Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 22: Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Professor Daniel bergerak cepat saat menerima pesan dari Danisa. Beliau mengumpulkan semua relasi untuk menganalisis dan memeriksa tempat kejadian perkara (TKP).


Danisa sendiri sedari tadi hanya memusatkan perhatiannya pada handphone dalam berkomunikasi dengan professor Daniel yang tengah membantunya.


Danisa tidak menanggapi Jihan yang melakukan olah drama dan tengah menjatuhkannya di hadapan keluarga Cakrawangsa. Sesekali ia masih memperhatikan rekaman CCTV yang tengah diamati oleh Devan dan Manggala.


“Devan, ini benar-benar dia!” Wajah Manggala mengarah ke Danisa.


“Tidak salah lagi, sudah pasti dia! Lihatlah potongan tampilannya, Nak!” Tenggorokan Devan tercekat.


“Hey Gadis kampung, apa yang kau lakukan? Sedari tadi kau sibuk dengan handphone-mu! Apa kau tengah memikirkan bagaimana cara untuk kabur, hah? Cih, kau jangan besar kepala hanya karena pimpinan rumah sakit membelamu! Sebentar lagi kau pasti akan membusuk di penjara! Tidak-tidak, bukan hanya di penjara tapi di neraka!” Tuduhan dan ujaran kebencian Jihan berhasil membuat Danisa mendengus kesal. Ia sebenarnya sudah sangat muak dengan gadis yang terus menerus mengganggu hidupnya. Tidak hanya saat ini saja, tapi sudah sejak lama. Jihan benar-benar menyita waktu dan pikirannya. Padahal sebenarnya saat ini Danisa tengah sibuk memikirkan operasi besar yang tidak lama lagi akan ia lakukan.


“Dev, lihat-lah Danisa! Ia persis seperti seorang psikopat yang dengan lihai mencelakakan korban tapi ia sendiri dengan santainya mau mencuci tangan! Danisa, Kau tengah meminta bala bantuan untuk bisa kabur kan? Cih, kau pikir bisa kabur semudah itu? Aku tidak akan membiarkanmu! Aku, Jihan Belinda menyaksikan sendiri bagaimana sadisnya aksi-mu mendorong tante Ranti dari lantai 3!!” Lanjut Jihan menohok. Oh Tuhan… Ingin sekali rasanya Danisa menutup mulut gadis yang ada dihadapannya dengan lakban.


“Ambil handphone-nya Dev! Jangan biarkan ia kabur!!” Devan mengalihkan tatapannya dari rekaman cctv ke gadis yang ada di sampingnya.


“Danisa, aku harus membawa mu ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan semuanya!” Devan memijat pelipisnya yang terasa sakit lalu dengan cepat mencengkram kuat tangan Danisa dan menggiring gadis tersebut menuju lift.


“Dev, tunggu.. mengapa kau lebih percaya pada rekaman yang tidak berdasar daripada tunangan-mu sendiri?!” Rudi masih mencoba membela Danisa sebisa mungkin.


Konyol. Ini konyol. Tunangan? Devan tersenyum masam. Ia sendiri sebenarnya masih tidak percaya Danisa mampu berbuat kejahatan sebesar ini.


“Sudah Rud, mau sampai kapan kau membela seorang kriminal? Kau tidak mengerti bagaimana perasaan seorang suami yang istrinya dianiaya! Dan kau juga tidak akan mengerti bagaimana perasaan seorang anak yang sangat mencintai ibunya!” Perkataan Manggala sukses membuat Rudi terdiam.


Devan terus saja menggiring Danisa dengan mencengkram pergelangan tangannya. Sangat kuat. Gadis ini meringis dalam diam. Kulit putih bersih miliknya berubah warna menjadi kemerahan. Tak tahan diperlakukan kasar,


Sreeekk


Danisa menyentak tangan Devan. Pemuda tampan ini sedikit terhuyung. Danisa kembali menuliskan sesuatu di layar handphone.


Stop memperlakukanku dengan semena-mena! Aku akan mengikuti semua prosedur seperti yang dituduhkan! Tapi aku juga belum terbukti bersalah, kan?


Danisa menyodorkan handphone-nya dengan mengangkat dagu ke atas. Kepercayaan dirinya karena diperlakukan tidak adil meningkat berkali lipat.


“Hmm…” Devan berdehem, pemuda ini sedikit melunak. Jihan tidak tinggal diam, ia kembali menghampiri mereka.

__ADS_1


“Ayoo Dev, cepat adili nona psikopat yang satu ini! Bawa agar ia membusuk di penjara!” Jihan kembali memanas-manasi situasi yang sudah terlanjur panas.


Devan kembali menggiring Danisa menuju lift. Ia tetap mencengkram salah satu pergelangan tangan Danisa agar gadis tersebut tidak bisa kabur.


“Rudi, tolong jaga Ranti, aku juga ingin memberikan kesaksian di kantor polisi!” Manggala ikut melesat diikuti oleh Cakrawangsa.


Di dalam lift, Devan memperhatikan Danisa yang tetap tampak tenang dan masih sibuk dengan handphone-nya.


Danisa benar-benar lihai menguasai keadaan. Wajah cantiknya berbanding terbalik dengan perbuatan yang ia lakukan. Batin Devan. Pemuda ini dengan tanpa sadar telah membenarkan bahwa Danisa adalah seorang wanita yang cantik. Padahal sebelumnya hal ini mati-matian tidak diakuinya.


Di sisi lain, Jihan masih berpikir keras. Ia dengan cepat menaiki lift berikutnya untuk mengejar Devan. Bagaimana-pun keberadaannya di dekat pemuda itu akan sangat membantu membuat Danisa tidak berkutik. Kali ini Gadis tersebut harus berhasil ia musnahkan. Tekad Jihan berapi-api.


Kliiik


Pintu lift terbuka.


“Dev, Devan… Tunggu!” Panggil Jihan mengejar mereka. Pemuda tersebut menoleh.


“Aku ikut ke kantor polisi! Bagaimana pun aku adalah saksi paling penting karena berada di tempat perkara kejadian!” Jihan berkata sungguh-sungguh dengan memperlihatkan mimik wajah khawatir.


“Terima kasih kembali, Om. Sudah seharusnya Jihan melakukan hal ini! Kita semua tidak akan pernah membiarkan seorang penjahat kabur begitu saja!”


“Sekarang kamu percaya padaku kan, Dev?” Devan hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Jihan.


“Dev, apa kamu benar-benar belum mempercayai perkataanku setelah semua bukti ini? Tolong jawab aku, Dev!” Jihan berkaca-kaca.


Drama jenis apa lagi ini Jihan?! Batin Danisa meradang. Ia sudah benar-benar jengah. Devan menatap Danisa dan kembali mencengkram tangannya dengan kuat. Tatapannya benar-benar membunuh.


Drrrttt Drrttttt


Sebuah pesan kembali menghias layar handphone-nya. From: Prof. Daniel. Dengan cepat Danisa membacanya. Ia tersenyum dan dengan cepat juga Danisa mengetikkan sesuatu di sana.


Stop melakukan tindakan kasar, Dev! Sekarang aku memiliki bukti kalau aku tidak bersalah!


“Bukti? Apa buktinya?!” Sahut Devan.

__ADS_1


Tunggu 10 menit. Lanjut Danisa mengetik.


“Dev, ayo… tunggu apalagi, Nak!” Manggala mendesak Devan untuk segera membawa Danisa.


“Aku tidak bisa mempercayai penjahat licik sepertimu!” Tak sabar, Dev kembali menggiring Danisa. Namun belum sampai pergerakan mereka mencapai pintu, beberapa petugas keamanan datang dengan membawa seorang gadis yang memakai pakaian serba hitam. Tampilan gadis tersebut sama persis seperti yang ada di dalam rekaman CCTV.


Danisa menatap Devan. Matanya menunjuk ke arah petugas. Gadis tersebut mengisyaratkan bahwa apa yang ada di hadapan mereka adalah bukti yang akan ia tunjukkan.


“Maaf nona Danisa, kami datang terlambat!” Petugas keamanan membuka masker dan topi gadis yang baru saja mereka ringkus.


“Wanita ini adalah orang yang telah mencelakakan Ny. Ranti! Lanjut petugas.


“Mi… Mila?!!” Mata Devan membulat sempurna. Ia benar-benar terkejut. Tak terkecuali Manggala. Petugas membeberkan keterangan dan kronologi penangkapan disertai beberapa bukti seperti foto dan rekaman keterangan dari pihak café. Cengkraman Devan pada tangan Danisa sontak melonggar.


“Ini semua tidak benar!!!” Pekik Jihan.


“Danisa, kamu sengaja menggunakan Mila untuk menjebakku, kan?! Jahat kamu Danisa!! Kamu Psikopatt!!” Jihan mulai menangis. Ia tak berhenti menuduh. Gadis ini berlaku seperti korban yang membutuhkan bantuan.


“Kamu sengaja menggunakan Mila agar tuduhan berbalik padaku, kan?! Devan…. Hiks hiks… Danisa kejam…!” Jihan sedikit meraung.


Danisa diam saja. Ia dengan santai menyaksikan sejauh mana kemampuan Jihan berakting. Tak lupa ia mengelus pergelangan tangannya yang masih terasa perih akibat cengkraman kuat tangan kekar Devan.


Mila menunduk. Ia gemetaran. Semua perasaan negatif dan takut akan dihukum mendera jiwanya.


“Ma… Maaf, sebenarnya.... memang Jihan-lah yang memintaku melakukan semua ambisi-nya!” Aku Mila. Pengakuan nya membuat suasana mencekam. Seolah-olah malaikat maut lewat di dekat mereka.


***


Man-Teman, jangan lupa Like, Komen , Vote juga hadiahnya. Jazakumullah Khaer.


Terima Kasih 🥰😇🤗


IG: @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2