
Sregg
Seseorang menarik lengan prof. Daniel yang akan beranjak pergi.
“Charles? Kau di sini?”
“Kita harus bicara!” Mr. Charles menarik Prof. Daniel ke mobil nya.
“Jujur saja aku tidak mengerti apa maksud dari surat wasiatmu itu. Kenapa kau…”
“Ya. Karena aku akan mati!” Sahut Prof. Daniel cepat.
“Sembarangan! Kau jangan bercanda!”
“Tidak lama lagi aku akan mati… Kau lupa? Sahabatmu ini seorang dokter handal, aku mengerti segala kemungkinan dan kondisi tubuhku”
“Daniel….” Lirih Mr. Charles tak bisa berkata-kata.
“Penyakitku sangat serius!”
“Kau bisa berobat… Kau butuh biaya berapa? Obat jenis yang bagaimana? Aku akan menyerahkan semuanya untukmu! Kita akan mencarinya sampai ke ujung dunia manapun dan semua akan baik-baik saja… Kau harus yakin!” Pinta Mr. Charles.
“Sakitku tidak bisa disembuhkan…”
“Daniel, Kau sakit apa?!”
“Sudahlah Charles, semua akan sia-sia dan tidak ada gunanya! Aku tetap akan mati dalam waktu dekat, hanya saja aku tidak tahu kapan waktu pastinya. Tapi tidak apa-apa, kau jangan merasa kasihan padaku. Kalau aku mati, aku akan bisa lebih cepat memeluk ibu dan ayah-ku di surga. Satu-satunya penyesalanku saat ini adalah meninggalkan adik kandungku Danisa menghadapi semua masalah ini sendirian” Lirih Daniel berkaca-kaca.
“Adik kandungmu? Danisa?” Mr. Charles mengerutkan keningnya. Ia cukup terkejut dengan fakta yang Daniel beberkan. Sahabatnya tersebut mengangguk.
“Tapi disela-sela waktu yang tersisa, aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa! Dan juga… aku tidak terlalu khawatir sebab aku punya berandal hebat sepertimu yang akan meneruskan tugas-tugasku!” Prof. Daniel menepuk pundak Mr. Charles dengan tersenyum.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mati! Ayo kita ke rumah sakit! Aku benar-benar tidak akan membiarkanmu!” Mr. Charles akan menghidupkan mesin mobil.
“Tidak. Percayalah padaku! Aku bukan orang yang tidak mau berusaha. Apalagi aku memiliki adik perempuan yang harus aku lindungi. Charles… Secara statistik dan algoritma, aku sudah tidak akan bisa disembuhkan! Ini sudah nasib dan suratan takdirku! Huk Huk Huk” Ucap Daniel terbatuk. Ia menyeka mulutnya yang mengeluarkan darah. Airmata Mr. Charles mengalir seketika.
“Berjanjilah padaku kalau kau akan menjaga dan melindungi Danisa seperti saudarimu sendiri! Hhhh, Gadis kecil itu sepertinya memang menyukai Devan. Mengingat ini semua membuat usiaku terasa semakin singkat!”
“Daniel,,,…..”
“Berjanjilah Charles… Berjanjilah!!”
“Daniel, tidak peduli apapun… Aku akan mengawal kasus Danisa sampai akhir. Aku berjanji akan membersamai Danisa sampai akhir!” Janji Mr. Charles.
__ADS_1
“Aku tidak tau bagaimana harus berterima kasih padamu! Kau manusia yang sangat diberkati! Sahabatku, Tuhan mencintaimu…” Ucap Prof. Daniel sungguh-sungguh. Mr. Charles terus mengusap airmata yang mengalir tanpa bisa ditahan.
“Satu lagi… Berjanjilah untuk satu hal lagi…”
“Satu hal lagi?”
“Lihatlah gadis yang berjalan dengan wajah menekuk itu!” Tunjuk Prof. Daniel pada seorang wanita yang keluar dari lobi hotel.
“Siapa dia? Maksudmu Roula?” Lagi-lagi Mr. Charles terkejut.
“Aku juga menitipkannya padamu…”
“Apa maksudmu?” Mr. Charles tak mengerti.
“Nikahilah dia… Berikan dia kasih sayang yang tulus. Sejak kecil, dia sudah kekurangan kasih sayang. Sama seperti Danisa, sejak kecil dunia sudah tidak adil pada mereka. Aku tau kau laki-laki baik yang sangat bertanggungjawab. Dan kau adalah laki-laki yang tepat… ”
“Tentang itu… Hmh… Roula tidak akan setuju… Pun sejak awal aku sudah menaruh harapan padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah menggubrisku. Yang ada dipikirannya hanya Devan, Devan dan Devan…” Sahut Mr. Charles. Prof. Daniel sontak mendongak. Pengakuan sahabat nya tersebut cukup mengejutkan. Ternyata Mr. Charles juga menaruh hati pada Roula. Walau sebenarnya hal ini sangat bagus dan kedepannya akan mempermudah jalan mereka, namun entah mengapa Prof. Daniel merasa seperti ada tangan yang meremas jantungnya.
“Roula!!” Prof. Daniel membuka jendela mobil dan melambaikan tangan.
“Daniel? Kau belum pulang? Aku mencarimu kemana-mana! Kenapa kau tega meninggalkanku dengan perasaan gundah di sana seorang diri!” Cerca Roula.
“Kau ini kenapa cerewet sekali?!” Sergah Prof. Daniel.
“Ternyata kau bersama Charles? Dasar kau!!”
“Daritadi aku menunggumu di sini! Naiklah!” Titah Daniel.
“Mobilmu kemana?” Tanya Roula mengerutkan keningnya. Daniel keluar dari mobil tersebut.
“Ayo naiklah!” Walau kebingungan, Roula tetap naik ke dalam mobil Mr. Charles. Ia dipersilahkan untuk duduk di tempat Prof. Daniel semula duduk. Gadis tersebut berharap Daniel ikut pulang dengan duduk di kursi bagian belakang.
“Charles, kau antar Roula pulang ke rumahnya!”
“Baiklah!” Sahut Mr. Charles. Prof Daniel tersenyum.
“Dan… Daniel… Kau kemana?! Kau tidak ikut pulang?!”
“Kau lupa aku bawa mobil? Aku masih ada keperluan! Kau jangan mengintaiku seperti bayangan! Pulanglah bersama Charles!” Ketus Prof. Daniel.
“Huh! Cuma mengantarku saja, apa susahnya?!” Protes Roula.
“Apa sekarang kau sudah begitu menyukaiku hingga terus mengikuti kemanapun kupergi, hm? Ya ya… Aku memang tampan… Aku memang…”
__ADS_1
“Stoopp! Kau terlalu percaya diri! Ayo kita pergi Charles! Berada di dekatnya lama-lama aku bisa gila!!” Sembur Roula. Prof. Daniel mensedekapkan tangan dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas. Mengikuti titah Roula, Mr. Charles langsung mengemudikan mobilnya. Ia menyempatkan diri melirik Roula yang diam-diam terus melihat ke spion mobil memperhatian punggung Daniel yang hilang di telan kegelapan.
“Huh! Dia sangat menyebalkan” Gumam Roula tak terdengar.
“Huk Huk Huk… Hueeekkkk” Dalam kegelapan malam di antara semak-semak, Prof. Daniel memuntahkan semua isi perutnya. Sebercak darah kental keluar dari sana. Ia memegang kepala yang terasa pusing sebelum masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya.
***
Bruuuukkkk
“Awwww…”
Danisa terjatuh dari sofa. Ia mengaduh sambil memegang punggungnya yang terasa sakit. Di luar sana, cahaya dari jendela kamar hotel sudah terang benderang.
Jam berapa ini? Aku dimana?!! Danisa dengan cepat memutar bola matanya ke sekeliling.
Kemarin aku menikah… Ya, kemarin aku menikah. Devan… Dimana dia?! Danisa dengan cepat memperhatikan kondisi tubuhnya. Pakaian pengantin masih melekat di posisinya. Danisa juga meraba pisau dan benda-benda tajam lain yang sengaja ia simpan di sisinya. Ia akhirnya bisa bernafas lega.
Tak lama, Danisa mendengar suara gemericik air dari dalam toilet. Pertanda Devan tengah membersihkan diri. Mata bundarnya dengan cepat menangkap tuxedo milik sang suami yang tergeletak acak di atas tempat tidur. Dengan cepat Danisa mendekat. Tangan lincahnya langsung memeriksa benda-benda yang ada di sana. Dompet dan handphone masih tersimpan rapi di dalamnya. Danisa tersenyum. Ia ingin mengambil handphone dan dompet tersebut untuk kemudian diperiksa. Namun belum sempat niatnya terealisasi, suara deritan pintu terdengar. Terkejut, Danisa dengan cepat ingin bersembunyi ke balik ranjang. Namun malang, dompet yang ia pegang malah terlempar ke lantai dan kepalanya sendiri terjedut dengan kayu jati pinggiran ranjang. Danisa meringis. Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa pusing. Belum hilang rasa keterkejutannya, Danisa harus menghadapi Devan yang sudah berdiri di hadapannya dengan hanya meminggang selembar handuk putih.
“Devaaan, apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila!!” Teriak Danisa memalingkan wajahnya. Ia enggan menatap Devan.
“Gila? Apa maksudmu?!”
“Kau laki-laki mesuum!! Kenapa kau muncul dengan tidak berpakaian?! Enyah!! Enyah!! Pergilah dari hadapanku bodoooh!”
“Sangat berlebihan! Aku masih memakai handuk! Lagipula apa salahnya? Kita sudah menikah, pemandangan seperti ini akan sering kau lihat! Begitu pula sebaliknya.. Bilang saja kau tergoda!!”
“Apa? Aku? Tergoda? Bagaimana mungkin! Tidak akan!!” Sahut Danisa bergidik.
“Kalau tidak tergoda, seharusnya kau bersikap biasa saja dong! Begitu pula denganku. Sekali pun kau tidak berpakaian, aku akan bersikap saja dan tidak akan tergoda! Aku punya benteng pertahanan yang baik. Tidak lemah sepertimu!” Cibir Devan menggelengkan kepala dan dengan santai mengambil pakaiannya.
“Huh,, kauuu!!”
“Hmh, aku rasa kau kelaparan… Lihatlah kau akan mengambil uang dari dompetku! Kalau begitu cepatlah mandi biar kita sarapan!” Lanjut Devan mengancing kemejanya. Danisa masih diam terpaku.
“Tunggu apalagi?! Apa kau menunggu aku memandikanmu?”
“Tidak perlu!!! Aku bisa mandi sendiri!!” Sahut Danisa dengan cepat kabur ke kamar mandi dan mengunci rapat pintunya.
Ternyata dia sangat mencurigaiku. Dia akan terus berusaha mencari barang bukti. Dia sama sekali tidak mempercayaiku. Aku harus mempersiapkan strategi baru\~
***
__ADS_1
IG: alana.alisha