Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 38


__ADS_3

Pada pukul 8, Ujian Akhir Semester 1 di SMA Achievers dilaksanakan. Oh iya sistem pembelajaran yang sama juga berlaku di SMA tempat Shaka belajar. Jadi saat ini dia juga ujian.


"Gila soalnya susah bener anjr." gumam Aura.


"Shhtt.. No 1 apaan?" tanya Keyla ke Dyxie dengan berbisik.


Dyxie memberikan kode menggunakan ketukan kuku di meja sebanyak 3 kali. Jadi jika Dyxie mengetuk 1 kali jawabannya a, mengetuk 2 kali berarti b, 3 kali artinya c, dan jika mengetuk 4 kali berarti jawabannya d.


Tiga bersahabat itu sangat kompak jika menyontek. Cara yang mereka gunakan ada aja. Melalui ketukan meja, gerakan tangan, bahkan garuk-garuk di muka pun bisa jadi kode. Terkadang mereka menuliskan contekan paha mereka, atau di sela-sela jari. Dan ya, tidak pernah ketahuan, hasilnya pun selalu bagus. Mereka bertiga selalu masuk posisi 5 besar di kelas. Dan untuk Dyxie masuk 10 besar ranking paralel di SMA tersebut.


Waktu berlalu sesi pertama ujian siang hari sudah selesai pada pukul 2 siang. Para siswa di beri waktu selama 3 jam untuk belajar dan istirahat bersih-bersih dan lain sebagainya. Ujian sesi kedua akan dimulai pukul 17.00.


Saat ini Dyxie Aura dan Keyla sedang makan siang di kantin sekolah. Suasananya tidak terlalu ramai. Karena kebanyakan murid memilih mencari makan di luar, ada juga yang memilih pulang dan datang lagi saat jam ujian dimulai.


"Hari ini berapa mata pelajaran sih?" tanya Keyla sambil menikmati makanannya.


"6 mata pelajaran, tadi udah 3. Jadi sisa 3 lagi." jawab Aura..


Sedangkan Dyxie sejak tadi hanya memainkan makanannya sambil senyum-senyum sendiri sejak tadi. Entah apa yang cewek itu pikirkan.


"Heh! Jangan bengong! Kesambet tahu rasa!" celetuk Aura sambil menjitak kening Dyxie.


"Hish, ganggu orang aja."


"Mikirin apaan sih? Sampai senyum-senyum gitu?"


"Pelukan tuh emang harus ada hubungan ya!" tanya Dyxie tiba-tiba.


Aura dan Keyla langsung saling lempar pandangan. Kemudian dengan kompaknya bertanya. "Lo pelukan sama siapa?" karena gak mungkin kalau cuma pelukan sama Shaka, Dyxie nanya gini.


"Gak. Lupain aja." Cewek itu langsung memakan makanannya.


Aura dan Keyla tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Nih dengarin gue. Buat sebagian orang kalau melakukan kontak fisik itu harus ada hubungan yang jelas. Misalnya saudara, sahabat, atau pacar." kata Aura sambil memainkan alisnya naik turun.


"Kalau misal si A meluk si B, trs pas udah selesai pelukan. Si A minta maaf ke si B karena dia bukan siapa-siapa si B. Itu gimana?" tanya Dyxie lagi.


"Itu si B yang gak peka!" celetuk Keyla sambil menyedot teh poci.


"Gak peka? Gimana?" Dyxie masih juga belum paham. Cewek itu terlihat antusias mendengarkan penjelasan sahabatnya.

__ADS_1


"Ya, si A suka sama si B. Si A ngomong gitu ngode si B." jelas Keyla. Cewek suhunya perdrakoran itu sangat paham dengan masalah yang seperti ini.


"Ngaku Lo, si A itu Raksha si B itu Lo kan?" tanya Aura dengan senyum jahil meledek Dyxie.


"Nggak tuh, sok tahu!"


"Gengsi aja terus digedein." ucap Keyla meledek Dyxie.


"Nah, di embat orang tahu rasa." sahut Aura yang juga ikut-ikutan meledek Dyxie.


"Diam Lo, noh urus Abang Lo. Bawa balik numpang di rumah orang mulu." ceplos Dyxie langsung di sambut dengan tawa kedua sahabatnya.


Memang sih kalimat Dyxie barusan terkesan kasar. Tapi mereka sudah hapal sifat satu sama lain. Mereka tidak akan memasukkan ke hati kalimat pedas yang saling di ucapkan. Karena mereka tahu itu hanyalah sebuah candaan.


Ditengah-tengah candaan mereka bertiga. Seorang cewek tiba-tiba datang dan menyiram kepala Dyxie dengan dua gelas jus jeruk sekaligus.


"Maksud Lo apaan anjeng!" bentak Aura sambil menggebrak meja kantin.


Mendengar suara Aura yang amat keras, seluruh murid yang sedang makan di kantin langsung menatap ke arah mereka.


"Dia yang cari gara-gara sama gue." jawab cewek itu.


"Minggir kalian! Gak usah ikut campur!"


Aura dan Keyla sudah hampir melayangkan pukulan mereka ke wajah Aveline, tapi suara dingin Dyxie menghentikan mereka. Nada suara itu sudah lama tidak mereka dengar sejak kematian mama dari Aura.


Mata hitam kecoklatan milik Dyxie menatap tajam Aveline yang menyiram dirinya dengan jus jeruk tadi. Cewek itu bangkit dari duduknya sambil memegang semangkuk soto panas yang dia makan.


Dyxie maju terus mendekati Aveline hingga jarak mereka terkikis. Bahkan saat punggung Aveline sudah membentur meja dan tidak bisa mundur lagi, Dyxie tetap maju.


"Jangan Lo kira karena gue diam, gue gak berani ngelawan Lo." ucap Dyxie dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Gue gak takut sama Lo! Jangan dekati Raksha! Dia punya gue!"


Byurrr.


"Akhhh!!"


Dyxie menyiramkan soto panas ke atas kepala Aveline. Kemudian cewek itu memberi kode Aura untuk memberikan ice lemon tea miliknya. Dan menyiramkannya lagi ke kepala Aveline.


"Bangshat!! Gue bilangin ke Raksha!"

__ADS_1


"Ngadu aja terus, gue gak takut!" jawab Dyxie.


Tangan kanan Dyxie meraih es kopi yang entah milik siapa, dan menuangkannya lagi ke atas kepala Aveline hingga baju cewek itu sangatlah kotor.


"Dengar gue baik-baik kalau telinga Lo masih berfungsi!" kata Dyxie sambil mencengkram dagu Aveline. "Jangan pernah cari gara-gara sama gue kalau Lo gak mau celaka!" sambungnya sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar disusul tamparan yang sangat kuat ke pipi Aveline.


"Gue pastiin Lo dapat balasan yang setimpal!" ucap Aveline dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada yang berani menolong Aveline, karena jika ikut campur pasti akan menjadi target Dyxie selanjutnya.


"Mental yupi gak usah sok keras!" balas Dyxie sambil mengacungkan jari tengahnya ke depan muka Aveline. Kemudian cewek itu berbalik hendak pergi dari sana.


Tubuh Dyxie langsung mematung melihat cowok yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Raksha..." Wajah Raksha memucat, tangannya terlihat gemetar. Matanya memerah menatap Dyxie penuh kekecewaan. Tanpa banyak berkata-kata cowok itu langsung pergi meninggalkan kantin.


"Raksha!" panggil Dyxie, dia berniat mengejar Raksha tapi ditahan Galang dan Oliver.


"Jangan kejar dia, atau hati Lo bakal sakit." kata Galang.


"Beri dia waktu." imbuh Oliver.


Dyxie menatap mereka berdua dengan mata yang sudah memerah. "Gue gak peduli, gue harus jelasin semuanya ke dia!" jawab Dyxie sambil melepaskan kedua tangannya yang dipegang Galang dan Oliver. Kemudian berlari mengejar Raksha


"Kayaknya bakal ada hujan badai." ucap Galang.


"Moga aja gak parah." sahut Oliver.


Aura dan Keyla mendekati mereka berdua. Keyla yang masih memiliki sedikit hati nurani menyarankan agar salah satu dari mereka berdua yaitu Galang atau Oliver mengantarkan Aveline ke UKS.


"Ga ada yang mau antar tuh orang ke UKS?" tanya Keyla.


"Gak! Malas ngantar cewek setan!" celetuk Galang.


Aura menghela napas, pandangannya mengikuti arah pandangan Oliver yang menatap ke arah lorong dimana Raksha dan Dyxie pergi tadi.


"Mereka bakal akur lagi kan?" tanya Aura.


"Hm, semoga aja gitu." jawab Oliver sambil tersenyum tipis kepada Aura.


...***...


...Bersambung......


...Sabar yaa yang nunggu mereka jadian:>...

__ADS_1


__ADS_2