
Keesokan harinya Raksha dan Dyxie sudah siap mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Tentunya lokasi OSN bukan di SMA Achievers. Melainkan SMA Serine, yaitu SMA tempat Shaka bersekolah.
"Baby girl.." panggil Shaka kepada Dyxie.
Seketika cewek itu berlari dan memeluk Kaka sepupunya tersebut. Meninggalkan Raksha yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
Cowok itu berdecak kesal, kemudian memalingkan pandangannya dari Dyxie dan Shaka yang berpelukan. Bahkan sesekali Shaka mengecup kening Dyxie. Raksha tahu betul jika dirinya sedang cemburu tapi tetap saja dia tidak mau mengakui perasaannya, bahkan kepada dirinya sendiri.
"Dyxie!" panggil Raksha.
"Apaan?" Dyxie melepaskan pelukannya ketika Raksha memanggil dirinya.
"Ayo cari ruangan kita!"
"Iya iya bawel!"
Dyxie mengecup pipi Shaka kemudian berlari menghampiri Raksha. Saat cewek itu sudah didekatnya Raksha dengan cepat langsung menggenggam pergelangan tangan Dyxie kemudian menariknya meninggalkan tempat tersebut.
Shaka melihat hal itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Dasar gengsian.."
Sedangkan Dyxie diantara kebingungan Raksha tiba-tiba menariknya dan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat akibat perbedaan Raksha berikut.
"Lo kenapa sih anjg?!" tanya Dyxie sambil melepaskan genggaman tangan Raksha.
"Jangan peluk cowok sembarangan!" kata Raksha dengan tatapan teduh. "Jangan cium cowok sembarangan!" imbuhnya lagi.
Dyxie cengo seketika. Telinganya salah dengar kah? Wow ada apa dengan cowok didepannya ini?
"Lo sehat?"
"Lupakan!" jawab Raksha kemudian berjalan cepat meninggalkan Dyxie.
"Tungguin woy!"
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Olimpiade di mulai. Ruangan Dyxie dan Raksha terpisah karena mereka berbeda bidang. Dyxie ada di ruang matematika. Sedangkan Raksha ada di ruang kimia. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan 30 soal adalah 180 menit.
"Dia juga ikut?" batin Raksha yang melihat Shaka ada di dalam satu ruangan dengannya. "Gue gak boleh kalah dari dia!" gumam Raksha.
*
Waktu berlalu, mereka selesai sekitar pukul 11 siang. Kemudian mereka harus menunggu sampai pukul 2 untuk melihat pengumuman pemenang OSN tersebut. Uthor tahu sih aslinya gak gitu, tapi karena ini di novel ya sesuai imajinasi kan ya.
"Gak mungkin..." lirih Raksha melihat papan pengumuman.
"Gapapa, itu sudah bagus." kata Dyxie sambil menepuk bahu Raksha yang mulai bergetar.
Ya, cowok itu tidak mendapatkan posisi pertama. Posisi pertama diraih oleh Shaka. Dan dia ada di posisi ke dua. Itu cukup membuatnya terpukul karena berarti hal yang dia lakukan tersebut tidak sempurna.
"Papa.. maaf..." gumam cowok itu. Bahkan matanya sudah memerah tapi dia tahan sebisanya agar tidak menangis didepan Dyxie. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika papanya tahu akan hal ini.
"Hei, gue bahkan cuma dapat juara harapan 2 biasa aja loh." ucap Dyxie. Jujur saja cewek itu tidak tega melihat Raksha seperti itu.
"Gue ngecewain papa mama.."
Dia tidak tahan lagi, cowok itu berjalan cepat menuju tempat parkir dan segera mengendarai motornya dengan sangat cepat meninggalkan sekolahan tersebut.
"Dia butuh waktu. Biarin dia sendiri."
"Lo jahat! Kenapa Lo gak ngalah aja sih?!" tanya Dyxie dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lah? Kok jadi gue?"
"Ya kan lo--" Dyxie ingin menjawab pertanyaan Shaka. Tapi Shaka memotong kalimatnya.
"Dengarin gue, dia harus belajar menerima dirinya apa adanya. Dia gak harus sempurna. Dia harus tahu di atas langit masih ada langit." kata Shaka yang membuat Dyxie tertegun.
"Tapi kak--" dan lagi-lagi Shaka memotong perkataan Dyxie.
"Percaya sama gue, nanti dia pasti telepon Lo." kata Shaka meyakinkan adik sepupunya.
__ADS_1
"Sekarang Lo pulang sama gue."
Akhirnya Dyxie menurut kepada Shaka, walaupun hati kecilnya ingin mencari Raksha. Ia mencoba berpikir positif. Lagipula dia siapa? Dia juga bukan siapa-siapa Raksha. Kenyataan yang cukup pahit sih.
Sedangkan Raksha, cowok itu menangis sendirian di tepi danau. Keadaannya sama persis seperti saat dia melihat Viola membully seseorang dulu. Wajahnya pucat, tangannya gemetar, keringat dingin yang bercucuran. Yap, panic attack yang dideritanya kambuh.
Cowok itu menangis sambil memeluk lututnya dengan erat. Terngiang-ngiang suara cambukan yang diberikan papanya ketika nilainya merosot dahulu.
"Gak.. gak mau.. Raksha gak mau.." lirih cowok itu.
Sekitar 20 menit Raksha menangis sendirian disana. Setelah sudah tenang cowok itu menatap air danau yang jernih. Raksha memutuskan untuk tetap disana, bahkan hingga matahari sudah tenggelam.
Dia sendirian disana, dan hanya ditemani lampu taman yang ada di danau tersebut. Tempat ini selalu menjadi tempat favorit Raksha untuk menenangkan diri ketika panic attack-nya kambuh karena disini tidak banyak pengunjungnya. Ingin rasanya cowok itu menghubungi Dyxie dan menyuruhnya menemani dirinya. Tapi dia tahu lokasi danau ini dan rumah Dyxie sangat jauh. Karena danau ini terletak di pinggiran kota.
Drrttt... Drrttt... Handphone cowok itu berdering. Tertera nama Pembuat Onar di layar handphone tersebut. Tapi Raksha hanya mendiamkannya hingga telepon tersebut mati.
Gadis itu tidak menyerah, sampai beberapa kali telepon Dyxie diabaikan Raksha. Tapi cewek itu tetap gigih menelepon. Hingga akhirnya Raksha mengangkat panggilan tersebut.
"Lo kemana aja?! Kenapa Lo gak angkat telepon gue? Lo baik-baik aja kan?!" Dyxie langsung memberikan pertanyaan saat Raksha baru saja mengangkat teleponnya.
Mendengar suara Dyxie membuat hati Raksha seketika tenang. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Lo bisa kesini nggak?" tanya Raksha lirih. Suaranya terdengar serak karena habis menangis.
"Kemana? Gue kesana sekarang!" jawab Dyxie.
"Danau yang ada di pinggiran kota."
"Tetap disana, gue kesana sekarang." kata Dyxie kemudian langsung menutup teleponnya.
Raksha menatap layar teleponnya dengan bibir yang tersenyum. Tapi hatinya masih sesak. Dia tidak terbiasa dengan kekalahan. Dia dituntut dan menuntut dirinya sendiri untuk selalu sempurna. Jika gagal dia akan di hukum oleh papanya dengan di cambuk, atau yang terburuk tidak boleh makan dan minum selama 2 hari.
"Benar kata mereka.." gumam Raksha sambil menatap layar handphonenya yang sudah mati. "Gue suka dia tapi gue gengsi buat ngakuin perasaan itu. Bahkan kepada diri gue sendiri." sambungnya kemudian.
Cowok itu menatap langit yang cerah, bintang-bintang bertaburan di atas sana. "Tuhan, apa saya boleh menyukainya?" tanya Raksha sambil menatap ke langit malam. Dia tahu papanya pasti tidak akan setuju jika tahu dia menyukai cewek pembuat onar yang sering dikeluarkan dari sekolah.
Ancaman papanya adalah jika pasangan yang dipilih Raksha tidak sesuai dengan kriteria yang diberikan papanya maka gadis itu akan menderita selama bersama Raksha. Makanya Raksha tidak berani mencintai siapapun, dia takut gara-gara dirinya gadis yang dia cintai terluka. Itu juga salah satu mengapa Raksha menyangkal perasaan terhadap Dyxie. "Papa kejam.." lirihnya..
__ADS_1
...***...
...Bersambung......