Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 71: Genderang di Tabuh


__ADS_3

"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Raga pada Devan yang masih terbaring di rumah sakit. Ia membawa sekeranjang buah-buahan.


"Seperti yang kau lihat" Sahut Devan diplomatis. Raga meletakkan keranjang buah-buahan tersebut di atas nakas. Cakrawangsa memilih untuk permisi karena tak ingin menganggu.


Sudah saatnya genderang ditabuh... Devan, aku akan mengatur yang terbaik untuk mu... Gumam Gunawan. Orang yang sudah belasan tahun menjadi Cakrawangsa. Sebelum keluar ruangan, ia kembali melirik punggung Raga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Baguslah! Akhirnya kau siuman... "


"Apa kau mengharapkan sebaliknya? "


"Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu! Tapi tidak untuk urusan Danisa! Khusus untuk urusan gadis itu, aku tidak akan pandang bulu!" Sahut Raga berterus-terang.


"Apa kau mencoba mengancamku? "


"Aku tidak perlu mengancammu. Karena sejak awal kau telah kalah. Danisa tidak akan mungkin mau dinikahi oleh anak keturunan yang telah membunuh kedua orang tuanya! Kau kalah telak, Devan! Sejak awal, takdir Danisa memang bersamaku! " Ucap Raga menohok. Mata Devan berkaca-kaca. Air keluar dari sudut matanya.


"Cepatlah sembuh! Aku permisi! " Bisik Raga, kemudian ia mulai melangkah menjauhi Devan ke arah pintu.


"Kalau Tuhan berkata Danisa adalah jodohku, apa yang akan kau lakukan? " Perkataan Devan membuat langkah kaki Raga terhenti. Ia berbalik arah.


"Tuhan tidak akan pernah merestui orang dari kalangan pembunuh! " Sahut Raga.


Tap....


Tap....


Raga kembali berjalan semakin mendekat.


"Maaf Devan, sejak awal kau tau bahwa aku orang yang to the point dan tidak suka berpura-pura. Ini memang pahit. Tapi aku harus mengatakannya... Demi kau, demi Danisa, demi kita semua! " Bisik Raga penuh penekanan. Kali ini ia benar-benar berjalan meninggalkan ruangan.


Hhhh... Danisa, semoga kau bahagia bersamanya... Gumam Devan dengan menghela nafas. Ia tersenyum pahit setelah sebelumnya melepaskan jarum infus yang melekat di tangannya dengan sekali hentakan.


"Dev, kau mau kemana?! " Tanya Roula yang tiba-tiba muncul. Gadis tersebut melototkan mata menyaksikan apa yang ia lihat.


"Dev, kau masih harus dirawat! "


"Aku sudah sehat! " Sahut Devan acuh. Roula menggeleng.


"Dev, please... kali ini kumohon dengarkan aku! " Roula mengikuti gerak Devan yang terus saja melangkah.


Ceklek


"Dev?! "


"Pa, bagaimana kondisi mama? " Tanya Devan yang masuk ke ruangan dimana Ranti dirawat. Ia melihat wajah Manggala yang tampak sembab.


"Kondisi mama mu sudah mulai stabil, menurut dokter beberapa saat lagi mama mu akan siuman" Terang Manggala. Devan mengangguk-angguk.


"Pa, ada yang ingin Devan tanyakan... "


"Apa kau kabur dari ruanganmu, nak? " Potong Manggala melirik Roula. Devan terdiam.


"Kembali dan dapatkan perawatan! Kau belum cukup sehat untuk berkeliaran" Titah Manggala. Devan masih diam dan tampak berpikir. Sejenak, Ia mencium kening Ranti lalu membisikkan beberapa kalimat penyemangat dengan penuh kasih sayang di sana. Ia berjanji akan segera kembali. Devan pun berlalu setelah meminta izin pada Manggala. Namun tentu saja bukan ruang rawat inap tujuannya. Melainkan,


"Dev, apa kau mencari Danisa? Dia juga dirawat di rumah sakit ini! " Ucap Roula mengabarkan. Tidak bisa dipungkiri, hatinya ikut mencelos. Devan menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


Danisa dirawat? Devan mengerutkan keningnya.


"Terima kasih! Tapi aku bukan mencari Danisa!" Devan meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh. Ia buru-buru ingin mencari tau kebenaran mengenai pembunuhan yang terjadi di keluarga Danisa. Sejak siuman dan terus bermimpi buruk, Devan sudah tidak sabar ingin menguak kebenaran dan mengembalikan semua pada tempatnya. Sungguh, Ia masih tidak puas akan jawaban yang Cakrawangsa berikan.


Kini, Devan begitu bergegas hingga tidak menghiraukan fisiknya yang masih lemah. Ia terus saja berjalan keluar tanpa mempedulikan apapun.


"Dev, tunggu... Dev....! " Panggil Roula yang hendak mengejarnya. Namun sayang, kaki gadis tersebut malah tersandung.


Aaaaaaaa... Suara pekikan nyaring dari mulut Roula memenuhi ruangan. Gadis tersebut pasrah dengan menutup mata. Namun ia kembali membukanya,


Wait.... Belum... belum... Aku belum jatuh... Sama sekali belum terjatuh. Tapi mengapa aku bisa melayang begini? Pikir Roula heran. Perlahan ia membalikkan wajahnya ke belakang.


"Daniel?! " Pekik gadis tersebut mengerutkan keningnya. Ternyata professor yang menempuh pendidikan di Inggris itu menarik ujung dressnya menggunakan ibu jari dan telunjuk yang menyatu sehingga sehingga Roula tidak terjatuh.


Devan yang sempat mendengar teriakan Roula menyempatkan diri untuk melirik. Namun ketika melihat kedekatan gadis tersebut bersama prof. Daniel, Devan memutuskan untuk meneruskan langkahnya.


Tukkk


Bruuuggg


Dengan santai Prof. Daniel melepaskan ujung-ujung jarinya. Roula berakhir jatuh ke lantai dengan mudahnya. Namun gadis tersebut tidak benar-benar merasa sakit.


"Daniel!! Kenapa kau terus saja menganiayaku, ha? " Protes Roula.


"Lebih baik kau berhenti memikirkan laki-laki bodoh itu agar tidak menjadi kurus kering begitu... Tidak terbayangkan... hanya sedikit tiupan angin saja mampu membuat kau terombang-ambing hingga hampir jatuh konyol!" Sarkas Prof. Daniel.


"Ha?? Laki-laki bodoh? Siapa lelaki bodoh yang kau maksud?! "


"Juga.... Fokuslah makan lebih banyak karbohidrat dan lemak! " Lanjut Prof. Daniel dengan menaikkan sebelah alis nya ke atas. Lalu kemudian, ia dengan santai melangkah pergi.


"Daniiiiel, kau tau? Jatuh konyol karena tersandung jauh lebih baik dari pada kau yang sengaja membuatku terjatuh! Sekarang siapa yang lebih konyol?! Itu kauuu... Dasar menyebalkan!! " Cerca Roula dengan nada tinggi. Mendengar nya di, Prof. Daniel hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap-usap telinganya.


...****************...


Tap Tap Tap


"Lakukan dengan rapi! Keberuntungan sedang memihak kita! Daniel sedang tidak di tempat!" Titah Gunawan.


"Mr. C, Tapi nona Danisa masih belum siuman! " Sahut asistennya.


"Dia masih dalam pengaruh obat bius yang Daniel berikan! Kurang dari 12 jam lagi ia akan siuman! Aku ini dokter ahli! Percayakan saja padaku! " Sahut Gunawan yang memang memiliki latar belakang ilmu kedokteran mumpuni dan hebat pada masanya. Para asisten mengangguk-angguk.


"Bergegaslah! Jangan sampai hal ini terendus oleh siapapun! " Lagi-lagi para asisten yang telah memakai pakaian khas rumah sakit hanya bisa mengangguk memenuhi titah Gunawan. Dengan cepat Danisa di angkut ke dalam mobil ambulance.


Gunawan merogoh saku celananya, dengan cepat ia menghubungi asisten bayaran.


"Bawa Devan ke alamat yang telah aku sebutkan! Panggil media tepat jam 08.00 esok pagi! " Titah Gunawan.


Puk


"Cakrawangsa! " Seseorang menepuk pundaknya.


"Ro... wan? " Gunawan sedikit kelabakan. Namun dengan cepat ia menutup handphone nya.


"Rowan, apa yang kau lakukan di sini? " Gunawan menunjukkan wajah sendu seperti biasa. Wajah yang tiada siapapun menyangka bahwa wajah tersebut menyimpan banyak rahasia.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan di sini? Tentu saja aku ke sini untuk melihat cucu dan putrimu! Apa kau memang benar-benar serius melontarkan pertanyaan? Hahaha" Tanya Rowan tertawa geli. Laki-laki dengan senyum khas dan tampak bijak tersebut menggelengkan kepalanya.


"Haha... Ki... kita ini sudah tua. Terkadang aku suka pikun, Rowan! " Gunawan berdalih.


"Baiklah! Antar aku menemui Devan dan Ranti! "


"Hmh... Ki... ta temui Ranti terlebih dahulu! Saat ini Devan sedang dirawat intensif! " Sahut Gunawan cepat. Rowan mengangguk-angguk.


Siaalan! Apa aku juga harus melenyapkan Rowan?! Dia sedikit mengganggu! Batin Gunawan yang merangkul Rowan dengan hangat. Sesekali kakek dari Raga tersebut menoleh ke belakang, namun Gunawan terus saja menghalanginya.


Di sela-sela interaksi, Gunawan menyempatkan diri menghubungi Mila untuk melancarkan misinya.


Lakukan seperti yang aku titahkan! Lepaskan semua pakaiannya!


"Aku merindukan masa lalu kita, mengobrol dan tertawa renyah bersama tanpa memikirkan apapun! " Ucap Rowan berbasa basi.


"Waktu berlalu, sekarang saatnya kita berbenah! "


"Walau banyak hal yang berubah dari sikapmu, tapi aku tidak pernah berhenti mengagumimu, Cakrawangsa! Sikap mu membuatku merindukan almarhum Gunawan! Kau tak ubah nya seperti dia ! "


Deg.


"Ha.... Hahahaha... Sering kali sahabat yang satu bertingkah seperti sahabat yang satunya kan? "


...****************...


Pukul 07.45 WIB


Matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela terasa mengganggu. Dua sejoli yang tengah tertidur pulas perlahan membuka mata mereka.


"Ssss.... " Seorang gadis muda memijat pelipisnya dengan berdesis nyeri. Ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.


"Danisa?! "


"Devan?! "


"A... Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Devan ikut memijat pelipis karena kebingungan.


Mereka terkejut ketika menyadari keberadaan mereka di atas kasur yang sama dan tanpa mengenakan sehelai benangpun. Danisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Gadis tersebut menarik rapat selimutnya.


"Stop! " Pekik Danisa ketika Devan hendak mendekat.


"A... Aku tidak tau apa yang terjadi! Sunguh! " Lirih Devan. Danisa mulai sesegukkan.


"Jangan menyentuhku!!! " Teriak Danisa nyaring.


"A... Aku bisa menjelaskan semuanya! Danisa, kita dijebak!! " Ucap Devan berusaha menerangkan.


"Ya, kita dijebak. Dan kau yang telah menjebakku, brengsee*kk!!! " Pekik Danisa tak terkendali.


Tok Tok Tok


Brak Brak Brak


Di luar sana, suara ketukan pintu dan teriakan orang-orang terasa memekakkan telinga. Tak lama, Orang-orang tersebut berhasil menerobos masuk. Mereka siap dengan kamera dan memotret serta merekam video dari berbagai sisi. Devan dan Danisa benar-benar shocked.

__ADS_1


"Keluar kalian semua!! Keluar!!! " Teriakan Devan memenuhi ruangan.


...****************...


__ADS_2