
Di sisi lain, Ed menunggu Kika di taman rumah sakit. Pemuda itu tampak terpukul karena kehilangan calon adiknya, dia menyesal karena sebelumnya sempat tidak mau adiknya itu hadir ke dunia.
"Ed," panggil Kika saat sampai. "Siapa yang sakit?"
Kika duduk di samping Ed dan tanpa dia duga, Ed langsung memeluknya. Sebenarnya Kika kaget dan ingin mendorong Ed tapi pemuda itu justru mengeratkan pelukannya.
"Adikku..." ucap Ed tersendat.
Sepertinya Kika langsung paham, gadis itu membalas pelukan Ed sambil mengelus punggungnya. Padahal hari ini dia ingin memperjelas hubungan mereka, Kika sudah memutuskan memilih Red dan akan memutuskan Ed. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat.
"Everything it's okay, Ed!" Kika mencoba menghibur.
"Apa karena sebelumnya aku menolaknya?" tanya Ed seperti anak kecil karena pemuda itu mengeluarkan air matanya.
"Itu tidak ada hubungannya, mungkin memang Tuhan lebih sayang pada adikmu!" sahut Kika yang masih belum melepas pelukan.
Ed tidak mampu berkata-kata lagi, dia menikmati pelukan hangat Kika yang jujur saja membuatnya tenang.
__ADS_1
Seperti sebelumnya gerak-gerik Kika dalam pengawasan, ponsel Red berbunyi lagi. Dia pikir mendapatkan pesan dari saudaranya yang lain tapi saat membuka pesan itu, dia menerima sebuah pesan video dari Veronica.
"Apa ini?" tanya Red yang sudah tersambung dengan Veronica melalui chip yang dia pakai.
"Video Ed dan Kika, Bos!" lapor Veronica yang setelah masuk jaringan cctv rumah sakit.
Red membuka video itu di mana Ed dan Kika yang berpelukan. Sontak Red langsung membanting ponselnya begitu saja.
"Jadi Kika memilih Ed!" kesal Red dengan nafas memburu.
Sepertinya Red jadi salah paham pada Kika setelah melihat video tersebut. Red tertawa hambar, dia jadi sadar diri kalau dirinya hanya keturunan Alien. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri, dia masih tidak menyangka mommy Blue bukan manusia seutuhnya.
Red kembali mengendarai motornya tapi fokusnya kacau karena mengingat video Ed dan Kika yang berpelukan. Suara keras klakson pun tidak terdengar di telinga Red kini, sampai sebuah bus besar dengan kecepatan tinggi mengarah padanya.
Tabrakan pun tak terelakkan, Red terpental masuk ke dalam kolong bus dan parahnya badannya tertindis ban dalam posisi tengkurap.
"Argh!" teriak Red langsung tak sadarkan diri.
__ADS_1
Kecelakaan itu membuat lalu lintas macet total, polisi segera datang dan mencoba menyelamatkan Red. Pemuda itu dibawa ke rumah sakit Bintang Kejora di mana Ed dan Kika masih di sana.
Setelah Ed tenang, Kika ingin menjenguk Timmy di ruang rawat. Kika disambut baik di sana, mereka berbincang cukup lama sampai Kika harus berpamitan pulang karena takut mengganggu jam istirahat Timmy.
"Saya pamit pulang dulu Aunty, semoga cepat sembuh!" pamit Kika yang diangguki Timmy.
"Terima kasih, Kika. Kapan-kapan mainlah ke mansion!" sahut Timmy ramah.
Kika hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu keluar dari ruangan. Dia ingin pulang sendiri tapi Ed memaksa mengantarnya.
Saat keduanya berada di lobi rumah sakit, sebuah mobil ambulance datang dan segera mengeluarkan bankar pasien di mana Red yang bersimbah darah di dorong masuk instalasi gawat darurat.
Bankar itu melewati Ed dan Kika yang membuat Kika menjerit histeris karena melihat Red yang ada di bankar itu, Kika menangis sambil ikut berlari supaya bisa sejajar dengan bankar yang di dorong.
"Red! Apa yang terjadi?!" Kika menangis terisak melihat pemuda yang dia sukai dalam keadaan seperti itu. "Aku sudah berjanji padamu akan memberi jawaban hari ini, apa kau tidak ingin mendengarnya?"
"Red! Red..." Kika terjatuh di lantai. Tangisnya semakin pecah, gadis itu menangis dengan memukul-mukul dadanya.
__ADS_1
Ed yang sama paniknya hanya bisa berdiri di belakang Kika, sekarang dia tahu di mana hati Kika berlabuh.