Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 33: Fakta Tentang Danisa


__ADS_3

Danisa kembali dibawa ke rumah sakit, lebih tepatnya ke ruangan UGD. Gadis ini diberi cairan infus agar lebih bertenaga. Luka di tangannya juga di obati dengan baik.


“Danisa, apa yang kau lakukan?” Tanya Devan yang melihat Danisa melepaskan jarum infusnya.


“Oh tidak, kamu perlu istirahat! Kau masih sakit!” Tegas Devan. Namun Danisa mengangkat jarinya membentuk lambang okay. Ia ingin mengatakan pada Devan bahwa ia baik-baik saja.


Huh. Benar-benar kepala batu! Gerutu Devan menggelengkan kepalanya.


Berapa biaya pengobatanku? Aku akan mentransferkannya! Ketik Danisa bersusah payah pada layar handphone.


Oh Tuhan! Ternyata aku masih menjadi orang asing bagi Danisa! Devan memijat pelipisnya.


“Tidak usah! Uangku masih cukup untuk membiayai pengobatanmu!”


Baiklah. Terima kasih. Di kemudian hari aku hanya tidak ingin berhutang budi padamu! Ketik Danisa lagi. Ia bersiap-siap keluar ruangan. Ada banyak hal yang masih harus diselidiki.


Devan berinisiatif mengambil tangan Danisa untuk kemudian ia tuntun ke luar. Tapi tunangannya tersebut malah melepaskan genggaman tangannya.


“Biar aku membantumu, hm? Kita keluar bersama!” Ajak Devan. Danisa berpikir sejenak lalu mengangguk.


“Apa kau tidak lapar?” Danisa menoleh.


“Kita makan di tempat makan terdekat!” Ajak Devan. Danisa mengangguk cepat. Jujur saja berjam-jam berada di dalam ruangan operasi membuat cacing di perutnya ikut meronta. Devan tersenyum. Mereka segera meluncur ke salah satu resto terdekat.


***


Raga yang baru keluar dari toilet berjalan santai menuju ruangan dimana Danisa dirawat. Pemuda ini melewati lorong-lorong rumah sakit. Ia bersiul-siul ringan. Hatinya masih diliputi oleh perasaan bahagia sebab operasi kakek Rowan berjalan dengan lancar. Raga ingin meminta maaf pada Danisa atas tuduhan yang ia dan keluarganya alamatkan. Raga juga bertekad akan mencabut kasus perkara yang menyangkut nama baik Danisa di kepolisian sesegera mungkin.


Baru saja Raga akan memberi kejutan atas kehadirannya, namun sayang ruangan tersebut telah kosong. Kemana Devan dan Danisa? Pikirnya. Raga mengambil gawai dan langsung menghubungi sahabatnya tersebut.


“Kalian dimana? Out dari rumah sakit kok ga bilang-bilang sih?!” Cerca Raga.

__ADS_1


“Sorry, Kami lagi di tempat makan ga jauh dari rumah sakit! Danisa lapar katanya!” Sahut Devan.


“Okay deh, ntar aku ke apartment! See You!” Raga memutuskan panggilan. Pemuda ini kembali melangkah. Ia berniat akan kembali ke kantor untuk mengecek beberapa laporan.


Tap Tap Tap


Kali ini Raga melangkah santai. Ia kembali melewati beberapa lorong sebelum sampai di lobi. Namun tiba-tiba, Raga melihat sosok kakek Cakrawangsa dan Kepala rumah sakit tengah berbincang bersama di dalam sebuah ruang yang pintunya sedikit terbuka. Raga mendekat, pemuda ini ingin menyapa kedua orang tua yang begitu ia hormati itu. Raga mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu. Namun tiba-tiba, sayup-sayup ia mendengar pembicaraan asing yang sangat menarik perhatiannya,


“Cakrawangsa, itulah mengapa aku sangat menyayangi Danisa. Selain karena ia adalah cucu dari sang Legenda Deborah Paula yang sangat dermawan dan banyak berkontribusi di dunia kedokteran, Danisa ini adalah gadis yang baik juga pintar. Sangat pintar, sangat sangat pintar! Devan beruntung mempersuntingnya!” Perkataan Rudi membuat Raga terhenyak. Pemuda yang begitu mengagumi nenek Paula ini tercengang.


Apa pendengaranku tidak salah?! Batin Raga. Ia mematung terpaku.


“Ini merupakan anugrah besar. Kami juga sangat bersyukur karena Deborah Paula mempercayakan kami untuk menjaga Danisa. Beberapa kejadian yang membuat gadis itu terpojokkan selama beberapa waktu lalu membuatku menyesal. Padahal sejatinya, keluarga Danisa-lah yang sudah sangat banyak membantu keluarga kami hingga sekarang kami bisa berdiri seperti ini!” Cakrawangsa mengusap matanya yang tiba-tiba basah.


Raga mundur beberapa langkah. Fakra mencengangkan yang baru saja ia ketahui tentang Danisa membuat jantung pria ini berdebar kencang.


Ja.. Jadi, Danisa adalah orang yang selama ini aku cari? Ingatan Raga seketika melayang ke masa kecil ketika kakek Rowan mengajaknya mengunjungi kediaman nenek Paula. Mereka bersahabat dekat. Di sana ia bertemu dengan Danisa kecil yang terlihat begitu ceria dan pemberani.


**.. Tapi yang aku ketahui, Danisa tidak bisu. Kenapa Danisa bisa kehilangan suaranya?


***


Devan memperhatikan intens Danisa yang terlihat sangat enjoy menikmati makanannya. Gadis itu dengan acuh menyuap sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutnya. Tidak terlihat kecanggungan di sana. Membuat Devan betah berlama-lama menatapnya.


“Kau sangat menyukai makanan ini, hm?” Danisa mengangguk-angguk. Ia menunjukkan senyum dengan deretan gigi rapinya.


“Haha… Jarang sekali aku melihatmu tersenyum sedemikian lebarnya! Ternyata makanan memang lebih menarik bagimu daripada aku! Haha” Devan tertawa lepas menggelengkan kepalanya. Gadis ini kembali menyendok makanannya ke mulut.


“Danisa, aku ingin mengajakmu bicara serius!” Devan kembali memberikan atensi pada gadis yang ada dihadapannya.


“Kenapa kamu begitu senang berkelahi?" Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari mulut Devan.

__ADS_1


“Maaf, bukannya aku ingin melanggar kesepakatan awal kita. Bukannya aku ingin mencampuri urusanmu atau mengatur hidupmu! Tapi aku hanya tidak ingin kau selalu mendapatkan masalah! Nama besar keluarga akan terseret dan ini bukan hal yang baik!” Danisa yang tengah mengunyah mendadak menghentikan kunyahannya. Ia meletakkan sendok dan garpu di piring. Lalu menatap Devan, mendengar kalimat apa yang akan tunangannya tersebut katakan selanjutnya.


“Orang-orang sudah mengenalmu sebagai tunanganku, calon menantu di keluarga Cakrawangsa. Jika perilaku mu dinilai buruk, hal ini bukan saja mencoreng namaku! Tapi juga nama kakek Cakrawangsa…” Devan menjeda kalimatnya.


“Jika ada yang menganggumu, katakan padaku. Sebisa mungkin aku akan membantumu menyelesaikan semua masalah dengan cara baik-baik. Bukan dengan kekerasan fisik! Itu semua juga hanya akan merugikanmu!” Lanjut Devan lagi.


Danisa mulai mengetik jawaban di handphone,


Baiklah, lain kali aku akan berkelahi dengan hati-hati agar tidak ketahuan khalayak ramai hingga tidak membuarmu atau keluargamu yang terhormat merasa malu! Danisa menunjukkan ketikannya. Tenggorokan Devan tercekat. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Karena kau telah menolongku, kali ini aku akan mentraktirmu. Ketik Danisa lagi. Ia beranjak ke tempat kasir berada.


Hhhhh. Devan membuang nafas nya ke udara dan mengacak kasar rambutnya.


***


Devan dan Danisa sampai di apartemen mereka. Gadis ini langsung masuk ke kamar. Ia akan mandi terlebih dahulu baru kemudian berniat bertemu dengan Prof. Lee, seorang professor yang ahli membaca gesture tubuh.


Baru saja ia akan masuk ke dalam kamar mandi, suara bel pintu berbunyi. Danisa tidak menghiraukannya. Di ruang tamu sudah ada Devan, pikirnya. Danisa-pun meneruskan niatnya untuk mandi.


“Dimana Danisa?” Tanya Raga begitu pintu apartemen terbuka. Ia membawa serta Ami, sekretaris pribadinya.


“Di kamarnya, mau dimana lagi?” Tanya Devan acuh.


“Aku ingin menjenguknya!” Raga langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Ia sudah tak sabar untuk bertemu Danisa, orang yang selama ini sudah sangat ia rindukan. Raga membawa serta semangkuk besar bubur juga separcel paket buah-buahan segar.


***


Teman-teman, jangan lupa like komen vote juga hadiah nya... makasih guyysss


🖤🤍💙💚💚🧡❤

__ADS_1


__ADS_2