
Di detik Blue ambruk ke lantai, di detik itu juga semua yang dimanipulasi Blue sebelumnya terbangun.
Dokter dan para perawat yang terbangun mendapati Blue yang tergeletak di lantai. Para perawat mencoba membangunkan Blue sementara dokter sendiri memeriksa keadaan Red.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Tubuh pasien jadi utuh seperti sedia kala bahkan sayatan pisau bedah sudah tertutup rapat!" gumam dokter keheranan.
Tiba-tiba pintu ruangan operasi itu dibuka paksa, Naku menyembul masuk dan langsung berlari saat melihat istrinya sedang ditangani oleh para perawat.
"Blue..." Naku meraih tengkuk istrinya. "Wake up!"
"Apa Tuan keluarganya?" tanya salah satu perawat.
"Aku suaminya!" jawab Naku sambil menepuk-nepuk pipi Blue yang dingin.
"Maaf Tuan kami tidak menemukan denyut nadinya lagi!"
Naku memeluk tubuh Blue yang pucat dengan menangis pilu. "Jangan tinggalkan aku, Blue! Don't go..."
*****
Hari itu keluarga Atmadja dalam suasana berkabung, anggota keluarga mereka pergi dengan sebuah pengorbanan.
__ADS_1
Di pemakaman keluarga itu, semua menangis saat peti mati sudah dikubur ke dalam tanah.
"Mommy..." teriakan dari Pink dan Green memekik di telinga semua anggota keluarga.
Black menatap kosong makam mommy Blue yang baru saja ditutup tanah. Pemuda itu tidak mampu berucap apapun, hanya air mata yang membasahi pipinya.
Jangan tanya Naku, dia yang paling kehilangan sosok istrinya yang sudah menemani dirinya dari usia remaja. Menyesal, hanya itu yang memenuhi relung hatinya.
Arse dan Bianca juga merasa kehilangan menantu yang paling unik diantara yang lainnya. Keduanya mencoba menghibur cucu-cucunya. Mereka membawa Black, Pink dan Green untuk tinggal di mansion mereka untuk sementara.
"Ayo kita pulang!" ajak Arse dan Bianca pada ketiga cucunya itu.
"Tapi mommy akan sendirian, Opa, Oma!"
"Aku akan menemui Pink dan Green. Apa kau mau ikut?" tanya Nada pada Kika.
"Aku akan menyusul nanti!" sahut Kika.
Perhatian Kika tertuju pada Red yang terduduk sendirian di sebuah bangku di bawah pohon besar yang ada di pemakaman. Kika masih tidak percaya Red bisa sembuh dengan begitu cepat, apa ini semua ada hubungannya dengan mommy Blue?
Kika memutuskan untuk berbicara pada Red, gadis itu mendatangi Red dan ikut duduk di samping pemuda itu.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, Kika memeluk Red di sana. Dan Red tidak menolak tapi tidak juga membalas pelukan Kika.
"Ini semua gara-gara aku!" ucap Red membuka suara.
"Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan salahmu Red!" sahut Kika.
"Kau tidak mengerti Kika, seharusnya aku yang ada di pemakaman itu tapi mommy Blue mengorbankan semua demi aku!" Red mulai berkaca-baca.
Kika yang tidak mengerti hanya bisa diam, tidak membalas lagi. Gadis itu menggenggam tangan Red supaya tenang.
"Apapun itu, aku akan selalu bersamamu!" ucapnya.
Tapi tanpa dia duga, Red melepaskan tangannya dari genggaman Kika.
"Pergilah, Kika! Kita akhiri sampai di sini, aku akan merelakanmu bersama Ed!" ucap Red yang membuat hati Kika sakit luar biasa.
"Red..." bibir Kika bergetar tak mampu meneruskan kalimatnya.
"Sorry Kika. Aku bukan perfect boyfriendmu!" tambah Red yang langsung berdiri meninggalkan Kika begitu saja.
Kika hanya bisa menangis melihat punggung Red yang semakin menjauhinya.
__ADS_1
"Aku belum bilang I love you padamu, Red!"