Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 27


__ADS_3

"Gila Lo? Pulang gak ngabarin?!" tanya Dyxie sambil memeluk cowok tersebut.


"Surprise baby girl." jawab Shaka sambil mengecup kening Dyxie.


Setelah puas berpelukan melepas rindu. Dyxie melepaskan pelukannya. Kemudian menatap sebal cowok didepannya.


"Gimana kabar Om sama Tante?" tanyanya.


"Gue bikin stress."


"Anak durhaka." katanya sambil menyentil kening Dyxie.


"Ajib ye, habis dikecup disentil." komentar Keyla.


"Makhluk aneh emang." sahut Aura.


Shaka menatap datar Aura. Kemudian cowok itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aura. Dan menatap mata gadis itu beberapa detik. Setelahnya Shaka langsung menyentil mulut Aura.


"Aish! Bangshat!" umpat cewek itu langsung memegang bibirnya yang terasa panas setelah disentil Shaka.


"Sekolahin tuh mulut."


Kemudian cowok itu kembali mendekati Dyxie, gadis itu langsung memeluk cowok yang merupakan kakak sepupunya tersebut. Shaka tersenyum kecil dengan manik matanya melirik ke arah Raksha yang sejak tadi melihat ke arah mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Lepasin, cowok Lo marah tuh." kata Shaka.


"Cowok?" tanya Dyxie sambil melepaskan pelukannya.


"Tuh." tunjuk Shaka ke arah Raksha yang berdiri sekitar 6 meter dari jarak mereka.


Pandangan Dyxie dan dua sahabatnya langsung menuju ke arah yang ditunjuk Shaka. Seketika Aura dan Keyla tertawa melihat wajah Dyxie yang langsung bersemu merah.


"Ngadi-ngadi Lo kak! Bukan pacar gue!"


"Gue kan gak bilang dia pacar Lo."


"Sialan, kena lagi gue." batin Dyxie sambil memalingkan wajahnya ke arah Raksha.


"Sana samperin." kata Shaka.


"Tapi serius dia bukan siapa-siapa gu--" Dyxie tidak melanjutkan kalimatnya ketika mendapati orang yang diajaknya bicara sudah tidak ditempat. "Aish, kebiasaan." gumam Dyxie.


"Dah sana samperin tuh pak ketos, kasihan nunggu dari tadi." ledek Aura.


"Hayuk pergi, nanti kita jadi Baygon." kata Keyla ikut meledek Dyxie.


"Gue gunting juga tuh lidah!"


"Kabur!!" dua gadis itu langsung lari kabur dari sana karena tidak ingin menjadi obat nyamuk.


Setelah di area tersebut tinggal dirinya dan Raksha. Cewek tersebut melihat ke sekelilingnya lagi memastikan tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua. Barulah Dyxie berjalan menghampiri Raksha.


"Lo datang?"


"Bukannya Lo yang nyuruh?"

__ADS_1


"Dih, kapan?"


"Satu jam yang lalu. Perlu gue ulang kalimat Lo?"


"Gue kan cuma ngasih tahu jam dan lokasi saja, gak nyuruh Lo datang." elak Dyxie yang membuat Raksha tertawa.


"Congrats! Lo keren tadi." puji Raksha.


"Thanks."


"Lo masih mau disini atau pulang sekarang?" tanya Raksha.


Dyxie diam sejenak. Gadis itu menoleh kebelakang melihat ke tempat dimana dirinya berdiri dengan Shaka tadi. Jujur sih dia masih kangen dengan kakak sepupunya tersebut. Tapi entah kenapa sepertinya lebih seru pulang bersama Raksha seperti beberapa saat lalu mereka berkendara bersama. Lagipula nanti Shaka pasti akan datang ke rumahnya.


"Sekarang." jawab Dyxie.


"Ayo, pulang bareng." ajak Raksha tanpa ragu ataupun gengsi.


Dua remaja tersebut akhirnya pulang bersama. Siapapun yang melihat pasti bisa merasakan bahwa keduanya sama-sama telah jatuh hati. Mereka tidak ragu ataupun gengsi menunjukkan perasaannya. Tapi gengsi mereka sangatlah tinggi untuk jujur dan mengakui perasaannya masing-masing. Bahkan mengakui perasaannya secara pribadi pun mereka juga gengsi.


Sepanjang perjalanan mereka hanya membahas Olimpiade, hukuman, peraturan sekolah, dan terkadang berdebat kecil. Dan dibeberapa waktu mereka juga membahas suasana sore hari di kota yang sibuk tersebut. Mereka sengaja memilih jalan-jalan kecil untuk dilewati agar bisa berkendara bersampingan.


"Kenapa dia gak tanya masalah Shaka?" batin Dyxie sesekali melirik Raksha.


"Gue pengen tanya tentang cowok tadi, tapi Lo nggak bahas. Berarti itu privasi Lo." batin Raksha.


"Masa dia gak penasaran sih siapa cowok yang gue peluk?" batin Dyxie lagi.


"Jujur aja sih gue penasaran. Tapi gak baik mengusik privasi orang." batin Raksha.


Setelah beberapa saat berkendara bersama mereka sampai di pertigaan dimana itu memisahkan jalan mereka. Dyxie belok ke kiri. Sedangkan Raksha berbelok ke kanan untuk menuju rumahnya.


*


Gadis itu berjalan masuk kedalam rumah. Baru memasuki ruang tamu sudah terdengar suara ricuh di ruang tengah. Bisa dipastikan sepupunya itu ada disana.


"Mami. Dyxie pulang."


"Puas kencannya?" tanya Shaka sambil menaik turunkan alisnya.


"Serius kamu punya pacar Xie?" tanya sang mami.


"Nggak mi! Ngibul tuh si Shaka!" elak Dyxie.


"Serius? Kalau gitu gue kenalin dia sama adiknya teman gue boleh?" tanya Shaka.


"Ngga-- terserah Lo." kata Dyxie kemudian berjalan buru-buru masuk ke kamar.


Shaka dan Mami Indah tertawa melihat kelakuan Dyxie. Jangan tanya dimana Leon? Papi kesayangan Dyxie tersebut selalu ada di luar kota menjalankan perusahaannya yang sedang dilanda masalah.


"Sana susul adik kamu ke kamar." kata Indah.


"Siap Tante!"


*

__ADS_1


Shaka masuk kedalam kamar Dyxie. Cowok itu seketika menggelengkan kepalanya melihat dekorasi kamar Dyxie. Benar-benar tidak terlihat seperti kamar cewek. Wallpaper dinding yang terkesan dark. Tanaman mati di salah satu sudut kanan. Gorden berwarna hitam dengan corak emas. Seprei yang berwarna hitam dan putih. Kamar tersebut terkesan mewah, elegan, namun juga menyeramkan. Apalagi dengan hiasan dinding berupa koleksi pisau, pedang, dan pistol.


"Adik gue cewek apa cowok sih?" gumam Shaka sambil menggelengkan kepalanya.


"Cewok." jawab Dyxie ngawur. Ternyata cewek itu sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar mandi melihat tingkah Shaka.


"Serah Lo dah. Nyalain lampunya. Biar gak kayak rumah hantu kamar Lo." kata Shaka.


Gadis itu menuruti perkataan Shaka. Memang Dyxie paling menurut jika orang itu adalah Shaka. Mungkin bisa dibilang Dyxie lebih menurut kepala Shaka ketimbang orang tuanya sendiri. Selain menyalakan lampu, Dyxie bahkan juga membuka gorden yang jarang sekali dia buka. Setelah melakukan hal itu Dyxie duduk disamping kakak sepupunya itu. Kemudian meletakkan kepalanya di pundak sepupunya tersebut. Terlihat sekali jika gadis itu lelah.


"Berapa kali pindah sekolah?" tanya Shaka.


"Gatau lupa."


"Berapa kali banting hp?" tanya Shaka lagi sambil mengelus kepala Dyxie.


"Ratusan kali."


Shaka langsung tertawa mendengarnya. Tetapi tawanya berhenti ketika mendengar helaan napas adiknya tersebut.


"Why?"


"Capek gue kak." kata Dyxie.


Shaka langsung mengerti maksud Dyxie. Cowok itu mengecup kening Dyxie. Sekalipun dirinya mengerti apa yang akan dikatakan adik sepupunya itu, dia tetap bertanya.


"Capek kenapa? Sini cerita."


"Gue capek disuruh berubah. Ini diri gue. Mereka selalu bilang gue pembuat onar. Tapi gue gak buat onar kalau mereka gak mulai duluan. Gue capek disuruh feminim. Ini jati diri gue." Dyxie mengungkapkan isi hatinya kepada cowok disampingnya tersebut.


Begitulah Dyxie, dia sangat tertutup tidak pernah mengeluh tentang perasaannya kepada siapapun. Berbeda saat bersama Shaka. Gadis itu akan sangat manja jika bersama Shaka. Dan hanya saat bersama Shaka lah Dyxie menunjukkan sifat manjanya tersebut.


"Gak usah ubah apa-apa. Kalau mereka sayang Lo mereka akan menerima Lo apa adanya." kata Shaka.


"Mereka gak akan minta Lo buat berubah, mereka akan mencintai segalanya yang ada di diri Lo."


"Memang gue tukang buat onar ya?" tanya Dyxie lagi. Padahal sudah jelas jawabannya iya.


"Emm, bisa dibilang iya bisa juga tidak." jawab Shaka.


"Kok gitu?"


"Tergantung cara orang melihatnya sih. Orang yang lihat dari sudut pandang Lo gak akan menganggap Lo pembuat onar." kata Shaka sambil membelai rambut adiknya tersebut.


"Intinya gini, Lo boleh berulah asalkan ada penyebabnya. Jangan menyakiti kalau Lo gak disakiti. Dan kalau Lo disakiti balas berkali-kali lipat. Kalau lihat orang lemah di bully, bantu. Dan Lo harus stop membully. Ngerti?"


Dyxie mengangguk sambil tersenyum manis kepada kakaknya tersebut. Memang Shaka itu terkesan dingin. Tapi dia penasehat yang baik untuk adiknya. Dia tidak ragu berkata panjang lebar untuk menghibur orang yang dia sayang. Anjay, mau sepupu kayak Shaka.


...***...


...Bersambung......



...Arshaka Karvino Lleonara...

__ADS_1


__ADS_2