
Red yang mematikan ponselnya tidak tahu tentang keadaan saudara-saudaranya. Pemuda itu bangun pagi-pagi buta, saat membuka mata dia tersenyum miring karena melihat Kika yang tertidur di sofa.
Sebelum membangunkan gadis itu, Red memandangi wajah Kika sejenak. "Ternyata dia manis saat tidur!" batinnya.
"Beib!" panggil Red dengan mengguncang bahu pacarnya.
Merasa ada mengguncang tubuhnya, Kika terbangun dan saat membuka mata wajah tampan Red yang dia lihat.
"Ayo kita bersiap pergi!" ajak Red kemudian. "Aku akan mandi di kamarku!"
Kika mengangguk sambil mengumpulkan nyawanya kembali. Saat melihat Red keluar dari kamarnya, barulah dia beranjak ke kamar mandi.
Karena udara begitu dingin, Kika mempercepat acara mandinya. Dia memakai baju yang sudah disiapkan Red sebelumnya, setelah itu keluar dari kamar untuk mencari pacarnya.
Ternyata di lantai bawah, Red sudah menunggunya sambil berbincang dengan pelayan. Pemuda itu menerima sebuah tas yang berisi makanan untuk sarapan.
"Red!" panggil Kika.
Red menoleh ke arah pacarnya dengan sebuah senyuman manis membuat wajahnya semakin tampan di mata Kika dan jantung Kika terus berdebar kencang.
"Lama-lama aku bisa cangkok jantung karena jantungku akan cepat rusak kalau terus begini!" gerutu Kika dalam hatinya.
Red membawa Kika pergi ke puncak yang ada di dekat resort. Di pagi buta puncak itu tampak berkabut tapi tidak membuat kedua remaja itu menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
Saat sampai di puncak, Kika merasa takjub melihat negeri awan di sana.
"Ini keren!" ucap Kika kagum, matanya memutar-mutar ke segala arah.
Red terkekeh melihat wajah Kika, dia menaruh tas makanan yang dia bawa dan membuka alas untuk duduk.
"Red, bagaimana kau menemukan tempat seperti ini?" tanya Kika ikut mendudukkan diri di alas yang sudah digelar.
"Bukan aku yang menemukannya tapi Veronica!" jawab Red dengan menaikkan kedua alisnya.
"Ish, kau curang!" Kika memukul pelan lengan Red.
"Veronica memang yang menemukan tempat ini tapi aku yang membeli resort itu!" ucap Red santai sambil memakan sandwich.
"Resort yang kita buat tidur semalam sengaja aku beli untuk kencan kita!" jelas Red yang membuat mulut Kika menganga lebar dan hal itu membuat Red tambah gemas. Dia memasukkan sandwich yang ada di tangannya ke mulut Kika.
Kika mengunyah tanpa sadar, dia seakan lupa tengah pacaran dengan seorang billionare. Membeli sebuah resort mewah baginya seperti membeli kacang goreng.
"Sekarang kau tahu kan, aku begitu serius padamu! Jadi, jangan ragu padaku lagi!" ucap Red yang membuat Kika tersedak.
Buru-buru Red mengambil air minum untuk pacarnya. "Kenapa kau selalu saja ceroboh, kau harus membiasakan diri mempunyai pacar perfect seperti diriku!"
__ADS_1
Kika memutar bola matanya malas tapi dia suka Red yang begitu. Rasanya dia ingin berguling-guling di sana.
"Jadi, kau memilihku, 'kan?" tanya Red mode menuntut.
"Aku akan memberi jawabannya besok!" jawab Kika, jual mahal.
Tiba-tiba pandangan keduanya teralihkan karena Bern yang menyusul mereka di sana. Red merasa kesal karena setiap momen uwunya pasti diganggu.
"Tuan muda!" panggil Bern dengan nafas tersengal.
"Jika tidak penting, aku benar-benar akan memotong bonus bulananmu, Bern!" kesal Red.
"Ini penting, Tuan Muda!" Bern lalu bercerita tentang huru-hara yang terjadi di keluarga bosnya itu.
Kika yang juga mendengar itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sepertinya kita harus pulang, Red!" ajak Kika.
Red mengangguk setuju. Akhirnya lagi-lagi kencan mereka gagal. Mereka dengan cepat turun dan kembali ke resort untuk bersiap pulang.
"Aku akan pulang bersama Bern!" pamit Kika supaya Red tidak usah mengantarnya pulang.
Saat dia akan masuk mobil, tangannya ditarik oleh Red. Kemudian pemuda itu meraih tengkuknya dan berkata. "Only I'm your perfect boyfriend!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Red mengecup bibirnya yang membuat mata Kika terbelalak.