.
"Lagipula apa? "
"Lagipula aku tak tahan melihat air matanya yang terus mengalir" Aku Prof. Daniel menunjuk Roula. Mr. Charles terenyak. Ternyata sejak awal sahabatnya tersebut sudah memperhatikan Roula.
"Baiklah. Aku permisi. Kau temani-lah ia. Tapi jangan katakan bahwa aku yang telah menangani putri kecil tersebut. Jika dia tau, dia akan histeris karena mengingat kondisi- ku! Huk Huk Huk!" Pinta Prof. Daniel menepuk pundak Mr. Charles. Pengacara kondang tersebut berkaca-kaca. Prof. Daniel sudah terlihat lebih kurus dari biasanya. Mata pemuda tersebut juga semakin cekung. Ia begitu tegar di tengah kondisinya.
"Oh iya, besok pagi tolong temui Danisa. Aku mengkhawatirkan nya! Tolong pastikan dia baik-baik saja! Sebelumnya,?Aku juga sudah mengerahkan beberapa asisten ku untuk selalu memantaunya! " Pesan Prof. Daniel. Mr. Charles mengangguk sendu.
"Terima kasih, Charles! "
"Tidak perlu berterimakasih. Kau saudaraku! " Suara Mr. Charles mulai terdengar parau. Prof. Daniel memberikan senyumnya sambil berlalu.
Ceklek
Mr. Charles membuka pintu menghampiri Roula yang berwajah sembab.
"Bagaimana kondisinya? "
"Tim dokter menangani nya dengan baik setelah Devan memberi kan bantuan"
"Maaf, gadis kecil ini siapa? "
"Dia putri dari mendiang dari sahabatku yang meninggal setelah berjuang melawan penyakitnya..." Sahut Roula sambil mengelus-elus puncak kepalanya.
"Sepertinya kau sangat menyayanginya! "
"Dia lebih dari sekedar berarti untukku! Dia sudah seperti putriku sendiri! " Sahut Roula mengusap air matanya yang kembali terjatuh. Mr. Charles mengusap pundak nya menenangkan.
"Ayahnya dimana? "
__ADS_1
"Bunuh diri karena depresi... Cintanya pada sahabatku Wilona begitu besar..." Terang Roula. Lagi-lagi ia harus mengusap air matanya.
"Anak yang malang... Tapi dia beruntung memiliki mu di sisinya"
"Aku tidak ingin orang-orang yang kucintai kembali bernasib tragis... Aku tidak ingin itu terjadi Charles... " Ucap Roula seperti mengalami trauma.
"Kau tidak akan lagi kehilangan orang yang kau cintai... Hidupmu di penuhi oleh cinta"
"Aku tidak tau... Sepertinya seluruh hidupku hanya akan mengalami kenangan buruk dan sampai akhir aku akan berpisah dengan orang-orang yang kucintai... Semua pergi dariku... Mungkin aku bukan wanita yang diberkati... "
"Ssstttttt... Jangan pernah berkata begitu Roula!" Pinta Charles. Roula bangkit dari duduknya.
"Sudahlah Charles. Tidak mengapa... Jangan mengkhawatirkan ku. Aku sudah ikhlas dengan semua ketentuan Tuhan" Lirih Roula sendu. Ia mengingat bagaimana banyak kebahagiaan nya terenggut. Termasuk keputusan Devan yang tidak memilihnya.
Dan... Daniel... Ya... Daniel... Kemana dia? Entah mengapa tiba-tiba saja nama Daniel terlintas di benak Roula. Laki-laki tersebut tidak pernah lagi mendatanginya. Daniel seperti menghindar. Padahal Daniel adalah satu dari orang yang kehadiran nya selalu ia nantikan. Roula seperti sudah ketergantungan pada laki-laki dingin tersebut.
Ah, Daniel pun sama.... Pada akhirnya Daniel juga memilih pergi dariku...
...****************...
Ranti mensedekapkan tangan menahan amarah. Ia kehabisan kata-kata. Ranti tidak bisa melakukan apapun ketika Devan memilih membawa Danisa untuk ikut ke mobil mereka.
"Dev!"
Danisa enggan turun dari mobil. Devan membuang nafas ke udara saat Ranti lebih dulu meninggalkan mereka dengan cara membanting pintu secara keras. Devan benar-benar merasa jengkel. Namun seketika rasa negatif tersebut sedikit menguap ketika ia melirik ke tangan Danisa yang bergetar. Apa sang istri menyadari kesalahannya?
"Ada apa denganmu? Kau tau? Saat ini aku benar-benar marah! Jangan sampai kesabaranku habis! Jadi, ayooo turun!" Titah Devan masih tak Danisa gubris. Tak sabar, Devan membuka kasar pintu mobil dan kembali mengangkat Danisa ke pundak nya.
"Jangan sentuh aku! Lepaskan aku!! Lepaskan!! " Pinta Danisa meronta-ronta.
"Berteriaklah! Agar seluruh dunia tau kalau ternyata kau bisa berbicara! " Ucap Devan semakin mengeratkan cengkraman nya. Danisa sontak terdiam. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia semakin gemetaran.
Brakkk
Devan membanting pintu kamar dengan sebelah kakinya. Ia meletakkan Danisa ke atas kasur. Gadis tersebut langsung meringkuk. Tingkah Danisa membuat Devan kembali menghela nafas.
"Di sini kau yang bersalah tapi kau bertingkah seolah-olah kau adalah korban! Apa kau tidak mengerti bagaimana batasan pria dan wanita yang sudah menikah?!" Tukas Devan berkacak pinggang. Danisa bergeming. Perlahan gadis tersebut meraba bagian tersembunyi ditubuhnya untuk menggapai pisau.
Pisau ku... Pisau ku dimana?
__ADS_1
"Sebentar... Tadi aku merasa ada yang aneh..." Ucap Devan dengan tiba-tiba mendekat dan membalikkan tubuh Danisa dengan sekali gerakan. Dengan cepat pemuda tersebut meraba bebas bagian tubuh Danisa untuk memastikan.
Plaakkk
Tak menunggu lama, sebuah tamparan mendarat sempurna. Tamparan keras Danisa membuat Devan sedikit terpental. Danisa langsung menyilangkan kedua tangan nya ke dada.
"Kau laki-laki paling brengseek yang pernah aku temui!! " Cerca Danisa menahan tangis. Sikap Devan yang dinilai kurang ajar membuat rasa takutnya menguap begitu saja.
"Jangan pernah kau menyentuhku!! Kau badjingan bodoh! Kau penjahat! Kau laki-laki hidung belang! Kau pecundang....! Kau penjahat wanita...! Kau....!" Danisa meluapkan seluruh perasaan negatifnya pada Devan melalui kata-kata. Tapi rasanya kata-kata yang ia lontarkan pun tidak akan pernah cukup.
Sreeetttt
Devan mencengkram tangan Danisa lalu seketika mengunci tubuh nya. Jika biasanya Devan bisa bersikap lunak dalam menangani Danisa dengan mengeluarkan beberapa persen kecerdasan nya, namun kali ini pemuda tersebut tidak bisa melakukan nya. Pelukan mesra yang ia lihat antara istrinya dan Raga membuat amarahnya benar-benar tersulut.
"Kau mengatakan aku penjahat dan bajiingan kan?? Kau mengatakan aku pria hidung belang kan?!!" Teriak Devan.
"Baik. Bagaimana jika sekarang aku merealisasikan nya? Aku akan mengabulkan perkataan mu biar kau tau bagaimana makna pria hidung belang yang sesungguhnya!!" Ucap Devan dengan kemarahan meluap.
Sreeeettt
Sreekkkk
Devan menarik pakaian Danisa dalam sekali gerakan. Seperti amarahnya yang mengubun-ubun. Tenaga yang Devan keluar kan menyebabkan pakaian tersebut robek seketika.
...****************...
Tuk Tuk Tuk
Suara high heels terdengar. Pintu pintu terbuka lebar. Dua wanita yang dulunya bersahabat kental bertemu dalam sebuah ruangan.
"Lama tak bertemu, Jihan... " Sapa seorang wanita dengan senyum penuh arti.
"Hi Mila... Apa kabarmu? Ku dengar hidupmu semakin baik sekarang! " Sahut Jihan dengan membalas senyum Mila.
"Tidak ada yang benar-benar baik jika semua yang direncanakan belum terealisasikan! Bukankah begitu, Jihan? "
"Ah ya... Perkataan mu ada benarnya! "
"Duduklah... Aku merindukan mu... Apakah kau tidak merindukan ku seperti dulu? "
__ADS_1
Apa kau tidak tau bahwa kita tak akan pernah bisa bersatu Mila... Karena sekarang... Kau adalah pengabdi Mr. X dan Aku pengabdi Mr. G...
...****************...