Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Khilaf dan Tengil


__ADS_3

Atas kesepakatan bersama akhirnya Kika memutuskan untuk membungkus makanan di warteg dan membawanya pulang. Dia menolak walaupun Red memaksanya untuk membeli warteg itu.


"Aku tidak bercanda!" ucap Red berulang kali berusaha meyakinkan Kika jika dia tidak main-main.


"Aku juga tidak bercanda Red, biarkan aku dan orang tuaku pulang. Kalau kau begini terus aku semakin malu," ungkap Kika yang mengeluarkan isi hatinya.


"Malu kenapa?" tanya Red dibuat bingung.


"Perbedaan status kita yang jauh!" jawab Kika berderai air mata.


Red menghapus air mata Kika, bersamaan dengan itu Bern datang. Red meminta Bern untuk membawa motornya sementara dirinya akan memakai mobil yang Bern pakai untuk mengantar Kika dan orang tuanya pulang.


Sesampai di rumah Kika, Herman dan Simi segera membersihkan dirinya. Sementara Red masih ada di sana untuk makan bersama dengan keluarga Kika. Dia ingin menunjukkan pada pacarnya kalau status mereka sama.


"Lihat ini ya, Beib. Aku bisa kok makan nasi sama tahu tempe," ucap Red sambil mengunyah tahu tempe itu.


Kika terkekeh melihat Red memakan tahu tempe itu, rasanya sangat aneh. Bahkan makan siang di sekolah mereka saja tampak berkelas.


Sekarang Kika yakin jika Red memang jodohnya karena pemuda itu bisa menerima dirinya apa adanya. Mereka juga seperti memiliki koneksi aneh seakan sudah saling mengenal sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Bapak Ibu membuat usaha saja?" tawar Red pada orang tua Kika. "Kalau Bapak Ibu merasa tidak enak, anggap saja modal yang saya berikan adalah hutang!"


Herman dan Simi tampak berpikir sejenak, tidak selamanya juga mereka akan bekerja seperti itu bukan. Sepertinya tawaran Red memang lebih baik untuk mengubah kehidupan keluarga mereka.


"Baiklah, Bapak akan anggap sebagai hutang," jawab Herman yang menerima tawaran Red.


Red tersenyum puas, dia bisa saja membelikan keluarga Kika rumah dan memberi mereka uang tanpa harus bekerja tapi dia tahu tipikal Herman yang menjunjung harga dirinya. Jadi, lebih baik Red memberikan penawaran yang pasti diterima oleh mereka.


"Aku pulang dulu," pamit Red pada pacarnya.


Tapi saat itu juga tiba-tiba Kika menubruk tubuhnya dan memeluk pemuda itu.


"Terima kasih, Red," ucap Kika yang tanpa sadar semakin mengencangkan pelukannya.


*****


"Aku lelah," keluh Jessie pada Ed yang memberinya hukuman untuk menjadi panitia pensi dan sampai sekarang dia tidak bisa pulang karena pekerjaan belum selesai.


"Katanya suka dihukum," sahut Ed yang masih tampak santai dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kalau hukumannya sangat melelahkan seperti ini," keluh Jessie lagi.


"Memang ada ya hukuman itu yang enak." Ed jadi mengulum senyumnya. Tapi memang benar kata Jessie mereka sudah terlalu lama bahkan hari sudah sore. Lebih baik pekerjaan mereka dilanjutkan keesokan hari saja.


Ed akhirnya membubarkan anggota panitia pensi, sebenarnya dia butuh pelampiasan saja karena dengan banyak pekerjaan dia akan melupakan masalahnya sejenak. Tapi justru sekarang dia melibatkan panitia pensi yang tidak punya salah apa-apa.


Buktinya mereka bernafas lega saat Ed membubarkan dan meminta mereka pulang.


"Aku merasa menjadi ketua osis yang egois, masalah pribadi aku campurkan adukkan pada pekerjaan," ucap Ed bermonolog pada dirinya sendiri. Dia mengira jika dia sekarang sendirian tanpa dia sadari ternyata Jessie masih ada di sana.


"Kau ada masalah apa, Ed?" tegur Jessie.


Seketika Ed membalik badannya dan kaget mendapati Jessie ada di belakangnya.


"Astaga, aku pikir mak lampir!" ucap Ed kemudian.


"Ish, kau menyebalkan Ed!" ketus Jessie yang melangkah pergi tapi dia berhenti karena Ed berteriak padanya.


"Ada yang ketinggalan tuh," ucap Ed dengan tengilnya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Jessie.


"Jejak kakimu!"


__ADS_2