Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bahan Pertimbangan


__ADS_3

Karena teriakan Green, pengunjung Kafe jadi memperhatikan interaksi keduanya. Beruntung masih sedikit pengunjung yang datang untuk meminum kopi di pagi hari. Tapi tetap saja membuat Andreas tidak nyaman. Dia segera membawa Green keluar dan menuju di mana mobilnya berada, sepertinya dia harus menjelaskan sesuatu pada gadis itu supaya Green tidak terus-terusan menuduhnya.


"Masuk!" perintah Andreas dengan nada arogan yang kental.


"Tapi berjanjilah, jika kau tidak akan menyumpal mulutku dengan bibirmu!" ucap Green menuntut.


"Kalau kau tidak menurut, aku tidak akan menyumpal tapi lebih dari itu!" ancam Andreas tidak main-main.


Green segera masuk ke dalam mobil tanpa bantahan, gadis itu tetap diam menunggu Andreas membuka suara, dia tahu jika Andreas tidak suka berbasa-basi.


"Dengarkan aku baik-baik, setelah ini aku harap kau tidak menuduhku lagi!" ucap Andreas sambil menyalakan rokoknya. Dia membuka atap mobil supaya asap rokoknya tidak mengendap di dalam mobil. "Red itu bukan perokok aktif, dia merokok hanya untuk membaur! Dia laki-laki yang punya prinsip!"


"Dan untuk Red yang suka bergonta-ganti pacar itu karena tantangan dari kami, jadi dia bukan playboy seperti yang semua orang tahu!"


Green mencoba mencerna kalimat dari Andreas. "Jadi kak Red benar-benar menyukai Kika, 'kan? Kika bukan salah satu tantangan kalian, 'kan?" tanyanya, menuntut jawaban.

__ADS_1


"Bukan, Kika pengecualian. Dan Red tidak akan bolos sekolah lebih baik kau selidiki dulu sebelum menuduhku. Aku memang brengseek tapi aku tidak pernah mengajak teman-temanku untuk mengikuti apa yang aku lakukan!" balas Andreas dengan wajah yang tampak meyakinkan.


"Sebaiknya aku kembali ke sekolah dan berbicara pada Kika mungkin bisa jadi bahan pertimbangan Kika untuk menerima kak Red!" ucap Green antusias karena dia tahu Kika yang selalu ragu dengan kakaknya.


"Whatever!" Andreas tampak acuh sampai dia merasakan sapuan bibir di pipinya, siapa pelakunya kalau bukan Green.


"Setelah ini, aku ingin mendengar ceritamu! Aku jadi penasaran padamu!" ucap Green yang badannya masih condong dekat dengan Andreas.


Andreas langsung mati kutu dibuatnya. Kenapa jadi Green yang menyerangnya?


*****


Akhirnya Red meminta izin hari ini untuk tidak masuk sekolah karena dia harus menangani masalah yang cukup serius di perusahaannya.


"Uji coba senjata kita tanpa sengaja mengenai warga sipil dan mereka menuntut kita!" lapor Bern saat Red sampai.

__ADS_1


Tanpa banyak kata, Red mendatangi tim uji coba senjata dan langsung memecat mereka semua. Siapapun yang bekerja tidak hati-hati dan tidak mematuhi protokol ada konsekuensi yang harus ditanggung.


"Cari pengganti yang lebih kompeten dalam bekerja, Bern!" ucap Red dengan nafas memburu setelah marah-marah.


Bern mengangguk dan memberikan laporan kerugian yang harus ditanggung, beruntung tidak ada korban jiwa.


"Semuanya akan ditanggung perusahaan dua kali lipat dan biarkan tim hukum kita yang mengurus semuanya!" ucap Red mencoba bertanggung jawab atas kelalaian tim uji coba perusahaannya. "Dan cari lokasi uji coba baru yang jauh dari warga sipil!"


Red memijit pelipisnya sambil menyender di kursi besarnya, kenapa ada masalah saat hari kencannya tiba.


Selama dua hari Red mengurus masalah itu sampai tuntas dan mencoba berdamai supaya perusahaannya tidak mengalami tuntutan.


"Dad, tolong urus sisanya!" pinta Red pada Naku, karena memang Naku yang meminta Red untuk menyelesaikan masalah itu. Naku ingin tahu apakah Red bisa menangani masalah tanpa bantuannya. "Aku sudah menyia-nyiakan dua hari waktuku!"


Naku terkekeh melihat bagaimana frustasinya Red, tapi dia bangga karena anaknya itu bisa profesional tanpa membawa urusan pribadinya.

__ADS_1


"Oke, selamat berkencan!" sahut Naku kemudian. "Ngomong-ngomong, kau akan kencan di mana?"


Red tersenyum smirk. "Di mana? Lebih tepatnya aku akan melakukan gaya kencan yang tidak pernah terpikirkan oleh Ed!"


__ADS_2