Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Salah Menuduh


__ADS_3

Kika memakai parfum barunya, gadis itu terus mengulum senyumnya karena hari ini adalah jadwal Kika berkencan dengan Red.


Tapi tidak sesuai harapan, Red sama sekali tidak menghubunginya dan juga tidak menjeputnya sekolah.


"Apa-apaan, katanya perfect boyfriend! Perfect dari mananya, sukanya marah-marah doang!" gerutu Kika sebal.


Herman yang melihat putrinya tak kunjung berangkat, mengambil motor barunya untuk mengantar Kika sekolah.


"Ayo bapak antar!" ajak Herman yang sudah siap.


Mau tidak mau Kika menerima tawaran bapaknya daripada terlambat sekolah. Ternyata sampai di sekolah pun Red tidak ada atau lebih tepatnya pemuda itu tidak masuk sekolah.


"Red kemana? Apa dia sakit?" tanya Kika pada Nada.


"Aku akan bertanya pada Pink atau Green!" sahut Nada dengan memainkan ponselnya dan bertanya di grup chat mereka.


"Mereka tidak marah lagi padamu?" tanya Kika lagi.


"Mereka memang suka begitu, nanti juga baik-baik sendiri!" jawab Nada yang sudah lama berteman dengan kedua adik kakak itu.

__ADS_1


Sementara Pink yang berada di kelasnya membaca duluan chat dari Nada yang mempertanyakan keberadaan Red.


"Bukankah kak Red tadi sudah berangkat sekolah pagi-pagi?" tanya Pink dengan menyenggol lengan Green yang tengah menyalin tugas.


Green menghentikan kegiatannya dan melihat chat dari Nada. "Iya, aku kira kak Red menjemput Kika sekolah!"


"Apa kak Red bolos?" tanya Pink menduga-duga.


Mendengar itu Green justru jadi memikirkan Andreas, sepertinya dia tahu tempat biasanya Andreas bolos sekolah dan dia menduga Red ada di sana.


"Aku akan mencari kak Red, bilang aja aku sedang sakit di UKS!" ucap Green sebelum pergi.


"Kau mau kemana? Sepertinya banyak hal yang kau rahasiakan padaku!" Pink mencoba mencegah saudaranya pergi.


Setelah berkata seperti itu, Green berlari ke area belakang sekolah dan memanjat pagar di sana. Gadis itu begitu lihai memanjat dan tak butuh waktu lama, dia sudah berhasil melewati pagar.


Green segera menuju warnet yang letaknya tak jauh dari sekolah, dia mendapat info jika Andreas sering bolos di sana. Green merasa yakin jika Red juga di sana mengingat Andreas dan Red berteman cukup dekat.


"Berandal itu membawa pengaruh buruk pada kak Red!" gerutu Green sebal.

__ADS_1


Saat sampai di warnet, Green segera masuk dan mencari keberadaan Red. Banyaknya asap rokok membuat penglihatan Green berkurang, tapi dia terus mencari keberadaan kakaknya sampai ada yang menghentikan langkahnya karena merasa tangannya dicekal seseorang.


"Kenapa kau kemari?" tanya seseorang itu.


"Andreas!" panggil Green yang membuat Andreas lekas-lekas membawa gadis itu keluar.


"Di dalam banyak asap rokok tidak baik untuk paru-parumu!" lanjut Andreas saat mereka sudah keluar warnet.


"Kalau tidak baik kenapa kau mengonsumsinya?" tanya Green sambil menelisik pakaian Andreas yang memakai seragam sekolah. "Bukankah kau di skors?"


Andreas enggan menjawab, dia membawa Green ke sebuah Kafe di ujung jalan supaya tidak ada paparazi sekolah yang melapor.


"Kenapa kau bolos?" tanya Andreas saat dirasa mereka sudah di tempat yang aman.


"Aku tidak bolos tapi mencari kak Red, aku kira kakak ku ada di warnet itu!" jawab Green sambil menyedot minuman di gelasnya.


"Red tidak pernah ke warnet itu! Lebih baik kau kembali ke sekolah sana!" ucap Andreas setengah mengusir.


"Aku tidak mau kembali sebelum menemukan kakak ku! Tidak biasanya kak Red bolos sekolah, itu pasti karena bergaul denganmu!" tuduh Green yang membuat Andreas merasa emosi.

__ADS_1


"Sepertinya kau memang minta mulutmu itu disumpal bibirku, ya? Baiklah, kau yang meminta!" Andreas berdiri dari duduknya dan mendekati Green di tempat duduknya. Pemuda itu mencengkram pegangan kursi membuat Green tidak bisa berkutik.


"Andreas, kenapa kau suka main sumpal-sumpalan! Aku tidak mau... " Green berusaha memberontak saat wajah Andreas mendekat padanya dan dia merasa jantungnya berdegup sangat kencang. "Aduh aku terkena serangan jantung padahal tidak merokok! Tolong..."


__ADS_2