
Setelah Raksha dan Dyxie jadian, teman-temannya memutuskan pulang untuk memberi mereka ruang. Tentunya bukan secara cuma-cuma. Raksha berjanji akan mentraktir mereka besok saat akan pergi ke Garden Of Morning Calm bersama siswa-siswi lainnya. Bagaimana Raksha tahu itu sebelum pengumuman diberikan? Dia ketua OSIS cuy, udah jelas tahu.
"Gue gak tahu Lo bisa sweet kayak tadi." ucap Dyxie sambil senyum-senyum menatap bunga di pelukannya.
"Emang gue kelihatan kaku?" tanya Raksha.
"Hm, kalau yang nggak kenal pasti dikira cowok dingin." cetus Dyxie.
Memang benar yang dikatakan Dyxie. Wajah Raksha itu tipikal wajah cowok kulkas 100 pintu. Kalau yang nggak kenal pasti mengira Raksha itu cowok yang dingin. Karena saat tidak bersama siapa-siapa, wajah cowok itu selalu datar. Gak tahu aja kalau Raksha yang asli itu cerewet, julid, dan galak.
"Ngomongnya pakai aku kamu aja mau nggak!" tanya Raksha tiba-tiba.
"Nggak! Lo gue aja. Alay kalau pakai aku kamu." celetuk Dyxie dengan spontan.
Raksha berhenti berjalan dan memutar bola matanya malas. "Biasanya cewek habis jadian minta panggil aku kamu, lah ini? cewek langka emang." batin Raksha sambil menatap Dyxie kesal.
Kira-kira begitu ekspresi wajah Raksha yang kesal karena Dyxie tidak mau menggunakan panggilan aku kamu. Abaikan bajunya, anggap aja pakai baju yang kece bak pangeran.
Dyxie yang menyadari Raksha tidak berjalan disampingnya lagi berhenti dan menoleh kebelakang.
"Komuk Lo anjg!" ceplos Dyxie seketika saat melihat wajah Raksha.
"Kenapa? Tetap ganteng kan?" tanya Raksha dengan pedenya sambil berjalan menghampiri Dyxie.
"Dih anjr, narsis." ucap Dyxie mengatai Raksha.
"Yakin? Kalau gini ganteng gak?" tanya Raksha sambil berpose.
Itu adalah pakaian yang di pakai Raksha saat ini. Dan di taman tersebut mereka berada.
"Kagak anjir!" elak Dyxie sambil menyentil dahi Raksha.
"Ah masa? Kok salting?" tanya Raksha sembari mencubit pelan hidung Dyxie. Dan berakhir cewek itu tertawa akibat ulah Raksha.
"Nah, gitu dong senyum kan cantik. Nggak kelihatan judesnya." ujar Raksha di susul tertawa kecil.
"Lo niat muji gue apa ngatain hah?"
"Dua-duanya, mungkin." jawabnya kemudian langsung lari karena Dyxie mengangkat tangannya untuk melayangkan bogem mentah ke arah Raksha.
"Sini Lo sialan!" teriak Dyxie sambil berlari mengejar Raksha.
"Gamau! Ntar Lo bogem!" sahut Raksha sama teriaknya.
Ulah mereka tersebut berhasil mengundang perhatian warga yang berlalu-lalang. Orang-orang yang melihat semua kebingungan dengan Dyxie dan Raksha. Pasalnya mereka berdua berlari-lari sambil berteriak-teriak menggunakan bahasa Indonesia yang tidak di mengerti warga Korea.
__ADS_1
Setelah sekian lama kejar-kejaran, akhirnya Dyxie berhasil menangkap Raksha.
"Kena Lo!"
"Ahaha, ampun-ampun.." ucap Raksha sambil tertawa dengan napas yang terengah-engah.
Begitu pula dengan Dyxie. Cewek itu tidak jadi memukul Raksha. Dengan napas yang sama terengah-engah cewek itu tertawa bersama Raksha.
"Sial, napas gue habis." ucap Dyxie di sela-sela tawanya.
"Mau gue top up nggak?" tanya Raksha sambil menaik turunkan alisnya.
"Yang ada napas Lo habis, metong gue ogah tanggung jawab." cetus Dyxie sambil menoyor kening Raksha. Sedangkan Raksha hanya tertawa.
Di tengah-tengah candaan sepasang kekasih yang baru jadian tersebut. Tiba-tiba handphone Raksha berdering. Cowok itu merogoh kantong jasnya untuk melihat siapa yang menelepon dirinya. Seketika raut wajahnya berubah.
"Siapa?" tanya Dyxie yang penasaran karena melihat perubahan raut wajah Raksha.
"Papa.." jawab Raksha dengan pelan.
"Yaudah angkat aja."
Raksha mengangguk, kemudian menjauh dari Dyxie untuk menjawab telepon papanya. Dia sudah menebak apa yang akan di katakan papanya kepada dirinya. Dia tidak mau Dyxie mendengar hal tersebut.
"Halo pa.."
"Anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu kalah olimpiade! Kamu mau bikin saya malu?!" bentak lelaki di seberang telepon yang merupakan papa dari Raksha. Benar saja, papanya membahas masalah olimpiade. Jika saja dirinya saat ini ada dirumah, mungkin dia sudah dicambuk atau kalau tidak dia tidak boleh makan dan minum selama dua hari.
"Pulang kamu sekarang!" perintah lelaki tersebut.
Mendengar itu Raksha tidak bisa menjawab. Mata cowok itu menatap ke arah Dyxie. Tidak, dia tidak akan pulang.
"Gak! Saya gak mau!" tolak Raksha. Bahkan tiba-tiba nada bicaranya berubah.
"Pulang atau saya yang kesana!"
"Terserah anda, saya gak peduli anda mau ngapain." ucap Raksha kemudian mematikan telepon papanya.
Sejujurnya Raksha sedikit takut mengatakan hal itu. Dia takut jika papanya benar-benar menyusul ke Korea dan mengetahui tentang Dyxie. Dia tidak bisa membayangkan jika gadis yang ada di hatinya tersebut disakiti oleh papanya. Tapi, Raksha teringat perkataan Galang dan Oliver. Dyxie tidak akan semudah itu disakiti.
Raksha menghela napas, kemudian mengangkat sudut bibirnya dan menghampiri Dyxie lagi.
"Udah?" tanya Dyxie.
"He'em, udah." jawab Raksha dengan senyuman di bibirnya. "Mau kemana lagi?" tanya Raksha kemudian.
"Jalan ke hotel aja. Gimana?" tanya Dyxie..
"Tapi masih jauh, Lo gapapa?"
__ADS_1
"Gapapa, nanti kalau capek naik bus." jawab Dyxie.
Raksha tidak bisa menolak permintaan Dyxie. Mereka berjalan bersama di bawah sinar rembulan. Sepertinya bulan menjadi saksi cinta mereka. Entah bagaimana bulan bisa terlihat, padahal tadi baru saja turun salju. Disaat salju sudah berhenti turun bulan tiba-tiba terlihat.
Di tengah perjalanan mereka, Dyxie menarik tangan Raksha menghampiri penjual pernak-pernik yang ada di pinggir jalan. Ada gelang, kalung, anting, bando, jepitan rambut, dan banyak lagi.
"miseuleul seontaeghasibsio. mueos-eul sago sipseubnikka?" tanya penjual pernak-pernik tersebut dengan ramah.
*Silahkan dipilih nona, apa yang ingin anda beli?*
"i peeo pendeonteu, eolmayeyo samonim?" tanya Dyxie sambil memegang sepasang kalung.
*Berapa harga liontin pasangan ini, Bu?*
"2.000won miseu" jawab ibu-ibu tersebut.
*24.000 nona*
Dyxie membayar sesuai jumlah yang disebutkan ibu-ibu tersebut. Dan akan mengajak Raksha pergi. Tapi ternyata Raksha malah menanyakan harga sebuah jepitan rambut.
"i meolipin-eun eolmayeyo, bu-in?" tanya Raksha kepada ibu penjual itu.
*Berapa harga jepit rambut ini, Bu?*
"1000won seonsaengnim."
*12.000 tuan*
Setelah Raksha membayar jepit rambut tersebut dia menggandeng tangan Dyxie dan berjalan pergi dari sana.
"Beli buat siapa?" tanya Dyxie.
"Buat pacar gue."
"Gue?" tanya Dyxie lagi sambil menunjuk dirinya. Dia tidak berpikir Raksha akan memberikan itu untuknya.
"Iya." jawab Raksha kemudian tangannya bergerak memasangkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu itu di sisi rambut Dyxie.
"Gak mau gu--" ucap Dyxie sambil menaikkan tangannya untuk melepaskan jepit rambut tersebut. Tapi tidak jadi karena Raksha memelototi dirinya.
"Berani lepas gue chipok Lo." ucap Raksha dengan tampang galaknya.
"Dih."
Akhirnya Dyxie tidak melepaskan jepit rambut itu. Sebagai gantinya dia memasangkan liontin pasangan yang dibelinya tadi ke leher Raksha dan lehernya sendiri. Liontin tersebut memiliki bandul huruf inisial D dan R. Liontin D dipakai Raksha dan Liontin R dipakai Dyxie.
"Jangan pernah dilepas ya?" Dyxie mengacungkan jari kelingkingnya di depan Raksha.
Raksha tersenyum kemudian menautkan jari kelingkingnya. "Iya.."
__ADS_1
...***...
...Bersambung......