Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 54


__ADS_3

Sesampainya di markas, mereka melihat situasi di markas keluarga Lleonara saat ini benar-benar kacau. Hampir seperti tawuran. Tapi ini adalah puncak dari dendam leluhur mereka. Harus selesai saat ini juga. Mereka berdua langsung maju dan ikut bertarung.


Mereka tidak ragu bertarung menggunakan senjata tajam ataupun senjata api. Saling pukul, saling sayat, saling menembak.


"Kakak! Awas!" Dyxie yang melihat Shaka hampir di pukul menggunakan tongkat besi langsung melemparkan pisau yang dipegangnya kepada orang tersebut.


"Jangan lengah goblok!" teriak Dyxie.


Melihat Dyxie yang tidak memegang senjata, dua cewek menyerangnya dari belakang. Tapi Dyxie tidak tumbang begitu saja. Dia berbalik melihat siapa yang memukul dirinya dari belakang.


"Pengecut, beraninya dari belakang? Keroyokan lagi." sinis Dyxie kepada cewek tersebut.


"Lo bakal mati ditangan gue malam ini!" ucap cewek yang tak lain tak bukan adalah Aveline.


"Gara-gara Lo gue harus keluar dari sekolah!" cetus Viola.


"Coba saja." tantang Dyxie sambil tersenyum miring.


Mereka bertarung tanpa henti. Dyxie dengan Aveline dan Viola, Aura dengan Cika, sedangkan Keyla dengan Ciki. Shaka melawan Martin. Sedangkan Raksha melawan papanya sendiri. Galang yang tidak terlalu bisa beladiri bersembunyi di kegelapan menjadi sniper. Dan Oliver yang melawan Bu Wanda.


"Kalau salah satu dari kita mati malam ini gimana?" tanya Martin di sela-sela pertarungan mereka.


"Gak boleh ada dendam lagi, kuburin dengan layak." jawab Shaka.


Mereka kembali bertarung dengan senjata masing-masing. Kita ke Raksha dan papanya.


"Heh, sudah berani melawan saya kamu?!"


"Untuk apa takut kepada iblis seperti anda?" Raksha langsung mengayunkan pedang yang ia dapatkan tadi kepada papa tirinya tersebut.


"Jangan lupa jasa saya yang membesarkan kamu! Dan gara-gara kamu putra saya matin" ucap Mark sambil menahan serangan Raksha.


"Terimakasih atas jasa anda dan anak anda yang telah menyelamatkan saya. Tapi anda yang membunuh papa saya dan menyiksa mama saya." Raksha kembali menyerang pria paruh baya tersebut.


Pertempuran tidak berhenti hingga larut malam. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan salah satu dari kedua keluarga yang akan kalah. Hingga akhirnya Dyxie berhasil menumbangkan Viola.


"Bangshat!! Mati Lo!" pekik Aveline melihat Viola yang tergeletak tidak berdaya dengan perut tertikam pisau. Cewek itu langsung menikam pundak kiri Dyxie dari belakang.

__ADS_1


Darah mengucur dari pundaknya. Tapi Dyxie tidak terpengaruh sama sekali. Seolah tubuhnya kebal dengan rasa sakit. Cewek itu mengangkat tangan kanannya untuk mencabut pisau tersebut. Dan berbalik mengarahkannya ke Aveline.


"Ma-mau apa Lo?!" Aveline mundur karena dirinya tidak memegang senjata saat ini.


"Bikin Lo kayak dia." jawab Dyxie dengan santainya sambil melirik Viola.


Aveline menelan ludahnya dengan susah.


Dyxie melirik Viola yang masih tergeletak lemas. Cewek itu terlihat berusaha mencabut pisau dari perutnya. Dyxie memutar bola matanya malas melihat hal yang sangat bodoh itu.


"Jangan Lo cabut kalau masih mau hidup!" ucap Dyxie memperingati Viola yang akan mencabut pisau yang menikam perutnya.


Saat tertikam sebaiknya tidak mencabut pisau tersebut karena membantu menekan pendarahan. Dengan mencabut benda tajam tersebut bisa melukai organ lain. Kemungkinan benda tertinggal di dalam tubuh juga dapat terjadi. Luka yang lebih dalam dan mungkin sampai mengancam nyawa mungkin saja terjadi.


Viola tidak jadi mencabut pisau tersebut, entah kenapa ada sedikit kepercayaan pada yang di ucapkan Dyxie. Padahal bisa saja Dyxie berbohong padanya.


Dyxie kembali beralih ke Aveline. Dia terus memepet Aveline sambil menodongkan pisau. Membuat cewek itu terus mundur hingga jatuh terduduk. Melihat lawannya yang sudah jatuh, Dyxie langsung menodongkan pisau tersebut ke leher Aveline . Dan mengatakan.


"Hentikan ini dan gue pastiin nyawa lo aman." ucap Dyxie dengan tatapan dingin.


"Jangan egois bego! Lihat berapa banyak orang yang mati gara-gara semua ini! Nyerah! Gak ada untungnya Lo menang! Ini dendam leluhur kita, yang sudah bertahun-tahun lamanya. Selesaikan sekarang! Jangan sampai korban lebih banyak lagi! Jangan ada dendam lagi setelah ini!" sentak Dyxie


Mendengar perkataan Dyxie, Aveline melihat sekelilingnya dan benar. Sudah banyak korban yang jatuh. Cewek itu melihat sepupunya yang sudah sangat lemas.


"BERHENTI! KELUARGA AGATHA KALAH! MUNDUR!" teriak Aveline menghentikan hal mengerikan itu.


Semua langsung berhenti bertarung. Tepat disaat Martin hampir menebas leher Shaka. Jika Aveline tidak menghentikan pertempuran itu segera mungkin Martin akan menyesal seumur hidupnya telah membunuh sahabatnya sendiri.


"BERHENTI! KIRA KALAH! BAWA ANGGOTA KITA YANG TERLUKA UNTUK DIOBATI!" teriak Aveline lagi.


Malam itu semuanya selesai. Kurang lebih ada 8 korban yang meninggal dunia. 10 orang luka berat dan yang lainnya luka-luka ringan. Jika itu terjadi di area terbuka pasti sudah mengundang perhatian polisi. Tapi kedua keluarga tersebut menyembunyikan ini dengan baik. Area pertempuran mereka tidak pernah tercium polisi.


Jasad para korban akan dikembalikan ke keluarga masing-masing. Dan mereka semua setuju menyembunyikan semuanya dari polisi karena memang sudah sejak lama seperti itu.


"Ada yang luka?" tanya Dyxie.


"Harusnya kita yang tanya gitu ke Lo." ucap Aura melihat darah yang terus mengucur dari pundak sahabatnya.

__ADS_1


"Dasar ceroboh!" desis Raksha.


Cowok itu langsung menggendong Dyxie keluar markas dan mengendarai motornya ke rumahnya. Dia tidak membawa Dyxie ke rumah keluarga Lleonara karena pasti Mami pacarnya itu akan khawatir.


Bagaimana dengan kekacauan di markas? Anak buah Shaka yang akan membereskannya. Setelah itu markas akan ditutup untuk selama-lamanya. Akses ke sana pun juga ditutup untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Tahu kan maksudnya? Ditempat pembunuhan itu biasanya ada apa? Hihihi...


*


Sesampainya di rumahnya cowok itu sama sekali tidak membiarkan pacarnya itu untuk berjalan, dari turun motor hingga ke dalam kamar Raksha terus menggendong Dyxie.


"Yang luka pundak gue loh, bukan kaki gue." ucap Dyxie.


"Biarin."


Raksha Langsung sikap mengambil kotak P3K dan mengobati luka Dyxie. Memang Dyxie terkena luka tusukan tapi karena tidak terlalu parah Raksha berani mengobatinya sendiri. Cowok itu tidak perlu diragukan kemampuannya. Dia pernah mengikuti PMR waktu masih kelas 10 dulu.


"Ashh...."


"Maaf, sakit ya?" Raksha meniup pelan luka Dyxie untuk meredakan rasa sakitnya.


"Sial.." batin Dyxie. Ulah Raksha tersebut memang membuat perihnya sedikit berkurang. Tapi juga membuat dirinya meremang. Merasakan sensasi yang berbeda. Bahkan pipinya saat ini sudah bersemu merah.


Setelah selesai mengobati luka Dyxie cowok itu baru sadar jika Dyxie saat ini hanya mengenakan tank top hitam yang tipis dan sangat kontras dengan warna kulit Dyxie yang seputih susu.


"Udah?" tanya Dyxie sambil menoleh ke arah Raksha.


Raksha membatu melihat wajah Dyxie. Dalam penglihatannya wajah kekasihnya saat ini sangatlah menggoda. Wajah lelah dipenuhi keringat, bibir yang merah alami disertai pipi yang sedikit merona. Hampir saja cowok itu khilaf. Tapi ia masih bisa menahannya.


"Bersihin badan Lo dulu. Jangan sampai lukanya kena air." ucap Raksha sebelum keluar meninggalkan kamar .


"Aish.. gila otak gue kenapa sih?" gumam Dyxie sambil menangkup kedua pipinya. Setelah itu langsung lari ke kamar mandi.


...***...


...Bersambung......


...Misal author bikin cerita di lapak Oren kalian mau baca nggak?...

__ADS_1


__ADS_2