Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 41: Hidup Seperti Permainan Papan Catur


__ADS_3

Sreeeeggg.


Danisa akan masuk ke dalam apartemen. Namun seseorang terlebih dahulu memegang pergelangan tangannya tepat di depan lift.


Devan?


“Kita harus bicara….” Ucap Devan.


“Aku butuh penjelasan darimu!” Lanjutnya lagi. Danisa terenyak.


“Aku harus tau bagaimana kehidupan mu dan apa yang sedang kau alami saat ini…” Danisa mencoba melepaskan cengkraman tangan Devan dilengannya.


“Danisa, aku adalah tunangan mu… Aku calon suamimu!” Ucap Devan penuh penekanan. Netra mereka saling bertemu. Devan melayangkan tatapan menghujam pada dua bola mata yang indah itu.


“Kenapa kau malah diam saja? Ayo bica…” Belum sempat Devan menyelesaikan kalimat, handphone-nya bergetar. Dengan menggunakan sebelah tangan, pemuda tersebut mengangkat panggilan yang menghiasi layarnya. Devan me-loudspeaker-kan handphone yang ada dalam genggaman.


“Nak, pulanglah… Mama sakit… Bawa serta Danisa ke rumah!” Terdengar suara tegas Manggala dari seberang.


“Ma.. Mama sakit? Baik, Pa. Kami akan pulang sekarang!” Ucap Devan mengakhiri percakapan.


“Ikut aku ke rumah!” Danisa mengangguk cepat. Ia ikut khawatir. Gadis tersebut tidak menolak saat Devan mengamit tangannya. Bersama-sama mereka menuju kediaman Cakrawangsa.


Danisa mengerutkan kening saat melihat seorang gadis cantik berambut pirang yang belum pernah ia lihat sebelumnya telah berada di sisi Ranti saat Ia dan Devan memasuki kamar utama. Mata Danisa berpendar. Ia juga melihat Raga duduk tak jauh dari mereka. Raga menatapnya berbinar.


“Pa, bagaimana keadaan mama?”


“Syukur hanya mengalami luka ringan. Mama-mu diserang oleh sekelompok orang saat menjemput Roula di Bandara, Nak!” Sahut Manggala.


Roula? Gumam Devan. Gadis berambut pirang tersebut melirik Devan, ia melayangkan senyumnya. Semua pergerakan Roula tak lepas dari penglihatan Danisa.


Tante Ranti menjemputnya?


“Dev… Devan…” Ranti memanggil dengan suara serak. Devan mendekat.


“Mama kenapa bisa diserang, Ma?” Devan mengecup puncak kepala ibunya.

__ADS_1


“Semua karena dia! Siapa lagi?” Ranti menunjuk Danisa dengan tatapan membunuh.


“Ma… Apa yang mama katakan? Mama lagi sakit, sebaiknya mama istirahat!”


“Tidak Dev, kamu harus tau… Tadi ketika mama menjemput si cantik Roula yang baik hati dan baru landing dari Amerika, mama diserang oleh sekelompok wanita yang mengaku tidak senang dengan Danisa. Mereka mengatakan ingin membalas dendam terhadap gadis kampung itu, Mama yang dianggap sebagai mertuanya diserang secara terang-terangan. Dev, Danisa sejak lama suka mencari masalah dengan orang lain! Huk huk huk!” Ranti terbatuk. Ia merasa sesak.


“Dia gadis kampung pembuat onar! Dia gadis gila! Beruntung para asisten bergerak cepat. Kalau tidak, mungkin mama dan kalian semua sudah berada di alam yang berbeda! Mungkin ma.. mama sudah tidak ada lagi di dunia ini!” Ranti bercerita dengan nafas memburu.


“Ma… Jangan bicara begitu, mungkin itu bukan…”


“Tidak Devan, mama mendengar mereka menyebut nama Danisa dengan jelas! Tanya Roula dan Raga! Tanyakan papamu!!” Ranti bangkit. Manggala memejamkan mata. Pasrah.


“Danisa, sudah cukup! Sudah cukup selama ini aku mentolerir semua sikap dan tingkah lakumu! Pergi kamu dari sini!!! Hubungan mu dan Devan cukup sampai di sini! Kami semua tidak bisa menerima mu sebagai menantu!! Aku tidak perlu bersopan santun dan bersikap kekeluargaan untuk memutuskan pertunangan kalian!! Pergi kau!! Pergiiiiii!!!” Pekik Ranti menunjuk ke arah pintu keluar. Ranti benar-benar murka.


Dengan wajah tenang Danisa memberikan senyumnya. Ia setengah membungkuk memberi salam sebagai ucapan terima kasih karena selama ini sudah diterima di keluarga Cakrawangsa. Gadis tersebut kemudian berlalu pergi. Meninggalkan kediaman Cakrawangsa dengan borok luka yang menganga di sudut hati. Lagi-lagi ia dihina dan terhinakan.


“Dan… Danisa… tunggu!” Devan hendak mengejarnya. Namun,


Sreeg


“Dev, kita sudah lama tidak bertemu!” Lirih Roula sendu. Ia mencengkram kuat lengan Devan agar pemuda tersebut tidak beranjak. Ranti mengangguk.


“Kalau kau memilih gadis itu, itu artinya kau siap-siap kehilangan mama! Sekarang kau sudah bisa menentukan sikap! Kau mau memilih mama atau gadis tidak jelas itu!” Lanjut Ranti. Devan terenyak. Ia melihat Raga yang sudah berjalan keluar. Pasti Raga mengejar Danisa! Devan hanya bisa bungkam. Ia mematung di tempat.


“Maaf Roula…” Devan melepaskan cengkraman tangan Roula yang sejak tadi seperti enggan gadis itu lepaskan.


***


Drrrrttt Drrrrtttt


“Bagaimana? Apa rencanamu berhasil?”


“Tentu saja, Mr. X!” Sahut orang diseberang via handphone.


“Good Good! Si Jihan walau berada dalam penjara tapi relasinya bagus dan gadis bodoh tapi cerdas itu masih sangat berguna! Hahahahaaha” Mr. X tampak puas.

__ADS_1


“Maaf Mr. X, kenapa gadis itu tidak kita bunuh saja?! Mengapa kita mengulur waktu terlalu lama? Jika kita membunuhnya, masalah kita akan selesai!” Tanya orang diseberang berhati-hati.


“Guoblookk!!! Hahahahahahaha” Mr. X tertawa terbahak-bahak.


“Kau pikir konspirasi diciptakan untuk apa? Hidup itu seperti sebuah papan catur. Untuk mencapai tujuan hidup, diperlukan strategi dan langkah yang panjang. Kita harus memainkan permainkan ini terlebih dahulu sampai semua tersingkirkan dari arena hingga tidak bersisa satu pun! Mereka harus menderita sebelum kulemparkan ke neraka! Sekarang Aku juga belum sepenuhnya menguasai harta Felix, harta dari Deborah Paula yang tidak akan habis hingga 10 turunan itu belum ada di dalam genggamanku. Hahahahaha!” Orang di seberang mengangguk-angguk patuh. Entah apa yang akan di rencanakan oleh sang atasan selanjutnya, yang jelas ia hanya akan mengikuti alur permainan yang sudah diciptakan.


Di tempat berbeda, masih di sekitar Kawasan rumah keluarga Cakrawangsa.


“Danisa.. Danisa..” Raga mengejar Danisa hingga bisa mencengkram lengan gadis tersebut. Danisa berhenti. Ia menghempas kasar tangan Raga. Sama sekali tidak ada keramahan pada sorot matanya. Yang ada tatapan sendu lagi terluka yang berusaha keras ia simpan serapi mungkin.


“Maa.. Maaf!” Ucap Raga. Danisa kembali melanjutkan langkahnya.


“Danisa… Sebentar… Tunggu sebentar!!” Danisa tidak menggubris Raga. Moodnya benar-benar berantakan.


“Danisa Cucu nenek Paula, berhentilah!” Benar-benar kaget, Danisa menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Raga dengan kening mengerut.


“Kau melupakanku? Apa kau lupa padaku?” Tanya Raga tak kalah sendu.


“Danisa, I am your black-shadow, Kau menyebut ku dengan sebutan black shadow” Lirih Raga.


“Dulu kau sangat kesal karena aku selalu mengikutimu kemanapun kau pergi maka kau memanggilku si bayangan-hitam. Apa kau telah melupakan kenangan kita? Kita pernah tinggal bersama di Inggris selama 1 tahun…” Mata Raga berkaca-kaca.


“Dan… Sampai ketika aku harus kembali ke Indonesia, kau malah menangis sesegukan. Air matamu tumpah ruah hingga mengejar bis-ku sampai ke bahu jalan!” Kenang Raga bercerita. Danisa terperanjat. Matanya ikut berkaca-kaca. Kakak yang ia rindukan ada di hadapannya. Orang yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya ternyata benar-benar berada didekatnya namun selama ini ia sama sekali tidak menyadarinya.


“Apa kau tidak merindukanku?” Raga mendekat. Ia merentangkan tangannya.


“Kemarilah!” Raga masih merentangkan tangannya. Air mata Danisa sukses mengalir. Lututnya terasa lemas. Ia merosot ke tanah. Raga dengan sigap memeluknya. Air mata Danisa tumpah ruah. Ia menangis sejadi-jadinya di lengan Raga. Menumpahkan semua rasa yang berkecamuk didirinya. Penolakan, penghinaan, pengusiran, bullyan, terror, pertemuan, perpisahan, perjuangan, kerja keras, sakit, juga terluka.


Ini kali pertama airmatanya kembali mengalir deras setelah sekian lama. Ia menangis di lengan kakaknya. Kakak yang selalu ia rindukan.


Setelah hari itu, hari kepergian Raga dan hari kematian ibunya. Setelah hari itu Danisa sudah tidak bisa menangis kencang. Ia membekukan hatinya untuk sebuah alasan. Tapi kali ini ia membiarkan dirinya untuk menangis.


***


Setelah membaca tinggalkan jejak yaa kakak2 💕 Maciii 🙏

__ADS_1


***


__ADS_2