
Jam istirahat di SMA Achievers sama saja seperti biasanya. Ramai dan heboh. Hanya saja kali ini Dyxie membuat ulah lagi dengan Bu Wanda. Tas mahal guru galak itu di corat-coret spidol permanen oleh Dyxie karena Dyxie kesal dengan gurunya tersebut.
"Kamu makin hari makin kelewatan ya?!" bentak Bu Wanda. "Gak punya sopan santun!" imbuhnya.
"Ya saya punya sopan santun Bu, ibu nggak nyenggol saya ga nggak gini." kata Dyxie dengan santainya. "Ibu yang gak sopan sama saya, bentuk tas aja dikomentarin." sambungnya.
"Ya karena tas dengan gambar seperti ini itu tidak pantas dibawa ke sekolah!"
Dyxie menaikkan satu alisnya, karena baginya perkataan gurunya tersebut tidak masuk akal. Kenapa tidak pantas? Bukankah yang dicari dari tas itu fungsinya untuk membawa buku dan alat tulis? Lalu kenapa model tas Dyxie yang sedikit nyentrik dikomentari? Bahkan sampai dibanting oleh Bu Wanda. Siapapun yang jadi Dyxie pasti juga akan marah.
"Kayaknya ibu punya dendam pribadi ya sama saya?"
"Kau!" guru itu hampir menampar Dyxie. Tapi berhenti karena melihat seseorang di lorong yang jauh.
"Kenapa? Gak jadi nampar Bu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Dyxie, Bu Wanda malah terlihat ketakutan melihat seseorang yang berdiri jauh di lorong yang tepat dibelakang Dyxie. Bahkan pundak guru itu sampai gemetaran dan dahinya penuh keringat dingin.
Dyxie mengernyitkan dahinya melihat gurunya ketakutan. Cewek itu menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang dilihat Bu Wanda hingga gurunya ketakutan seperti itu. Tapi tidak ada siapa-siapa di belakang sana.
"Kamu! Lihat saja nanti!" guru tersebut lari secepat mungkin dari sana dengan ekspresi yang sangat ketakutan.
"Lihat demit kah?" tanya Dyxie heran melihat tingkah gurunya.
"Dyxie!!" panggil dua orang cewek bersamaan. Yap, mereka adalah Aura dan Keyla.
"Apa?"
"Bu Wanda tadi..." Keyla tidak meneruskan kalimatnya melihat Bu Wanda yang lari terbirit-birit seperti dikejar hantu. "Kenapa dia?" tanyanya kemudian.
"Gak tahu. Lihat setan kali." jawab Dyxie ngawur.
"Serius njir! Gak pernah gue lihat Bu Wanda kayak gitu." kata Aura.
"Gue juga nggak tahu. Tadi dia mau nampar gue. Terus dia lihat sesuatu di belakang gue. Tepatnya jauh di belakang gue. Setelah itu dia ketakutan dan kabur." jelas Dyxie sambil menggedikkan bahunya.
"Lo nggak kepikiran apa yang dilihat Bu Wanda?" tanya Keyla.
Dyxie diam sejenak memikirkan pertanyaan Keyla. Sangat kocak jika Bu Wanda kabur karena melihat hantu. Satu-satunya orang yang selalu melindungi Dyxie dan ditakuti banyak orang adalah..
"Gak mungkin dia kan?" tanya Dyxie kepada kedua sahabatnya.
"Siapa? Bajingan sialan itu?" tanya Aura.
__ADS_1
"Dia bakal bogem mentah Lo kalau dengar gimana Lo manggil dia ini." ucap Keyla sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak mungkin dia. Dia ada di Shanghai. Yakali balik nggak ngabarin gue." kata Dyxie.
Ditengah suasana menegangkan ini, tiba-tiba seorang cowok mendekati mereka. Bukan, tepatnya mendekati Dyxie.
"Ngapain?" tanya Dyxie.
"Latihan."
"Bukannya pulang sekolah? Kok jam istirahat?" tanya Dyxie.
"Gak tahu gue, kepala sekolah yang bilang." jawab Raksha.
"Dah sana pdkt lewat jalur OSN." kata Aura meledek sahabatnya.
"He'em, jadian PJ ya?" Keyla ikut-ikutan meledek Dyxie.
"Bosan hidup kalian hah?!" semprot Dyxie.
Kedua sahabatnya tertawa dan berlari dari sana. Raksha yang melihat kelakuan sahabat Dyxie hanya menggelengkan kepalanya. Tidak bisa dibayangkan jika dua sahabat Dyxie dan dua sahabatnya disatukan betapa kompaknya mereka meledek dirinya dan Dyxie.
"Ayo! Ngapain bengong?!"
Dyxie dan Raksha berjalan bersama menuju ruang kepala sekolah. Yap, di ruangan itu mereka akan berlatih dengan soal-soal OSN. Selama berjalan menuju ruang kepala sekolah hanya keheningan yang ada di antara mereka. Tapi tiba-tiba Raksha membuka suara.
"Kata Galang Lo tadi ada masalah dengan Bu Wanda?" tanya Raksha.
"Ya? Kok dia bisa tahu? Kalian nguntit gue? Titisan sasaeng emang!"
Raksha menghela napas dan memutar bola matanya malas.
"Kalian berdebat di depan pintu kelas, gue nyuruh Galang panggil Lo karena jam latihannya dimajukan. Dan dia malah balik bawa gosip!" omel Raksha dengan ekspresi wajah kesalnya. Sedangkan Dyxie cuma nyengir tanpa dosa.
Sesampainya di ruang kepala sekolah dua remaja tersebut langsung dihadapkan dengan masing-masing 50 soal latihan Olimpiade Sains Nasional sesuai bidangnya masing-masing.
"Gila, nggak kurang banyak pak ini soalnya?" tanya Dyxie yang syok melihat banyaknya soal matematika yang harus dia kerjakan.
"Diam Lo, gak usah banyak protes." sahut Raksha.
"Iya! Ketos galak!"
"Apa Lo bilang?!" Raksha langsung menoleh ke arah Dyxie dan memelototi cewek tersebut.
__ADS_1
"Kan kan, galak kan." kata Dyxie sambil menunjuk wajah Raksha.
"Kalian ini niat latihan nggak sih?" tanya Kepala sekolah yang sudah tertekan dengan semua celotehan mereka berdua.
"Maaf pak."
Setelah itu tanpa ba bi bu mereka segera mengerjakan soal-soal latihan tersebut sebisanya. Dyxie tidak menyangka soal-soal latihan tersebut lebih sulit daripada soal latihan yang diberikan Raksha kepadanya. Mereka latihan hingga jam pulang sekolah. Jadi mereka pulang paling akhir.
Saat ini tinggal mereka berdua murid yang ada di SMA itu. Mereka bersantai di parkiran sekolah sambil menikmati minuman dingin yang menyegarkan.
"Lo jadi ikut balapan itu?" tanya Raksha tiba-tiba.
"Kenapa tanya?"
"Ck. Terserah Lo dah!"
Dyxie tertawa kecil melihat cowok didepannya kesal. Kemudian baru dia menjawab pertanyaannya.
"Iya, gue jadi ikut." Gadis itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Lombanya satu jam lagi, di Gedung xx Jln. Merpati." kata Dyxie. Padahal Raksha tidak menanyakan hal itu, tapi entah kenapa Dyxie ingin memberi tahu jadwal dan lokasi lombanya kepada Raksha.
"Ya? Terus? Kalau satu jam lagi?"
Dyxie diam sejenak. "Gue berharap apaan sih?" batin cewek itu. Karena tidak bisa menjawab pertanyaan Raksha, Dyxie segera membuang kaleng minumannya yang sudah habis. Setelah itu Dyxie langsung melajukan motornya meninggalkan sekolah.
"Gedung xx Jln. Merpati..." gumam Raksha. "Haruskah?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Sesaat kemudian cowok itu tersenyum dan mengendarai motornya keluar dari sekolahnya. Entah apa yang dipikirkannya.
*
Dilain tempat cowok berpakaian serba hitam tertawa melihat interaksi Dyxie dengan Raksha melalui sebuah komputer. Menurutnya itu sungguh konyol.
"Rasanya seperti menonton drama komedi romantis." komentar cowok itu.
"Sama-sama tsundere dan gengsian. Didekati marah ditinggal akan menangis." imbuhnya lagi sambil tertawa kecil.
"Lihat saja ulah gue. Bikin kalian sadar nggak sama perasaan kalian sendiri." katanya lagi dengan senyuman tipis dibibirnya.
Namun senyum cowok itu seketika sirna ketika teringat seseorang yang akan menampar Dyxie tadi.
"Kenapa musuh Lo banyak banget sih?" gumam cowok itu.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1