
Raga memarkirkan mobilnya di tempat yang tidak jauh dari kampus Danisa. Ia datang dengan senyum mengembang. Tangannya membawa sebucket bunga. Raga masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Danisa yang begitu menggemari bunga-bunga. Ingatan Raga membawa nya ke masa ketika mereka masih kecil dan hidup pada desa terpencil di Inggris. Berkali-kali mereka harus kabur dari kejaran pemilik kebun bunga karena Danisa selalu saja memetiknya. Gadis tersebut tidak bisa menahan diri melihat hamparan bunga yang menyebar seperti permadani.
Suatu hari Danisa berhasil memetik sepuluh tangkai bunga, gadis tersebut dengan riang dan lincahnya memimpin untuk kabur dengan mengendap-endap. Namun sayang, mereka tertangkap basah oleh pemilik kebun hingga berhasil diringkus. Pada saat itu Raga harus merelakan punggungnya terkena cambukan agar perbuatan Danisa tidak dilaporkan pada nenek Paula.
Raga menyunggingkan senyum mengingat itu semua. Pemuda tersebut dengan penuh percaya diri melangkah menemui Danisa. Ia hendak menyebrang melalui jembatan penyebrangan namun langkahnya terhenti. Raga mematung menyaksikan pemandangan yang ada di sebrang jalan. Devan memeluk Danisa dengan erat. Bucket bunga yang ada di genggamannya seketika jatuh ke tanah. Raga menatap sendu ke arah dua orang yang sudah sangat dikenalnya dengan baik itu. Hujan gerimis yang turun tipis-tipis menambah suasana syahdu. Tak menunggu lebih lama, Raga meninggalkan area tersebut dengan dada bergemuruh dan hati mencelos.
Tapp
“Aww!” Devan mengaduh, refleks ia melonggarkan pelukannya. Danisa menginjak sekuat tenaga kaki pemuda yang memeluknya. Gadis tersebut meraba kening Devan.
“Yak, apa yang kau lakukan?”
“Aku sedang memastikan bahwa kau sedang tidak mengalami korsleting dan otak mu memang bekerja sebagaimana mestinya!” Sahut Danisa mengangkat dagunya. Kening Devan mengerut.
“Kau…” Danisa menunjuk dada bidang Devan.
“Kau memelukku dengan sangat manis, cepat katakan apa yang kau inginkan!” Todong Danisa memicingkan matanya dengan berkacak pinggang.
“Kenapa diam?!” Suara Danisa meninggi.
“Hmh… Galak sekali…!” Komentar Devan. Ia bersandar di tembok dengan mensedekapkan tangan dan tersenyum menatap Danisa.
“Huh! Menggelikan! Tidak ada gunanya berbicara denganmu!” Sembur Danisa. Ia mengambil ancang-ancang untuk pergi.
“Hey, kau mau kemana?” Panggil Devan.
Devan berbahaya. Keluarganya berbahaya. Jangan terlalu dekat dengannya! Kata-kata Prof. Daniel kembali terngiang-ngiang.
“Danisa, tungguuuu! Tadi kau bertanya aku kemana dan mengapa menghilang, kan? Aku belum menjelaskannya padamu!” Devan memegang lengan Danisa yang sudah berjalan menjauhinya beberapa langkah.
“Aku sibuk! Kita bicara di lain waktu!”
“Aku akan mengantarmu!” Danisa menggeleng. Ia melambai-lambaikan tangannya. Seketika sebuah taksi berhenti. Gadis tersebut akan naik ke dalamnya.
“Sebentar!" Devan mengambil handphone yang ada di tangan Danisa, ia mengetik nomor lalu menekan tombol calling.
“Kau sangat sulit untuk dihubungi, ternyata handphone-mu memang banyak sekali! Di masa mendatang kita harus lebih banyak berkomunikasi!” Ucap Devan sembari mengembalikan handphone Danisa. Nomor gadis tersebut sudah berada di tangannya. Danisa menatap Devan sesaat sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi.
Huh, dasar! Bukannya dia yang sulit dihubungi?! Gerutu Danisa mengingat handphone Devan yang tidak aktif saat pemuda tersebut menghilang.
Tap Tap Tap
__ADS_1
Dengan memakai pakaian resmi kedokteran, Prof. Daniel memasuki ruangan operasi. Kosong. Tiada siapapun di sana. Pemuda tersebut berjongkok. Jari telunjuknya memeriksa jejak debu yang ada di lantai.
Ruangan ini baru saja dimasuki oleh seseorang. Gumam Prof. Daniel. Pribadi yang fokus terhadap hal detail membuatnya penglihatan nya menjadi sangat jeli.
Tap Tap Tap
Prof. Daniel melangkah masuk lebih dalam. Hanya ada satu hal yang harus ia pastikan.
Kreeekkk
Prof. Daniel membuka salah satu laci. Ia sudah tidak terkejut bahwa pakaian Danisa yang berlumuran darah tidak lagi berada di sana.
Huh. Sudah kuduga! Gelagatnya memang mencurigakan! Devan telah mengetahui bahwa Danisa adalah dokter hebat. Prof. Daniel mengepalkan tangannya. Ia mengusap dagu tampak berpikir. Dengan wajah kusut Prof. Daniel keluar dari ruang operasi.
***
Baru saja Danisa akan merebahkan punggungnya di atas kasur namun telepon dari prof. Daniel mengurungkan niatnya. Gadis tersebut dititahkan untuk kembali ke rumah sakit Ramayana karena ada hal yang sangat urgen yang harus dibicarakan. Danisa dengan cekatan mengganti pembalut kasa pada pundak sebelum akhirnya keluar dari apartemen dan memanggil taksi.
“Apa yang ingin Professor sampaikan?” Tanya Danisa berbisik.
“Ini sangat urgen, Ikut ke ruanganku!” Sahut Prof. Daniel dengan mimik wajah serius. Danisa mengangguk.
Kakek Cakrawangsa? Danisa terpaku. Ia melirik Prof. Daniel namun kemudian ia memaksakan senyumnya. Kakek Cakrawangsa dan Prof. Rudi menghampiri mereka bersamaan.
“Kau sudah lama di sini, Nak?” Danisa menggeleng. Prof. Daniel langsung menunjukkan wajah tidak suka.
“Lama tidak bertemu denganmu. Aku senang kau tampak sehat! Kau pasti mau mengunjungi Ranti kan? Ada Devan juga yang lainnya di sana!” Ajak Kakek Cakrawangsa.
“Ma’af Tuan Cakra, ada yang harus aku bicarakan dengan Danisa!” Cegah Prof. Daniel elegan.
“Ah... Kau juga belum melihat putriku kan? Sebentar lagi kami akan pamit dari rumah sakit ini! Ayo, mampir!”
“Ayo Prof Daniel, Danisa… Tidak ada salahnya berkunjung sebentar!” Ucap Prof. Rudi menguatkan. Prof. Daniel jadi tidak berkutik. Dengan langkah berat mereka masuk ke ruang rawat inap.
Ceklek.
Devan sumringah ketika mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan. Danisa melihat datar ke arah Roula yang terus saja menempel pada Ranti sejak gadis itu tiba di Indonesia.
“Danisa, Lihatlah calon mertuamu tampak sangat sehat! Ini pasti tidak lepas dari doamu juga!” Ucap Kakek Cakrawangsa membuka pembicaraan.
“Apa pa? Calon mertua?! Cih! Sudah kukatakan bahwa Devan dan dia sudah putus hubungan!” Bantah Ranti.
__ADS_1
“Nak, mengapa kau bicara begitu?!”
“Mereka memang sudah tidak memiliki hubungan apapun!” Tukas Ranti dengan wajah kusut.
“Ayolah nak! Kau baru saja sembuh, tidak baik marah-marah! Di sini ramai! Lihatlah ada Prof. Daniel yang juga datang menjengukmu!” Ucap kakek Cakrawangsa berusaha menenangkan Ranti.
Huh! Permainan apa yang akan kau main-kan, Cakrawangsa? Gumam Prof. Daniel tersenyum sinis sambil mensedekapkan tangannya.
“Baik! Karena semua orang telah berkumpul di sini maka sekali lagi aku akan memberikan pengumuman! Dengan ini, aku ibunya Devan memutuskan bahwa pertunangan yang pernah terjadi di antara Putraku dan Danisa dibatalkan! Alasanku sudah sangat jelas! Anggap saja pertunangan diantara mereka tidak pernah terjadi dan merupakan sebuah kesalahan!” Devan mendongak. Ia langsung menatap Danisa yang juga menatap ke arahnya.
“Pekan depan Devan Ahmad Cakrawangsa akan ditunangkan dengan Roula dari keluarga Spancer!” Roula langsung sumringah. Ia bergerak mendekati Devan, tersipu.
“Ma, apa-apaan ini?!” Sergah Devan.
“Kau sudah menyetujuinya Devan!” Devan menggeleng.
“Jangan katakan bahwa kau keberatan karena kau sudah mencintai gadis bisu itu?!” Sembur Ranti memojokkan.
“Jangan katakan juga kalau kau memang berminat pada gadis bisu pembuat onar, mata duitan dan kampungan itu! " Lanjut Ranti sinis. Devan terdiam. Permasalahan menjadi sangat rumit akibat kurangnya komunikasi antara ia dan Danisa.
Apa aku harus membongkar semuanya sekarang? Apa aku harus mengatakan bahwa Danisa sebenarnya tidak bisu dan merupakan dokter hebat agar mama tidak merendahkannya dan sadar bahwa selama ini Danisa lah yang telah banyak berkorban?
Ah, sebenarnya siapapun Danisa aku tidak peduli. Hatiku sudah tergerak untuknya. Gadis itu seperti memiliki medan magnet yang membawa kutub hatiku terus mendekat. Walau aku belum yakin sepenuhnya dengan perasaan ini, tapi tidak etis rasanya kalau pertunangan kami harus putus secara sepihak seperti ini! Aku bahkan belum mengenal dengan baik gadis misterius itu! Semakin kesini aku semakin penasaran padanya.Gumam Devan. Pikirannya dipenuhi oleh banyak persoalan.
"Diam-mu sudah cukup menjelaskan bahwa kau menyetujui nya, Devan! " Ranti tersenyum penuh kemenangan.
"Ma, Devan tidak setuju pertunangan ini dibatalkan begitu saja! Devan dan Danisa bukan bola yang bisa digiring ke sana kemari! Kami sudah cukup dewasa untuk bisa menangani semua permasalahan termasuk memutuskan apa pertunangan ini harus dibatalkan atau tidak! " Ucap Devan dengan kepala tegak. Danisa terpana.
"Maaf kalau saya lancang memotong pembicaraan! Sebenarnya selama ini Danisa telah membohongi keluarga Cakrawangsa! Saat Danisa ditunangkan dengan Devan, ia sudah menjalani hubungan special dengan.... " Semua orang yang ada di dalam ruangan sontak memberikan atensi pada Roula.
"Danisa sudah menjalani hubungan special dengan Prof. Daniel! Mereka diam-diam selalu bertemu bahkan beberapa kali Prof. Daniel menginap di apartemen Danisa! Kita semua tidak tau apa yang terjadi jika dua orang asing sudah tinggal seatap! Aku punya bukti rekaman CCTV nya!"
Tukas Roula seakan ingin membongkar kebusukan Danisa. Ranti tersenyum sinis penuh kemenangan.
***
Terima Kasih untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya. Semoga Allah memudahkan semua urusan teman-teman sekalian 🤗❤
IG: @alana.alisha
***
__ADS_1