
Malam harinya gadis itu belajar, dan mengerjakan soal-soal latihan. Karena OSN akan dilaksanakan 3 hari lagi. Yaitu hari Kamis.
Ceklek.
"Xie Xie."
Gadis itu tidak bergeming. Itu membuat Shaka yang memanggilnya heran. Sefokus itu kah adiknya saat belajar? Karena tidak mendapat respon Shaka menghampiri Dyxie dan menepuk pundak Gadis itu. Dyxie langsung reflek melepaskan earphone di telinganya.
"Pantas dipanggil gak nyaut." kata Shaka.
"Sorry, gak dengar. Kenapa kak?"
"Nggak, gabut aja sih. Tumben rajin? Biasanya disuruh belajar matematika malas?" tanya Shaka yang melihat buku didepan Dyxie.
"Oh, itu gue di suruh papi ikut OSN Matematika." jawab Dyxie.
"Ya udah belajar lagi, gue temani."
"Nggak-nggak. Gue mau tanya sesuatu." Dyxie memilih menutup bukunya. Karena memang sejak tadi ada pertanyaan yang terus berputar dikepalanya.
"Apa?"
"Apa motif Lo adain perlombaan itu? Kenapa konsekuensinya keluar sekolah?"
Shaka tertawa kecil. Matanya menerawang jauh menatap langit-langit kamar Dyxie. Kemudian cowok itu menghela napas.
"Musuh Lo banyak." kata Shaka.
"Maksud Lo? Musuh gue disini ya cuma Viola."
"Lo bakal paham kalau udah saatnya." ujar Shaka sambil tersenyum tipis.
"Tapi--" kalimat Dyxie terpotong dengan suara dering telepon. Melihat nama yang tertera di layar handphonenya seketika Dyxie langsung cekatan mengambil handphonenya.
"Hayoloh, di telpon ayang." ledek Shaka.
"Diam Lo!"
Dyxie menjauh dari Shaka, tepatnya pergi ke balkon kamar untuk mengangkat telepon dari Raksha. Tapi tiba-tiba terlintas dibenaknya untuk membiarkan telepon tersebut mati terlebih dahulu.
"Kalau gue angkat kecepatan kepedean ntar tuh orang." gumam Dyxie.
Hingga akhirnya Raksha sampai menelpon 3 kali, tetapi cewek tersebut tidak juga mengangkat telepon dari Raksha. Dan yang ke-4 Raksha tidak lagi melakukan panggilan suara. Kali ini dia melakukan video call.
"Gila anj, video call." batin Dyxie.
Sebelum mengangkat video call tersebut entah mengapa dirinya reflek membenahi rambutnya. Rambut yang tadinya di cepol langsung di urai. Barulah dia mengangkat video call tersebut.
"Semedi Lo? Lama bener ngangkatnya?"
"Biarin lah, lagian ngapain Lo telpon jam segini? Mana vc lagi."
Raksha terdiam sesaat. Dari raut wajahnya terlihat cowok itu bingung menjawab pertanyaan Dyxie yang sederhana tersebut.
"Lo udah belajar kan?" tanyanya pada akhirnya.
"Dih, nanyain belajar doang?"
__ADS_1
"Emang Lo mau gue tanya apaan?" tanya Raksha dengan muka datar.
Dyxie langsung kicep. Benar juga, dia ingin ditanya apa? Bukannya wajar jika Raksha telepon untuk menanyakan belajarnya? Kenapa dia malah mengharapkan cowok itu menanyakan hal lain?
"Gak ada." kata Dyxie.
"Lo di balkon?" tanya Raksha.
"Hm, kenapa?"
"Udah jam delapan malam. Ngapain di balkon? Masuk. Ntar Lo sakit gak bisa ikut OSN ribet." kata Raksha.
"Bawel!"
"Masuk gak?!"
"Nggak mau, bosan di kamar terus."
"Serah Lo dah anj!"
Setelah mengatakan itu Raksha mengakhiri panggilan video call mereka. Dyxie kira cuma akan selesai begitu saja. Ternyata tidak, selang beberapa saat setelah panggilan video call berakhir Raksha mengirimi dirinya pesan singkat.
"Masuk, ntar Lo sakit berabe." isi pesan tersebut.
"Cih, perhatian sih. Cuma nyebelin." ucap Dyxie membaca pesan tersebut.
Ketika dia berbalik hendak masuk ke kamarnya ternyata sepupunya sudah berdiri lima kali jaraknya dari dirinya. Shaka tersenyum geli melihat adiknya tersebut.
"Udah jam delapan malam. Ngapain di balkon? Masuk. Ntar Lo sakit gak bisa ikut OSN ribet." kata Shaka menirukan kalimat Raksha untuk meledek Dyxie.
"Perhatian sih. Cuma nyebelin." Shaka terus meledek sepupunya tersebut.
"Sialan Lo Shakanjing!!"
Shaka tertawa puas dan kabur dari kamar Dyxie sebelum dia mendapat bogem mentah dari Dyxie.
"Nyebelin.." gumam Dyxie.
*
Keesokan harinya Dyxie berangkat sekolah di antar Shaka. Naik motor ya, bukan mobil. Orang yang tidak tahu jika mereka saudara sepupu pasti mengira mereka pacaran.
"Jangan membully lagi." kata Shaka tiba-tiba.
"Kenapa? Lo juga mau nyuruh gue berubah?"
Shaka menggeleng. "Gue gak mau adik gue jadi pembully. Kalau mau buat onar terserah." terang Shaka.
Dyxie diam sebentar, dia ingin menuruti perkataan kakaknya itu. Tapi disisi lain membully adalah kebiasaannya sejak masih berseragam putih biru. Gak semudah itu menghilangkan kebiasaan yang sudah ada selama bertahun-tahun.
"Hm, gue usahain."
"Good baby girl."
Setelah itu dia segera berjalan dengan santai menuju kelasnya. Saat melewati kelas Raksha Dyxie melihat seorang cewek yang asing didalam kelas sana. Cewek itu terlihat terus mengganggu Raksha bahkan Raksha terlihat risih dengan ulah cewek itu.
"Siapa dia?" batin Dyxie.
__ADS_1
Sadar diperhatikan seseorang Raksha melihat ke arah pintu kelas yang terbuka. Tetapi tidak ada siapa-siapa disana. Dyxie sudah pergi ke kelasnya sesaat sebelum Raksha melihat ke arahnya.
"Raksha, jangan cuek gitu dong sama aku." rengek gadis itu.
Raksha sama sekali tidak menanggapi cewek itu. Saking risihnya dengan tingkah cewek itu Raksha memilih pergi meninggalkan kelas.
"Raksha!"
"Gak usah ganjen Lo." celetuk Galang.
"Dia gak akan mau sama pembunuh kayak Lo." imbuh Oliver.
"Tapi kita dulu sangat akrab." kata cewek itu.
"Dengar baik-baik Aveline. Kita berempat memang pernah bersahabat dahulu. Ralat berlima. Tapi Lo udah bunuh salah satu dari kita." ucap Galang tanpa menatap wajah cewek bernama Veline itu.
"Lo sahabat palsu. Yang membunuh sahabatnya sendiri!" kata Oliver.
"Dia bunuh diri! Gue gak pernah bunuh dia!"
"TAPI SECARA GAK LANGSUNG LO FAKTOR UTAMA YANG MEMBUAT ANGEL BUNUH DIRI VELINE!!!" bentak Galang. Cowok yang biasanya selalu membuat tertawa itu kini benar-benar marah. Urat-urat di lehernya menonjol. Matanya berkilat-kilat. Dan tangannya mengepal erat.
Melihat sahabatnya yang hampir lepas kendali Oliver langsung merangkul pundak Galang dan membawanya pergi dari sana. Jika tidak cowok humoris tersebut bisa-bisanya mencekik cewek dihadapan mereka saat ini juga.
Sedangkan Raksha ada di rooftop melihat kepadatan lalu lintas kota di pagi hari. Beberapa kali cowok itu menghembuskan napasnya.
"Pembunuh.." gumam Raksha.
Tap. Seseorang menepuk pundak Raksha.
"Ngapain?" tanya orang tersebut. Suara yang sangat akrab ditelinga Raksha. Baru mendengarnya sudah bisa membuat Raksha sedikit lebih tenang. Ya, dia adalah Dyxie.
"Tadi gue dengar Galang teriak. Terus Lo lewat kelas gue buru-buru. Ada masalah kah?
Raksha tidak menjawab pertanyaan Dyxie. Cowok itu masih diam menatap kesibukan kota. Sesaat kemudian Raksha melontarkan pertanyaan yang sedikit aneh. "Lo bisa balik badan gak?" tanya Raksha tanpa berbalik menatap Dyxie.
"Hah? Kenapa?"
"Nurut aja."
Pada akhirnya cewek itu cuma menurut. Dan hal yang tidak terduga terjadi. Baru saja Dyxie berbalik membelakangi Raksha, cowok itu langsung memeluk Dyxie dari belakang dengan erat.
Deg. deg. deg. deg.
Jantung Dyxie berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia bisa merasakan wajahnya yang memanas hingga ke telinga. Bisa dipastikan wajahnya saat ini merah padam.
"L-lo kenapa?" tanya Dyxie gugup.
"Sorry, kita emang gak sedekat itu. Tapi biarin gue peluk Lo sebentar saja." kata Raksha.
...***...
...Bersambung......
...Tolong like komen vote dan rate ya....
...Jangan jadi sider. Setiap komentar yang kalian tinggalkan itu bikin author semangat. Sekalipun cuma komentar next atau lanjut. Itu juga bikin author semangat. Jadi pastiin kalian komentar ya? makasihh...
__ADS_1