
Blue pulang dari tempat arisan dan langsung mencari suaminya berada. Dia berlarian ke ruang pribadi Naku.
"Ayang!" panggil Blue yang membuat Naku menghentikan pekerjaannya.
"Kita lanjutkan besok," ucap Naku mengakhiri panggilan video dari kliennya.
Naku merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan istrinya.
"Bagaimana?" tanya Naku saat Blue sudah berada dipelukannya.
Blue masih enggan menjawab karena memang dia tidak menikmati waktunya di perkumpulan arisan itu, dia lebih menikmati waktunya bersama dengan suaminya seperti ini. Tapi dia akan berusaha lebih keras lagi.
"Ay...," panggil Naku yang ternyata Blue tertidur di pelukannya. Begitulah Blue yang tak bisa jauh darinya.
Akhirnya dia menggendong istrinya ke kamar mereka, pasti hari ini Blue berusaha keras untuk menjadi normal. Naku mengusap rambut istrinya sebelum beranjak pergi.
Lelaki itu ingin mengecek keempat anaknya yang sedang kasmaran. Red yang sibuk merencanakan bisnis calon mertuanya, Black sibuk membuat lagu untuk calon istrinya. Pink tampak belajar sungguh-sungguh agar nilainya tidak turun karena dia ingin memenuhi janjinya pada daddy Naku. Sementara si bungsu Green berkurung diri di kamar, merayakan jika dirinya punya pacar.
"Ternyata mereka semua sudah besar," gumam Naku sambil meraih ponselnya karena ingin menghubungi keempat saudaranya yang lain.
Naku : Weekend nanti kita berkumpul di mansionku, okay!
Bima : Ada acara apa?
Juna : Aku berada di kampung Cicil sekarang!
__ADS_1
Dewa : Siapkan makanan yang banyak saja!
Naku : Merayakan Blue yang normal!
Tira : Normal seperti apa?
Naku : Blue, ikut arisan hari ini. Bukankah itu sebuah kemajuan?
Bima : Bukankah kita sudah lama tidak bertemu Silver?
Membaca itu, Naku langsung menghubungi adik perempuannya yang berada di London itu. Panggilan ketiga baru Silver menerima panggilan darinya.
"Hallo, Bang," sapa Silver di sana.
"Apa aku mengganggu?" tanya Naku.
"Baik. Bisakah weekend ini kau ke Indonesia? Bawa Flo dan Keenan juga,"
"Aku akan menanyakan jadwal Grey. Aku juga merindukan abang semua,"
"Abang tunggu, okay!"
*****
"Ming, malam ini aku akan makan malam di kamarku," ucap Green saat kepala pelayan itu menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Nona sakit?" tanya Ming mulai khawatir.
"Tidak, hanya saja aku mengerjakan tugas dan malas keluar kamar. Siapkan makanannya aku tunggu dan lebihkan porsinya karena aku ingin makan banyak," sahut Green memberi alasan.
Ming menurut saja, dia menyiapkan makanan untuk Green dan menaruhkan di atas nampan.
"Terima kasih," ucap Green membawa nampan penuh makanan itu ke kamarnya.
Beberapa menit yang lalu, Green dibuat jantungan karena Andreas yang nekat memanjat balkon kamarnya. Untuk itu, Green membuat alasan supaya bisa makan malam di kamar.
"Ish, kau pacar yang tidak punya modal," gerutu Green saat masuk dalam kamarnya.
Andreas hanya tersenyum miring karena uangnya memang habis dan kartu di blokir oleh ayahnya karena dia yang tidak pernah pulang.
"Untungnya aku punya pacar perhatian bukan, tidak mungkin kau membiarkan pacarmu ini mati kelaparan kan!" sahut Andreas mulai memasukkan makanan ke mulutnya.
Green hanya bisa geleng kepala melihat tingkah pacarnya. Setelah selesai makan, Green memberikan Andreas sebuah handuk.
"Mandilah, kau sangat bau!" ketus Green yang melihat Andreas begitu berantakan.
"Mau memandikan aku?" tanya Andreas tanpa dosa.
"Kau gila ya?! Cepat mandi sana!"
Tanpa malu sedikitpun, Andreas membuka bajunya di hadapan Green yang mana membuat wajah gadis itu memerah seperti tomat yang matang.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa jodohku menggoda iman begini ya," batin Green menjerit.