Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Perfect Mommy


__ADS_3

"Mom..." Black yang melihat mommy-nya datang, berlari dan ingin memeluk Blue. Tapi Blue memundurkan badannya yang membuat Black berhenti. "Mom, I love you! Jangan takut!"


Pink dan Green juga ikut menyusul, mereka ikut membujuk mommy mereka. "Mom, we love you!"


"Walaupun mommy bukan manusia?" tanya Blue memastikan. Blue bisa merasakan sebelumnya bahwa anak-anaknya merasa tidak terima jika mereka adalah anak Alien.


Ketiganya langsung menghambur memeluk Blue, sepertinya mereka tahu apa yang ada dipikiran mommy mereka. Blue takut ditolak oleh anak-anaknya sendiri.


"Bagi kami, mommy adalah perfect mommy. Jangan bahas asal-usul lagi, mommy adalah manusia, sama seperti kami!"


Blue tersenyum dan membalas pelukan ketiga anaknya. Tapi dia sedih karena Red yang tidak bisa dia peluk. Untuk itu, Blue mendekat ke ruang operasi di mana Red masih menjalani serangkaian operasi di sana.


Blue bisa merasakan jika Red dalam kondisi kritis, dokter juga kewalahan karena tulang dan saraf Red banyak yg rusak. Operasi berjalan begitu lama dan memakan waktu hingga berjam-jam.


"Red..." gumam Blue. Lalu dia mencari suaminya karena dia harus melakukan sesuatu.


Naku sebenarnya ingin memeriksa dan memastikan keadaan Blue, tapi dia mau fokus pada Red terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bukankah Red mengembangkan nanoteknologi untuk menyembuhkan luka?" tanya Tira pada adiknya, mereka duduk berdua di ruang tunggu.


"Nanoteknologi itu hanya bisa memperbaiki jaringan kulit epidermis sementara untuk kasus Red, dia mengalami patang tulang dan juga beberapa sarafnya yang rusak!" jelas Naku yang sebelumnya sudah melihat hasil lab dari tubuh Red.


"Apa kemungkinan... " Tira sampai tidak bisa mengucapkan kalimat selanjutnya.


Naku yang paham hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau pun Red bisa melewati masa kritisnya, kemungkinan akan lumpuh!"


"Red tidak akan lumpuh!" tiba-tiba suara itu terdengar membuat Naku menegakkan kepalanya dan dia melihat Blue datang.


"Aku cinta Ayang dan anak-anak manusia kita! Berjanjilah padaku, jangan jadi manusia jahat lagi!" pinta Blue yang membuat Naku seakan tahu apa yang ada dipikiran istrinya.


"Apa kau akan membuat Red sama seperti Paul? Kenapa kau sembunyikan semua dariku, Ay? Kenapa kemampuanmu bisa ada lagi?" cecar Naku dengan gusar.


"Penyakit itu ada terus, Ayang. Aku merasakan energinya semakin tinggi dan itu membuat tubuh manusiaku tidak akan bertahan lama! Mungkin sekarang sudah waktunya!" jelas Blue.


Naku menggelengkan kepalanya kuat. "Jangan pernah melakukannya, Blue!"

__ADS_1


"Aku harus melakukannya, Red harus hidup lebih lama. Dia harus menjaga adik-adiknya!" Blue berkata dengan lelehan air mata, dia kembali mencium Naku lebih lama. "Selamat tinggal, Ayang!"


Setelah itu, Blue berdiri dan berusaha memanipulasi semua yang ada di rumah sakit untuk tertidur. Dan semua penghuni rumah sakit tertidur secara bersamaan.


Blue mulai mengeluarkan darah dari hidungnya, sebelum masuk ke ruang operasi, dia mendatangi ketiga anaknya yang lain.


"My Black, Pink dan Green. Kalian adalah keajaiban untukku!" ucap Blue dengan menciumi anaknya satu persatu.


Kemudian dia bergegas masuk ke ruang operasi di mana Red yang tergeletak tak berdaya di meja operasi. Blue melewati dokter dan para perawat yang ambruk di lantai lalu dia mendekati anak sulungnya.


"Kau harus bisa menjaga saudara-saudaramu, Red! Jadilah pria yang keren seperti daddy Ayang!" ucap Blue mengusap rambut Red kemudian mengecup keningnya.


Di detik itu juga Blue memejamkan matanya dan mentransfer semua energinya yang tersisa untuk Red. Energinya itu mampu memperbaiki tulang dan sistem saraf Red yang rusak.


Blue tersenyum sambil mengingat semua momen yang selama ini dia sudah lewati. Dia sangat bahagia pernah merasakan apa itu kasih sayang dan cinta.


"Akhirnya aku bisa berguna!" batin Blue sebelum tubuhnya ambruk ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2