Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Pacaran Patas


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Pink saat kembali berkumpul dengan ketiga gadis yang baru saja menjalankan misi mak comblang.


Green membusungkan badannya. "Tentu saja beres, Kak!"


"Tapi apa tidak apa-apa, Ed bersama dengan Jessie? Kita tahu kan Jessie seperti apa," ungkap Nada yang masih tidak setuju.


"Kau pikir, kami mau! Itu karena amanat dari mommy Blue! Dan itu semua demi Kika!"


Sontak membuat Kika jadi salah tingkah, dia menelan ludahnya beberapa kali karena ketiga teman barunya itu menatapnya.


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba mommy kalian yang mendatangi rumahku!" ucap Kika berusaha membela diri.


"Sudahlah, Kak. Mommy kan memang seperti itu, selama ini insting mommy juga kuat. Mungkin Kika memang gadis baik-baik!" Green berusaha membujuk Pink di sana.


Pink memutar bola matanya malas. "Baiklah, kau lulus jadi kakak ipar kami!"


Kakak ipar? Apa-apaan ini?


Kika semakin dibuat bingung dengan keadaan, sepertinya pulang sekolah nanti dia harus memperjelas semuanya pada Red.


Saat bell masuk, keempat gadis itu segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Sebelum duduk di bangkunya, Kika sempat melirik Red yang tempat duduknya ada di sampingnya.


Pemuda itu tampak duduk tenang dan acuh padanya tapi saat pelajaran dimulai Red diam-diam melirik ke arah Kika.


Saat itu Kika tidak sengaja menjatuhkan pulpen dan otomatis gadis itu mengambil pulpen yang terjatuh di lantai. Saat mengambil pulpen itu, Kika menyelipkan rambut panjangnya di telinganya. Memang tampaknya biasa saja tapi tidak bagi Red.

__ADS_1


Red merasakan waktu berputar sangat lambat, adegan Kika menyelipkan rambut di telinga itu bagai adegan slow motion. Jantung Red berdebar kencang saat itu juga.


"Gadis penggoda!" teriak Red tanpa sadar yang membuat seisi kelas menatap padanya.


Guru pengajar yang tengah menerangkan materi menjadi gusar. Tidak biasanya Red yang tenang seperti itu.


"Ada apa Red?" tanya guru pengajar menahan emosinya.


Red menunjuk Kika dengan jari telunjuknya. "Gadis itu mau menggodaku, Pak! Dia bergaya yang membuat jantungku berdebar seperti tersengat listrik jutaan volt!"


Suasana yang sebelumnya tegang menjadi gaduh karena seisi kelas tertawa mendengar perkataan Red itu.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Red menjadi kesal sendiri karena ditertawakan.


Guru pengajar yang tadinya emosi sekarang jadi mengulum senyumnya karena merasa anak muridnya yang jenius itu jadi bodoh sekarang.


Red mengangguk cepat. "Ini sangat aneh, aku seperti kena hipnotis!"


"Hipnotis apaan?" pekik Kika yang tidak terima. "Aku hanya mengambil pulpenku yang jatuh!"


"Iya itu masalahnya! Kenapa kau begitu cantik saat melakukannya!" ungkap Red tanpa sadar yang membuat seisi kelas tambah bersorak.


"Cie... Cie... Red bucin!!"


Menyadari itu, Red langsung berdehem kuat dan memasang gaya coolnya lagi seakan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Hormon remaja memang meresahkan!" gumam guru pengajar yang akhirnya melanjutkan materinya.


Keadaan kembali kondusif tapi antara Red dan Kika tidak fokus setelah kejadian beberapa menit sebelumnya. Keduanya melirik secara bersamaan saat tatapan mereka beradu, keduanya langsung membuang wajah mereka.


"Sial! Ini pasti di dalam singkong goreng gadis itu mengandung banyak zat aneh yang membuatku seperti sekarang!" gerutu Red dalam hatinya.


Saat bell pulang sekolah berbunyi, Red tidak bisa menahan diri lagi. Dia segera menarik Kika ke atap sekolah karena dia ingin bicara berdua dengan gadis itu.


"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Kika cemas.


"Kenapa kau bilang? Setelah kau membuatku seperti ini, kau bilang kenapa?"


"Seperti ini yang seperti apa?"


"Ya seperti ini!"


Kika semakin tidak mengerti, matanya menelisik wajah tampan Red yang membuat jantungnya juga berdebar. Gara-gara perkataan mommy Blue yang mengatakan jika Red adalah jodohnya membuat pikiran gadis itu tidak bisa berpikir jernih.


"Kika..."


Suara Red kali ini tampak lembut saat memanggilnya membuat Kika memberanikan diri menatap mata Red yang tajam.


"Kita pacaran aja yuk!"


"Aku tidak biasanya menembak cewek yang baru aku kenal begini, biasanya aku sangat pemilih, kriteria pacarku itu..."

__ADS_1


Red mulai menyombongkan dirinya lagi dan Kika tidak mau mendengar itu karena akan membuatnya tambah suka pada Red, dengan berani Kika menutup mulut Red memakai satu tangannya.


"Cukup, Red! Kita pacaran patas sekarang!"


__ADS_2