
Sesampainya di rumah bukannya bersih-bersih dan ganti baju cewek pembuat onar yang hampir tobat ini langsung teriak-teriak memanggil maminya.
"Apa sih Dyxie? Teriakan kamu bikin gempa tahu gak?!" protes maminya. Karena memang suara Dyxie sudah cempreng ditambah teriak di rumah sebesar itu pasti menggema dan memekakkan telinga.
"Hehe, sini deh mi. Dyxie mau tanya sesuatu." kata Dyxie sambil menarik tangan maminya dan mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.
"Apa?" tanya maminya yang heran melihat tingkah Dyxie.
"Dyxie dulu pas SMP sekolah dimana mi?"
Indah mengangkat satu alisnya. "Kenapa tiba-tiba tanya?" Maminya semakin heran dengan Dyxie yang tiba-tiba menanyakan dimana dia sekolah saat SMP. Padahal sebelumnya anak gadisnya itu bodo amat dengan sekolah.
"Nggak, mau tahu aja."
"Kelas berapa dulu? Kelas 7, 8 atau 9? Setiap pindah kelas kamu pindah sekolah." kata maminya dengan senyum tertekan mengingat betapa seringnya Dyxie pindah sekolah.
Cewek itu tertawa, kemudian mengatakan kelas yang dia maksud "Kelas 9 mi."
"Kalau gak salah kamu pas kelas 9 sekolah di SMP Negeri 3 Cempaka." kata maminya.
"Dulu ada kejadian khusus gak sih pas kelas 9?" tanya Dyxie lagi.
"Ntah, lupa mami. Lagian kenapa kamu mendadak nanyain masa lalu kamu? Bukannya yang paling ingat masa lalu kamu itu ya kamu sendiri. Malah tanya mami." omel maminya.
"Aelah, kan mami tahu daya ingat Dyxie itu sependek waktu hidup capung." ucap Dyxie memelas.
"Udah-udah. Sekarang mandi, ganti baju, lalu makan malam. Sekalian panggil kakakmu!"
"Dih mami mah gitu."
Cewek itu langsung berlari ke kamarnya untuk bersih-bersih. Tapi setelah sampai kamar bukannya pergi mandi Dyxie malah membanting dirinya ke ranjang dan membuka handphonenya untuk mengirim chat kepada Raksha.
"Lo dulu pas SMP sekolah dimana?" tanya Dyxie melalui MwoApp.
Sekitar 10 menit Dyxie menunggu balasan tapi cowok itu masih belum juga membalas pesan yang dikirimkan Dyxie. Merasa jengkel cewek itu memutuskan pergi membersihkan dirinya ketimbang nungguin orang balas chat.
*
Disisi lain cowok yang dia kirimi pesan tersebut sedang melihat album foto saat dirinya masih berseragam biru-putih. Masa itu merupakan masa yang penuh sejarah menyedihkan bagi Raksha. Selain kematian sahabatnya, ada lagi kisah kelam yang dimiliki Raksha di masa berseragam biru-putih tersebut. Kejadian yang menyebabkan dirinya memiliki panic attack.
__ADS_1
Cowok itu menghela napas dan melemparkan album berisi banyak foto tersebut ke lantai. Matanya kembali memerah kala mengingat semua masa lalunya yang kelam.
"Kenapa Lo harus balik?" gumam Raksha. Kedatangan Aveline kembali merupakan awal masalah baru yang akan di alami Raksha. Raksha bisa merasakan hal itu.
Tidak mau berlama-lama bersedih cowok itu mengambil handphonenya, terlihatlah notifikasi dari cewek yang berhasil mengusik hatinya.
"Lo dulu pas SMP sekolah dimana?"
"Kenapa tiba-tiba nanyain SMP?" gumam Raksha.
"SMPN 3 Cempaka. Kenapa?" balas cowok itu memberi tahu sekaligus bertanya lagi.
Dyxie membaca pesan balasannya akan tetapi anehnya dia tidak membalasnya. Karena terlanjur kepo. Raksha memilih untuk melakukan panggilan Video call. Wajah cowok itu langsung berubah drastis saat melihat siapa yang mengangkat panggilan video call darinya.
"Orangnya mandi." kata cowok yang mengangkat panggilan video call Raksha. Yap, cowok itu adalah Shaka.
"Kenapa Lo bisa pegang hpnya?" tanya Raksha. Wajahnya datar, tidak seperti saat dia berbicara kepada Dyxie.
"Bisa lah, gue tahu password-nya." jawab Shaka sambil tersenyum miring, cowok itu sepertinya benar-benar niat mengerjai Raksha.
"Ngapain Lo di kamar cewek jam segini?" tanya Raksha dengan nada dingin dan sangat tinggi bersahabat.
Sebelum Shaka sempat menjawab, terdengar teriakan cewek yang dia kenal. "ASU SHAKA!!!" suara teriakan cewek itu. Kemudian dia merebut handphonenya.
Setelah Shaka keluar Dyxie melihat ke arah Raksha. Dia sedikit bingung mengapa wajah Raksha memerah hingga ke telinga.
"Kenapa Lo?" tanya Dyxie.
Tut. Tanpa berkata apapun Raksha langsung menutup teleponnya. Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya seketika terasa panas.
"Sial.." desis cowok itu.
Dyxie pov
"Si Anjir, aneh. Ditanya kenapa malah di tutup." gerutu cewek itu.
Sepertinya cewek itu belum sadar kenapa wajah Raksha memerah, dan seketika langsung mematikan panggilan video call-nya saat dirinya di depan kamera. Dyxie baru menyadari penyebab Raksha begitu setelah cowok itu mengirim pesan kepadanya.
"Pakai baju Lo!" isi pesan tersebut.
__ADS_1
"Bangshat! Raksha mesum anjg!" umpat cewek itu sambil membanting handphonenya ke kasur dan berlari ke ruang ganti dengan muka yang merah merona.
*
Keesokan harinya cewek itu masih belum beranjak juga dari tempat tidurnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Bahkan alarmnya sudah hancur dia banting sejak berbunyi 1 jam yang lalu. Entah karena apa, cewek itu merasa sangat malas pagi ini. Pengennya rebahan di tempat tidur melulu.
Tok tok tok.
"Xie. Bangun. Lo gak sekolah?"
Bisa ditebak siapa yang membangunkan Dyxie bukan? Kalau maminya yang membangunkan pasti sudah mengomel dengan kecepatan 5G. Yap, Shaka yang membangunkan Dyxie pagi ini. Gadis itu sudah bangun, tetapi terlalu malas menjawab. Apalagi membukakan pintu.
Tok tok tok.
"Bangun Xie, atau gue tinggal ke Shanghai lagi mau?"
Mendengar kata Shanghai mata Dyxie langsung melebar. Ia langsung loncat dari kasur dan berlari ke pintu untuk membukakan pintu Shaka.
"Berani Lo?! Dulu pergi gak ngabarin, balik gak ngabarin, Lo mau pergi lagi?!"
Raksha terkekeh kemudian tangannya merapikan rambut Dyxie yang berantakan setelah bangun tidur. "Gue pasti pergi ke Shanghai lagi. Bukan, setelah masalah disini selesai gue bakal ke Beijing." kata cowok itu.
"Ngapain?"
"Nanti gue jelasin, cepat mandi! Sudah jam setengah tujuh."
Dyxie memutar bola matanya malas, kemudian berbalik masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamarnya.
"Gak berubah sama sekali." gumam Shaka. Cowok itu terdiam sejenak di depan pintu kamar Dyxie yang tertutup rapat. "Apa dia tahu dia bagian dari kejadian itu?" batin Shaka. Cowok itu berdecak sebal. "Maldita sea, ¿por qué tu vida tiene tantos problemas?¹" gumam cowok itu dalam bahasa Spanyol.
Jangan kaget, keluarga Lleonara memang di didik berbagai macam bahasa asing karena hidup mereka berpindah-pindah dikarenakan musuh mereka ada dimana-mana. Maka dari itu segoblok-gobloknya mereka, mereka pasti bisa minimal 5 bahasa asing.
"Aveline baru salah satunya. Lo harus siap menghadapi mereka semua Dyxie.." kata Shaka sambil menatap pintu kamar adik sepupunya itu. Kemudian berjalan pergi entah kemana.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1
Sial, kenapa hidup Lo banyak banget masalahnya?!