
"Bagaimana?" tanya Black saat turun dari panggung dan menghampiri Nada.
Mata Nada masih basah dan Black merasa menjadi lelaki yang sangat keren karena bisa membuat pacarnya tersentuh.
"Abang janji akan jadi calon suami yang baik, nanti Abang buatkan lagu lagi ya. Dede mau, 'kan?" tanya Black yang mempunyai jiwa percaya diri yang tinggi.
Nada mengangguk. "Dede mau yang menyentuh seperti tadi!"
"Iuhhhh...." Pink dan Green merasa keanehan dengan hubungan kedua sejoli itu.
"Untung Felix tidak lebay seperti itu," komentar Pink.
"Andreas juga, aku akan menemuinya dulu. Dia sudah berjanji akan mentraktir aku bakso," sahut Green kesenangan.
"Ya ampun, baru juga bakso udah seneng minta ampun gitu," ucap Pink yang tak habis pikir.
Pink lalu mengajak Kika bersiap untuk pulang saja. "Ayo Kika pulang saja, aku mau ke perusahaan daddy ku. Aku ingin makan siang dengan Felix!"
"Kau duluan saja, Pink! Aku juga ada urusan sebentar!" sahut Kika yang sebenarnya dari tadi mencari Red tapi tidak menemukan lelaki muda itu.
Kika akhirnya pergi ke atap sekolah, dia duduk di pembatas dinding dan menatap Zero School dari atas sana. Rasanya dia masih tidak percaya bisa bersekolah disitu.
__ADS_1
Bisa sekolah di sekolahan populer, bisa punya banyak teman dan pacar yang keren.
"Aku suka," gumamnya.
Tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Red yang sedari tadi mencari Kika akhirnya menemukan pacarnya itu.
"Red..." panggil Kika tanpa menoleh ke belakang. Dia sudah hafal aroma parfum pacarnya dan juga debaran jantungnya yang bisa dia rasakan dari punggungnya. "Sudah tidak marah lagi?"
"Ternyata marah itu capek," keluh Red di sana.
Kika terkekeh, dia meminta Red duduk di sampingnya lalu gadis itu memiringkan kepalanya di pundak Red.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Kika dengan tulus.
"Wah, ternyata pacarku bisa bicara seperti itu!" ungkap Kika, bercanda.
"Aku serius tahu!" Red mulai kesal lagi.
"Aku juga akan selalu memikirkan mu!" ungkap Kika yang tidak mau menyembunyikan perasaannya lagi.
Red bergeser supaya Kika bisa duduk dengan tegak dan menatapnya. Keduanya menyatukan kening dan hidung mereka sambil tertawa bersama.
__ADS_1
"Aku akhir-akhir ini berjerawat, Beib," keluh Red sambil menunjuk jidatnya.
"Itu karena suka marah-marah," Kika melihat jidat Red yang tampak baik-baik saja. "Masih mulus kok!"
Cup!
Red mencium pipi Kika saat pacarnya lengah yang mana membuat Kika langsung mundur dan kehilangan keseimbangan. Untung Red dengan sigap menangkapnya.
Wajah Kika seperti kepiting rebus dan tak mau memandang Red lagi. Dia malu.
"Jangan cium sembarangan," protes Kika dengan mata terpejam.
Red suka Kika yang seperti itu, dia semakin bersemangat untuk mengganggunya.
"Beib, kau tahu nama-nama planet tidak?" tanya Red mengeluarkan jurus playboy kadal buntungnya.
"Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus..." Kika memberanikan diri untuk membuka mata.
"Diantara semua planet itu yang paling indah apa?" tanya Red lagi.
"Saturnus karena ada cincinnya," jawab Kika.
__ADS_1
"Kalau menurutku yang paling indah itu Bumi karena di Bumi ada kamu,"