
Moon Club
Andreas duduk di salah satu table bersama teman-teman yang usianya jauh lebih tua darinya. Kalau circle pertemanan sekolahnya, biasanya mereka hanya merokok saja tapi circle-nya sekarang sudah naik level. Mereka sudah menegak minuman beralkohol.
"Come on, Dude!"
"Jangan bilang kau anak mommy!"
Teman-teman Andreas mengompori pemuda itu supaya mau minum bersama mereka. Dan Andreas terpancing, dia meraih satu gelas yang sudah terisi cairan merah beralkohol.
Tapi saat gelas itu sudah menyentuh bibir Andreas tiba-tiba gelasnya direbut oleh seseorang.
"Green!" teriak Andreas memanggil nama gadis yang lancang mengambil minumannya.
"Apa kau gila! Kita masih sekolah menengah tapi kau sudah minum cairan neraka ini!" teriak Green tak mau kalah.
"Jangan campuri urusanku, pergi sana!" usir Andreas dengan nada arogan seperti biasanya.
"Urusanmu jadi urusanku sekarang!" tegas Green yang membuat teman-teman Andreas bersorak.
Andreas merasa tidak nyaman, akhirnya dia menarik tangan Green dan membawa gadis itu menjauh dari table-nya. Sementara Pink dan Felix mengawasi keduanya dari kejauhan.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Felix yang matanya terus melihat kembaran pacarnya.
__ADS_1
"Green bisa menjaga diri sendiri, bagaimana kalau kita menari di lantai dansa!" sahut Pink yang merasa ingin mencoba sesuatu yang baru karena ini untuk pertama kalinya dia datang ke club malam.
"Sebaiknya kita mengikuti Green, Babe!" tolak Felix yang merasa bertanggung jawab.
"Sekali saja, kalau di pikir-pikir ini bisa jadi kencan pertama kita karena selama ini kita selalu curi-curi waktu!" Pink mulai merengek membuat Felix tak kuasa untuk menolak lagi.
Mereka akhirnya menuju lantai dansa dan menari berdua di sana, sementara Andreas membawa Green ke salah satu ruangan pribadi di club itu.
"Kenapa kita ke sini? Ayo kita pulang saja!" ajak Green sembari berusaha membuka pintu yang kuncinya sudah dilepas Andreas. "Andreas buka pintunya!"
Andreas berdecih karena Green yang selalu ikut campur urusannya, dia akan memberi pelajaran pada gadis itu supaya berhenti mengganggunya.
"Aku tidak akan membuka pintu itu sebelum berhasil menyumpal mulutmu!" ucap Andreas yang langsung menyerang bibir Green.
"Hmmp!" Green menjerit dalam hatinya. Dia sekuat tenaga melawan tapi Andreas justru semakin memperdalam ciumannya. Bahkan pemuda itu menindih tubuhnya di atas ranjang.
Air mata Green terus mengalir membuat Andreas langsung sadar akan perbuatannya. Di detik Andreas melepas Green di detik itu juga pintu ruangan itu didobrak.
Brak!
Di ambang pintu sudah ada daddy Naku dengan wajah merah padam, sebelumnya dia sudah menyeret Pink dan Felix yang tengah asyik menari berdua. Kemudian dia mencari Green dan mendapati putri bungsunya ada di sebuah ruangan bersama seorang pria.
"Dad!" Green langsung berlari dan memeluk Naku.
__ADS_1
Naku membawa beberapa bodyguard dan meminta mereka menyeret Andreas keluar dari ruangan itu.
"Bawa anak itu ke kantor polisi!" teriak Naku penuh emosi.
Kemudian dia membawa Green pulang bersama Pink dan Felix yang sudah menunggu di mobil. Tidak ada percakapan apapun saat perjalanan, hanya isak tangis Pink dan Green yang terdengar di sana. Felix hanya bisa tertunduk dengan menahan nyeri di sekujur tubuh dan wajahnya karena dipukuli habis-habisan oleh para bodyguard sebelumnya.
"Turun kalian semua!" perintah Naku pada ketiganya saat sampai di mansion.
Mereka semua menurut, mereka masuk ke dalam mansion di mana Naku mengamuk di dalam sana. Semua barang-barang mewah pecah dan berserakan di lantai.
Penghuni mansion sampai terjaga dari tidur mereka karena mendengar suara gaduh.
"What happen?" tanya Black yang sampai di lantai bawah duluan.
Mommy Blue menyusul turun ke lantai bawah tapi langkahnya dicegah oleh Naku.
"Black, bawa mommy masuk ke kamar!" perintah Naku dengan penuh penekanan membuat Black langsung menurut dan mendekati sang mommy. "Mom, ayo naik ke atas! Daddy sepertinya marah pada Pink dan Green!"
Pink dan Green menatap mommy mereka seolah meminta bantuan karena hanya Blue yang bisa meredam kemarahan Naku.
"Ayang..." Blue ingin membuka suara tapi langsung dipotong suaminya.
"Jangan membela mereka, Blue!" tegas Naku.
__ADS_1