Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 43


__ADS_3

Sesampainya di hotel semua kembali ke kamarnya masing-masing. Ketika Dyxie baru akan masuk ke kamarnya seorang cewek menghampirinya. Cewek yang sama sekali tidak ingin dia lihat batang hidungnya.


"Ngapain Lo?" tanya Aura dengan ketus.


"Gak usah nyari gara-gara Lo!" imbuh Keyla sama ketusnya.


"Gue gak ada urusan sama kalian. Gak usah ikut campur!" jawab cewek itu dengan nada sinis.


Aura dan Keyla hendak maju menghalangi Aveline, tapi Dyxie mengisyaratkan untuk membiarkan cewek itu melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Aveline maju mendekat Dyxie, senyum angkuh ada di bibirnya. Sedangkan Dyxie hanya menatap cewek di depannya tersebut dengan tenang. Tetapi jangan salah, di otaknya sudah menyiapkan jawaban pedas untuk Aveline.


"Gimana? Enak gak dicuekin Raksha?" tanya Aveline nada mengejek.


Dyxie mengerutkan keningnya kemudian tertawa. Seolah-olah hal yang dikatakan Aveline adalah sesuatu yang lucu.


"Gimana rasanya dibenci Raksha bertahun-tahun? Enak kan?" tanya Dyxie balik.


"Dia gak pernah benci gue! Karena dia pacar gue!" jawab Aveline dengan pedenya.


"Iya dalam khayalan Lo." timpal Dyxie sambil senyum mengejek.


"Gue sahabatnya! Lo apa? Bukan siapa-siapanya!"


Dyxie memutar bola matanya malas. Dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang yang mukanya setebal Tembok Raksasa di Cina. Setelah membuat sahabatnya bunuh diri, dia masih mengaku sahabat? Gila!


"Sinting!" ucap Dyxie.


"Apa Lo bilang?!" cewek itu sudah mengangkat tangannya untuk menampar Dyxie.


Grep. Tidak semudah itu, Dyxie lebih sigap menahan tangan Aveline.


"Kangen dipelintir tangan Lo?" tanya Dyxie dengan nada dingin.


Aveline langsung keringat dingin mendapat tatapan Dyxie yang seperti itu. Teringat lagi ketika Dyxie membalas bullyan yang dia lakukan.


"Jangan mimpi jadi sahabat atau pacar Raksha! Sadar goblok! Lo udah bunuh sahabat mereka masih ngaku jadi sahabat mereka? Tebal banget muka Lo." kata Dyxie meroasting Aveline.


"Lepasin tangan gue!"


Dyxie tersenyum miring, bukannya melepaskan tangan Aveline. Dyxie malah menamparkan tangan yang akan digunakan menamparnya itu ke pipi Aveline.


"Oops, bukan gue ya yang nampar." kata Dyxie setelah melakukan hal tersebut.


"Lihat aja Lo! Pasti gue balas! Lo harusnya kenal keluarga Agatha!" ucap Aveline setelah itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Keluarga Agatha? Siapa?" tanya Aura mencerna perkataan Aveline barusan.


"Jangan disini, di dalam aja." kata Dyxie.

__ADS_1


Ketiga sahabat tersebut masuk, dan dikejutkan seseorang yang ada di dalam kamar mereka tersebut.


"Lah anjg ngapain Lo disini?!" tanya Aura ngegas.


"Dasar adik gak punya sopan santun." cetus Shaka menanggapi adiknya.


"Dahlah, ada untungnya juga Lo kesini. Ada yang mau gue tanyain." kata Dyxie sambil duduk di sofa.


Shaka tersenyum tipis, seolah cowok itu sudah tahu apa yang akan ditanyakan adik sepupunya tersebut. Ya bukan seolah. Dia memang sudah tahu apa yang akan dibahas sepupunya itu.


"Keluarga Agatha. Kedengarannya gak asing." ujar Dyxie.


"Hm, nama keluarga itu sangat familiar." sahut Aura.


"Bukannya itu marga Viola?" tanya Keyla.


Semua terkejut mendengar itu kecuali Shaka.


"Artinya mereka bersaudara?" tanya Aura.


Kini tiga pasang mata menatap ke arah Shaka penuh pertanyaan. Mereka yakin cowok didepannya ini pasti tahu sesuatu.


"Keluarga Agatha adalah musuh keluarga Lleonara." tutur Shaka.


Semua langsung cengo mendengarnya, pantas saja nama keluarga itu tidak asing. Itu ada di daftar musuh keluarga mereka. Shaka mengubah ekspresinya menjadi serius, kemudian cowok itu mengeluarkan empat foto seseorang.


"Mereka kan..." Keyla tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat nama yang tertera pada foto-foto tersebut.


Aveline Hannie Agatha


Wanda Zoe Agatha


Martin Van Agatha


"Mereka semua bermarga Agatha?!" Dyxie tidak menyadari hal ini. Artinya selama ini mereka dikelilingi musuh.


"Tapi siapa Martin?" tanya Keyla.


"Dia pewaris keluarga Agatha. Keberadaannya masih disembunyikan keluarganya." jawab Shaka. "Kalian harus hati-hati dengannya. Diantara semua dia yang paling berbahaya." ucap Shaka menjelaskan.


Ketiganya mengangguk.


"Sadar nggak sih kita lama gak lihat Bu Wanda?" tanya Aura.


"Sejak dia ada masalah sama Lo bukan sih?" tanya Keyla yang ditujukan kepada Dyxie.


"Bukan, dia menghilang setelah lihat gue." jawab Shaka sambil tersenyum.


"Maksud Lo?"

__ADS_1


"Lupain aja, intinya mulai sekarang Lo harus hati-hati." kata Shaka kemudian beranjak dari duduknya.


"Jelasin anjg!" Aura sudah kehilangan kesabarannya dengan kakaknya satu ini.


"Gue punya nama tolol!" ucap Shaka sambil menyentil kening Aura.


"Kalau gue jelasin, bakal panjang. Sekarang..." Shaka menggantung kalimatnya. Cowok itu menatap Dyxie. "Siap-siap gih, katanya mau nge-date." ucap Shaka. Dyxie yang paham maksud Shaka pipinya langsung bersemu merah. Sedangkan Aura dan Keyla sudah senyam-senyum sejak tadi karena tahu tentang rencana Raksha nanti malam.


"Ngaco Lo!"


Shaka tertawa kemudian pergi dari sana. Setelah Shaka pergi, untuk menghindari ledekan Aura dan Keyla Dyxie segera masuk kamar mandi.


*


Sekitar pukul 20.00 KST. Dyxie masih memikirkan perkataan Raksha di bus tadi yang mengajaknya jalan-jalan. Berkali-kali dia melihat jam di hpnya. Sudah jam 20.00 KST tapi Raksha belum datang. Pikirnya Raksha tidak jadi mengajak jalan-jalan.


"Nungguin notifikasi siapa sih?" tanya Aura yang melihat Dyxie bolak-balik melihat hpnya.


"Kepo!"


"Palingan juga nungguin notif dari pak ketos." sahut Keyla meledek Dyxie.


"Ciee pak ketos." Aura ikut meledek Dyxie.


"Gak tahu! Gak tahu!" cewek itu kesal karena di ledek terus-menerus berakhir menutupi telinganya menggunakan bantal.


Setelah beberapa saat, Dyxie tidak mendengar suara ledekan dari sahabatnya dia merasa aneh. Cewek itu membuka bantal yang menutupi kepalanya dan, langsung dikejutkan dengan wajah Raksha yang berada tepat di depannya.


"Anjr jurig!" ceplos Dyxie yang kaget.


"Sialan, ganteng gini dikatain jurig."


"Ya salah Lo sendiri tiba-tiba nongol." kata Dyxie sambil menoyor kepala Raksha. "Ngapain Lo kesini?" tanya Dyxie dengan nada tidak suka. Padahal dia tadi menunggu cowok itu.


"Katanya mau jalan-jalan ke kota semut?"


"Gak! Malas gue! Kita mau rebahan aja ya kan?" tanya Dyxie kepada Aura dan Keyla berharap sahabatnya itu bisa di ajak kerjasama.


Tapi tidak bisa, Aura dan Keyla lebih dahulu diberitahu rencana Raksha.


"Gak, kita mau jalan-jalan kok." ucap Aura.


"Yaudah gue ikut kalian."


"Kita mau cari oppa-oppa, gak usah ikut Lo! PDKT aja sana sama Raksha." cetus Keyla.


"Aish, sialan."


Sekarang mau tidak mau, Dyxie harus ikut dengan Raksha. Dia tidak mau hanya sendirian di kamar hotel. Terpaksa cewek itu ikut dengan Raksha.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2