
Setelah dari sekolah, gadis itu berganti pakaian dan segera menuju alamat yang diberikan si nomor misterius. Tak disangka, alamat itu ada di tempat yang terpencil dan jarang dijangkau warga. Ditempat itu ada suatu daerah yang mirip sirkuit. Hanya saja luasnya tidak seluas sirkuit.
"Ini kah tempatnya?" batin Dyxie.
"Yakin nih ini tempatnya?" tanya Keyla ragu.
"He'em, kenapa ditempat terpencil gini sih? Kesannya kayak mau dijebak aja." sahut Aura.
"Gue yakin ini bukan jebakan." jawab Dyxie yakin.
Ya walaupun sebenarnya dia tidak terlalu yakin, akan tetapi feeling-nya tidak pernah salah. Menurut feeling-nya balapan yang diadakan orang misterius ini sama sekali bukan jebakan bagi mereka.
"Kira-kira lawan kita siapa ya?" tanya Keyla.
"Mana gue tahu." jawab Dyxie dan Aura bersamaan.
Disaat mereka berjalan berkeliling untuk melihat tempat yang hampir mirip sirkuit tersebut. Tiba-tiba mereka bertemu seseorang yang berpakaian serba hitam. Berkaca mata hitam dan memakai earphone berwarna hitam juga. Dari penampilannya sih sudah bisa ditebak kalau dia adalah sejenis pengawal.
"Anda nona Lleonara?" tanya orang tersebut.
Dyxie langsung mengernyitkan dahinya kala mendengar bagaimana pria didepannya ini memanggil nama belakangnya. Pasalnya tidak ada yang tahu nama belakangnya adalah Lleonara. Marga tersebut sudah dirahasiakan sejak lama. Bukan hanya Dyxie, marga Papinya saja juga di rahasiakan. Orang yang memiliki marga Lleonara sangat dicari karena seseorang dalam; marga tersebut mempunyai benteng kuat dimana-mana.
"Siapa Lo?" tanya Dyxie dengan nada dingin.
"Saya ada di pihak anda. Mari saya antar ke ruang peserta." kata pria tersebut.
Pada akhirnya mereka hanya menurut. Karena pria tersebut sudah mengatakan dia ada di pihak Dyxie.
"Siapa lawan gue?" tanya Dyxie.
"Nona akan melihatnya nanti." jawabnya. "Ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya pria itu dan dijawab gelengan kepala oleh Dyxie. Setelah itu pria tersebut pergi dari sana.
"Darimana dia tahu marga Lo?" tanya Aura.
"Bukannya itu dirahasiakan?" tanya Keyla.
"Gak tahu. Yang pasti dia ada hubungannya dengan keluarga gue. Atau bisa jadi dia serigala berbulu domba." kata Dyxie.
Wajah cewek itu kali ini benar-benar terlihat serius. Tidak seperti biasanya yang super santai. Satu orang yang berputar di benaknya. Tapi dia tidak yakin itu dia atau bukan.
Di sisi lain, Viola dan si kembar baru sampai. Dan seperti Dyxie tadi mereka juga bertemu pria bersetelan serba hitam. Yang membedakan kalau Dyxie bersikap acuh, sedangkan Viola pick me.
"Pak, ini nanti serius dapat hadiah kan pak?"
"Iya nona."
"Nanti saya dibohongi lagi. Kan sedih."
"Tidak akan nona."
__ADS_1
"Serius ya pak? Soalnya saya gak kenal siapa yang Adain perlombaan ini. Pokoknya kalau ditipu awas! Bakal saya laporin!" kata Viola.
"Gak akan nona, asal nona menang balapan bos kami akan memberikan hadiahnya. Jika kalah, maka nona akan menerima konsekuensinya." terang pria tersebut panjang lebar. Sepertinya pria tersebut mulai kesal dengan sikap Viola.
"Kita akan kemana pak?" tanya Ciki.
"Ruangan peserta."
"Apa cuma kita pesertanya?" tanya Cika.
"Tidak, sudah ada tiga peserta lain."
"Siapa?"
Pria tersebut hanya menatap mereka bertiga dengan tatapan datar. Tatapan tersebut sukses membuat ketiganya bungkam.
Setelah mengantar Viola dan si kembar bego. Pria tersebut pergi ke sebuah ruangan tersembunyi di area itu. Tepatnya ruangan bosnya.
"Mereka sudah datang semua bos." kata pria tersebut melapor.
"Ada yang akan datang." kata cowok misterius yang duduk di kursi kebesarannya.
"Siapa bos?"
*
Setelah sekitar 30 menit menunggu dan bersiap. Akhirnya perlombaan akan di mulai. Ke enam peserta sudah berjejer rapi akan memulai balapan.
"Kecil ngalahin Lo doang." kata Dyxie santai.
"Balapannya kok belum mulai sih?" tanya Ciki.
Tidak lama kemudian seorang cowok dengan kaos hitam polos dan jaket kulit hitam berlogo singa berantai di sisi kiri berdiri ditempat juri. Dengan sekali lihat Dyxie tahu siapa cowok itu.
"Arshaka Karvino Lleonara?" batin Dyxie melihat cowok tersebut.
"Gila, Shaka anjg!" Keyla melotot melihat siapa yang berdiri diatas sana.
"Bajingan sialan.." gumam Aura.
Semua peserta lomba melihat ke arah cowok yang diketahui bernama Shaka tersebut. Cowok itu terlihat memegang mikrofon.
"Gue yang adain balapan ini." kata cowok itu. "Gue adain ini karena gue udah beli sekolahan kalian. Gue tahu ada dua geng pembully di SMA Achievers. Maka dari itu jika salah satu dari geng kalian ada yang kalah, maka itu harus keluar dari sekolah." kata cowok itu.
"Gila, main halus anjay." komentar Keyla.
"Ganteng banget njir." gumam Viola lirih. Tapi Dyxie masih bisa mendengarnya.
"Ew sasimo." celetuk Dyxie.
__ADS_1
"Apa? Sirik Lo? Gue pastiin Lo kalah dan harus keluar dari sekolah!" kata Viola.
"Halu jangan ketinggian, jatuh sakit tahu." ucap Dyxie mengejek Viola.
"Lo--"
Perdebatan mereka berhenti dikala Shaka mulai menghitung mundur. Pertanda bahwa perlombaan akan segera dimulai.
"Three!"
Dyxie langsung memusatkan perhatian pada lintasan didepannya. Akan tetapi fokusnya teralihkan dengan seorang cowok yang melihat mereka dari tempat penonton.
"Raksha?" batin Dyxie.
Cowok itu terlihat tersenyum ke arahnya. Dan entah kenapa sudut bibir Dyxie juga ikut terangkat. Rasanya tidak sia-sia dia menyebutkan jam dan lokasi dimana dirinya akan balapan kepada cowok itu.
"Two!"
Dyxie kembali fokus kala mendengar hitungan ke dua. Begitu pula dengan yang lainnya juga semakin fokus.
"One! Go!"
Enam motor melesat secepat angin. Balapan tersebut dipimpin oleh Dyxie kemudian dibelakang Dyxie ada Viola. Dibelakangnya lagi disusul Aura lalu Keyla, Cika dan Ciki.
Setelah satu putaran selesai ternyata Viola mampu menyalip Dyxie. Tidak terima hal itu Dyxie memutar gasnya dengan kecepatan penuh dan berhasil menyalip Viola lagi.
"Sialan.." gumam Viola.
"Gue pastiin gue bakal menang." batin Dyxie.
Balapan terus berlanjut. Seseorang yang menontonnya pun ikut tegang melihat betapa sengitnya persaingan tersebut.
"Lo harus menang. Minimal geng bully di SMA itu akan berkurang kalau Lo menang." batin Raksha.
Why? Kenapa harus Dyxie yang menang? Bukankah jika Viola yang menang geng bully di SMA Achievers juga akan berkurang satu? Yaitu Dyxie akan keluar dari sekolah. Sepertinya ada hal lain yang membuat cowok ini mendukung Dyxie.
Setelah putaran kedua terlewati. Dyxie masih memimpin. Dan akan terus memimpin. Hingga akhirnya balapan dimenangkan oleh Dyxie dan sahabatnya. Itu berarti Viola beserta Cika dan Ciki harus pindah sekolah.
Setelah mengetahui kekalahan mereka. Tiga cewek cabe-cabean itu langsung meninggalkan area tersebut karena malu dan marah.
Sedangkan Raksha yang ingin menghampiri Dyxie dan memberikan selamat langkahnya terhenti melihat gadis itu berlari seperti anak kecil dan memeluk cowok yang berdiri di tempat juri tersebut.
"Siapa dia? Kenapa cewek itu memeluknya?" batin Raksha bertanya-tanya.
Pandangan Raksha bertemu dengan mata Shaka. Cowok itu tersenyum miring melihat ekspresi Raksha yang melihatnya dengan tatapan tajam.
"Hadeh, udah kayak gitu masih nggak mau ngaku. Dasar tsundere." batin Shaka.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......