Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 76: Kamar Hotel


__ADS_3

DEVAN AHMAD CAKRAWANGSA DAN DANISA MARIA ANNA TERNYATA TELAH MENIKAH SIRI SEBELUM KEDAPATAN MENGINAP BERSAMA DI KAMAR HOTEL.


Begitulah kabar berita yang beredar pagi ini di berbagai media. Untuk sementara waktu, headline tersebut cukup membersihkan nama baik keluarga Cakrawangsa.


Struk


Seseorang menutup kembali lembaran koran setelah membacanya dan melempar kasar ke atas meja.


“Sejauh ini tidak terlalu buruk! Semua rencana berjalan sesuai yang aku inginkan” Gumamnya berkomentar.


“Gun, kau benar-benar licik!”


“Ha ha.. Begitu lah.. Aku tidak pernah mengecewakan dalam bertindak! Begitu juga denganmu, Mr. X! Kau tidak akan kecewa jika bekerja sama denganku. Bagaimana dengan penawaran yang aku berikan? Bukankah sangat menarik? Kau masih punya Xavier sebagai penerus kerajaan bisnismu!” Bujuk Gunawan sambil menghisap cerutunya. Asap mengepul-ngepul ke udara.


Beberapa tahun terakhir Gunawan memilih untuk mencoba menghisap benda tersebut. Tapi ternyata laki-laki paruh baya itu ketagihan. Tentu saja cerutu yang di maksud bukan lah cerutu biasa, terdapat helaian-helaian Marijuana kering di dalamnya. Kini Gunawan selalu menghisapnya untuk menghalau kesepian dan rasa sakit yang sering hinggap di kepala.


“Ha Ha Hahahaha… Kau tau? Walau aku gila harta, namun kehancuran keluarga Felix lebih aku prioritaskan!”


“Tentu! Tentu saja… Dan kita berada di jalur yang sama! Apa kau ingin aku membunuh gadis itu? Menantu palsu ku tersayang itu?” Gunawan menaikkan sebelah alisnya ke atas.


“Huk Huk Huk. Jangan dulu. Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri! Dia akan ku jadikan sebagai umpan untuk membuat Paula muncul ke permukaan!” Sahut Mr. X. Asap yang menyebar membuat pernafasannya sedikit terganggu.


“Baiklah. Lagipula dia tidak berbahaya. Ia hanya seorang gadis bisu dan tidak memiliki skill apapun!” Sahut Gunawan. Mr. X mengangguk-angguk setuju.


“Jadi apa langkah mu selanjutnya, Gun?”


“Aku akan membuat gadis itu semakin membenci Devan. Kedua tangan gadis naif tersebut akan mengganti kita untuk membunuhnya. Kita tidak perlu mengotori kedua tangan kita! Apakah permainan yang seperti ini tidak menyenangkan untukmu, Mr. X?” Tanya Gunawan santai.


Sebenarnya ia tidak benar-benar mengajak Mr. X bekerja sama. Gunawan hanya khawatir jika antek-antek algojo milik Mr. X yang sudah ia latih dan kumpulkan bertahun-tahun akan menghabisi nyawanya sebelum ia sempat merealisasikan mimpi-mimpinya. Mau tidak mau Gunawan harus mengajak Mr. X berada di pihaknya.

__ADS_1


Mr. X bukan lah lawan yang mudah. Dendam telah menggerogoti jiwanya. Menancap mengakar kuat, mendarah daging mengubun-ubun sampai tanpa sadar Mr. X dan mereka semua telah terperangkap dalam rencananya. Laki-laki yang dulunya lugu itu percaya bahwa Felix lah yang menghancurkan hidupnya.


“Mengapa kau tersenyum? Senyummu mengerikan!” Tegur Mr. X. Gunawan sedikit terkejut.


“Hahaha… aku hanya membayangkan rencana kita akan berhasil! Baiklah Mr. X, aku harus memantau Danisa. Menantu ku tersayang ingin mengetahui apa foto-foto yang kemarin aku kirimkan memang nyata adanya!” Ucap Gunawan beranjak dari duduknya setelah sebelumnya ia lebih dulu mematikan cerutunya.


***


Pukul 20.00 WIB, masih di salah satu ruangan pada ballroom hotel tempat diselenggarakannya pernikahan tertutup, terlihat Danisa tengah berbincang-bincang dengan Daniel setelah tadi melangsungkan pernikahannya pada pukul 17.00 dengan khidmat.


“Baik Prof… Aku akan memikirkan cara agar Mr. X membutuhkan bantuan dokter hebat! Aku akan menguliti data-datanya. Kalau perlu aku akan membunuhnya di meja operasi!” Bisik Danisa. Prof. Daniel menggeleng.


“Jangan mengotori tanganmu… biarkan kekuatan hukum yang berbicara! Aku juga akan membantumu mencari cara terbaik. Satu lagi, jaga dirimu baik-baik! Kau harus waspada terhadapnya. Dia memang suamimu, tapi hanya suami secara official. Jangan lengah. Jangan terpedaya. Dan…. Hmh, kalian harus saling menjaga jarak!” Sahut Prof Daniel mencondongkan kepalanya ke telinga Danisa. Kalimat terakhir yang terdengar membuat gadis tersebut tercengang.


Prof. Daniel terlalu baik padaku, pengorbanannya membuat pikiranku tak sampai untuk mencernanya. Dia bukan manusia. Dia malaikat jelmaan. Apa jangan-jangan dia menyukaiku? Aku juga tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita manapun kecuali… Kecuali Roula. Tapi aku merasa dia lebih menyayangiku… Pikir Danisa menerka-nerka. Selanjutnya Danisa tidak lagi berkonsentrasi pada apa yang Daniel ucapkan.


Tidak mungkin… Tidak mungkin… Tidak mungkin beliau menyukaiku. Dia selalu berlaku sopan… Dia awal dia terasa sangat tulus…


Tiba-tiba Devan mencengkram pergelangan tangan Danisa.


“Istriku, kita sudah ditunggu.. Kenakan maskermu!” Titah Devan penuh penekanan dengan mata yang menatap tajam ke arah Daniel tanpa sedikitpun berkedip.


“Ayo..” Ajak Devan memaksa. Prof. Daniel menaikkan dagunya ke atas dengan sama sekali tidak tersenyum menanggapi tatapan tak ramah pemuda tersebut. Devan dengan cepat menggiring Danisa keluar. Untuk menghindari para wartawan yang mengintai berita, mereka langsung masuk ke salah satu kamar hotel yang telah dipersiapkan.


“Lepaskan aku! Lepaskan!!” Teriak Danisa garang. Ia menghempas kasar tangan Devan setelah meronta-ronta.


“Sudah kukatakan jaga jarak dan jangan mencampuri urusanku! Jangan coba-coba se-inci pun kau menyentuhku!!” Lanjut Danisa menunjuk wajah Devan dengan telunjuk kirinya. Danisa benar-benar mengeluarkan power suaranya. Ia begitu berapi-api. Devan mensedekapkan tangannya dan menatap Danisa dengan wajah datar.


“Apa kau sudah bisa berhenti bicara?!” Tanya Devan setelah istrinya terlihat lebih tenang. Ia menyapukan tatapannya ke tubuh sang istri dari wajah sampai ke kaki.

__ADS_1


“Devan, aku benar-benar memperingatkanmu! Aku tidak-tidak main-main! Aku jago Karate! Aku jago Taekwondo! Aku benar-benar jago! Aku lebih baik dari mu dalam berkelahi! Sungguh!!” Ucap Danisa panik dengan menyilangkan tangannya ke dada. Ia berjalan mundur saat pemuda tersebut mendekat. Entah mengapa berduaan dengan laki-laki asing yang menatapnya tajam membuat Danisa gugup. Apalagi tatapan Devan seperti benar-benar akan menerkamnya. Denyut jantung Danisa berdegup kencang. Ia seperti bukan dirinya.


“Sikap memproteksi dirimu memang bagus! Aku sangat menghargainya, No Na Daa Nisa!” Ucap Devan penuh penekanan. Ia masih menatap gadis yang baru dinikahi dari jarak yang sangat dekat. Kini Danisa bisa merasakan hembusan hangat nafas Devan membelai pipinya.


Aku harus bisa kabur! Malam ini aku harus kabur dari laki-laki mesum ini! Aku harus bisa!! Gumam Danisa bertekad.


“Tapi…. Hmh sepertinya rasa percaya dirimu sedikit berlebihan. Oh tidak, bukan sedikit tapi terlalu berlebihan! Kau tau, aku ini jomblo terhormat. High Quality Guy yang tiba-tiba mendapat tuduhan dan harus menikahimu! Itu semua sangat bertentangan dengan prinsipku. Apakah kau lupa bahwa dalam pernikahan ini kita memiliki misi, hm?” Ucap Devan dengan perlahan-lahan menyibak sulur-sulur rambut Danisa dan meletakkan nya ke balik telinga. Ia semakin menipiskan jarak mereka hingga Danisa terjebak merapat ke dekat tembok.


“Selain itu, dalam menjalani misi ini… Kau jangan terlalu dekat dengan laki-laki yang sering kau sebut sebagai professor itu! Aku khawatir wartawan akan curiga karena bagaimana pun statusmu sekarang adalah istriku. Oh iya, aku juga sama sekali tidak melihat kepintaran di dirinya! Ku peringatkan sekali lagi agar jangan sekali-sekali kau berdekatan dengannya. Apa kau mengerti?” Lirih Devan memperingatkan. Danisa hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata saat pemuda itu berbalik arah. Devan berjalan menuju ranjang meninggalkan Danisa yang terus saja menatapnya dengan mematung. Jantung gadis tersebut masih berdegup kencang.


Devan mengambil sembarang bantal dan selimut lalu dengan asal meletakkannya ke bawah.


“Aku Lelah! Aku mau beristirahat! Kau boleh tidur dimanapun yang kau mau. Di sana ada sofa empuk. Di kamar mandi juga ada bath up kering dengan suhu dingin sejuk yang alami, kau akan nyaman dan aman di sana!” Ucap Devan sambil membanting dirinya ke kasur. Ia mulai akan menutup mata.


“Devan!!!”


“Apa lagi?” Devan kembali membuka matanya.


“Ah iya, kau jangan coba-coba mendekat! Aku akan meletakkan guling di sini! Jadi kau juga jangan terlalu berharap dan berkhayal jika aku akan merealisasikan malam pertama kita… Okay? Good Night sayang… Jangan lupa matikan lampu!” Ucap Devan dengan memberikan senyum manisnya. Pemuda tersebut berbalik arah memunggungi Danisa yang tercengang.


“Devaaannn!! Kau menyebalkan,.. Aku tidak butuh kau!! Siapa yang sudi berbagi tempat tidur denganmu!! Aku bisa tidur dimanapun yang aku mau!! Aku tidak membutuhkanmuuu bodoh!!” Teriak Danisa kencang. Ia dengan cepat mengambil bantal, guling dan selimut di lantai dan berjalan menuju sofa. Devan yang pura-pura sudah tidur perlahan tersenyum geli. Ia mengusap-usap kupingnya. Lengkingan suara Danisa membuat kuping tersebut terasa panas.


Danisa, tidak peduli apa... Aku akan melindungi mu seumur hidupku. Aku akan membuatmu aman bersamamu. Tidurlah dengan nyenyak... Aku tidak akan mengganggumu. Lirih Devan. Ia tenggelam memikirkan nasib gadis yang baru saja dinikahinya.


Danisa sendiri merebahkan tubuhnya ke sofa dengan wajah kusut.


Bisa-bisanya dia terlalu percaya diri! Dia memiliki sisi lain yang sangat konyol! Dia pikir hanya dia orang terhormat? Bukankah aku sebagai wanita yang dirugikan dalam kasus ini?! Umpat Danisa kesal.


"Wait wait... sebentar... kenapa harus aku yang mengalah? Mengapa harus aku yang tidur di sofa? Bukankah dia laki-laki nya?! " Ucap Danisa tersadar. Sontak ia terduduk. Gadis tersebut menatap punggung suaminya yang melengkung. seperti nya Devan telah tertidur pulas.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2