Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 53


__ADS_3

Dyxie dan Raksha sudah sampai di markas Shaka. Sebenarnya bukan hanya Shaka, markas itu adalah markas turun temurun dari leluhur mereka. Makanya dekorasinya lumayan kuno.


Dyxie dan Raksha langsung berlari mendekati pintu masuk markas. Disana ada Aura, Keyla, Oliver, dan juga Galang yang di tahan penjaga markas untuk tidak masuk ke dalam markas.


"Lepasin mereka!" perintah Dyxie.


"Tapi nona--"


"Mereka teman-teman gue, dan dia adik dari bos kalian." ucap Dyxie sambil menunjuk Aura.


Seketika para penjaga yang menghalangi mereka menyingkir dan membiarkan mereka masuk. Sekalipun Aura adik dari Shaka tapi dia menyembunyikan identitasnya makanya para penjaga tadi tidak mengenali dirinya.


BRAK!!


"Kakak!" panggil Dyxie dan Aura bersamaan.


Terlihat Shaka yang sangat fokus dengan komputernya. Mendengar panggilan kedua adiknya tersebut dia bahkan tidak memandang mereka. Hanya tangannya yang bergerak mengintruksikan semuanya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Lo lihat wajahnya?" tanya Shaka sambil menatap Raksha.


Dyxie sudah tidak kaget kakaknya mengetahui hal itu, karena hampir semua CCTV di kota ini berhasil diretas kakak sepupunya itu. Ditambah hobi kakak sepupunya tersebut adalah menguntit orang menggunakan drone. Sedangkan Raksha bingung bagaimana Shaka tahu? Tapi dia memilih tidak menanyakannya.


"Hm, dia Martin Van Agatha." jawab Raksha.


"Mereka sudah mulai bertindak. Kita harus selesaikan ini di generasi kita. Tidak boleh ada dendam yang berlanjut lagi di generasi setelah kita." ujar Shaka dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


"Artinya mereka akan menyerang kita lagi?" tanya Aura.


Shaka mengangguk, keluarga Lleonara tidak pernah menyerang terlebih dahulu. Tapi ketika di serang Keluarga Lleonara selalu menang. Itulah yang membuat dendam keluarga Agatha kian membesar.


"Hari ini kalian latihan disini. Asah kemampuan beladiri kalian dan kemampuan kalian menggunakan senjata." titah Shaka. Kemudian cowok itu langsung pergi meninggalkan ruangan karena masih ada hal yang harus ia urus.


Setelah Shaka meninggalkan ruangan mendadak suasana menjadi hening.


"Kalian keluarga mafia?" tanya Galang memecahkan suasana hening yang menyelimuti mereka.


"Bukan." jawab Dyxie singkat.

__ADS_1


Mereka memang bukan keluarga mafia. Mereka hanyalah sebuah keluarga yang harus menanggung dendam dari leluhurnya dan menyelesaikan permasalahan leluhurnya dahulu.


"Ayo ke ruang latihan!" ajak Dyxie sambil beranjak dari duduknya. Dan pergi ke ruang latihan diikuti sahabat-sahabatnya.


Sedangkan Shaka, dia pergi mengendarai motornya di perbatasan markasnya. Disana ada seorang pengendara motor yang sedang menunggu kedatangan Shaka sambil menyesap rokok.


"Datang juga Lo." ucap cowok yang duduk di atas motor menunggu kedatangan Shaka.


"Gak usah sok akrab!" ketus Shaka sambil membuka helmnya dan turun dari motor.


Cowok itu melemparkan putung rokoknya kemudian berjalan menghampiri Shaka.


"Lama gak ketemu adik kelas?" sapa cowok tersebut.


"Gak usah basa-basi!" Shaka langsung melayangkan tinjunya ke pipi cowok berambut pirang didepannya tersebut. Ya, dia adalah Martin Van Agatha. Cowok blasteran Belanda-Indonesia yang merupakan salah satu musuh keluarga Lleonara.


"Gak sopan Lo sama yang lebih tua."


"Beda umur, bukan beda nyali." sahut Shaka dengan sinis


Tanpa aba-aba Martin melayangkan tinjunya kepada Shaka. Sebagai balasan Shaka yang memukul dirinya beberapa saat yang lalu. Hingga terjadi perkelahian satu lawan satu antara Shaka dan Martin. Keduanya sama-sama hebat, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan salah satunya akan tumbang.


"Tunggu saatnya. Gue bakal bantai keluarga Lo." ancam Martin.


"Gue gak peduli mau keluarga gue yang Lo bantai, atau keluarga Lo yang gue bantai." Shaka menggantung kalimatnya. "Tapi gue mau dendam keluarga kita selesai di kita. Jangan nyambung lagi ke generasi setelah kita." sambung Shaka.


Martin terdiam. Dia setuju dengan pendapat Shaka. Mereka berdua dahulu adalah sahabat. Mereka harus berseteru karena dendam keluarga. Padahal sebelumnya mereka bersahabat sangat dekat hampir seperti saudara. Begitulah mengerikannya sebuah kata 'dendam' yang menghancurkan banyak hubungan, mulai keluarga hingga persahabatan.


"Setelah semua selesai, bisakah kita kayak dulu?" tanya Martin.


"Hm, bisa setelah gue potong tangan yang hampir nyelakain adik gue." jawab Shaka.


Martin tertawa mendengarnya, dia tahu apa yang dimaksud Shaka pastilah perbuatannya kepada Dyxie tadi saat di danau. Ditambah dia merusakkan drone buatan Shaka.


"Pergi. Sebelum gue panggil anak buah gue buat gebukin Lo." kata Shaka.


"Sampai jumpa di Medan pertempuran." ucap Martin kemudian menaiki motornya dan pergi dari sana. Begitu pula dengan Shaka yang menaiki motornya kembali ke markas.

__ADS_1


*


Mereka berlatih di markas Shaka hingga sore hari. Tiba-tiba Raksha ingat dengan janjinya kepada Papinya Dyxie yang akan mengajaknya ke makam papanya. Jadi Raksha dan Dyxie pulang lebih awal daripada yang lainnya.


"Gue boleh ikut nggak?" tanya Dyxie melihat Raksha yang sedang bersiap-siap.


"Boleh." jawabnya sambil mengancingkan kemeja hitamnya. Setelah itu dia berbalik menghadap Dyxie. "Ayo."


*


Mereka pergi ke sebuah pemakaman yang di sebutkan Papinya Dyxie. Di tempat yang jauh dan terpencil, tempat pemakaman itu ada di luar kota.


"Itu papi gue." ucap Dyxie.


Mereka menuju ke tempat dimana papinya Dyxie berada.


"Ini makam papa kamu." tutur Leon kepada Raksha. "Han, anak Lo udah gede.." ucapnya sambil menatap batu nisan bertuliskan nama Handika Rafael.


Tubuh Raksha mematung seketika. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah anak yatim. Padahal setelah mengetahui dia bukan anak kandung Mark dia berharap bertemu dengan papa kandungnya. Tapi dia tidak bisa menemuinya sekarang.


"Sapa papa Lo gih.." ucap Dyxie.


Raskha menggeleng. "Gue gak bicara sama gundukan tanah." cetus Raksha.


Cowok itu jongkok di samping makam papanya. Di elusnya batu nisan papanya. Ya, cowok itu tidak berbicara dengan gundukan tanah. Dia memilih mendoakan papanya. Kata mamanya dulu kita tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal. Ikhlaskan dia agar dia tenang. Kirimkan doa. Doakan agar dia diterima di sisi Tuhan. Itulah yang Raksha lakukan sekarang.


*


Setelah dari makam mereka berdua dikejutkan telepon dari Shaka yang mengabarkan bahwa markas mereka diserang keluarga Agatha. Raksha dan Dyxie bergegas mengendarai motornya masing-masing menuju markas. Mereka berharap tidak terlambat datang karena jarak mereka dengan markas sangat jauh.


"Sha! Lewat jalan pintas!" seru Dyxie.


Cewek itu memutar gasnya lebih cepat lagi mencari jalan tercepat untuk pergi ke markas. Dyxie memang menguasai jalanan saking seringnya berkendara bersama Aura dan Keyla. Sedangkan Raksha mengikuti cewek itu dari belakang dengan kecepatan penuh.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2