
Ceklek
Devan membuka ruang kerja Cakrawangsa.
“Duduklah, Nak! Kau masih tampak pucat dan belum benar-benar sehat!”
“Kakek, Devan ingin mengajukan beberapa pertanyaan! Tolong kakek jawab dengan jujur!” Ucap Devan serius tanpa basa basi.
“Apa kau ingin menanyakan tentang Danisa?” Cakrawangsa menatap Devan seduktif.
“Apa yang ingin kau ketahui, nak? Kakek tidak akan lagi menyembunyikan apapun lagi darimu!”
Bruugg
“Kek, Danisa telah menjadi milik Raga. Mereka telah bertunangan dan akan menikah minggu depan” Lirih Devan. Di hadapan Cakrawangsa, ia ambruk. Devan menopang tubuh dengan kedua tangannya di lantai. Ia benar-benar putus asa. Cakrawangsa bangkit dari duduknya.
“Kau menyukainya, nak?” Cakrawangsa mengusap puncak kepala Devan penuh kasih sayang.
“Raga lebih berhak atas Danisa kek!” Devan memejamkan mata menetralisir perasaannya.
“Kenapa kau tidak memperjuangkannya? Mengapa kau menyerah?”
“Apa pantas seorang pemuda yang berasal dari keluarga yang telah membunuh kedua orang tua dan kakaknya memperjuangkannya?” Tanya Devan tanpa melihat ke arah sang kakek. Cakrawangsa terpaku lalu beliau mengangguk-angguk pelan dengan tersenyum pahit. Matanya berkaca-kaca.
“Kenapa kakek diam? Katakan kalau ini semua tidak benar kek! Katakan kalau ini salah!” Tuntut Devan nelangsa.
“Tidak ada yang salah dengan kata-katamu…!” Cakrawangsa menepi ke jendela dengan menjeda kalimatnya. Ia menerawang jauh. Lalu akhirnya menghela nafas.
“Sayang sekali nak, semua yang kau katakan benar adanya! Keluarga kita-lah yang telah melenyapkan Daisy, Delwin dan Darrel” Aku Cakrawangsa dengan nada menyesal. Waktu seolah terhenti. Devan terduduk lemas.
“Ja… Jadi… Semua itu benar?” Tenggorokan Devan tercekat. Mata Cakrawangsa berair. Sedikit lagi air yang menggenang di pelupuk tersebut akan keluar.
“Tapi kenapa… Tapi kenapa kek?” Tanya Devan tak mengerti.
“Kejadiannya sudah lama sekali dan itu semua sudah terlanjur terjadi” Sahut Cakrawangsa. Devan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lalu dengan tanpa merasa bersalah dan berdosa kakek malah menjodohkanku dengan Danisa?? Kek, apa kakek dan semua orang sudah tidak waras??? Dimana rasa simpati dan empati itu??!! Devan seperti tidak mengenal kakek!! Devan tidak percaya ini!!” Teriak Devan frustasi. Seumur-umur, Ia tidak pernah meninggikan suara di hadapan Cakrawangsa. Namun kali ini situasinya berbeda. Devan benar-benar terkejut bukan kepalang. Matanya memerah. Rahangnya mengeras. Jiwanya bergemuruh. Kenyataan yang membuat jiwanya terguncang.
“Kakek ingin melindungi Danisa. Kakek ingin menebus semua kesalahan yang keluarga kita perbuat. Kakek ingin Danisa aman bersama kita!”
“Danisa tidak akan aman di tangan pembunuh! Tidak akan pernah!!!” Teriak Devan lagi. Amarahnya meledak. Ia memegang jantungnya yang berdetak tidak karuan. Dengan sisa-sisa kekuatan, perlahan ia bangkit.
“Semua ini tidak hanya menghancurkan Danisa. Devan ikut hancur bersama dengan kenyataan !!" Devan menarik nafasnya yang terasa sesak sebelum melanjutkan kalimat nya.
"Tidak pernah terlintas di benak ini kalau ternyata Devan dibesarkan di tengah-tengah keluarga pembunuh!!! Devan pikir, kita ini keluarga terhormat, keluarga terpandang, akademisi dan jauh dari hal-hal negatif... tapi ternyata.... ternyata kita tidak lebih dari pembunuh keji berdarah dingin! ” Tukas Devan tajam. Ia berjalan mundur dan melangkah pergi tanpa pamit. Devan benar-benar kecewa.
“Dev, Devan… Jangan pergi! Kakek belum selesai bicara, Dev!” Sergah Cakrawangsa. Airmatanya benar-benar jatuh. Namun Devan terus berlalu tanpa mendengarkannya. Devan meninggalkan ruangan kerja tersebut dengan penuh rasa sakit. Bukan hanya fisiknya yang terluka, sakit pada jiwanya lebih jauh daripada itu.
***
__ADS_1
Sreettt
Prof. Daniel menoleh saat seseorang menepuk pundaknya dengan segaja. Ia yang baru saja memberikan laporan atas kasus kebakaran dan akan kembali ke apartemen terpaksa menghentikan langkah.
“Maaf Dok!”
“Ya?”
“Anda juga harus melakukan pemeriksaan kesehatan!”
“Aku baik-baik saja!” Jawab Prof. Daniel santai.
“Menurut kesaksian nona Roula, seharusnya luka bakar anda lebih parah daripadanya!”
Gadis itu, huh! Gerutu hati Daniel.
“Aku seorang dokter, aku tau apa yang terjadi pada tubuhku! Dan aku baik-baik saja!” Ucap Prof. Daniel bersikeras.
“Baiklah! Kalau ada ketidaknyamanan pada tubuh anda, mohon segera anda lakukan pemeriksaan!”
“Tentu saja! Terima kasih atas perhatian petugas kesehatan sekalian!” Lanjut Prof. Daniel. Ia lanjut berjalan namun baru beberapa langkah melangkah, Prof. Daniel kembali membalikkan tubuhnya.
“Oh iya, untuk kalian..." Prof Daniel menjeda kalimat nya.
"kalau ingin mengajak orang lain bicara, usahakan jangan menyentuh kecuali dalam keadaan darurat atau keadaan yang sangat mendesak! Apalagi kalian petugas yang tengah bertugas dan banyak bercengkrama dengan berbagai macam jenis orang!” Tukas Prof. Daniel menepuk-nepuk pundaknya dengan punggung tangan.
“Ba… Baik, Dok! Maaf…” Prof. Daniel menganggukkan kepalanya. Ia yang memang anti kuman dan sangat steril merasa tidak nyaman jika disentuh oleh orang lain.
Driiittt
Prof. Daniel masuk ke dalam apartemennya. Ia membuka lemari-lemari yang tertempel di dinding sana.
Ssssssss… Prof. Daniel mendesis menahan sakit. Ia menahan pinggangnya.
“Dimana Analgesik? Aku merasa meletakkannya di sini!” Ucap Prof. Daniel. Ia kembali mencari-cari. Tidak ketemu, Prof. Daniel membuka jas luar dan menyingkap baju berlengan panjang hingga menampakkan kulit perutnya yang melepuh.
Sreettt
Betapa terkejutnya prof. Daniel ketika seseorang menyodorkan obat pereda rasa nyeri yang dicari sekaligus segelas air mineral.
“Roulaa…? Bukannya kau dirawat di rumah sakit?!” Prof. Daniel menurunkan bajunya ke bawah.
“Minumlah terlebih dahulu. Jangan berakting seolah kau baik-baik saja!” Cebik Roula. Tak punya pilihan, prof. Daniel meminum obatnya. Roula mencoba menggiring pemuda tersebut ke atas sofa.
"Jangan menyentuhku!" Sergah Prof. Daniel.
"Diamlah! Kau harus dirawat!" Sambar Roula lagi. Entah mengapa, pemuda dingin tersebut akhirnya menuruti apa yang Roula inginkan. Dengan cekatan ia menarik pakaian Prof. Daniel ke atas. Ia mengambil kain kasa dan obat-obatan dari kotak p3k dan mengoleskannya.
“Sssss… Pelan-pelan!” Sembur Prof. Daniel. Roula menaikkan sebelah bibirnya ke atas. Ia terkekeh.
__ADS_1
“Kupikir kau benar-benar jagoan seperti yang terlihat! Begini saja sudah mengaduh!” Cibir Roula.
“Kau mengerti ilmu kedokteran? Bukannya kau seorang ekonom?” Prof. Daniel mengeryitkan keningnya.
“Aku ini mantan perawat!” Sahut Roula mengambil botol infus dan menancapkan jarumnya ke urat nadi prof. Daniel. Semua yang dilakukan Roula tak luput dari pengamatannya.
“Aku sudah menduga kalau kau tidak akan mau dirawat di rumah sakit! Aku menduga Kau khawatir kalau-kalau identitasmu akan diketahui!”
“Lalu, kenapa kau di sini? Luka bakarmu bisa infeksi!”
“Lukaku hanya sedikit. Kau lupa, bahwa aku yang mentransferkan api ke pakaianmu?!”
Dia sengaja ke sini untuk mengobati Lukaku?
“Jangan terlalu percaya diri! Aku melakukan ini karena aku membutuhkanmu untuk melancarkan misiku!” Tukas Roula seolah bisa membaca apa yang Daniel pikirkan.
Sreegg
"Awww. Sakit…" Roula mengaduh. Tiba-tiba Prof. Daniel mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat.
“Kalau begitu, katakan bagaimana caranya kalau bisa berada di TKP ketika aku hendak dibunuh! Lalu setelahnya, kau pergi kemana? Bagaimana selama ini kau bisa mengintaiku?!” Todong Prof. Daniel. Darah segar mengalir dari jarum infus yang bergeser. Roula terkejut dengan pergerakan Daniel yang begitu tiba-tiba. Kelabat bayangan masa lalu kembali hadir. Daniel seperti kehilangan kendali.
"Sebentar... Lepaskan aku dulu!" Pinta Roula. Prof. Daniel semakin mencengkram kuat lengan gadis tersebut. Lengannya memerah.
"Awww. Daniel, kau menyakitiku! Ini benar-benar sakit!!" Roula meronta-ronta. Prof. Daniel tersadarkan. Perlahan ia melonggarkan genggamannya.
Hah Hah Hah.
"Ma...Maaf, aku terbawa suasana!" Keringat sebesar bulir jagung keluar dari pelipisnya. Pergelangan tangan Roula memerah. Warna merahnya begitu kontras dengan kulit putihnya.
"Apa kau baik-baik saja? " Prof. Daniel khawatir sambil mengambil tangan Roula. Namun gadis tersebut menepisnya. Ia memilih mengambil tangan Prof. Daniel dan memperbaiki tusukan jarum infusnya.
"Pertanyaanmu tentang mengapa aku berapa di TKP ketika kau di bunuh... itu karena.... "
"Karena diam-diam aku mengikuti mobil kakek Cakrawngsa! Kakek Cakrawangsa ingin menyelamatkan mu dari anak buah suruhan istrinya yang bernama Chloe" Aku Roula. Daniel terhenyak.
"Kau jangan mengada-ada! "
"Aku tidak berbohong! Aku bersumpah atas nama Tuhan! "
"Saat bermain di rumah Devan, Aku tidak sengaja mendengar semua perdebatan kakek Cakrawangsa dan istri nya di rumah sebelum peristiwa pembunuhan! Kakek sudah berusaha maksimal menahannya! Namun nenek Chloe tetap melakukannya. Rasa cemburu yang begitu membakar meledakkan emosinya! Target beliau adalah nenek Paula. Namun sayang, ayah dan ibumu yang menjadi korban"
Ja... Jadi... Nenek Chloe yang membunuh ibu dan ayah? Prof. Daniel terhuyung.
"Sebenarnya, Aku menolong mu bukan karena aku seorang gadis supergirl yang baik hati! Itu semua karena kebaikan ibumu sendiri... Nyonya Daisy pernah mengeluarkan racun dari tubuhku...Beliau juga mendonorkan sebagian hatinya untuk ibu kandungku yang sekarang telah tiada. Kebaikan ibumu membuatku merasa sangat berhutang budi... Beliau sangat mencintaimu, kebaikannya mendorongku untuk menyelamatkan mu, Daniel" Terang Roula.
"Pada akhir nya... bukanlah aku yang menolongmu... Tapi ibumu... Bahkan sampai akhir hayatnya, beliau tetap menjadi pelindung mu... Tuhan mengirimkan padamu seorang ibu yang luar biasa" Lanjut Roula. Airmata Daniel sukses mengalir.
***
__ADS_1
💙💙💙
IG: @alana.alisha