
Ceklek
Kakek Cakrawangsa membuka sebuah ruangan gelap yang terasing. Perlahan beliau menghidupkan lampu. Sinar redup yang tidak terlalu terang seketika memenuhi ruangan yang acak-acakan. Sisa makanan berserakan juga sarang Laba-laba melekat kuat di tiap sisi tembok.
Tap Tap Tap
Sol sepatu pantofel Cakrawangsa terdengar.
"Ggrrrr .... Mau sampai kapan kau akan mengurung dan memasungku dalam ruangan nista ini? " Suara serak tak berdaya terdengar. Seorang nenek tua yang tampilannya terlihat lebih tua dari usianya mengerang.
"Chloe... Devan terbaring di rumah sakit karena ulahmu! Ranti juga tengah berjuang melawan sakitnya seorang diri! " Ucap Cakrawangsa memberikan laporan.
"Kau pikir aku peduli??!! Cakrawangsa, Kau manusia paling menjijikkan!!! Lepaskan akuuu!!! Lepaskan!!!! " Teriakan Chloe, istri Cakrawangsa memenuhi ruangan.
Sreegg
"Aaarg Arrrgg Huk Huk... Aaarrg... Le.. pas...kan... huk huk" Chloe terbatuk. Cakrawangsa mencekik lehernya.
"Kau sudah lenyap Chloe. Fakta yang orang-orang ketahui adalah Chloe Cakrawangsa telah menghilang dari muka bumi ini! " Tukas Cakrawangsa.
"Huk Huk Huk... Kau manusia bermuka dua! Kau benar-benar Psikopat! Kau lebih busuk daripada aku!! Huk Huk Huk! " Racau Chloe. Darah segar menyembur dari mulutnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu... Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskanmu! "
"Kalau begitu bunuh saja aku! Bunuh!!! Huk Huk Huk!! Sudah cukup kau menyiksaku!! Lebih dari 15 tahun kau mengurungku di sini! Sudah lebih daripada cukup aku menebus dosa-dosaku!! Ini lebih menyakitkan daripada pembunuhan! Ini tidak adil... Aku memang mencintai mu... Aku berkorban banyak untukmu... Tapi apa ini balasan yang harus kutanggung? " Chloe masih berusaha bersuara dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Cakrawangsa menatap nya dengan tatapan dingin.
"Haa.... Hahahaha... Hahahaha... " Suara Cakrawangsa terdengar menggelegar.
Tik
"Aaaa... Aaaaaa.... " Chloe menjerit kesakitan. Cakrawangsa menekan sebuah tombol dan menyetrumnya. Pria yang memiliki seorang cucu tersebut tampak menikmati nya.
"Aaaaa cukup Cak... ra... wang... sa... Cu... kup! " Teriakan terbata terakhir dari Chloe memenuhi ruangan sebelum akhirnya wanita tersebut jatuh pingsan.
Driiiit
Suara deritan pintu terdengar. Seseorang membuka pintu diikuti oleh dua orang lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana? Danisa sudah ditemukan? " Tanya Cakrawangsa menaikkan sebelah alisnya ke atas. Ia berbalik arah dan mulai berjalan ke ruangan lainnya. Dua orang asisten dengan sigap mengurus Chloe yang jatuh pingsan.
"Danisa menceburkan diri ke dalam danau, Pa! "
"Apa kau bisa memastikan bahwa ia selamat? "
"Ya. Danisa dipastikan selamat! Aku akan ke sana dan menjelma menjadi malaikat penolongnya"
"Bagus Manggala! Tidak sia-sia aku menerima mu sebagai menantuku! Mr. X memang bodoh! Ia tak sehebat tampilannya!" Cakrawangsa menepuk-nepuk pundak Manggala dengan tersenyum menyeringai. Wajah Cakrawangsa tampak berbeda dari biasanya.
"A... Apa tidak sebaiknya mama Chloe kita keluarkan dari ruangan ini? " Ucap Manggala berhati-hati. Cakrawangsa langsung menatap tajam ke arahnya.
"Ma... Maksudku... "
"Sudahlah Manggala... Aku tidak ingin mendengar apapun! Kau hanya harus mendengar apa yang kukatakan jika tidak ingin berpisah dari Ranti dan Devan!" Sambar Cakrawangsa. Manggala yang sangat mencintai istri dan anaknya sontak terdiam.
"Pastikan Danisa selamat! Pastikan juga Devan menikahinya! " Titah Cakrawangsa. Airmata Manggala menetes.
"Bahkan aku tidak yakin apakah Devan akan siuman, Pa! " Lirih Manggala tampak tertekan.
"Aku bisa menciptakan cucu baru jika memang Devan tidak bisa diandalkan! Yang harus dipastikan adalah... Danisa harus menjadi bagian dari keluarga kita! Kau tau? Harta kekayaan keluarga mereka yang di sembunyikan oleh Paula sangat melimpah ruah! Danisa itu tambang emas kita! Kita bisa memanfaatkan kebaikan dan kejernihan hati Paula... Faktanya, Wanita itu juga masih mencintai ku... Hahaha" Ucap Cakrawangsa. Manggala kesulitan menelan salivanya.
...****************...
Danisa dilarikan ke rumah sakit oleh ambulance setelah berjuang mati-matian menyelamatkan dirinya yang nekat terjun ke dalam danau. Ia yang sejak awal sudah melihat titik yang tepat untuk menceburkan diri dan dengan bersusah-payah naik ke permukaan karena kakinya tertembak akhirnya bisa lolos dari maut.
"Daddy... Kenapa Daddy bisa berada di lokasi kejadian? " Tanya Danisa dengan mengetik pada handphone yang dipinjam dari Manggala. Laki-laki paruh baya tersebut bertindak sebagai pahlawan penyelamat nya. Sejak semula Manggala telah mengirimkan anak buahnya memantau pergerakan Danisa.
"Hmh... Kebetulan daddy lagi memancing di tepi danau, Nak! Syukurlah kau selamat! Daddy tidak tau apa yang menimpamu. Setelah dokter mengobatimu, kau harus menceritakan kenapa kau bisa sampai tercebur! Ini benar-benar berbahaya!" Tukas Manggala dengan wajah tampak khawatir. Danisa perlahan mengangguk. Hatinya terasa kebas. Keluarga pembunuh orangtuanya-lah yang ternyata menyelamatkan nya.
Devan... Bagaimana kabarnya sekarang? Batin Danisa bertanya-tanya.
Tidak tidak! Aku tidak boleh memikirkan lagi!
Aku akan menjadi istri kak Raga. Aku sudah harus memandangnya sebagai seorang wanita! Lanjut Danisa bertekad.
"Devan masih koma, nak! " Ucap Manggala tiba-tiba. Ia seolah bisa membaca apa yang Danisa pikirkan.
__ADS_1
A...Apa?! Danisa menunjukkan ekspresi terkejut. Ia hendak bangkit duduk. Namun Manggala menahannya.
"Tidur sajalah...!" Titah Manggala. Danisa kembali pada posisi nya.
"Fisiknya sangat lemah. Di tambah Devan terpukul karena pernikahanmu dan Raga! Dia sangat sedih... Jiwanya terguncang" Tukas Manggala lagi tanpa keraguan. Danisa tertegun.
"Aku akan menjenguknya. Aku berharap Devan akan siuman. Namun aku tetap tidak bisa menjadi istrinya.. Selain itu, tante Ranti tidak menyukaiku..." Sahut Danisa kembali mengetik. Manggala mengangguk dengan tersenyum.
Kau akan dipastikan menjadi istri Devan, Nak! Atau Kau akan menjadi istri dari bagian keluarga Cakrawangsa. Kau tidak akan bisa lari dari takdirmu. Lirih hati Manggala.
"Sekarang jangan pikirkan apapun. Fokuskan pada kesehatan mu! Kakimu perlu dirawat intensif. Fisik mu juga butuh pemulihan, hm? " Ucap Manggala lembut. Danisa hanya bisa diam. Ia tidak bisa menjawab apapun.
Untuk sesaat mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Suasana hening. Hanya ada suara deru kendaraan dan klakson di jalanan yang terbilang sepi.
Kalau Daddy memang kebetulan memancing, mengapa Daddy tidak membawa alat pancing? Pikir Danisa menatap Manggala dengan mengerutkan kening. Ia yang hidup dalam ketidakpastian otomatis berpikir lebih tajam dari yang seharusnya.
Tidak mungkin. Daddy tidak mungkin jahat dan ingin membunuh ku. Kalau iya, mengapa Daddy tidak membiarkanku tenggelam namun malah menolong ku? Pikir Danisa lagi. Ia benar-benar menguras pikiran hingga membuat kepala nya terasa sakit.
"Kau kenapa, nak? " Tanya Manggala yang melihat gelagat aneh pada Danisa. Gadis tersebut menggelenh.
Mr. X... Ya... Namanya Mr. X. Apa yang terjadi padanya? Ah. Setidaknya aku sudah mengetahui siapa musuhku sekarang... Aku harus segera memberitahukan ini pada Prof. Daniel... Danisa mengangguk-angguk pelan. Kenyataan seolah telah menemukan titik terang nya. Musuh sudah diketahui. Ia hanya perlu lebih waspada untuk membongkar segala kejahatan.
Juga..... aku harus mengetahui bagaimana keluarga Devan terlibat! Siapa penjahat sebenarnya? Apa keluarga Devan hanya korban? Atau memang mereka bekerja sama?
Aku rasa Daddy Manggala, Devan juga kakek Cakrawangsa tidak terlibat. Aku yakin ada orang lain bagian dari mereka yang melakukan nya. Apa Nyonya Ranti?
"Ssssss... " Danisa meringis. Ia memijiat pelipisnya. Ia merasa sakit bukan karena luka tembakan yang pelurunya blm dikeluarkan, namun karena banyak hal yang Ia pikirkan. Walau Ia telah mengetahui bahwa Mr. X adalah salah satu musuhnya, namun kepingan puzzle yang lain belum Ia temukan.
...****************...
"Da...ni...sa.... " Lirih seseorang tiba-tiba. Ia masih terbaring lemah dengan tidak sadarkan diri.
"Dev,,, apa kau sudah sadar?! " Pekik Roula sedikit mengguncang tubuh Devan. Namun setelah nya, pemuda tersebut kembali tidak bersuara.
Apa aku hanya berhalusinasi? Hati Roula bertanya-tanya. Namun Ia tetap bangkit untuk memanggil perawat dan dokter. Belum sempat Ia bangkit, pemuda yang terbaring tersebut memegang tangannya dengan mata yang masih menutup.
...****************...
__ADS_1
IG: @alana.alisha