
Raga merasa bahagia, ia kembali menemukan cinta pertamanya setelah pencarian selama bertahun-tahun. Raga sempat beberapa kali kembali ke Inggris hingga menyuruh beberapa asisten melacak keberadaan Danisa. Namun nihil. Kabar tentang gadis tersebut lenyap bagai ditelan bumi.
Kini Danisa telah berada dalam dekapannya. Jarak mereka begitu dekat. Hari ini adalah salah satu hari yang paling Raga syukuri dari sekian banyak hari yang telah ia lewati. Namun tiba-tiba,
Sreeg
Raga sedikit terpental, Danisa mendorongnya dengan kuat. Gadis tersebut dengan cepat menghapus airmata lalu mengetik sesuatu di handphone-nya.
Terima kasih untuk perhatianmu, Aku permisi! Wajah Danisa berubah dingin. Ia melesat cepat meninggalkan Raga yang melongo.
“Dan… Danisaa!!” Panggil Raga nelangsa. Ia mencoba mengejar gadis tersebut. Danisa tidak menggubris. Ia melambaikan tangan memanggil taxi lalu bergerak menjauhi kediaman Cakrawangsa.
Sudah terlalu banyak masalah, kak! Aku tidak ingin kakak ikut terlibat. Aku tidak ingin kakak juga mendapatkan masalah. Ucap batin Danisa, dari dalam Taxi, Ia melirik ke arah Raga yang sempat mengejarnya.
Drrrrttt Drrrrttt
Danisa, keluarga Cakrawangsa menghubungiku dan meminta dokter hebat Dan Ara untuk lanjut melakukan operasi kedua pada Ranti. Luka lamanya juga kembali terbuka. Ranti diserang oleh sekelompok orang. Pesan dari dokter Rudi membuat Danisa terpaku. Ia memejamkan matanya. Hhhhh.
“Nona, nona mau diantarkan kemana?” Pertanyaan dari supir taxi membuyarkan lamunan Danisa. Ia mengetik alamat kampusnya. Mobil berhenti nyaris di depan pintu gerbang. Danisa turun dengan cepat.
Seeeettt.
Sepersekian detik. Sebuah pisau tiba-tiba menancap tepat di sebuah pohon yang tidak jauh dari Danisa. Sedikit saja ia salah bergerak, maka pisau tersebut bisa menembus kulit lehernya. Mata Elang Danisa berpendar. Sepi. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Danisa berinisiatif mengambil pisau yang menancap di pohon dengan tenaga ekstra. Lalu dengan sedikit membungkuk, ia melempar kuat pisau tersebut.
Piiiiisssssss
Terdengar suara benda mengempis. Pisau berhasil menancap pada sebuah ban mobil yang berjalan paling pelan dengan warna paling mencolok dibanding yang lain.
On Point! Gumam Danisa menaikkan sebelah alisnya ke atas. Ia melumuri kedua telapak tangannya dengan cairan antiseptic dan dengan cepat melesat masuk ke dalam lingkungan kampus.
“Shiiii*t!!” Umpat seseorang menghempaskan tangannya pada stiur mobil. Kesal.
“Darimana wanita itu tau kalau kita yang melakukannya, Nona Mila?”
“Anak buah begooookk!! Kau tidak berhati-hati!! Huft!!” Sembur Mila, sahabat karib Jihan. Murka.
“Ma.. Maaf Nona, saya sudah melakukan yang terbaik! Nona menyuruhku hanya memberikannya peringatan. Kalau tau begini, lebih baik saya tancapkan pisau tersebut tepat ke jantungnya!”
“Apa? Ke jantungnya?! Kenapa tidak kau tancapkan di jantungmu saja, Hah?! Kau mau aku kembali mendekam di penjara?!” Sambar Mila dengan melototkan matanya.
“Lagipula aku menyuruhmu menggores pundaknya. Kenapa kau malah menancapkan nya di pohon?! Dasar tidak berguna!!”
Buuuggg
Buuuggg
__ADS_1
Mila memukulkan tas pada wajah anak buah sewaan-nya. Ia membuka pintu mobil.
“Kau urus mobil ini, ganti ban-nya dan kembalikan pada penyewa! Aku akan pulang menggunakan taxi!” Ketus Mila.
“Ba… Baik… Ta… Tapi bayarannya nona?!”
“Aku sudah menyerahkan padamu 10 juta! Selebihnya kau ambil saja di puncak tiang listrikk!!”
Braakkkk
Mila menutup kasar pintu mobil dan berlalu dengan wajah kusut.
Di dalam kamar asrama, Danisa menarik kacamata pemberian dari nenek Paula. Kacamata yang bisa menjangkau pergerakan orang-orang yang berada dibelakangnya tersebut kali ini sangat berguna. Danisa mengambil handphone dari saku blazernya.
Sssss. Gadis tersebutmendesis. Pundaknya terasa perih.
Nenek, aku akan pulang ke rumah nenek dalam waktu dekat. Ketik Danisa melayangkan pesan pada nenek Paula.
O My dear.. Apa kuliahmu sudah selesai untuk semester ini? Balasan dari nenek membuat Danisa memijat pelipisnya.
Belum nek, tapi Danisa ingin sekali pulang. I miss you so much.
I Know.. I know.. Tapi selesaikan kuliahmu untuk semester ini, Sayang! Setelah itu pulanglah dengan suka cita. I do miss you too, my little pumpkin!
Hhhh. Danisa membuang nafasnya ke udara. Rasanya ingin sekali ia bercerita bahwa keluarga Devan telah memutuskan hubungan pertunangan mereka. Selain masalah dan terror yang ia hadapi, Danisa juga benar-benar merindukan sang nenek.
Gawat! Jika dibiarkan bisa infeksi! Gumam Danisa lagi.
Gadis tersebut meringis. Ia mencari kotak P3K. Kotak tersebut ternyata ada di bagian atas lemari pada kamar asramanya. Danisa kesulitan menjangkau kotak obat tersebut. Rasa sakit yang mendera juga kian menjadi-jadi.
Bagaimana ini?
Sreg Sreg Sreg
Suara apa itu?
Danisa memasang telinganya dengan baik. Suara kunci yang memaksa untuk membuka pintu terdengar.
Ssssss. Dengan masih meringis, Danisa berdiri di belakang pintu dan sudah mempersiapkan kuda-kuda. Tak lupa, sebuah pentungan kayu yang memang berada di dalam kamar ia pegang dengan erat. Jika hanya seorang atau dua orang laki-laki, seharusnya dengan ilmu karate yang ia miliki, Danisa bisa meng-handle-nya dengan mudah. Namun masalahnya, kini ia tengah terluka.
Driiiiit
Pintu berderit. Seseorang membuka pintu tersebut perlahan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Ciaaaaaatttt. Dengan menutup mata, Danisa mengambil ancang-ancang memukul orang tersebut. Tidak bisa dipungkiri, kini jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
“Danisa…..ini akuu!!”
Su.. suara yang tidak asing. Danisa perlahan membuka matanya. Hampir saja pentungan kayu yang ia pegang mendarat sempurna namun orang tersebut berhasil menggenggamnya.
De…. Devan? Danisa dan Devan sama-sama mematung. Dengan masih memegang pentungan kayu, Devan dengan cepat berbalik arah. Tersadar hanya mengenakan tanktop, Danisa juga dengan cepat naik ke atas kasur dan membalutkan selimut ke tubuhnya.
Sssssss. Huft Sakit sekali.
“A… Aku tidak melihat apapun!” Ucap Devan mengangkat tangannya.
“Kau brengs*kkk!! Apa begini kelakuan seorang pria terhormat yang tanpa izin masuk ke dalam kamar seorang gadis begitu saja?! Apa kau sudah biasa melakukan hal ini?!” Hardik Danisa. Kepalang tanggung. Devan sudah terlanjur mengetahui bahwa sebenarnya ia bisa berbicara.
“Hey, aku tunanganmu!” Devan berbalik menatap Danisa.
“Cih! Kau lupa kalau kalian sudah memutuskan hubungan pertunangan ini secara sepihak begitu saja?! Lagipula, kita baru bertunangan. Belum menikah!” Cebik Danisa. Devan malah tersenyum.
“Ternyata suaramu merdu ya…”
Srettt
Selimut Danisa bergeser. Devan dapat melihat sebercak warna merah menghias disana.
Dengan kening mengerut, Devan berjalan mendekat.
“Dev, stop!! Devan, Stopp!!” Titah Danisa. Matanya memerah menahan rasa sakit.
“Danisa, aku tidak akan melakukan apapun. Tapi bahumu terluka! Jangan bergerak! Tenanglah!” Sahut Devan terus mendekat. Dengan sekali gerakan, ia menyingkirkan selimut Danisa. Tampak olehnya sebuah luka yang lumayan dalam.
“Kau benar-benar dokter atau bukan sih? Sudah kuliah sekian lama, bisa-bisanya membiarkan luka terbuka seperti ini!” Hardik Devan panik. Matanya berpendar. Dengan gerakan mengambil kotak p3k dari atas lemari. Danisa kembali menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Luka itu dibersihkan. Seharusnya kau lebih paham tentang ini!” Devan mulai menuangkan cairan alkohol.
Sssssss. Danisa meringis.
"Apa kau tidak bisa melakukan nya dengan lebih pelan?!" sembur Danisa kesakitan.
"Bersabarlah! Aku masih penasaran, apa kau memang seorang wanita atau bukan! Kenapa kerjaanmu hanya berkelahi?!" Tuding Devan. Namun dengan telaten ia terus mengobati Danisa.
"Siapa yang berkelahi?! Aku tidak berkelahi!! " Protes Danisa menerima apa yang Devan katakan. Kening Pemuda yang tengah mengobati lukanya sukses mengerut.
***
Hi kakak-kakak, tinggalkan jejak yaa setelah membaca... Terima kasih ❤🤗
IG: @alana.alisha
__ADS_1
***