Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Masih Sama


__ADS_3

Polisi yang menangani kecelakaan segera menghubungi Naku setelah memeriksa dompet Red dan terdapat kartu nama daddy-nya.


"Apa?!" pekik Naku syok mendengar anak pertamanya mengalami kecelakaan. "Saya segera ke sana!"


Naku memutar balik mobilnya sambil menghubungi Bern dan ketiga anaknya yang lain.


"Oh No! Kak Red!" teriak Green yang pertama kali mendapat kabar itu. Green segera mengajak Black dan Pink untuk menyusul ke rumah sakit.


Saat mereka bertiga sampai bersamaan dengan Naku yang juga datang. Pink segera mendekati daddy-nya dan meluapkan amarahnya begitu saja.


"Ini semua karena Daddy! Daddy membuat mommy pergi bahkan mommy tidak membawa apapun! Kalau mommy tidak pergi pasti kak Red tidak akan kecelakaan sekarang!" ucap Pink dengan terisak.


"I hate you, Dad!" timpal Green dengan menarik tangan Pink untuk masuk ke dalam rumah sakit.


Tertinggal Black yang paling mencemaskan keadaan mommy Blue. Kini jiwa rocker Black sepertinya lebih mendominasi, pemuda itu menatap Naku dengan tajam di sana dan berkata. "Jika terjadi sesuatu pada mommy, aku tidak akan pernah memaafkan daddy!"


Setelah berkata seperti itu, Black meninggalkan daddy Naku yang semakin frustasi dengan keadaan. Sebelum masuk ke dalam, Naku memejamkan matanya sambil membatin, berharap Blue akan mendengar.


"Ay, aku tahu kau mendengarku. Kau di mana sayang? Maafkan aku, okay. Ini semua salahku, aku janji tidak akan minum-minum lagi. Anak-anak membenciku sekarang, hanya kau yang bisa membantuku, Blue. Mereka semua mencintaimu, kembalilah pada kami. Bukankah kita seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik? I love you, Blue!"

__ADS_1


*****


Red saat ini tengah berada di ruang operasi di mana Tira yang menjadi penjaminnya. Kika masih saja menangis di ruang tunggu sementara Ed terduduk lesu dengan wajah tertunduk.


"Kau harus sembuh Red, aku akan melepas Kika untukmu!" ucap Ed dalam hatinya.


Tak lama Pink dan Green berlarian dan langsung memeluk Tira di sana. Kedua gadis itu menangis di pelukan unclenya.


"Daddy sungguh jahat Uncle, apa kami benar-benar anak Alien?"


Tira mencium puncak kepala kedua keponakannya bergantian. "Jangan pernah berpikir seperti itu, mommy kalian sudah menjadi manusia saat melahirkan kalian!"


"Kami menyayangi mommy!" timpal Black yang baru datang dan ikut memeluk Tira.


Naku yang menyusul dan melihat itu semua semakin merasa sangat bersalah pada anak-anaknya apalagi istrinya. Dia beruntung mempunyai abang Tira yang selalu ada untuknya.


"Aku akan mengirim batangan emas ke mansionmu nanti, Bang!" gumamnya.


Lelaki itu ingin mendekat ke ruang operasi tapi tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat dia rindukan memanggilnya.

__ADS_1


"Ayang..." panggil Blue.


Sontak Naku langsung membalik badannya, dia melihat Blue berdiri beberapa meter darinya. Mata Naku berkaca-kaca karena sudah dipastikan Blue mendengar ungkapan hatinya sebelumnya.


Naku menelisik penampilan istrinya yang hanya memakai dress tanpa lengan seperti yang biasa Blue pakai di rumah. Pandangan Naku berhenti pada sepatu kets yang dipakai Blue di mana talinya yang tidak terikat.


Bahkan untuk mengikat tali sepatu saja Blue tidak bisa.


Dengan mata masih berkaca-kaca, Naku mendekati istrinya lalu dia berjongkok dengan mengikat tali sepatu Blue.


"Ayang, apa Red terluka karena aku? Dia mencariku, 'kan?" tanya Blue kemudian.


Naku berdiri dan menatap istrinya sambil menggeleng. "Ini bukan salahmu, Blue!"


Blue memberikan lima lembar uang dua ribuan yang dia peroleh sebelumnya pada Naku. "Aku tidak meminta-minta uang ini tapi aku bekerja untuk mendapatkannya. Ayang tidak akan jahat lagi kan, kalau aku bisa cari uang?"


Mendengar itu, Naku langsung memeluk istrinya dengan menangis tergugu. "Maafkan aku, Ay!"


"Apa karena kita sudah lama tidak making love, Ayang?"

__ADS_1


"Oh, Blue! I love you..."


__ADS_2