Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 37


__ADS_3

"Raksha!!"


Raksha yang tadinya hanya diam menatap danau seketika menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya. Benar saja, gadis yang dia tunggu dari tadi saat ini berjalan ke arahnya.


Grep.


Saat sudah dengan Raksha, Dyxie tiba-tiba memeluk cowok tersebut. Memang awalnya Raksha kaget. Tapi cowok itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia memeluk Dyxie dengan erat. Air mata yang sudah berhenti kembali mengalir. Menunjukkan betapa lelahnya cowok itu.


"Lo dari mana aja?" tanya Dyxie sambil mengelus punggung Raksha. Dyxie bisa mendengar cowok itu menangis di pelukannya.


Setelah Raksha sedikit lebih tenang mereka melepaskan pelukannya.


"Sorry.." kata Raksha setelah memeluk Dyxie.


"Kenapa? Karena gue bukan siapa-siapa Lo?" tanya Dyxie menebak apa yang akan dikatakan Raksha. Ya, cowok itu pasti akan mengatakan hal yang sama seperti saat di rooftop.


"Hm."


Dyxie menghela napas. Kemudian duduk di samping Raksha. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Di danau yang gelap dan hanya ditemani beberapa lampu taman membuat cahaya disana remang-remang.


"Sesedih itu kah gak dapat nomor satu?" tanya Dyxie.


"Hm, gue ngecewain papa gue."


"Nomor dua udah bagus loh, gue aja cuma dapat juara harapan." kata Dyxie berusaha mengubah cara berpikir Raksha yang menurutnya harus selalu nomor satu untuk menjadi sempurna.


"Jangan bahas itu ya?" tanya Raksha. Dengan membicarakan dirinya yang tidak mendapatkan nomor satu, itu semakin membuatnya sedih.


"Yaudah, gue temani aja."


"Thanks." kata Raksha sambil tersenyum tipis. Tetapi matanya tetap menatap ke arah danau.


"Lo tahu gak?" tanya Dyxie tiba-tiba.


"Apa?"


Dyxie mengambil dua buah batu kerikil dan memberikan satu untuk Raksha dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Cowok itu terlihat kebingungan dengan batu kerikil ditangannya.


"Untuk apa?" tanya Raksha.


"Anggap batu kerikil ini masalah Lo, terus buang jauh-jauh sampai Lo sendiri gak bisa nemuin ini." jelas Dyxie sambil melemparkan batu kerikil tersebut ke danau.


Raksha tertawa kecil, dia tidak menyangka Dyxie percaya dengan hal-hal seperti ini. "Lo percaya beginian?"


"He'em, nenek gue yang ajarin. Semakin banyak lempar batu biasanya semakin ringan masalah di hati." kata Dyxie dengan senyum ceria.


"Lo benar-benar udah berubah, dari Dyxie yang barbar jadi cute gini." ucap Raksha sambil tersenyum menatap Dyxie.

__ADS_1


Blushh.. seketika pipi Dyxie merah merona mendengar perkataan Raksha barusan. Siapa yang gak tersipu malu jika seseorang mengatakan kita cute?


"Apaan sih?! Buruan lempar aja!" kata Dyxie sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.


"Iya.."


Sesuai yang di katakan Dyxie, Raksha menganggap batu kerikil ditangannya adalah masalah yang dia hadapi. Cowok itu melemparkan kerikil tersebut ke danau. Begitu berulang kali. Benar kata Dyxie, hati Raksha terasa lebih ringan setelah melempar batu-batu tersebut.


"Benar kan kata gue?"


Raksha hanya menanggapinya dengan mengangguk kecil.


"Lo tahu gak? Tempat ini tempat yang sering gue kunjungi pas SMP." kata Dyxie tiba-tiba.


Raksha langsung menatap Dyxie ketika mendengarnya. Pasalnya dia sendiri sering kesini bukan hanya karena sepi. Tetapi juga karena cewek yang dia sukai dulu sering main ke danau ini.


"Pas SMP gue selalu kesini kalau bolos, istirahat atau kapanpun gue pengen. Terus beberapa kali gue juga ketemu cowok yang selalu duduk di dahan pohon disana." kata Dyxie sambil menunjuk sebuah dahan pohon yang rindang.


Raksha makin terkejut mendengarnya, dia tahu bahwa anak cowok yang diceritakan Dyxie adalah dirinya. Karena memang dia sering tidur di dahan pohon itu dahulu.


"Apakah dia cewek pecicilan itu?" batin Raksha.


"Heh! Ngapain Lo lihat gue kayak gitu?"


"Lo dia kan?" tanya Raksha.


Tetapi belum sempat Dyxie berdiri dengan sempurna Raksha menarik Dyxie hingga terduduk di pangkuannya. Deg. deg. deg. jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika mata mereka bertemu.


"A-apa?"


"Gajadi." kata Raksha sambil mendorong Dyxie agar turun dari pangkuannya. Kemudian cowok itu berjalan cepat meninggalkan Dyxie yang masih terduduk.


"Lah anjeng!!!" umpat Dyxie karena kesal dengan perbuatan Raksha.


Cewek itu segera bangkit dari duduknya kemudian berlari mengejar Raksha dan menempeleng kepala Raksha. Hingga cowok itu mengaduh kesakitan.


"Rasain Lo!"


"Sialan! Sini Lo!" Raksha berniat membalas perbuatan Dyxie. Akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran di taman sekitar danau tersebut.


*


Waktu berlalu, karena sudah pukul setengah sembilan malam keduanya memutuskan untuk pulang. Mereka memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang dilewati saat berangkat tadi. Jalan yang mereka lewati ini melewati SMP tempat mereka bersekolah dahulu.


"Gak berubah banyak." gumam Dyxie melihat sekolahnya.


"Catnya berubah." sahut Raksha.

__ADS_1


"Halah cat doang."


Mereka sedikit mempercepat laju motornya. Dan terjadi lagi, mereka berkendara bersama dibawah sinar rembulan ditemani angin malam yang sejuk.


"Lain kali coba pakai sepeda mau gak?" tanya Raksha.


"Gak! Capek ngayuh." kata Dyxie menolak mentah-mentah.


Cowok itu berdecak kesal sambil memutar bola matanya dengan malas. Tapi tiba-tiba Raksha kaget Dyxie tidak ada disampingnya. Seketika cowok itu menghentikan motornya dan melihat ke belakang. Terlihat Dyxie yang diam di motor sambil melihat ke arah sawah.


"Ngapain Lo disitu?!"


"Lihat kunang-kunang!" sahut Dyxie.


Raksha kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang dilihat Dyxie. Terdapat banyak kunang-kunang yang berterbangan di atas sawah. Kelap-kelip seperti bintang. Indah sekali.


"Gue gak tahu Lo suka hal kayak gini. Gak sesuai sama jiwa pembully Lo." gumam Raksha.


"Ayo balik! Sudah malam!"


"Iya-iya bawel!"


*


Keesokan harinya di sekolah, semua disibukkan dengan buku-bukunya. Bagaimana tidak, sehari mereka akan mengerjakan ujian 5-6 mata pelajaran. Tetapi berbeda dengan Dyxie, cewek itu sama sekali tidak membuka bukunya. Dia memilih bermain handphonenya. Tapi anehnya walaupun begitu Dyxie tetap dapat nilai yang bagus hampir di semua mata pelajaran kecuali yang berbau hitung-hitungan.


"Xie xieee..." panggil Keyla.


"Apa?"


"Lo gak pengen malak orang gitu? Kangen malak orang gue." kata Keyla sambil cemberut.


"Hm, gue juga kangen malak anak orang. Nyuruh-nyuruh mereka. Kok kayaknya Lo jadi jarang ngelakuin hal yang kita lakuin dulu sih?" tanya Aura.


"Jujur aja sih, gue pengen berubah."


"What? Lo serius?!" tanya Aura dan Keyla bersamaan.


"Hm, gue mau nurut kata Shaka. Jangan nyakitin kalau gak disakiti. Dan bantu orang yang disakiti." kata Dyxie mengikuti kalimat yang diucapkan Shaka. "Dan.. karena dia benci pembully." sambung Dyxie didalam hatinya.


Dua sahabatnya manggut-manggut. "Gue setuju sih. Kayaknya lebih seru jadi pahlawan ketimbang penjahatnya." kata Keyla yang setuju dengan Dyxie.


"Hm, kayaknya emang udah saatnya kita berubah." imbuh Aura.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2