Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Benda Asing


__ADS_3

Red tersenyum jahil melihat wajah Kika yang merona karena salah tingkah melihat tubuhnya yang bertelanjang dada. Bukannya memakai baju, Red justru menarik tangan Kika supaya gadis itu masuk ke dalam kolam air panas.


"Red!" protes Kika yang sudah masuk ke dalam kolam.


Kika buru-buru memundurkan badannya supaya menjauh dari pemuda itu. Tentu saja gadis itu sangat risih apalagi baju yang dipakainya terlalu ketat dan minim.


"Aku mau pulang saja!" ucap Kika dengan nada ancaman.


"Mau pulang bagaimana? Jalan kaki?" tanya Red menyeringai.


Kika menepuk jidatnya, dia baru tersadar jika saat ini mereka berada jauh dari kota. Seketika gadis berambut panjang itu menatap Red dengan tajam.


"Kau sengaja kan melakukan ini, kalau tahu begini aku tidak akan mau berkencan denganmu! Sebelumnya kau acuh padaku bahkan dua hari penuh saat jadwal kencan kita, aku selalu menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif!" ucap Kika meluapkan isi hatinya bahkan mata gadis itu sampai berkaca-kaca. "Tapi sekarang?"


"Kau tiba-tiba membawaku ke tempat seperti ini seperti tidak bersalah! Kau menyebalkan, Red!"


Akhirnya Kika tak kuasa menahan tangisnya, dia menangis atas perlakuan Red padanya. Kika merasa Red menarik ulur hatinya.

__ADS_1


Sampai sedetik kemudian, Kika merasakan pipinya diusap. Ternyata Red sudah mendekat padanya dan berusaha menghapus air matanya.


Dua pasang mata itu beradu, cukup lama mereka saling memandang satu sama lain seolah mencurahkan kerinduan mereka. Sampai akhirnya keduanya memutuskan pandangan mereka.


"Cepat bersihkan tubuhmu! Aku tidak mau bekas Ed menempel di tubuhmu!" ucap Red kemudian.


"Oh jadi ini alasanmu membawaku ke sini?" cecar Kika yang kembali emosi.


"Menurutmu? Kalau kau tidak mau membersihkan diri, aku bisa meminta pelayan yang melakukannya! Atau..."


"Atau apa?"


Kika langsung memeluk dirinya sendiri untuk menutupi tubuh bagian depannya. "Kau gila, ya?!"


Red hanya bisa tergelak, dia sangat merindukan perdebatan-perdebatan kecil yang dia dan Kika sering lakukan.


"Cepat bersihkan!" Red mulai menuntut lagi.

__ADS_1


"Aku bisa membersihkan diri di kamar mandi!" ucap Kika dengan menyeret tubuhnya yang ingin keluar dari kolam.


Tapi saat Kika membalik badannya, dia merasakan sebuah pelukan dari belakang yang membuatnya merinding.


Red yang memeluk Kika dari belakang menopang dagunya di bahu Kika sembari berbisik. "I miss you, Beib! Kau sangat menyiksaku!"


"Kalau aku tidak mengingat janji pada daddy-ku, aku pasti tidak akan merelakanmu berjalan berdua dengan Ed!" sambungnya.


Kika masih bergeming, posisi mereka saat ini membuat jantungnya berdegup kencang sampai tenggorokannya tercekat tidak bisa mengucapkan satu patah katapun.


"Kau harus tahu, Kika. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku sangat cemburu melihatmu bersama Ed!" ungkap Red dengan jujur. Kali ini dia harus bisa merebut hati Kika, baginya satu hari saja cukup. Red masih berpegang dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


"Setelah pulang dari sini, kau harus memutuskan Ed!"


"Tapi perjanjiannya kan sebulan!" akhirnya Kika bersuara untuk membalas perkataan pemuda itu.


"Sebulan? Kau mau membuatku mati karena cemburu ya?!" bentak Red yang membuat tubuh Kika sampai berjingkat karena kaget.

__ADS_1


Red semakin mengeratkan pelukannya, membuat Kika begitu gelisah karena dia merasakan sesuatu di bawah yang mengeras dan bersentuhan dengan tubuhnya.


Awalnya Kika bingung apa itu sampai sedetik kemudian dia tersadar sebenarnya apa benda asing itu. "Cacing Alaskamu bergerak, Red! Aaaaaa......"


__ADS_2